![ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]](https://asset.asean.biz.id/atherio-park--sudah-terbit-.webp)
Milan, Italia.
Park melangkahkan kakinya dengan gontai, dia memasuki sebuah klub malam. Terdengar suara musik memenuhi seisi ruangan. Pandangan Park di edarkan ke setiap sudut ruangan.
Seorang bartender menghampiri Park kemudian berbisik. Park mengangguk.
Bartender berjalan lebih dulu diikuti oleh Park di belakangnya. Mereka sampai di depan ruang VIP, bartender membukakan pintu untuk Park.
Terlihat seorang wanita duduk membelakangi pintu. Gaun emas dengan bagian punggung rendah itu membuat siapa pun yang melihatnya akan tergoda. Tangannya bergerak memainkan gelas anggur dalam genggamannya. Sejenak Park menatap intens punggung wanita itu.
"Grazie mille," ucap Park. Bartender mengangguk kemudian membungkukkan badan dan berlalu.
Park memasuki ruang VIP, dia duduk di sofa. Pandangannya tertuju pada minuman yang tersedia di meja. Dia menuangkan anggur lalu meminumnya.
"Kau sendiri?" Tanya Park. Terdengar tawa lembut wanita itu, "Kau juga sendiri, Johan."
Wanita itu berbalik. Kini terlihat jelas siapa dia. Paras cantik yang terpajang di ruang keluarga di rumah Park. Namun, yang asli sudah tidak muda lagi.
Aleena Park, ibunya Atherio.. masih hidup.
Park menganggukkan kepalanya, "Aku mau menyelesaikan masalah kita, setelah itu semuanya selesai."
Aleena tersenyum meremehkan, "Kembalikan putraku, baru aku akan menyelesaikan semua ini." Aleena meletakkan gelas anggurnya dengan kasar.
Park mendecih, "Aku akan memberikan seluruh wilayah kekuasaanku yang ada di Italia untukmu.. urusan tentang Atherio selesai."
"Aku tidak butuh wilayah kekuasaan, aku juga memiliki wilayah yang luas di sekitar sini! Aku mau putraku!" Bentak Aleena.
Park mengalihkan pandangannya dari Aleena, "Dia putraku, aku ayahnya."
Aleena terlihat kesal, "Aku ibunya, aku berhak atas dirinya.. kau ini laki-laki macam apa yang tega memisahkan ibu dan anaknya.. lalu mengatakan pada anaknya bahwa ibunya sudah mati."
Park menundukkan kepalanya, "Jika saja kau bukan gangster, aku akan mempercayakan dia kepadamu. Tapi, aku lebih percaya dengan kemampuanku untuk melindunginya."
Aleena menautkan alisnya, membuat wajah lembutnya terlihat kejam. "kau menganggap orang-orangku lemah? Aku bisa melindungi dia seperti seorang ibu maupun seorang ayah."
Park menegak anggurnya, "Pengadilan tidak akan memberikan hak asuh anak padamu. Atherio lebih lama tinggal bersamaku, aku akan memenangkan hak asuh itu."
Aleena tersenyum sinis, "Kau pikir aku akan menempuh jalan pengadilan?" Aleena menodongkan pistol ke dahi Park.
Park tersenyum, dengan cepat dia bergerak menyerang tangan Aleena dan merebut pistolnya. Park menodongkan pistol itu ke dada Aleena.
Tatapan Park menyendu, "Aleena, percayalah.. aku bisa menjaga Atherio."
Aleena menutup moncong pistol dengan tangannya. "Aku tidak sudi jika kau menjadikan putraku sebagai monster mengerikan seperti dirimu!"
Park mendecih sambil tersenyum sinis, "Bagaimana bisa kau hidup di dunia gelap dengan menggunakan perasaanmu?"
Aleena mengambil pistolnya kembali dan meletakkannya ke meja. Dia menunduk sedih, "Kita tidak mungkin pernah bersama jika kau tidak memiliki perasaan."
Park sama sekali tidak berekspresi, "Bukankah kita menikah karena ayahmu?"
Aleena melihat ke jendela, dalam kegelapan itu ada sosok bayangan yang menodongkan senjata. Aleena melihat pada Park.
Dor!
Sebelum peluru dari sniper itu mengenai Park, Aleena mendorong Park dan berguling ke lantai. Mereka bersembunyi di balik sofa.
"Musuhmu tahu keberadaanmu? Bagaimana bisa?" Bisik Aleena. Park menggelengkan kepalanya, tatapannya tertuju pada pistol di meja. Dia segera mengambilnya.
Dor!
Hampir saja tembakan sniper mengenai tangannya. Park memberikan pistol itu pada Aleena. Aleena menerimanya sambil menatap lekat wajah Park. Merasa di perhatikan, Park juga menatap Aleena.
Sniper memasuki ruangan, tidak hanya satu orang sniper, ada tiga sniper di ruangan itu. Mereka bertiga menodongkan senapan ke balik sofa.
Sofa berguling menghantam mereka. Park lompat lalu mencekik kedua orang itu dan memutar leher mereka sehingga terdengar suara kreeekkk tulang yang patah. Kedua orang itu terkulai jatuh ke lantai.
Sniper yang satunya lagi berkelahi dengan Aleena. Wanita itu menjambak rambut sniper dan menyayat lehernya dengan pisau. Cairan merah kental itu terciprat ke wajah cantiknya yang sudah tidak muda lagi.
Park menatap Aleena yang memekik seperti wanita pada umumnya, "Ah, shit!! Darah sialan ini menodai gaun mahalku."
"Kau bisa membeli baju itu kapan saja, tapi kau tidak bisa membeli nyawa pada Tuhan," ucap Park. Aleena mendelik kesal pada Park.
Ponsel Park bergetar, dia merogoh saku celananya dan melihat nama Riorio di layar. Park melirik sekilas pada Aleena yang sedang menatapnya curiga.
"Halo?" Park mengangkat panggilan tersebut.
"Ayah.. Ayaaaah? Apa Ayah baik-baik saja?" Atherio tampak cemas di seberang sana. Atherina juga terlihat khawatir, sedari tadi dia tidak berhenti menggigit kuku.
Park tersenyum, "Aku baik-baik saja, kau tidak nakal, kan? Kau tidak membuat kakakmu dan pelatihmu kewalahan, kan?" Tatapan Aleena menyendu melihat percakapan Park dengan seseorang di seberang sana.
"Ayah, apa kau pikir aku ini anak kecil. Aku hampir 9 tahun." Atherio menggerutu di seberang sana. Melihat ekspresi kesal Atherio, Atherina merasa lega. Itu artinya Park tidak dalam masalah.
"Ayah?" Atherio tidak mendengar suara ayahnya. Atherina menghampiri adiknya dan menyentuh bahunya. "Rio.." gumam Atherina.
"Atherio.."
Atherio membelalak mendengar suara lembut seorang wanita. Tangan Atherio gemetar, membuat Atherina semakin cemas.
Kedua mata Aleena berkaca-kaca karena telah mendengar suara putranya. "Atherio.." panggilnya lagi.
Sementara Atherio masih belum menjawab. Air matanya berlinang lalu jatuh menetes membasahi pipinya.
"Ibu," gumam Atherio. Kedua alis Atherina terangkat.
Aleena tersenyum sambil menangis tanpa suara. Park yang melihat itu menghela napas kemudian mengalihkan pandangannya.
Atherio tidak mendengar suara. Tiba-tiba dia mendengar suara tembakan yang bersahutan. Kedua mata anak itu membelalak, Atherina menatap Atherio penuh tanya.
"Ibu! Ayah!" Teriak Atherio.
Hening.. tidak ada jawaban.
Atherio jatuh tertekuk ke lantai, tubuhnya lemas dan terhuyung ke depan, namun bahu itu membuat kepalanya tersandar. Atherina memeluknya dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.
"Aku mendengar suara tembakan, teriakan ayah dan.. ibu.." gumam Atherio. Dia menangis dalam pelukan Atherina.
Atherina mengusap kasar rambut panjangnya. Dia tidak mengira, di Bandara itu adalah hari terakhirnya berbicara dengan Park. Ayahnya, pria yang telah membesarkannya walaupun tidak dengan cara yang normal.
__ADS_1
"Aku yakin itu ibu, meskipun aku belum pernah bertemu ibu, aku mengenali suaranya.. suaranya yang sering terdengar dalam mimpiku.. kenapa pergi sebelum sempat bertemu.. Kenapa ayah berbohong, ibuku masih hidup.. dan sekarang.." Atherio menangis dan berbicara dengan suara bergetar.
◆◇◆
Seoul, Korea Selatan.
Ketujuh orang kepercayaan Park tertekuk di depan Atherio dan Atherina. Wajah mereka babak belur, terdapat noda darah di mana-mana. Kepala mereka tertunduk dalam.
Ji Hoo membuka mulutnya, "Maafkan kami.. kami datang terlambat."
Para pelayan yang berjumlah puluhan orang berdiri tertunduk di belakang tuan dan nona mereka. Semuanya bersedih atas kepergian Park.
Atherio yang berdiri tegak tidak mampu menyembunyikan ekspresi rapuhnya. Atherina dengan mata sembab hanya mampu menatap lurus dengan tatapan kosong.
Mobil yang membawa jenazah Park terbuka, terlihat beberapa orang berpakaian khusus mendorong brangkar. Di atas brangkar itu ada tubuh tak bernyawa. Kain putih yang menutupi tubuh itu di penuhi bercak darah.
Ketika brangkar melewati para penjaga dan para pelayan, mereka semua membungkukkan badan memberikan penghormatan terakhir pada tuan mereka.
Atherio bergegas membuka kain putih itu, terlihat wajah pucat Park yang sudah tak bernyawa. Air mata Atherio kembali mengalir membasahi pipinya. Dia teringat ketika Park marah, tersenyum, memukul, dan memeluknya.
Atherio selalu ingat ketika dirinya mengamuk, membangkang, dan berontak kepada ayahnya. Tiba-tiba Atherina jatuh tersungkur dan tak sadarkan diri. Atherio segera menghampiri kakaknya, semua pelayan panik. Mereka segera membawa Atherina ke kamarnya.
Semua warna kehidupan di kediaman keluarga Park seolah menghilang, berganti dengan warna hitam dan putih. Warna kehampaan.
Kemeja hitam melekat di tubuh Atherio Park, hari ini dia telah kembali dari pemakaman ayahnya. Dia berdiri di balkon ruang kerja ayahnya. Tatapannya tertuju pada gedung-gedung pencakar langit di kota Seoul.
Dia bisa melihat jelas bangunan megah yang merupakan perusahaan utama milik Park. Perusahaan yang di bangung oleh Park di mulai dari nol sampai memiliki banyak cabang seperti sekarang ini.
Park J. A. Group, lambang kekuasaan dan kemenangan Park. Kini kehilangan pemimpinnya.
Atherio adalah pemegang perusahaan yang sebenarnya setelah usianya sesuai dengan surat wasiat dari Park.
"Jangan diam-diam minum susu sapi," Atherio masih mendengar jelas suara Park ketika di Bandara.
Ji Hoo menghampiri Atherio, dia berdiri tepat di belakangnya. "Nona Atherina tidak berbicara sedikit pun sejak kembali dari pemakaman."
Atherio menoleh sedikit, lalu kembali menatap ke arah semula. "Biarkan dia istirahat dan menenangkan pikirannya.. aku akan bicara padanya nanti."
Ji Hoo tidak melihat jiwa kekanak-kanakan lagi dalam diri Atherio. Anak yang usianya baru 9 tahun itu tampak seperti orang dewasa.
"Kalau begitu, aku permisi." Ji Hoo melenggang pergi.
"Tunggu!" Langkah Ji Hoo terhenti. Atherio berbalik menatap Ji Hoo yang lebih tinggi darinya.
"Ketika aku menelepon ayah, aku mendengar suara wanita.. apa kalian tahu siapa wanita itu?" Tanya Atherio.
Ji Hoo tampak berpikir, "Kami tidak melihat siapa pun di sana.. yang kami lihat, tuan Park berkelahi sendirian melawan musuhnya, lalu kami membantunya."
Atherio menundukkan kepalanya, "Paman boleh pergi." Ji Hoo menganggukkan kepala hormat lalu pergi.
◆◇◆
"Sore ini, jenazah tuan Park Johan Armez telah disemayamkan di pemakaman keluarga Park di...."
Atherina masih mengenakan pakaian berwarna hitam. Sepulangnya dari pemakaman, dia sama sekali tidak mengganti pakaiannya.
".... pihak keluarga tuan Park mengatakan jika kematian tuan Park di sebabkan oleh kecelakaan. Mereka tidak mengajukan kasus janggal ini kepada Polisi...."
Ucapan Park sebelum pergi ke Italia masih terngiang jelas di telinganya. Atherina tidak mengira, jika itu adalah kata-kata terakhirnya.
"Selama aku pergi, aku harap kau bisa memahami Atherio.. dia memang pemberontak kecil, tapi dia akan lebih mendengarkanmu di bandingkan diriku."
Terdengar suara pintu kamar Atherina di ketuk membuat lamunannya buyar. Pandangan gadis itu tertuju ke pintu.
"Siapa?"
"Rio.." jawab Rio di luar kamar. Atherina menghela napas panjang, dia menyandarkan kepalanya ke kepala ranjang.
"Masuk, tidak dikunci." Pintu kamar terbuka, masuklah Atherio yang sudah berganti pakaian. Dia berdiri di samping Atherina yang menatap ke arahnya.
"Boleh aku duduk?" Tanya Atherio. Atherina menunjuk kursi di meja rias. Atherio mengambil kursi itu mendekat pada Atherina kemudian duduk dengan santai.
Sunyi.
Mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Atherio memikirkan bagaimana memulai pembicaraan dengan kakaknya yang terlihat masih belum bisa di ajak bicara.
Atherina memijit pangkal hidungnya, "Ada apa, Atherio?" Atherina memulai pembicaraan.
Atherio menoleh pada kakaknya, ada sedikit rasa sesak di dadanya mendengar Atherina memanggil namanya dengan utuh. Biasanya Atherina akan memanggilnya dengan nama 'Rio' sebagai panggilan sayang.
"Hei?" Atherina menjentikkan jarinya di depan Atherio. Anak itu terhenyak dan menatap kakaknya. Kedua alis Atherina terangkat menunggu jawaban adiknya.
"Aku..." Atherio menggantung kalimatnya. "Katakan saja," ucap Atherina.
Atherio menatap kakaknya lekat-lekat, "Aku harap Kakak tidak berubah, meskipun ayah sudah pergi."
Tatapan Atherio membuat Atherina mengalihkan pandangannya kearah lain, "Aku tidak berubah, justru aku merasa kau yang berubah."
Atherio masih menatap kakaknya, "Aku berubah untuk ayah.. ayah ingin aku menjadi lebih dewasa di usia ini sepertimu."
Atherina kembali menatap adiknya, tatapan mereka bertemu. Tersirat sesuatu yang tersembunyi di balik netra masing-masing. Atherina memutuskan kontak mata diantara mereka.
"Aku mengerti," gumam Atherina.
"Apa boleh malam ini aku tidur di sini?" Tanya Atherio yang membuat kakaknya serta merta menatap dirinya.
"Tadi kau bilang ingin menjadi lebih dewasa, dan barusan kau bilang mau tidur di sini? Lalu nanti malam kau akan membangunkanku untuk mengantarmu ke kamar mandi!" Ceroscos Atherina.
Atherio tertawa, "Aku hanya bercanda.. aku ingin melihat Kakak kesal dan ingin mendengar suara Kakakku yang cerewet ini." Atherio mencubit pipi kakaknya. Atherina menepis tangan Atherio dan meringis sambil mengusap pipinya yang memerah bekas cubitan adiknya.
Atherio mendekatkan wajahnya ke telinga Atherina membuat gadis itu terpaku. "Selamat malam," bisik Atherio disusul dengan kecupan manis di pipi Atherina yang membeku. Atherio tersenyum nakal kemudian berlalu.
Atherina menyentuh pipinya bekas ciuman Atherio, "Ini tidak benar."
◆◇◆
Hari mulai pagi, Atherina sedang berkutat dengan laptopnya di kamar. Semalaman dia tidak tidur, gadis itu memilih untuk menyelesaikan permasalahan dalam kelompoknya sendirian.
Matanya yang kecil bergerak sesuai teks yang dia baca di layar. "Ah, lelah sekali." Atherina meregangkan tubuhnya, terdengar suara kreeek di pingangnya. Gadis itu tertawa mendengarnya, "Apa aku ini sudah tua?"
__ADS_1
Ketukan pada pintu kamarnya membuat sepasang mata itu tertuju pada pintu.
"Masuk," ucapnya.
Pintu dibuka dari luar, Atherina mengerutkan keningnya melihat keberadaan Azura di depan kamarnya. Gadis cantik itu masih menggunakan jaket yang sama.
"Hai!" Sapa Azura dengan ceria sambil melambaikan tangannya. Atherina membuang napas kasar. Azura memasuki kamar Atherina, dia duduk merapat pada Atherina membuat gadis itu menutup laptopnya.
"Aku turut berduka cita atas kepergian tuan Park, tapi kau jangan sedih terus, ya." Atherina menatap Azura. Azura tersenyum manis, tidak terlihat benar-benar ikut berduka cita.
Atherina memutar bola matanya. Azura merangkul Atherina dengan posesif, "Selalu ada yang pergi dan ada yang lahir. Kehidupan berganti dengan kematian. Kematian berganti dengan kehidupan."
Atherina menepis tangan Azura, "Siapa yang mengizinkanmu masuk ke rumah ini? Dan siapa yang membiarkanmu masuk ke kamarku?" Tanya Atherina ketus.
Azura terkekeh kecil, "Emm.. sebenarnya, tadi aku lewat jendela, jadi tidak ada yang tahu aku masuk ke dalam rumahmu."
Atherina terbelalak kaget mendengar jawaban Azura. Dia segera bangkit dari tempat duduknya, "Apakah segampang itu rumah ini di masuki orang? Bagaimana bisa para penjaga tidak menyadari keberadaanmu."
Atherina menekan interkom yang terhubung dengan orang-orang di rumah itu. Dengan nada kesal, Atherina berbicara, "Para penjaga, kalian harus memperhatikan ke sekitar rumah dengan teliti.. jangan sampai ada penyusup." Azura terkekeh geli.
Semua penjaga tampak panik, termasuk Gun Seok selaku pemimpin para bodyguard, penjaga, dan anak buah dalam kelompok.
Atherina kembali duduk di samping Azura yang tidak pernah melepaskan pandangannya dari Atherina.
"Kau ini kenapa? Setiap hari memakai jaket musim dingin yang tebal begini, apa tidak gerah?" Tanya Atherina.
Azura terkekeh, "Aku suka jaket ini, ini pemberian ibuku." Azura memeluk tubuhnya sendiri. Atherina ber-oh-ria.
Azura menatap lurus, "Ibu bilang, aku ini anak yang kuat dan pemberani.. tapi ketika musim dingin tiba, tubuhku akan memerah karena kedinginan.. makanya ibu memberikan jaket ini."
Atherina mengangguk mengerti, "Ibumu pasti sangat menyayangimu." Azura menatap Atherina sambil tersenyum lebar, "Ibuku sudah tiada."
Atherina terdiam, dia merasa bersalah karena mempertanyakan jaket itu. Seharusnya dia tidak bertanya demikian, karena itu bisa saja melukai hati Azura.
"Maafkan aku," kata Atherina pelan. Azura tertawa, "Jangan begitu, aku tidak apa-apa."
Sunyi, suasana jadi canggung. Azura mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan kamar Atherina.
Tatapan Azura kembali tertuju pada Atherina. "Apa kau punya teman?" Tanya Azura memecah keheningan. Atherina menggeleng merespon pertanyaan Azura.
Kedua mata Azura berbinar, "Kalau begitu, apakah kau mau jadi temanku?" Tanya Azura semangat sambil mengguncangkan tubuh Atherina.
"Ah? Aku? Tidak.. tidak.. aku tidak mau." Atherina menepis tangan Azura.
Azura memasang puppy eyes membuat Atherina setengah jijik, "Ah! Ada apa dengan matamu! Hentikan! Hentikan!" Teriak Atherina.
Azura tidak mau menyerah. Atherina menganggukkan kepalanya, "Baiklah, iya.. iya."
Kedua mata Azura membulat, dia memeluk Atherina dengan erat. "Ye!!! Aku punya teman!" Teriak Azura.
Atherio memutar bola matanya, sedari tadi berdiri di depan pintu kamar Atherina dan memperhatikan keduanya.
◆◇◆
Di markas besar, Atherina tampak rapi dengan blazer hitam membalut dres putih yang dia kenakan. Dia berdiri di depan semua anggota kelompoknya, tujuh orang kepercayaannya, para penjaga, para bodyguard, semua anak buahnya, para pelayannya, anggota khususnya, dan masih banyak lagi. Atherio berdiri di samping Atherina.
Atherina memulai pidatonya di depan semua anggota kelompoknya, "Aku ingin mengumumkan sebuah perubahan.."
Semua orang di ruangan itu berbisik-bisik mendengar keputusan Atherina yang terbilang terlalu cepat. Atherio juga tampak terkejut dengan ucapan kakaknya.
Min Hyuk bertepuk tangan dua kali membuat seisi ruangan kembali hening.
".. aku memikirkan ini dengan matang, mungkin kalian berpikir ini terlalu cepat. Aku mengerti, melihat usiaku juga terlalu muda untuk mengambil keputusan sendiri. Tenang saja, bila ada yang keberatan aku akan mendengarkan.." Atherina menghentikan kalimatnya.
Hening, semuanya masih menunggu kelanjutan pidatonya. Atherio mendengarkan dengan serius.
".. mulai hari ini, semua pintu dan gerbang yang menghubungkan kita dengan beberapa orang luar akan ditutup. Kita hanya akan berhubungan dengan orang-orang yang kita percaya, dengan rekan kita yang sudah lama berhubungan, dengan konsumen atau distributor resmi secara langsung.."
Atherina menghentikan pidatonya karena suasana kembali berisik. Ketujuh orang kepercayaannya juga tampak terkejut, mereka saling pandang satu sama lain.
"Diam!" Teriak Gun Seok. Seketika suasana kembali sunyi.
Atherina menghela napas sejenak, kemudian berkata, "Baiklah, jika ada yang ingin bertanya atau memberikan saran, angkat tangan."
Salah satu penjaga mengangkat tangannya, "Kenapa menutup semua pintu dan gerbang? Bukankah kita membutuhkan rekan?"
Atherina mengangguk, "Kau benar, tapi saat ini aku tidak bisa percaya dengan mudah pada seseorang. Aku hanya akan sedikit mempercayai rekan yang sudah lama berhubungan dengan kita.." Atherio mengangguk mengerti.
"Putuskan hubungan yang sudah ada.. jangan membangun hubungan baru lagi. Cukup ini yang kau miliki sekarang." Ucapan Park yang menjadi dasar di dalam kepemimpinannya sekarang.
".. kita akan berdiri tanpa harus mencari rekan baru, rekan kita sudah cukup untuk mendukung kekuatan kelompok ini," sambung Atherina.
"Nona, aku tidak meragukanmu, tapi apa ini tidak terlalu berat untukmu?" Tanya yang lain.
Atherina tersenyum sambil merangkul adiknya. Atherio menatap Atherina bingung. Mereka saling menatap dalam diam.
Atherina melanjutkan pidatonya dengan tatapan yang masih terkunci pada Atherio, "Sebagai pemimpin, aku akan menunjuk Atherio untuk mendampingiku. Dia akan menjadi pemimpin kalian dengan hak dan posisi yang sama denganku."
Kedua mata Atherio membulat mendengar keputusan akhir yang diambil oleh Atherina.
Ruangan mendadak sunyi.
Tiba-tiba Ji Hoo bertepuk tangan sendirian. Semua orang menoleh pada ketua yang memiliki posisi tertinggi di antara yang lainnya. Akhirnya, semua orang di ruangan itu bertepuk tangan kecuali Atherina dan Atherio yang masih saling menatap.
Atherina memilih memutuskan kontak diantara mereka. "Baiklah, jika ada yang masih ingin bertanya atau memberikan saran, kalian bisa menghubungiku nanti." Atherina mengakhiri pidatonya.
Dua orang pemimpin?
◆◇◆
"Mach die Augen zu, dann siehst du weiter!"
•••
16 Juli 2019
By Ucu Irna Marhamah
__ADS_1