ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]

ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]
The Secret Mission


__ADS_3

すべての苦しみはまもなく終わる。


◆◇◆


Lee Hwan memasuki ruang tengah. Dia telihat santai dengan kaos putih berlengan pendek dan jeans hitam panjang. Pria itu meminum sereal paginya yang hangat.


Chris membenarkan dasinya sambil menuruni tangga. Lee Hwan menoleh, "Mau pergi ke sekolah? Perlu kuantar?" Chris mengangguk sambil memutar bola matanya.


Kedua laki-laki itu keluar dari rumah. "Kunci pintunya," ucap Lee Hwan. Chris mengunci pintu. Lee Hwan melambaikan tangannya ketika taksi lewat, "Ke sekolah, Pak sopir."


Chris mengerutkan dahi karena bingung melihat kakaknya memberhentikan taksi. Lee Hwan menoleh, "Kita naik taksi."


Kedua mata Chris berkedip dua kali lebih cepat.


Di perjalanan,


Chris melihat keluar jendela mobil, "Aku pikir Kakak punya mobil. Bagaimana bisa polisi hebat sepertimu tidak punya kendaraan."


Lee Hwan menoleh menatap adiknya, "Dari Daegu ke Seoul aku memang tidak membawa kendaraan sendiri. Mobilku akan tiba besok."


"Ah, terserah."


Taksi berhenti di depan sekolah. Chris turun, "Kakak mau kemana?"


Lee Hwan mendorong dahi Chris, "Jangan mau tahu urusanku." Chris mendengus kesal melihat taksi itu melaju pergi.


Ketika jam istirahat, So Yeon mengajaknya ke kantin. Beberapa siswi menatap tidak suka kepada So Yeon.


"Lihatlah si idiot itu. Setelah berhasil membuat Atherio Park keluar dari sekolah ini, dia mendekati Chris."


"Iya, jika aku jadi Chris, aku akan menjauhinya."


So Yeon mendengarnya. Langkah gadis itu terhenti. Chris menoleh.


"Tidak tahu diri."


"Tidak tahu malu."


Chris menarik tangan So Yeon, "Jangan didengar." Gadis itu menepis tangan Chris, "Aku benci diriku sendiri."


Chris mengacak rambutnya sendiri, "Jadi ke kantin tidak?"


So Yeon berjalan lebih dulu. Chris menggeleng pelan.


Di kantin, mereka berdua fokus pada pikiran masing-masing. Ada makanan di meja. Baru saja mereka memesannya, namun belum disentuh sama sekali.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Chris. So Yeon tersenyum getir. Biasanya Atherio yang bertanya demikian.


"Bagaimana bisa aku dalam keadaan baik? Semua orang membenciku. Pertama karena aku berteman dengan Atherio, kedua karena aku penyebab Atherio pindah sekolah, ketiga karena aku berteman denganmu. Mereka juga mengidolakanmu." Pandangan So Yeon menyendu setelah mengatakan itu.


"Apakah aku begitu buruk, sehingga mereka membenciku?"


Chris menggeleng, "Setiap hari aku mendengarmu mengeluh, apa kau tidak memiliki sesuatu yang membuatmu bahagia?"


"Atherio."


Chris memiringkan kepalanya, "Kau tidak bisa terus menerus terobsesi dengan Atherio."


So Yeon mendelik Chris, "Kenapa? Karena dia mencintai Atherina? Kakaknya sendiri?"


Chris terdiam. So Yeon tersenyum, "Aku tahu, dia mencintai kakaknya. Aku tidak mengerti, tapi ini salah. Tenang saja, aku akan mencari solusi untuk diriku sendiri. Terimakasih telah membantuku selama ini." Gadis itu melenggang pergi.


Chris memutar bola matanya, "Gadis itu benar-benar.."


◆◇◆


Di markas khusus, semua orang terlihat sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


Victor tengah mengawasi anak buahnya yang sedang fokus berlatih. Gun Seok, Min Hyuk, dan Carlos juga tampak melakukan tugas mereka dengan baik. Joon Ki menjelaskan materi kepada bawahannya di layar. Esteban melatih bawahannya untuk mengenal persenjataan lengkap.


Di lantai atas, Ji Hoo mengawasi mereka. Dia mengangguk melihat semuanya berjalan dengan baik.


Ji Hoo membatin, entah sudah berapa puluh tahun aku mengikuti tuan Park. Beliau selalu menceritakan betapa kuatnya kelompok ini selama bertahun-tahun. Namun, aku merasa.. kelompok ini akan mengalami kemajuan besar di saat kepemimpinan generasi yang sekarang, tuan Atherio dan nona Atherina.


Senyuman Ji Hoo mengembang, memiliki dua orang pemimpin cukup bagus, bukan? Semoga tuan Park tenang di sana.


Seseorang menepuk bahu Ji Hoo membuat pria itu terhenyak kaget. Dia menoleh pada wanita yang memakai jas putih. "Sedang apa kau di sini, Ha Yeon?"


Wanita itu membenarkan kacamatanya, "Memangnya kenapa? Karena aku ini dokter pribadi tuan Park? Jadi, aku tidak boleh kemari?"


"Tidak boleh ada perempuan di ruangan anggota kelompok," ujar Ji Hoo yang terdengar sarkas. Ha Yeon menggaruk telinganya seolah meledek ucapan Ji Hoo.


"Lalu, nona Atherina dan nyonya Aleena?" Tanya Ha Yeon. "Itu berbeda, mereka perempuan istimewa.. makanya bisa berada diantara para pria."


Ha Yeon mengangguk cepat.

__ADS_1


"Ada apa kau kemari?" Tanya Ji Hoo sambil menatap Ha Yeon.


"Tidak terlalu penting, aku kemari disuruh tuan Atherio untuk melihat keadaanmu."


"Ah?" Ji Hoo keheranan.


"Tuan Atherio mencemaskanmu. Seperti tuan Park, tuan Atherio menganggap posisimu sangat penting di sini."


Ji Hoo merasa itu berlebihan. Selama bersama Park, dia selalu bertindak ceroboh dan sering menjalankan tugas seenaknya. Menjadi pemimpin orang-orang hebat seperti Victor dan Gun Seok adalah sesuatu yang membuatnya merasa berat. Dia sering berpikir, kenapa Park memilihnya menjadi pemimpin? Sementara Victor dan Gun Seok lebih pantas mendapatkan posisi itu.


"Jadi, bagaimana keadaanmu?" Tanya Ha Yeon yang berhasil membuat Ji Hoo tersentak kaget, "Aku baik-baik saja. Bahkan aku merasa lebih baik."


"Baguslah, aku akan menyampaikannya pada tuan Atherio. Oh ya, bagaimana kabar nona Atherina di Jepang?"


Ji Hoo tampak berpikir, "Aku yakin, dia sedang berada dalam masalah."


"Kenapa kau bicara begitu?"


"Orang yang dia hadapi bukan orang biasa."


Ha Yeon menatap wajah Ji Hoo yang terlihat begitu serius. Ha Yeon terkejut mendengar suara tembakan. Dia menoleh kearah tim Esteban yang sedang berlatih menembak manekin.


"Apa menurutmu nona Atherina akan baik-baik saja meskipun sedang dalam masalah?" Tanya Ha Yeon.


"Sejauh ini, nona Atherina mampu mengendalikan situasi dengan baik."


"Aku dengar, nyonya Aleena selalu menggunakan perasaannya ketika menjadi pemimpin kelompok petir. Bukankah itu baik untuk nona Atherina?"


Ji Hoo menoleh pada Ha Yeon, "Tidak, menggunakan perasaan di sini maknanya adalah berbuat sesuka hatinya."


Ha Yeon menoleh kearah Ji Hoo sehingga mereka saling menatap.


"Semoga.."


◆◇◆


Atherina pergi ke Jepang adalah untuk satu hal, satu tujuan, dan ini adalah misi terakhirnya dari Park. Dia datang untuk bertemu dengan Aleena melalui bantuan Han Jin dan Han Gun. Misi rahasia itu tidak seorang pun tahu, termasuk Atherio dan Ji Hoo. Yang Ji Hoo tahu, Atherina hanya akan menemui Aleena. Namun, di balik misi itu ada misi lain. Lalu bagaimana bisa Han Jin dan Han Gun menyanggupi permintaan Atherina?


Gadis itu bilang, jika dia ingin bekerja pada Aleena. Dia yakin, Aleena akan menerimanya sebagai anggota kelompok petir. Atherina juga bilang, dia akan memperbaiki hubungan kelompok petir dan kelompok Park. Kelompok petir yang berada dibawah Han Jin di Korea membutuhkan kerja sama dengan kelompok kuat seperti kelompok Park. Itu sebabnya Han Jin dan Han Gun menerima penawaran itu.


Kedengarannya seperti saling memanfaatkan satu sama lain untuk kepentingan masing-masing, kan? Ya, begitulah dunia gangster.


Hari pertama di Jepang, Atherina tidak dipertemukan dengan Aleena. Han Jin beralasan bahwa terlalu mencurigakan jika Han Jin baru kembali dari Korea dan membawa anggota baru dengan tiba-tiba.


"Atherina, akan sulit ketika kau masuk ke kelompok petir. Aku akan membantumu sebisaku. Jika saja kau tidak menawarkan kerja sama yang baik, aku tidak mau melakukan ini." Atherina menatap Han Jin yang sedang menatap kosong. Kedua maniknya yang berwarna putih keabuan itu mengerjap pelan.


"Kenapa kau ingin menjadi anggota kelompok petir? Padahal kau sendiri sudah aman berada di kelompok Park."


Atherina menutup matanya, "Aku akan bicara jujur padamu. Aku hanya ingin tahu, apakah dia masih memiliki rasa keibuan terhadap Atherio atau tidak."


"Kenapa kau melangkah sejauh ini?"


Atherina menggeleng, "Aku terlahir sendirian. Ketika tuan Park membawaku ke rumah itu, aku mendapatkan kehidupan yang layak. Yang aku punya saat ini hanya Atherio. Dia perlu bertemu ibunya dan tuan Park memilihku untuk misi ini. Ini misi terakhirku. Setelah ini selesai, aku kembali ke kelompok Park dan akan bekerja sama dengan kelompok petir Korea yang berada dibawah pimpinanmu."


Han Jin mendecih pelan. Atherina tidak senang dengan itu. Dia mendelik Han Jin dengan kesal.


"Kau tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti ini darinya. Kau lebih cocok tinggal di rumah yang hangat dan diberikan kasih sayang yang tulus."


Atherina menunduk. Dia telah menyangka Han Jin meremehkannya. Ternyata Han Jin menyayangkan kehidupan Atherina.


"Sepertinya kau marah dengan sikapku. Maafkan aku," ucap Han Jin. Atherina terkejut dan segera menggelengkan kepalanya, "Ah, tidak.. tidak.. bukan begitu.."


Han Jin memotong ucapan Atherina, "Aku merasa hidup kita memang sama. Kita tidak beruntung."


Atherina menunduk.


"Ayo pergi," ucap Han Jin sambil berbalik melangkahkan kakinya. Atherina mengernyit bingung, "Pergi kemana?"


"Markas besar kelompok petir."


Kedua mata gadis itu membulat.


◆◇◆


Di dalam mobil,


Han Jin menyandarkan kepalanya dengan tenang. Atherina yang duduk di sampingnya tampak santai meski dalam hati dia merasa cemas.


Apa yang sedang dilakukan Atherio sekarang? Apa dia tidak membuat masalah? Apa dia sudah makan? Apa dia belajar dengan baik? Apa dia bisa tidur nyenyak? Tiba-tiba banyak pertanyaan yang terbesit di kepalanya.


Tubuh Atherina sedikit tersentak ketika mobil yang membawa mereka berhenti. Han Jin duduk tegak, "Kita sudah sampai."


Gadis itu terlihat heran, bagaimana dia tahu kalau kita sudah sampai?


Pintu mobil dibukakan oleh bodyguard di luar sana. Atherina dan Han Jin keluar dari mobil. Gedung besar dengan lambang petir berdiri dengan kokohnya. Atherina terkesima dengan apa yang dia lihat.

__ADS_1


"Ini markasnya?" Tanya Atherina ragu. Han Jin menggeleng, "Ini perusahaannya. Markasnya ada dibawah tanah."


Atherina mengangguk paham.


Mereka berdua memasuki lift diikuti oleh dua orang bodyguard. Lantai dasar adalah tujuan mereka. Atherina sedang menyiapkan rangkaian kata apabila nanti ada banyak pertanyaan.


Pintu lift terbuka. Ada Han Gun dan seorang bodyguard yang menyambut mereka. "Selamat datang, Kak Han Jin, Atherina."


Pandangan Atherina tetuju pada wanita cantik yang duduk di kursi dengan anggur di tangannya. Wanita itu juga menatapnya.


Aleena Park, batin Atherina.


Banyak pria berjas di ruangan itu. Bahkan semuanya pria, kecuali Aleena dan dirinya. Atherina sudah tidak asing lagi dengan pemandangan seperti itu. Anggota kelompok Park juga laki-laki semua, kecuali dirinya. Dunia gangster memang dianggap terlarang untuk wanita.


Han Jin menekuk lutut kirinya di depan Aleena. Atherina merasa sikap Han Jin berlebihan. Aleena tersenyum sambil mengusap rambut Han Jin dengan lembut.


"Tadaima," ucap Han Jin.


"Okarenasai, bagaimana keadaan di sana?" Tanya Aleena. Han Jin menjawab, "Semuanya baik-baik saja."


"Baguslah, ada hal yang ingin aku bicarakan nanti. Emm.. siapa gadis yang kau bawa ini?" Pandangan Aleena tertuju pada Atherina yang segera menunduk menghindari kontak mata dengan wanita di depannya.


Han Jin berdiri dan menyentuh bahu Atherina yang terlihat bingung dan menoleh padanya. Ternyata Han Jin menyuruh Atherina bertekuk seperti apa yang dilakukannya tadi. Atherina menurut dan menekuk kaki kanannya.


"Namaku Atherina."


Aleena sedikit terkejut mendengar jawaban gadis di depannya. Nama yang hampir sama, batin Aleena.


"Margamu?" Tanya Aleena. Atherina tidak menjawab. Beberapa saat kemudian dia menggeleng pelan, "Aku tidak punya marga."


Hening.


Merasa keadaan semakin canggung, Han Jin mengeluarkan suaranya, "Dia ingin menjadi anggota kelompok petir."


Aleena mendongkak menatap Han Jin.


"Baiklah, kita perlu bicara."


◆◇◆


Han Gun mengantar Atherina ke apartemen yang sudah disiapkan Han Jin untuknya. Setelah itu, mereka berbincang sambil menyusuri jalanan Tokyo.


"Kenapa kau memilih berjalan kaki? Kita bisa naik mobilku." Han Gun melipat kedua tangannya di depan dada karena kesal. Atherina mendelik Han Gun, "Memangnya kau sudah punya surat izin mengemudi?"


Han Gun tampak berpikir kemudian menggeleng, "Untuk apa surat itu jika aku bisa menyetir dengan baik?"


"Dasar keras kepala," gerutu Atherina pelan. "Apa kau sudah mempersiapkan diri untuk berbicara dengan ibu petir?" Tanya Han Gun.


"Memangnya kenapa?"


Han Gun menepuk pundak Atherina, "Kau perlu berpikir cerdas agar dia percaya padamu. Dia sangat pandai berbicara, maka kau harus lebih pandai lagi agar dia tertarik padamu."


Atherina menepuk pundaknya seperti membuang bekas tangan Han Gun darinya. "Tertarik?" Atherina bergumam pelan.


"Ah, maksudku bukan tertarik seperti itu.. tapi, seperti dia menyukaimu.. ah, bagaimana aku menjelaskannya, ya." Han Gun berbicara serba salah.


Atherina menggeleng, "Tidak perlu dijelaskan, aku mengerti."


Han Gun mengacungkan jempolnya.


Mereka duduk di kursi taman kota. Han Gun mengusap keringat yang menetes dari dahinya.


"Secepatnya kita akan masuk sekolah, sekolah baru." Ucapan Han Gun sukses membuat Atherina terkejut. Dia menatap Han Gun, "Aku belum mempersiapkan hal-hal yang berkaitan dengan sekolah. Aku lupa, bagaimana ini?"


"Sudah kuduga, sehebat apapun dirimu, kau pasti pernah ceroboh. Tenang saja, kakakku sudah mengatur semuanya. Kau hanya perlu melakukan sesuai rencana kita jika kau mau semuanya berjalan lancar." Han Gun melipat kakinya seperti seorang bos. Atherina mendelik malas.


"Kau bicara bahasa Jepang dengan baik, belajar darimana?" Tanya Han Gun.


"Kau tidak perlu tahu," sahut Atherina ketus.


"Pastikan kau tidak bertindak gegabah. Jika ada sesuatu, kau bisa menghubungiku lewat alat komunikasi di telingamu." ujar Han Gun dengan tatapan tertuju pada benda hitam di telinga Atherina.


"Aku bisa mengatasinya sendiri, kau tidak perlu memikirkannya."


"Baiklah, tapi.. siapa tahu kau berubah pikiran."


◆◇◆


21 Agustus 2019


By Ucu Irna Marhamah


 


 

__ADS_1


__ADS_2