ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]

ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]
Two Leaders


__ADS_3

"Melangkah untuk mengambil resiko lebih baik, daripada tetap duduk dan tertinggal."


_Ucu Irna Marhamah_


◆◇◆


Mulut Junwoo menganga ketika guru les bahasa asing menjelaskan kosa kata yang sama sekali tidak dia pahami. Sedikit pun tidak ada kata yang tersimpan di kepalanya.


"Bahasa Perancis," gumam Junwoo pelan. Atherina yang duduk bersebelahan dengannya menoleh. Seketika junwoo memasang ekspresi wajah yang semangat. Padahal dalam hati, dia merutuki keputusannya untuk les bahasa asing demi bisa mendekati Atherina.


Ah, tiga hari dari sekarang kau akan meminta izin untuk keluar dari kelompok bahasa asing, batin Atherina.


Atherio mengintip lewat sudut jendela ruangan. "Ah, les bahasa asing di jadikan alasan agar bisa bersama laki-laki itu," gerutu Atherio.


So Yeon menghentikan langkahnya melihat Atherio yang sedang mengintip ruangan yang di gunakan sebagai untuk belajar bahasa Perancis.


Atherio yang merasakan keberadaan seseorang menoleh, dia melihat So Yeon berdiri di sana. So Yeon menjadi gugup karena ketahuan memperhatikan Atherio.


Atherio mengerutkan keningnya, "Kau sedang apa? Aku pikir, kau sudah pulang."


"Aku.. aku melihatmu mengintip di sana, aku pikir.. aku bisa menyapamu, tapi.. tapi aku merasa.. aku malah akan mengganggumu jika aku menyapamu.." So Yeon menjawab dengan tergagap.


Atherio akan mengeluarkan suaranya, namun suara beberapa orang yang berbincang dan keluar dari kelas les membuatnya tidak jadi berbicara. Dia mengalihkan perhatiannya kepada Atherina dan Junwoo yang berbarengan keluar dari dalam kelas.


Atherio menatap kesal pada Atherina dan Junwoo.


Junwoo berjalan di depan bersama Atherio, sementara Atherina berjalan di belakang bersama So Yeon.


"Ah, menyenangkan sekali bisa berada di kelas bahasa asing.. aku bisa mempelajari banyak kosa kata baru," kata Junwoo yang belagak sok keren. Atherio mendelik kesal pada Junwoo.


Atherina memutar kedua bola matanya.


Konyol, dia bahkan tidak bisa menyapa dengan bahasa Perancis.


Sementara So Yeon terus menerus memperhatikan Atherio. Lewat tatapan So Yeon, Atherina menyadari jika gadis itu juga mengidolakan Atherio seperti siswi lainnya. Namun, Atherina berpura-pura tidak melihat So Yeon yang sedang memperhatikan adiknya.


"Aku duluan!" Junwoo melambaikan tangannya ketika keluar dari area sekolah. Ketiga orang itu melanjutkan langkahnya menuju tempat parkir.


"Kau tinggal dimana?" Tanya Atherina pada So Yeon yang membuat gadis itu terhenyak dan menoleh pada Atherina. Atherio masih berjalan di depan mereka.


So Yeon membenarkan kacamatanya, "Aku.. aku tinggal di.."


"Kami akan mengantarmu," kata Atherio memotong ucapan So Yeon. Pandangan kedua gadis itu tertuju pada Atherio.


Di dalam mobil, Atherio duduk bersebelahan dengan So Yeon di kursi belakang. Atherina duduk di samping sopir.


So Yeon tampak gugup, dia tidak mengira akan sedekat itu dengan Atherio.


Sesampainya di rumah So Yeon, mobil yang membawa mereka berhenti di pekarangan rumah mungil bercat merah muda. Atherina memperhatikan ke sekeliling halaman rumah tersebut yang begitu luas.


So Yeon keluar dari dalam mobil, dia berterimakasih pada Atherio dan Atherina karena telah mengantarnya pulang ke rumah.


So Yeon melambaikan tangannya ketika mobil tersebut meninggalkan rumahnya. So Yeon melompat-lompat ceria saat memasuki rumahnya.


"Atherio, aku menyukaimu."


Sesampainya di kediaman Park, Atherio keluar dari mobil dan segera memasuki rumah.


"Rio, tunggu!" Atherina menyusul Atherio yang tampaknya tidak mau berhenti. Atherina mengerjarnya dan menyentuh bahunya. Mau tak mau, Atherio behenti dan berbalik menatap kakaknya.


Atherina mendongkak menatap adiknya yang lebih tinggi darinya, "Sore ini kita bicara di ruang kerja ayah, kita akan menemui rekan di markas mereka. Setelah pulang dari sana, aku akan mengumumkan sesuatu pada anggota kita."


Atherio mengangguk, dia menyingkirkan tanga Atherina dari bahunya kemudian berlalu menaiki tangga menuju kamarnya.


Atherina hanya menggeleng pelan melihat tingkah adiknya.


◆◇◆


Atherina menyentuh kursi kebesaran milik ayahnya. Dulu ketika Park masih hidup, dia akan duduk di kursi tersebut dan bercerita pada Atherina. Atherina akan mendengarkan semua cerita ayahnya sampai dia terlelap tidur.


Dia akan terbangun dan mendapati dirinya berada di kamar.


Park yang memindahkannya.


Atherina tidak pernah berani duduk di kursi tersebut. Meskipun Park sudah mengadopsinya dan menganggapnya seperti anak sendiri, namun Atherina masih merasa kalau dirinya tidak pantas untuk itu.


Atherina selalu berpikir jika Atherio lebih berhak dan lebih pantas.


Atherina melangkahkan kakinya menuju bingkai foto mendiang ayahnya. Dalam foto itu sama sekali tidak ada senyuman. Dari matanya terpancar tatapan yang mengintimidasi dan penuh ambisi.


"Kakak."


Suara itu membuat Atherina menoleh. Atherio bersandar di ambang pintu dengan kedua tangan di masukan ke dalam saku celananya.


"Masuklah," kata Atherina. Mereka berdua dudu bersebelahan di sofa yang tersedia di ruangan tersebut.


Atherina memulai pembicaraan, "Rekan bisnis kita yang ini di kabarkan bekerja sama dengan kelompok musuh. Kita harus waspada ketika berada di markasnya. Aku belum bisa menarik kesimpulan apa pun tentang mereka, aku tidak tahu apakah mereka bekerja sama secara profesional atau tidak."


Pandangan Atherio masih tetap lurus ke depan tanpa ekspresi sama sekali.


Atherina menatap adiknya, "Jika tiba-tiba terjadi sesuatu, bedirilah di belakangku."

__ADS_1


Seketika Atherio menatap kakaknya, "Apa maksudmu? Aku berlindung di belakang perempuan? Kenapa selalu menganggapku anak kecil? Kau jelas tahu kemampuanku berkelahi, kenapa kau tidak pernah percaya pada kemampuanku?"


Pertanyaan yang bertubi-tubi dilayangkan kepada Atherina.


"Apa jadinya kelompok ayahku jika aku berdiri di belakang seorang wanita," gumam Atherio sambil membuang muka.


Atherina masih menatap adiknya, "Aku seorang kakak, aku akan melindungi adikku dalam keadaan apa pun. Sekalipun aku seorang wanita."


Atherio menatap kesal pada kakaknya, "Berhenti melindungiku! Mulai sekarang aku yang akan melindungimu."


Sunyi.


"Aku tidak membutuhkan perlindungan," kata Atherina pelan.


"Awalnya aku pikir ayahku adalah satu-satunya orang yang selalu berbohong padaku. Tapi ternyata tidak, kau juga berbohong padaku. Setiap detik kau bicara tentang kepercayaan, kau tidak pernah mempercayai orang sepenuhnya. Tapi, nyatanya kau sendiri tidak bisa dipercaya." Tanpa sadar, ucapan Atherio menyakiti Atherina.


Dengan ekspresi yang masih tenang, Atherina kembali bicara, "Katakan, kapan aku berbohong padamu?"


"Kakak bilang, Kakak tidak punya teman. Seumur hidup Kakak tidak pernah berteman dengan siapa pun karena Kakak terlahir untuk menjadi seorang gangster. Hye In bilang, dia teman Kakak, lalu aku lihat Kakak selalu bersama Junwoo, dan.." Atherio akan membahas tentang Park yang mengadopsi Atherina, tapi dia memilih untuk tidak melanjutkan kalimatnya.


"Dan apa?" tanya Atherina.


Tidak ada jawaban dari Atherio yang malah membisu seribu bahasa.


"Baik, aku akan menjawab pertanyaanmu barusan. Aku dan Hye In tidak berteman, Junwoo juga bukan temanku."


Tidak ada reaksi dari Atherio. Atherina melanjutkan perkataannya, "Apa kau percaya begitu saja dengan apa yang di katakan Hye In? Percayalah, dia bicara begitu untuk mendapatkan perhatianmu, sama dengan So Yeon."


Seketika Atherio menatap Atherina, "So Yeon hanya gadis polos, dia tidak mungkin seperti orang-orang yang mengidolakanku di sekolah."


Atherina tersenyum sambil mendecih pelan, "Hanya karena dia berkacamata dan bertampang polos bukan berarti pikirannya juga polos, aku memperhatikan dia ketika menatapmu, dia menyukaimu."


Atherio menatap Atherina, "Apa Kakak cemburu?"


Atherina menarik bibirnya ke samping, "Berawal dari kagum, lalu menyukai, mencintai, terobsesi.. berhati-hatilah."


Atherio mencerna ucapan kakaknya, terlintas bayangan So Yeon di pikirannya.


Atherio menggeleng cepat, perempuan seperti So Yeon tidak mungkin sama dengan Hye In.


Atherina menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Ada alat komunikasi di telinganya, "Siapkan mobil untuk kami, orang-orang yang sudah aku tunjuk juga bersiap untuk ikut."


Setelah mendapatkan jawaban, Atherina membenarkan kembali rambutnya agar menutupi telinganya.


"Ayo," kata Atherina sambil beranjak dari tempat duduknya.


Atherio yang masih duduk mendongkak menatap kakaknya, "Bagaimana dengan Junwoo? Dia juga menyukai Kakak."


"Apa kau pernah menyukai seseorang?" Tanya Atherio.


Sejenak kedua tangan Atherina berhenti bergerak karena mendengar pertanyaan adiknya. Dia membawa dua buah pistol dari dalam laci. Atherio masih menatap Atherina.


Atherina memberikan salah satu pistol beserta pelurunya. Mereka memasukkan peluru itu bersamaan.


"Tidak, aku tidak pernah menyukai seseorang. Ayah selalu bilang, 'jangan terlalu memakai perasaanmu, itu hanya penghambat.' Aku rasa itu benar." Atherina menjawab pertanyaan adiknya setelah beberapa menit.


"Perasaan, ya... lalu kenapa Kakak mengampuni orang yang kemarin berbuat kesalahan? Kakak tidak tega melakukannya, kan?" Tanya Atherio.


"Karena pria itu baru saja memiliki seorang anak," sambung Atherio.


Atherina melenggang pergi diikuti Atherio yang menunggu jawaban dari kakaknya.


"Ayah pernah bilang, 'jangan membuat hubungan baru, cukup ini yang kau punya.' Aku berpikir jika suatu kelompok itu adalah keluarga. Ayah selalu berpesan, jika kita harus mencintai keluarga kita. Anggota kelompok bukanlah keluarga yang sebenarnya, tapi setidaknya kita harus memperlakukan mereka dengan baik, bukan?" Jawab Atherina yang berakhir pertanyaan.


Atherio mendengus kesal, selalu ada jawaban untuk pertanyaannya yang menjebak. "Sebaiknya Kakak jadi pengacara saja, jangan jadi gangster ."


Atherina tertawa kecil, "Aku tidak mau bertengkar dan membela orang yang tidak aku kenal, meskipun dibayar."


"Kenapa? Kau bisa memenangkan perang mulut di pengadilan," ucap Atherio yang terdengar sarkas.


"Sudahlah, jangan bahas itu."


Langkah mereka berhenti di depan rumah. Ada empat mobil terparkir di depan mereka.


Keempat orang kepercayaan Park berdiri di hadapan Atherio dan Atherina. Mereka adalah Carlos, Gun Seok, Min Hyuk, dan Esteban. Mereka berempat membungkukan badan kepada kedua pemimpin.


"Kita berangkat," kata Atherio. Atherina menoleh kearah adiknya. Keempat orang itu masing-masing memasuki mobil untuk menyetir diikuti beberapa anak buah yang bertugas malam itu.


"Malam ini aku yang memimpin," kata Atherio dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celananya.


Atherina menganggukkan kepalanya, "Tentu."


◆◇◆


Di markas rekan,


Atherina dan Atherio duduk berhadapan dengan pria yang bernama Fredo, rekan bisnis mereka yang sudah lama tinggal di Italia. Dan baru-baru ini kembali ke Seoul dengan mengubah namanya.


Carlos dan Gun Seok berdiri di sebelah kiri dekat Atherina. Sementara Min Hyuk dan Esteban berdiri di sebelah kanan dekat Atherio.


"Wah, terakhir kali kita bertemu saat Atherina masih kelas 6. Sekarang kalian sudah besar." Fredo mencoba berbasa-basi.

__ADS_1


Ekspresi Atherio dan Atherina tetap datar dengan tatapan tertuju padanya. Fredo tampak canggung.


"Ah, baiklah. Ini adalah bukti transaksi pembayarannya." Fredo memberikan sebuah map berisi bukti-bukti transaksi jual-beli dengan pelanggan.


"Seperti kesepakatan, masing-masing dari kita mendapat 50%." Fredo bertepuk tangan sekali. Salah satu anak buahnya membawa koper lalu memberikannya kepada Atherio dan Atherina.


Atherio membuka sendiri koper tersebut, isinya adalah uang dolar Amerika.


"Aku dengar anda bekerja sama dengan kelompok Chan," ucap Atherio setengah bertanya. Dia menutup koper tersebut dan memberikannya pada anak buahnya.


Fredo terkejut dengan pertanyaan Atherio. Atherina melirik kearah adiknya.


"Ah, jadi kalian sudah dengar kabar itu? Tenang saja. Kami tidak akan melakukan hal di luar kesepakatan. Kami adalah kelompok yang netral dan profesional." Fredo memancarkan senyuman ramahnya.


Atherio mengangguk paham, "Ya, aku bisa melihatnya. Sebenarnya kesepakatan diantara kita bisa di batalkan jika anda lebih memilih kelompok Chan.


Atherina merutuki ucapan adiknya yang sedikit gegabah dan terburu-buru.


Fredo tersenyum, "Sulit sekali mengendalikan sebuah kelompok dengan dua orang pemimpin." Fredo melirik Atherio dan Atherina bergantian.


"Kami tidak mengendalikan sebuah kelompok, kami semua bekerja sama dengan baik seperti rekan pada umumnya," sanggah Atherio. Atherina bisa bernapas lega mendengar jawaban dari adiknya. Fredo menarik bibirnya ke samping sambil mengangguk seolah meremehkan.


Atherina merasa sedikit tersinggung dengan ekspresi Fredo. Selama ini Fredo menghormati Atherina sebagai pemimpin kelompok. Tapi, Fredo selalu memandang Atherio dengan sebelah mata.


"Satu lagi, kelompok kami tidak memiliki dua orang pemimpin..." Atherio menggantung kalimatnya membuat Atherina menatap dalam kedua manik abu-abu milik Atherio dari samping.


Atherio menoleh menatap kakaknya, mata mereka bertemu. Tampak rasa sayang yang besar di mata Atherina untuk adiknya. Dan tersirat juga rasa memiliki dari kedua mata Atherio.


Atherio melanjutkan kalimatnya sambil menatap Fredo, "... kami adalah satu, Atherio dan Atherina adalah satu. Kami bersama." Atherio menggenggam tangan Atherina membuat gadis itu terkejut dan serta merta melihat genggaman erat tangan adiknya yang lebih besar.


Dulu, dirinya yang selalu menggenggam tangan kecil Atherio. Kini tangan mungil itu sudah besar.


Fredo tertawa, "Melihat kalian seperti itu malah terlihat seperti sedang pacaran."


Atherina menatap tajam kearah Fredo membuat pria itu berhenti tertawa. Atherio melepaskan genggaman tangannya dari Atherina.


"Kenapa nada bicara anda terdengar menjengkelkan?" Tanya Atherio sedikit kesal. Atherina menepuk bahu adiknya. Meskipun sama-sama kesal, Atherina masih mampu menahan amarahnya.


"Kami akan pergi," kata Atherina.


Setelah berpamitan, Atherio dan Atherina berlalu keluar dari markas Fredo. Mereka berpapasan dengan kelompok Chan di depan markas Fredo. Sejenak kedua kelompok memperlihatkan tatapan maut, namun tak berselang lama hanya beberapa detik. Mereka memutuskan melanjutkan langkah yang tertunda.


Atherina dan Atherio memasuki mobil. Tidak ada yang berniat memecah keheningan diantara mereka.


Atherina menatap jalanan yang ramai. Atherina terhenyak ketika kepala Atherio menghantam kepalanya. Atherina menoleh, ternyata adiknya tertidur.


Dia membenarkan posisi Atherio agar duduk tegak di sampingnya. Atherina kembali menatap jalanan, tubuh Atherio merosot dan kepalanya terlelap di bahu Atherina.


Atherina terhenyak dan dia memutuskan untuk membiarkan posisinya tetap seperti itu.


"Atherio dan Atherina adalah satu.."


Atherina mendecih, Rio, apa yang kau bicarakan? Aku ini kakakmu.


Mobil pun berhenti di pelataran rumah Park. Atherina melihat adiknya tertidur begitu pulas, dia tidak tega jika harus membangunkannya.


Atherina mengusap keringat di dahi Atherio dengan punggung tangannya. Atherio tumbuh dengan cepat, begitupun dengan pemikirannya. Pelatihan yang sama dengan Atherina membuatnya dewasa lebih cepat. Namun, meski mendapat pelatihan yang sama tidak membuat isi kepala mereka juga sama.


Selalu ada perdebatan kecil diantara mereka. Meskipun begitu, mereka selalu bisa mengembalikan keadaan dengan baik.


Atherina melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 11 malam, dia memutuskan untuk membangunkan adiknya. Atherina menepuk lengan Atherio, "Rio, kita sudah sampai.. bangunlah."


Atherio tidak bergerak sama sekali. Atherina menghela napas pelan. Waktu kecil, jika Atherio tiba-tiba tertidur di dalam mobil, Atherina akan mengangkat tubuh adiknya dan menggendongnya ke rumah.


Sekarang tidak mungkin, Atherio memiliki tubuh yang lebih tinggi dan lebih besar darinya.


Berat.


Itu yang ada dalam pikiran Atherina.


Atherina mendekatkan wajahnya ke telinga Atherio untuk berbisik. Namun, baru saja Atherina membuka mulutnya, Atherio bergumam...


"Aku mencintaimu, Kak Nana."


◆◇◆


19 Juli 2019


Ucu Irna Marhamah


 


Hai semuanya... masih ingat dengan novel Psychopath Doctor? Sekarang ada versi Ebook-nya. ada juga novel The Beautiful Spy di Ebook. beli, ya.... hehehehe.


Follow IG @ucu_irna_marhamah


Follow Wattpad @ucu_irna_marhamah



__ADS_1


__ADS_2