ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]

ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]
소연


__ADS_3

"Ciuman hanya untuk orang terkasih."


 


 


(Park Johan Armez)


 


 


◆◇◆


 


 


Taksi itu berhenti di depan kediaman Park. Seorang gadis cantik keluar dari taksi tersebut. Dia mengenakan gaun berpunggung rendah yang indah dan pas di tubuhnya. Dengan senyuman yang merekah, dia menatap rumah itu.


Dua penjaga menghampirinya, "Maaf, anda siapa? Orang asing tidak boleh berada disekitar rumah ini."


"Aku ingin bertemu Atherio, minggirlah." Gadis itu menerobos masuk. Penjaga lain menghalanginya. Gun Seok yang melihat itu segera mendekat.


"Hei, kau ini siapa? Apa yang kau lakukan disini?" Gerutu Gun Seok.


"Jangan sentuh aku!" Teriak gadis itu sambil menepis tangan para penjaga yang menghalanginya.


"Aku ingin bertemu Atherio," ucapnya.


"Apa kau memiliki janji dengan tuan Atherio?" Tanya Gun Seok.


"Haruskah?" Tanya gadis itu dengan polosnya. Dia tampak berpikir untuk mencari alasan yang tepat.


Han Gun berkacak pinggang, "Lebih baik kau segera pergi dari sini, atau orang-orang ini yang akan membawamu keluar."


"Aku sudah ada janji. Terakhir kami bertemu, Atherio bilang sampai jumpa. Jadi, itu adalah janji yang resmi," ucap gadis itu. Gun Seok memberikan kode kepada orang-orangnya untuk mengusir gadis itu.


"Atherio!!! Atherio!"


Mendengar suara keributan, Atherio segera keluar dan melihat apa yang terjadi. Pria itu melihat sesaat pada gadis tersebut.


"Siapa dia?" Tanya Atherio pada Gun Seok. "Aku tidak tahu, Tuan. Gadis keras kepala itu ingin menemui anda tanpa ada janji," jawab Gun Seok.


"Atherio! Aku So Yeon! Apa kau ingat!" Teriak gadis yang ternyata adalah So Yeon. Atherio tampak berpikir, "So Yeon?"


"Lepaskan aku!" So Yeon menghampiri Atherio. "Aku teman sekolahmu, apa kau lupa?" Tanya gadis itu.


Atherio mengangguk, "Iya, kau gadis yang berkacamata itu, kan?" Atherio melihat perubahan besar pada gadis di depannya. Tidak ada kacamata, rambut kuncir dua, atau sikap pemalu yang biasa ditunjukkan gadis itu dulu. Dia terlihat begitu cantik dan mempesona.


"Apa aku tidak boleh menemuimu?" Tanya So Yeon dengan ekspresi sedih. "Emm, sebenarnya kau bisa menemuiku di tempat lain. Tidak di rumahku."


"Tempat lain?" So Yeon tampak berpikir lalu tertawa sambil memukul lengan Gun Seok di sampingnya. Gun Seok memundurkan tubuhnya karena tingkah konyol gadis itu.


"Permisi, Tuan." Gun Seok membungkuk dan berlalu diikuti oleh anak buahnya.


So Yeon berbisik, "Anak buahmu itu sangat menakutkan. Dia galak."


"Mereka melakukan pekerjaan dengan baik. Ayo kita bicara diluar," ucap Atherio sambil berlalu lebih dulu. So Yeon terbelalak mendengar ajakan Atherio.


Diluar? Apa dia mengajakku berkencan?


Atherio membawa So Yeon ke sebuah restoran yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. So Yeon tampak senang.


"Kau tahu, aku benar-benar sedih ketika kau pergi ke Amerika waktu itu. Aku pikir, kita tidak akan bertemu lagi."


"Kenapa kau ingin bertemu denganku? Aku bukan pria yang ramah. Kau tahu itu," ucapan Atherio terdengar sarkas.


"Karena kau temanku. Apa aku salah?"


"Salah, kau berteman dengan orang yang salah."


"Kenapa kau bilang begitu? Christian.."


Atherio menggebrak meja. Seisi restoran melihat kearahnya. So Yeon juga terhenyak karena sikap Atherio yang berubah.


"Jangan sebut namanya," geram Atherio kemudian bangkit dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan So Yeon.


Gadis itu menatap punggung Atherio yang kian menjauh dan menghilang dibalik pintu.


Apa yang membuatmu menjadi seperti itu?


◆◇◆


 


 


Atherina menyetir mobilnya dengan fokus. Ada Han Jin di sampingnya. Kedua mata pria itu ditutupi perban. Operasinya telah selesai. Dokter menyarankan agar Han Jin jangan dulu membuka perbannya. Dokter akan datang keesokan harinya ke rumah Han Jin untuk membuka perban tersebut.


 


 


Dengan berat hati, Han Jin menurutinya. Atherina selalu memberikan dukungan kepada Han Jin. Pria itu akan merasa tenang dan nyaman apabila Atherina berada di sampingnya.


 


 


Atherina masih memikirkan ucapan Han Jin. Waktu itu, Han Jin mengungkapkan perasaannya pada Atherina.


 


 


"Maaf, aku membuatmu tidak nyaman. Tapi.. aku mencintaimu, Atherina."


 


 


Atherina terkejut dalam diam. Dia tetap berada dalam pelukan pria itu. Atherina tidak mungkin melukai perasaan Han Jin. Pria itu telah membantunya dari awal hingga sekarang.


 


 


Mereka berdua telah tiba di rumah. Gadis itu melihat jam tangannya yang menujukkan pukul 10. Ada Han Gun di rumah. Dia tengah menyiapkan makan malam. Pria itu membantu Atherina membawa Han Jin masuk.


 


 


"Apakah rasanya sakit?" Tanya Han Gun ketika Atherina kembali ke mobil untuk membawa sesuatu.


 


 


"Kepalaku sedikit sakit sekarang," jawab Han Jin. Han Gun menepuk bahu kakaknya, "Aku ada urusan di markas, sampai jumpa besok."


 

__ADS_1


 


Pria itu melenggang pergi dan berpapasan dengan Atherina di depan pintu. "Jaga kakakku, ya." Setelah berkata demikian, Han Gun berlalu tanpa menunggu jawaban Atherina. Gadis itu memasuki ruang makan sambil membawa obat.


 


 


"Han Gun yang menyiapkan makanan? Dia bisa memasak?" Tanya Atherina. Han Jin mengangguk, "Iya, kami berlatih memasak dibawah bimbingan ibu petir."


 


 


Atherina menyelipkan rambunya ke telinga, pria saja bisa memasak, bagaimana denganmu, Atherina?


 


 


"Makanlah," ucap Han Jin.


 


 


Selesai makan, Atherina memasuki kamarnya untuk tidur. Ketika kedua mata gadis itu tertutup, terdengar suara Han Jin dari kamarnya. Atherina terhenyak dan segera bangkit menuju kamar Han Jin.


 


 


Atherina tidak menemukan Han Jin di kamarnya. Gadis itu melihat Han Jin yang hanya memakai boxer berdiri membelakangi pintu. Punggungnya yang kekar terlihat mengkilat karena air. Pria itu menyentuh perban di matanya. Sepertinya Han Jin hendak mandi, namun air sabun meresap ke perbannya. Atherina bingung harus bagaimana. Gadis itu mendekat dan membenarkan perban yang menutupi mata Han Jin. Pria itu sedikit tersentak ketika tangan lembut Atherina menyentuh wajahnya.


 


 


Kedua pipinya memerah karena Atherina pasti melihat dirinya yang topless. Itu memalukan.


 


 


Han Jin memecah keheningan dengan berkata, "Maaf, tadi aku mengguyur seluruh tubuhku dengan air tanpa mengingat mataku."


 


 


Atherina tersenyum, "Lain kali, Kakak memanggilku saja jika membutuhkan bantuan."


 


 


"Aku tidak mau terus menerus merepotkanmu. Aku tidak mau kau menganggapku pria lemah."


 


 


"Aku tidak pernah berpikir begitu. Kak Han Jin adalah pria yang hebat," ucap Atherina.


 


 


Hening.


 


 


 


 


Tangan Han Jin terangkat dan menyentuh tangan Atherina. Gadis itu berhenti bergerak dan menatap Han Jin.


 


 


Pria itu mendekap Atherina dengan erat. Dia tidak ingin kehilangan Atherina. Semakin hari, cintanya semakin bertambah untuk gadis itu. Dada basah Han Jin bersentuhan langsung dengan tubuhnya. Atherina melepaskan pelukan Han Jin dengan lembut.


 


 


"Kakak tidak jadi mandi?" Tanya Atherina. Han Jin mengangguk. Gadis itu membawa Han Jin keluar dari kamar mandi. Atherina mencarikan baju untuk Han Jin. Dia menemukan kemeja hitam di lemari. Gadis itu memakaikan Han Jin kemeja tersebut.


Belum sempat gadis itu mengancingkan kemejanya, Han Jin memegang bahu Atherina agar duduk di tepi tempat tidurnya. Atherina menurut. Pria itu menekuk sebelah lututnya, "Apa kau tidak merasa terbebani dengan ini?"


"Aku melakukannya sesuai permintaan ibu petir," jawab Atherina jujur. Han Jin mengangguk paham. Pria itu berdiri dan pergi membelakangi Atherina. Gadis itu menghampirinya, "Kak Han Jin?"


Pria itu sedikit meringis sambil menyentuh perbannya. Atherina segera melihat wajah Han Jin. Dia menangkup wajah pria itu. Perbannya terlihat basah lagi.


"Kakak menangis?" Tanya Atherina. Han Jin mengalihkan pandangannya ke samping. Atherina masih menangkup wajah Han Jin, "Maafkan aku, Kak. Aku tidak berniat melukai hatimu."


Tiba-tiba, Han Jin menangkup wajah Atherina dan mengecup lembut bibirnya. Gadis itu terkejut dan refleks mendorong Han Jin. Pria itu tidak goyah. Atherina merasa Han Jin memeluknya dengan erat. Punggung Atherina berbenturan dengan dinding. Han Jin melepaskan ciumannya. Dia menjilat bagian bawah bibirnya yang basah karena ciuman barusan.


Atherina mendorong Han Jin, "Aku tidak bisa seperti ini." Han Jin tidak bergerak dari posisinya. Kedua tangannya bertumpu pada dinding seolah memenjarakan Atherina di dalam. Han Jin mengecup Atherina sekali lagi. Gadis itu menahan bahu Han Jin.


"Apa aku membuatmu takut?" Tanya Han Jin dengan suara bergetar. Gadis itu terdiam tanpa mau melihat wajah Han Jin. Pria itu memeluknya, "Maafkan aku."


"Maaf, aku berjanji tidak akan mengulanginya," kata Han Jin lagi. Atherina menggerakkan tangannya untuk membalas pelukan Han Jin, tapi..  tiba-tiba seseorang muncul dan melukai punggung Han Jin dengan pisau. Atherina terkejut. Han Jin hampir jatuh ke samping, namun dia bertahan dan berbalik. Atherina melihat darah segar menetes dari punggung Han Jin. Dia mencoba melihat siapa orang yang menyerang Han Jin.


Pria itu berdiri di depan Atherina dan Han Jin. "Siapa kau?!" Bentak Han Jin. Kepalanya terangkat. Atherina terkejut, ternyata dia Atherio.


"Beraninya kau berbuat buruk pada kakakku!" Teriak Atherio. Atherina tampak khawatir karena pria itu membawa pisau.


"Hanya pengecut yang berani menyerang dari belakang," ucap Han Jin geram. Atherio mendecih, "Kau tidak bisa mengambil milik orang dengan paksa!"


Terjadi perkelahian di dalam kamar Han Jin. Meskipun Han Jin tidak bisa melihat, tapi dia bisa mengimbangi kekuatan Atherio. Beberapa kali Atherio jatuh tersungkur karena mendapat pukulan dari Han Jin.


Atherina berusaha melerai mereka. Atherio tidak mau mendengarkan kakaknya, dia terus menyerang Han Jin. Punggung Han Jin membentur dinding karena mendapat tendangan keras dari Atherio.


Darah di punggungnya tercetak jelas di dinding tersebut. Han Jin membuka perbannya dengan paksa. Matanya terbuka. Manik biru itu melihat tajam kearah Atherio. Atherina terkejut melihat Han Jin yang mulai terbiasa dengan mata barunya.


Han Jin menatap Atherina yang juga sedang melihat kearahnya. Gadis itu menggeleng agar Han Jin tidak terus menerus menyerang adiknya.


Namun, perkelahian tetap berlanjut. Han Jin semakin kuat dengan seluruh indranya yang lengkap. Han Jin membanting tubuh Atherio ke meja hingga mejanya hancur. Atherina menghalangi Atherio dari Han Jin. Gadis itu merentangkan kedua tangannya, "Aku mohon, jangan sakiti adikku."


"Aku tidak bisa mendengarmu terus menerus mendapatkan perintah darinya! Dia tidak memperlakukan seperti seorang kakak!" Teriak Han Jin. Atherina menggeleng cepat.


Han Jin melangkah mendekati Atherina dengan manik birunya yang bergetar, "Dia tidak pantas mendapatkan kasih sayang darimu, Atherina."


Atherina menyentuh bahu Han Jin, "Dia adikku, tetap adikku."


Atherio bergerak cepat menarik tubuh Atherina dan memukul titik kesadaran kakaknya. Han Jin terkejut, "Apa yang.."


Gadis itu kehilangan kesadarannya dan terkulai dalam pelukan Atherio.

__ADS_1


"Jangan mendekat!" Ancam Atherio. Terpaksa Han Jin menghentikan langkahnya.


"Jangan mengikutiku!" Ucap Atherio kemudian berlalu pergi meninggalkan Han Jin yang tampak marah. Pria itu menelepon seseorang, "Ikuti mobil Atherio."


◆◇◆


 


 


Atherio menyetir dengan kecepatan tinggi. Sesekali dia melihat Atherina yang masih terlelap di sampingnya. Kepala gadis itu bersandar di bahunya.


 


 


Mobilnya terhenti. Pria itu menyentuh bibir Atherina, "Beraninya dia memaksamu." Atherio mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Atherina.


 


 


Atherio tiba di rumah. Semua pelayan dan para penjaga terkejut melihat kedatangan Atherio karena tiba-tiba membawa Atherina yang tidak sadarkan diri dan menggendongnya dengan bridal.


 


 


Pria itu membawa Atherina ke kamarnya dan langsung menelepon, "Bibi Ha Yeon, datanglah kemari."


 


 


Setelah mengakhiri panggilannya, Atherio memperhatikan Atherina yang masih belum sadarkan diri.


 


 


Beberapa menit kemudian, Ha Yeon datang dengan membawa banyak peralatan.


"Tuan muda, apa yang terjadi dengan Nona Atherina, sehingga anda menelepon malam-malam begini?" Tanya Ha Yeon panik. Dia melihat Atherina di tempat tidur.


Atherio juga menoleh kearah Atherina, "Periksa dia, apakah dia sedang mengandung?"


"A-apa?" Ha Yeon terperanjat.


"Aku memberikannya sedikit obat penenang," ucap Atherio dengan polosnya. "O-obat penenang? Tapi, itu berbahaya untuk wanita hamil." Ha Yeon segera memeriksa Atherina. Atherio memperhatikannya.


Ha Yeon menoleh padanya, "Maaf, Tuan.. aku membutuhkan privasi."


Terpaksa, Atherio keluar dari kamarnya. Dia bersandar pada dinding sambil menengadah, "Sialan, apa saja yang sudah dilakukan si Han Jin itu pada kakakku?"


Atherio mengingat jelas ketika dia menyusup ke rumah Han Jin. Pria itu mencium Atherina dengan kasar. Itu membuat hatinya terbakar.


Terdengar suara keributan yang berasal dari lantai bawah. Atherio melihat Carlos menaiki tangga dan menghampirinya, "Tuan, ada kelompok petir yang datang. Mereka bersama Han Jin, sepertinya mereka sedang marah."


"Bukan sepertinya. Mereka memang marah," ucap Atherio sambil melihat ke bawah. Carlos mengerutkan keningnya. Han Jin sedang menatap tajam kearahnya. Atherio mengepalkan tangannya, "Punya mata baru, dia sombong sekali."


Pria itu menaiki tangga dan menghampirinya. Carlos melirik Atherio dan Han Jin bergantian. Atherio menggerakkan kepalanya, "Paman, kau bisa kembali."


Carlos membungkuk kemudian pergi. Han Jin melipat kedua tangannya di depan dada, "Apa maksudmu menyusup ke rumahku? Lalu kau melukai Atherina. Apa kau sudah gila?"


Atherio memiringkan kepalanya, "Aku tidak suka dengan caramu memperlakukan dia seperti itu. Kau seperti binatang ketika berada didekatnya. Apa Aleena Park yang mengajarimu bersopan santun?"


Han Jin terkejut. Atherio mendecih, "Aku tahu semuanya! Tapi, aku diam!"


"Dimana Atherina? Kau apakan dia?" Tanya Han Jin sambil melangkah menghampiri pintu. Tapi, Atherio mendorongnya.


"Kenapa Atherina bersedia tinggal di rumahmu?" Tanya Atherio menggertak.


Han Jin menyeringai dingin, "Ibu petir yang menyuruhnya tinggal bersamaku. Atherina juga menginginkannya. Apa Atherina tidak menceritakannya padamu? Tentu saja, ketika dia kembali dari rumahmu, dia sangat kecewa dengan sikapmu. Dia memelukku dan tidak ingin kembali ke rumah ini."


Atherio mengepalkan tangannya geram. Dia melayangkan pukulannya. Han Jin dengan sigap menahan Atherio.


"Kau tidak terlihat bersikap seperti seorang adik. Kau bersikap seperti seorang pria. Apa kau mencintai Atherina?" Tanya Han Jin. Atherio tidak mengira Han Jin bisa membaca sikapnya.


Han Jin tersenyum sinis, "Setelah menemukanmu tidur dengan jalang, apa kau pikir Atherina mau menerimamu? Meskipun kau bukan adik kandungnya, kau tidak akan pernah bisa memiliki Atherina."


Atherio membenturkan kepalanya ke dahi Han Jin. Pria itu sedikit tersentak. Atherio menghentakkan kakinya, "Apa kau juga menyukai Atherina? Dia berbuat baik padamu hanya karena kasihan melihatmu! Ingat itu!"


Han Jin sangat marah dengan apa yang dikatakan Atherio.


Perhatian kedua pria itu teralihkan pada Ha Yeon yang baru saja keluar dari kamar Atherio dengan ekspresi serius.


Atherio segera menghampiri Ha Yeon, "Bagaimana, Bibi? Apakah kakakku sedang mengandung?"


Han Jin terkejut mendengar pertanyaan polos dari mulut Atherio. Ha Yeon menoleh pada Han Jin yang juga menghampirinya.


"Bibi Ha Yeon, kenapa kau diam saja?" Tanya Atherio. Tampaknya Han Jin juga ingin mendengarkan jawaban Ha Yeon.


"Kenapa Tuan muda menyuruhku mengecek kehamilan Nona Atherina? Padahal Nona Atherina tidak pernah tidur dengan pria," kata Ha Yeon setengah menggerutu. Wanita itu terlihat gugup. Atherio tidak mengerti maksud perkataan wanita di depannya itu.


"Nona Atherina masih seorang gadis, apa Tuan mengerti maksudku?" Tanya Ha Yeon. Atherio tampak berpikir, "Darimana Bibi bisa memastikan kalau dia masih seorang gadis?"


Ha Yeon semakin gugup, "Tadi, aku tidak menemukan tanda kehamilan. Jadi, karena aku penasaran.. aku.. aku membuka..."


Atherio memotong ucapan Ha Yeon, "Aku mengerti, kau bisa kembali."


Wanita itu membungkuk lalu pergi. Atherio mendelik Han Jin yang juga sedang menatapnya.


"Kau pikir, aku yang menidurinya?" Tanya Han Jin dengan ekspresi kesal. Atherio membuang muka, "Siapa lagi kalau bukan kau? Kau terlihat seperti bajingan."


"Meniduri dua jalang, siapa yang bajingan?" Sindir Han Jin. Atherio melenggang menuju kamarnya. Han Jin menyusul. Mereka berdua melihat Atherina yang masih belum bangun.


"Kembalilah ke rumahmu," kata Atherio. Han Jin memundurkan kepalanya, "Setelah melukai punggungku, lalu menuduhku, dan sekarang kau mengusirku? Apa Park J. A. yang mengajarimu sopan santun?"


Atherio menutup pintu kamarnya lalu menuruni tangga, "Pergilah, aku akan menemuimu besok." Han Jin mendengus, "Orang ini.."


"Aku tidak akan mengizinkan dia tinggal di rumahmu lagi," kata Atherio.


"Asal kau tahu, itu perintah ibumu."


Atherio memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, "Aku tahu. Tapi, sekarang kalian berdua berada di wilayah kekuasaanku. Jadi, ikuti perintahku."


Han Jin menautkan alisnya. Perkataan Atherio ada benarnya. Wilayah kekuasaan terbesar Han Jin di Jepang. Dia tidak mungkin bertindak gegabah ketika bertetangga dengan kelompok Park.


"Jangan membuatnya terluka. Aku akan kembali besok." Setelah mengatakan itu, Han Jin melenggang pergi.


◆◇◆


 


 


06 September 2019


 


 


By Ucu Irna Marhamah

__ADS_1


 


 


__ADS_2