![ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]](https://asset.asean.biz.id/atherio-park--sudah-terbit-.webp)
더 빠르고 더 강한 자가 삺의 전투에서 늘 이기는 것은 이니다. 이길 수 있다고 생각하는 자가 승리를 거머쥐는 것이다
◆◇◆
Pagi-pagi, pengasuh Atherio di buat kewalahan oleh tuan muda mereka. Atherio tidak mau mandi, dia mengamuk meskipun Park sudah pulang dari kantor dan berada di rumah. Dia menyaksikan Atherio berguling-guling seperti ulat di tempat tidur. Dia tidak mau mandi dan terus mengamuk. Atherina hanya memperhatikan dari dekat, dia tidak tahu harus berbuat apa.
"Ya sudah, kalau tidak mau mandi. Kuman akan memakan anak laki-laki yang bau seperti dirimu." Ucapan ketus Park hampir membuat Atherina tertawa, tapi dia berusaha untuk tidak tertawa di saat seperti itu. Park berlalu meninggalkan kamar Atherio di susul oleh kedua pengasuh Atherio.
Atherio melihat pada Atherina, "Ayah berbohong, kan?" Tanya Atherio. "Ah?" Atherina bingung.
"Tidak akan ada kuman yang mau memakan anak kecil yang manis sepertiku, kan?" Atherina ingin sekali tertawa mendengar pertanyaan adiknya yang polos itu. Dia ingin sekali mendekat dan mencubit pipi adiknya yang bulat. Namun, dia berakting seolah kesal pada Atherio.
"Aku tidak tahu," jawab Atherina sambil berusaha untuk tidak tertawa. "Kenapa Kakak berdiri di sana? Kenapa tidak mau duduk di sampingku?" Tanya Atherio sambil menepuk tempat di sampingnya.
"Kau bau," jawab Atherina polos sambil menutup hidungnya. Atherio terlihat kesal, "Kenapa Kakak bilang begitu?" Atherio menggerutu.
"Kalau begitu, kau harus mandi." Atherina mendekat sambil menarik tangan Atherio. "Aku tidak mau!" Atherio memberontak. Atherina mengangkat tubuh Atherio yang lebih kecil darinya. Atherio memeluk leher kakaknya. "Mandi, ya. Aku akan menyalakan air hangat," bujuk Atherina. Atherio pun menurut, dia mengangguk pelan.
Di ruang pribadinya, Park tersenyum mendengar percakapan kedua anaknya. Dia tidak memasang CCTV di kamar dan kamar mandi, tapi dia memasang alat pendengar jarak jauh di setiap sudut ruangan.
Atherio sudah rapi dengan pakaiannya. Dia tampak lebih segar meskipun masih terdapat banyak ruam merah di kulitnya yang putih. Atherina sudah terbiasa mengurus bayi ketika dia di panti asuhan. Dia suka membantu Ji Eun memandikan bayi, mengganti popok, menyuapi bayi makan, dan tugas lainnya.
"Kak, Rio mau tidur. Kakak tidur dengan Rio, ya." Atherio melelapkan kepalanya ke pangkuan Atherina. Atherina memaklumi anak kecil akan mengantuk setelah makan dan minum obat. Atherina mengusap rambut adiknya dengan lembut.
Park membuka pintu kamar putranya pelan-pelan, Atherina menoleh. Park menggerakkan tangannya memberikan kode agar Atherina menghampirinya. Atherina mengangguk, dia memindahkan Atherio ke tempat tidur dengan hati-hati kemudian berlalu keluar dari kamar Atherio bersama Park.
Park membawa Atherina ke markas bawah tanah untuk mendapatkan pelatihan khusus. Di markas bawah tanah sudah terdapat beberapa orang yang di percaya oleh Park untuk melatih Atherina. Salah satunya adalah Min Hyuk.
"Yang pertama adalah kemampuanmu untuk berbicara, kau akan belajar bahasa Inggris, Italia, dan Mandarin. Sambil berjalannya pelatihan bahasa, kau akan berlatih bela diri dan berlatih menggunakan senjata." Mendengar ucapan pelatih, Atherina tampak terbebani. Park bisa membaca lewat ekspresi putrinya, dia mengusap rambut Atherina.
"Aku percaya padamu,"
Di tempat lain,
Carlos tengah memperhatikan layar komputer dengan serius. "Apakah lokasi itu bisa di cari?" Carlos menunjuk layar sambil bertanya pada orang yang sedang mengetik komputer tersebut. Orang tersebut mengangguk kemudian memperbesar layar. Tertera nama Woo Joon Ki di name tag yang tergantung di saku seragam pria itu.
"Mereka semakin jauh dari lokasi sebelumnya. Entah apa strategi mereka selanjutnya. Tapi yang pasti kita harus tetap berhati-hati. Apa Tuan Park tahu?" Mendengar pertanyaan Joon Ki, Carlos mengangguk.
"Apa langkah kita selanjutnya?" Joon Ki menunggu jawaban Carlos. Tampaknya Carlos tidak berniat memberikan jawaban sama sekali. Joon Ki mengangguk-anggukkan kepalanya seolah sudah mendapatkan jawaban lewat diamnya Carlos.
"Aku belum tahu harus bagaimana, aku perlu bicara dengan Ji Hoo dan yang lainnya." Carlos mengeluarkan jawabannya setelah beberapa menit. "I trust you, kau penasihat terbaik Tuan Park." Carlos merasa tersanjung dengan ucapan Joon Ki.
"Ne? Umm.. thanks."
◆◇◆
Park memperhatikan Atherina yang sedang belajar bahasa Inggris dengan baik bersama pelatihnya, Min Hyuk. Anak buah Park menghampirinya, dia membungkukkan badannya sambil memberikan ponsel. Park menerimanya dan melihat layar ponselnya lalu mengangkat panggilan dari pengasuh Park.
"Tuan Park, tuan muda mengamuk. Ketika bangun tidur, dia mencari nona Park."
Park menoleh pada Atherina yang sedang menatap padanya. "Bilang padanya Atherina akan segera pulang."
"Ayaaahhh? Yaaaahh? Ayah?" suara Atherio memanggil ayahnya dengan suara yang lucu dan menggemaskan.
"Ada apa, Atherio? Kau ingin kakakmu?"
"Ayah tidak membawa kakak kembali ke Italia, kan?"
Park terkekeh mendengar pertanyaan putranya, "Tadinya Ayah mau membawanya kembali ke Italia mengingat apa yang kau lakukan pagi ini."
Atherio yang berada di seberang sana tampak terkejut, "Memangnya apa yang aku lakukan?" Tanya Atherio dengan polosnya.
"Kau mengamuk karena tidak mau mandi. Apa kau melupakan itu, anak kecil?" Ucapan Park terdengar seperti menggerutu. Selanjutnya dia mendengar Atherio merajuk.
Atherina menghampiri Park. Ayahnya memberikan ponsel tersebut pada Atherina. "Rio?"
"Kakak jahat! Kakak pergi ketika Rio tertidur, kenapa tidak membangunkanku dulu?"
Jika aku bilang dulu, kau pasti akan mengamuk seperti pagi tadi, batin Atherina.
"Katakan pada adik kesayanganmu itu, bahwa kau akan pulang," ucap Park. Atherina mengangguk mengiyakan ucapan Park. "Aku akan pulang sebentar lagi," kata Atherina. Park beranjak dari tempat duduknya, dia berbicara dengan Min Hyuk.
"Sebenarnya Kakak sedang di mana? Kenapa kalian pergi tanpa aku?"
Atherina kebingungan harus menjawab apa. Dia melihat pada Park yang sibuk berbincang-bincang dengan pelatihnya.
"Aku marah, aku tidak mau bicara pada Kakak."
Panggilan pun berakhir secara sepihak. Atherina menghela napas panjang.
__ADS_1
Di rumah Park,
Atherio memainkan mobil-mobilannya dengan remote control sambil makan biskuit karena bosan sendirian.
Pintu kamarnya terbuka, Atherio menoleh ke arah pintu. Atherina berdiri di depan pintu dengan senyuman manisnya. Atherio cemberut kesal, dia mengalihkan pandangannya. Atherina mengetuk pintu kamar adiknya, "Boleh Kak Nana masuk?"
Atherio mendelik kearah Atherina, "Iya," jawabnya pendek. Atherina tahu adiknya yang manis itu sedang marah. Dia melangkahkan kakinya mendekati Atherio.
"Maafkan Kakak, ya. Tadi Kakak mau membangunkanmu dan mengajakmu, tapi kau terlihat tertidur begitu nyenyak."
Atherio menatap Atherina kemudian tersenyum, "Aku tidak marah, aku akan marah jika ayah membawa Kakak pergi jauh lagi dari rumah ini." Atherina tertawa, "Jika ayah membawaku pergi, kau akan marah pada siapa?"
Atherio tampak berpikir setelah mendengar pertanyaan tersebut. "Memangnya kau berani marah pada ayah?" Atherio menggeleng cepat.
"Aku akan mengamuk lagi," jawaban polos Atherio membuat Atherina tertawa lepas.
"Tadi Kakak kemana?"
"Ayah membawaku ke sekolah, dia bilang aku harus sekolah agar menjadi anak yang cerdas." Seketika Atherio menatap kakaknya, "Sekolah? Kakak tidak akan di rumah lagi?"
"Aku pulang, hanya saja aku harus pergi ke sekolah pagi-pagi dan kembali siang harinya."
"Kalau begitu, Rio juga mau sekolah seperti Kakak." Atherio melipat kedua tangan di depan dada.
"Ah? Kau perlu menunggu 2 tahun lagi untuk bisa sekolah." Atherio menggeleng, "Pokoknya aku mau sekolah."
"Kalau begitu, bicaralah pada ayah."
"Baiklah, tahun depan saja sekolahnya."
Di ruang kerja, Park tertawa terbahak-bahak.
◆◇◆
Hari terus berlalu dengan cepat, selain mengikuti sekolah formal, Atherina juga mengikuti pelatihan di markas bawah tanah. Waktunya habis untuk belajar, berlatih, dan mendengarkan petuah Park.
Bahkan sekarang hampir sudah tidak ada lagi waktu untuk bermain dengan Atherio. Atherina pergi ke sekolah pagi-pagi, lalu berlatih, dan pulang malam hari. Itu adalah jam di mana Atherio tertidur. Hanya hari minggu yang menjadi penghubung antara Atherio dan Atherina.
Saat ini, Atherina sedang berlatih bela diri dengan kedua pelatihnya. Terlihat lengannya terbentuk dengan baik, begitupun dengan tubuhnya. Baru 8 bulan dia berlatih semuanya, tapi dia bisa menyerap itu semua dengan cepat dan baik.
"Min Hyuk, aku merasa Atherina bisa lebih baik dariku. Dia bisa memimpin kalian di usianya yang ke 10." Ucapan Park membuat Min Hyuk, orang kepercayaannya menganggukkan kepalanya setuju.
Sementara itu, Atherio sedang bermain sepeda di halaman depan. Sesekali pandangannya tertuju ke jalanan menunggu kepulangan kakaknya.
Atherio kembali mengayuh sepedanya mengelilingi pohon di halaman depan.
Mobil Park memasuki pelataran rumah, Atherio berhenti mengayuh sepeda dan menoleh. Dia melihat Atherina keluar dari dalam mobil, ekspresinya terlihat lelah. Atherio berlari memeluk kakaknya.
"Ye! Kakak pulang lebih awal, ayo kita main!"
Atherina mengangguk, kakinya melangkah mengikuti Atherio, namun pandangannya berkunang-kunang dan lama-lama objek yang dia lihat menjadi kabur.
Gelap.
Atherina tersungkur jatuh tak sadarkan diri. Atherio berbalik dan terkejut melihat kakaknya yang pingsan. "Kakak?" Atherio mengguncangkan tubuh Atherina. Para penjaga dan pelayan menghampiri mereka. Tubuh Atherina di angkat dan di bawa ke kamarnya.
Atherio tampak cemas, dia menangis tanpa suara. Dia melihat wajah Atherina yang semakin pucat, suhu tubuhnya juga meningkat. Atherio menghampiri salah satu pelayan, "Ayah di mana?" Tanya Atherio.
"Tuan belum kembali."
Atherio tampak sedih, "Aku mau bicara dengan ayah."
Pelayan memberikan ponsel pada Atherio, "Ayaaaah? Ayaah? Yaaahh? di mana?"
"Ayah sedang menuju ke kantor, ada rapat mendadak. Memangnya kenapa? Apakah kakakmu sudah pulang?"
"Kakak tadi jatuh."
"Jatuh?"
"Dia tidak bangun, dia sakit."
"Aku akan menyuruh Carlos untuk membawa Ha Yeon ke rumah. Dia akan memeriksa Atherina. Kau tidak perlu khawatir."
Atherio memberikan ponselnya pada pelayan. Dia melihat kembali pada kakaknya.
Beberapa menit kemudian, Carlos datang dengan langkah gegas dan ekspresi cemas di wajahnya. Dia memasuki rumah besar Park bersama seorang Dokter wanita.
Carlos bertanya pada salah satu pelayan, "Dimana Nona Atherina?" Pelayan menunjukkan kamar Atherina. Carlos mengangguk, "Ayo." Dokter itu mengangguk mengikuti Carlos yang menaiki tangga menuju kamar Atherina.
Dia melihat Atherio duduk cemas, di tempat tidur ada Atherina yang masih tak sadarkan diri. "Paman Carlos," panggil Atherio. Dokter segera memeriksa Atherina dengan cermat. Atherio memperhatikan dengan serius. Carlos mengusap rambut Atherio.
__ADS_1
"Bagaimana, Ha Yeon?" Tanya Carlos setelah Dokter Ha Yeon selesai memeriksa Atherina. "Nona Atherina mengalami kelelahan, dia harus beristirahat selama beberapa hari untuk memulihkan fisiknya." Carlos mengangguk mendengar penjelasan Ha Yeon.
Ah, jadi ini putri angkatnya Tuan Park. Kasihan sekali gadis kecil ini, sepertinya Tuan Park terlalu memaksakan putrinya, dia memang selalu melakukan apa pun sesuai dengan keinginannya, pikir Carlos.
◆◇◆
Atherio tertidur di kamar Atherina semalaman. Dia memeluk lengan Atherina seolah jika dia lepaskan, Atherina akan menghilang selamanya.
Perlahan kedua mata kecil Atherina terbuka, dia melihat Atherio di sampingnya yang tertidur lelap. Atherina tersenyum, dia membelai lembut rambut adiknya. Atherina terkejut melihat ada luka di dahi adiknya.
Atherio terbangun karena merasakan pergerakan Atherina. "Kak Nana," panggil Atherio. "Kenapa dahimu?" Atherina bertanya sambil menyentuh luka itu. Atherio sedikit meringis karena merasa nyeri.
"Kemarin aku jatuh dari sepeda." Atherina mengecup luka itu, "Kecupan kasih sayang akan menyembuhkannya. Lain kali, hati-hati jika sedang bermain sendirian." Atherio mengangguk mengiyakan ucapan kakaknya.
"Kenapa juga dengan matamu?"
"Aku menangis karena Kakak tidak bangun-bangun meskipun aku sudah berteriak dan mengguncangkan tubuh Kakak." Atherina merasa terharu dengan ucapan adiknya. Dia menangkup wajah Atherio, "Tidak perlu menangis, aku sudah berjanji tidak akan meninggalkanmu, kan?"
Atherio mengangguk-anggukkan kepalanya.
Hari terus berlalu,
Atherina kembali pulih. Dia kembali masuk sekolah seperti biasa. Atherina duduk sendirian di bangku kedua dari belakang. Tidak ada murid yang berani mendekati Atherina. Itu karena tidak ada yang mau berurusan dengan keluarga Park yang cukup di segani.
Atherina tampaknya juga tidak tertarik untuk memiliki teman.
***
"Sekarang kau sudah tahu semuanya, Atherina. Dunia gelap ini sangat berbahaya, aku tahu kau pasti merindukan teman-temanmu di panti asuhan." Park menghisap cerutunya.
"Iya, aku sangat merindukan mereka. Mereka telah menjadi temanku sejak kecil. Aku sangat bahagia ketika bersama mereka. Aku menyadari bahwa aku memiliki keluarga besar yang hangat di panti itu." Atherina berbicara layaknya orang dewasa.
"Kau sangat menyayangi mereka?"
"Iya,"
"Jika kau menyayangi mereka, jangan pernah kau menemui mereka lagi." Ucapan Park membuat Atherina terkejut dan serta merta menatap ayahnya.
"Beginilah kerasnya kehidupan di dunia gelap. Hubungan dekat bisa membuat lubang hitam bagimu. Musuhmu akan mengincar orang-orang yang kaucintai. Mereka akan menjadikan orang-orang yang kau sayangi sebagai senjata untuk menjatuhkanmu."
Atherina mencerna ucapan ayahnya dengan baik.
"Putuskan hubungan yang sudah ada.. jangan membangun hubungan baru lagi. Cukup ini yang kau miliki sekarang."
Atherina mengangguk mengerti.
***
Seorang guru perempuan memasuki ruang kelas satu. Semua murid segera duduk rapi, termasuk Atherina. Tertera nama Tae Hee di pin nama yang di pakainya.
"Good morning, everybody." Tae Hee menyapa seluruh muridnya dengan ceria. Dia adalah guru bahasa Inggris. "Good morning," semua murid menjawab dengan serempak.
"Pagi ini kita akan belajar bahasa Inggris, untuk pertama kalinya murid kelas satu belajar bahasa Inggris, bukan?" Tae Hee tampak semangat sekali di pagi hari itu. "Kita mulai dengan berhitung menggunakan bahasa Inggris."
Atherina melihat seorang pria berambut pirang dengan kacamata hitam berjalan melewati kelasnya. Atherina mengerutkan keningnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari pria itu. Sampai di ujung jendela, dia menoleh kearah Atherina sambil tersenyum sinis. Atherina menautkan alisnya. Pria itu melanjutkan langkahnya.
"Erina Park," Atherina terkejut ketika Tae Hee memanggil namanya. Atherina menoleh pada gurunya. "Apa kau mendengarkanku?" Atherina mengangguk menjawab pertanyaan gurunya.
"Kalau begitu coba berhitung dengan bahasa Inggris."
"One, two, three, four, five, six, seven, eight, nine, ten." Atherina berhitung menggunakan bahasa inggris dengan lancar. Semua murid melihat padanya.
Tae Hee tampaknya juga terkejut. Dia melihat ke papan tulis, hanya ada angka 1 sampai 3. Dia baru mau menulis angka 4.
Atherina mengangkat tanganya dan bertanya, "Excuse me, Ma'am. May I wash my hand?"
Tae Hee mengangguk-anggukkan kepalanya masih dengan ekspresi bingung. Atherina bangkit dari kursi, kemudian membungkukan badannya pada Tae Hee dan segera berlalu keluar dari dalam kelas.
Atherina mencari pria yang tadi melewati kelasnya. Kemana dia pergi? Siapa dia?
Atherina melihat ke sekeliling taman sekolah. Dia berbalik, Atherina melihat pria itu berjalan di koridor sekolah dan berbelok ke kanan. Atherina segera berlari ke sana.
Itu pasti musuh ayah...
◆◇◆
07.30 : 22 Juni 2019
By Ucu Irna Marhamah
Maaf aku gak pake italic sama bold, karena aku update di HP. jadi terbatas. di ms. word, aku pake italic sama bold, tapi pas di copas ke sini aku harus mengubahnya lagi secara manual.
__ADS_1