ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]

ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]
Flashback


__ADS_3

Dokter dan perawat di kamar bersalin tampak sibuk. Aleena yang terlihat cantik diusia mudanya terbaring lemah di atas tempat tidur. Matanya melihat ke ranjang bayi di sampingnya. Ada bayi kecil yang baru saja terlahir dengan sehat. Aleena baru saja menyusuinya sebelum bayi itu tertidur pulas. Namun, kondisi Aleena sangat lemah setelah melahirkan. Dia sempat pingsan. Salah seorang perawat menggendong bayi itu dan memberikannya pada Aleena.


"Lihatlah nona Park, putra anda sangat tampan."


Aleena tersenyum mendengar pujian perawat itu. Sementara itu di luar ruangan, Park muda sedang berbicara dengan dokter perempuan yang menangani kelahiran bayinya. Ekspresi mereka terlihat begitu serius.


"Beruntung pendarahannya tidak berlangsung lama. Kami benar-benar khawatir," ucap sang dokter. Park bisa bernapas lega.


Pria itu memasuki kamar bersalin istrinya. Semua perawat yang ada di dalam membungkuk kemudian berlalu. Park melihat bayi kecil dalam dekapan Aleena. Wanita itu sedang menyusui bayinya.


"Apa kau merasa nyaman di ruangan ini?" Tanya Park. Aleena tersenyum, "Ini ruangan VIP."


Hening.


Tiada hentinya Aleena menatap putra kecilnya itu. Park yang melihatnya menghela napas panjang. Aleena menoleh sebentar pada Park, "Aku sudah memilih nama yang cocok untuk putraku."


Park duduk di kursi dekat tempat tidur tersebut, "Siapa namanya?"


Bayi kecil itu tertidur dengan pulasnya, "Namanya Atherio, emas dalam kehampaan."


"Kehampaan? Kenapa harus memilih nama seperti itu?"


Aleena menatap lurus ke depan, "Dunia gelap membuat hati kita hampa. Putraku terlahir dari dua orang kelompok kuat yang hidup dalam kehampaan. Tapi, aku tidak akan membiarkannya mengalami hak yang sama dengan kita. Dia akan menjadi putra yang bahagia. Hidup di dalam rumah yang aman, bukan markas yang berbau darah."


"Kalau begitu, berhenti menjadi ibu petir. Jaga Atherio dengan baik seperti seorang ibu." Mendengar tanggapan Park, Aleena menoleh pada suaminya, "Aku tidak bisa. Aku memegang kekuasaan yang besar. Jika aku berhenti di titik ini, semuanya akan menarget kita."


"Aku akan mengatasinya, aku juga memiliki kekuasaan yang kuat. Cukup aku yang menjadi gangster, kau harus menjadi ibu yang baik untuk putramu."


"Akan ada perang, aku harus mengurus pasukanku."


"Aleena, perang itu bukan untuk wanita! Kau baru saja melahirkan! Aku yang akan menggantikanmu di medan perang!"


"Apa kau merasa lebih baik dariku?! Hanya karena aku ini wanita?"


"Jadi, kau lebih memilih kelompokmu dibandingkan putramu?!"


"Perang ini adalah perang terakhir untukku! Aku akan kembali dan berhenti menjadi gangster! Aku akan menjadi ibu untuk putraku!"


"Apa kau tidak takut mati di medan perang?! Bagaimana jika kau mati! Atherio membutuhkan dirimu!"


Hening.


Tanpa mereka sadari, Han Jin yang masih kecil menguping pembicaraan mereka di luar ruangan. Kedua matanya masih berwarna hitam bening dan bisa melihat dengan baik.


Park mengambil Atherio dari Aleena. Wanita itu berteriak, "Kau mau kemana! Jangan bawa putraku! Dia membutuhkanku!"


Atherio menangis ketika ayahnya membawanya keluar. Park berpapasan dengan Han Jin. Sejenak terjadi kontak mata antara keduanya. Han Jin melihat Atherio yang terus menangis dipangkuan Park. Pria itu berlalu sambil berusaha menenangkan Atherio.


Han Jin melihat Aleena yang histeris. Dia memasuki ruangan dan berusaha menenangkan hati ibu petir.


Selama dalam asuhan Park, Atherio selalu rewel dan menangis. Bayi yang masih sangat kecil itu sangat memerlukan ibunya. Seisi rumah geger ketika Atherio mengalami kejang dan terdapat ruam merah di sekujur tubuhnya. Park benar-benar panik setengah mati. Ketika dokter memeriksanya, Atherio ternyata alergi dengan susu. Tentu saja Park mengganti susu ASI yang seharusnya diberikan oleh seorang ibu. Dokter menyarankan agar Atherio diberikan pada ibunya.


Park merasa frustasi. Dia tidak mungkin memberikan Atherio kepada Aleena. Saat ini sedang ada kerusuhan di kelompok istrinya itu. Apalagi sebentar lagi akan ada perang besar antara kelompok petir dengan kelompok musuh. Park memukul dinding.


Ketika Park memasuki kamar putranya, dia terkejut melihat keberadaan Aleena. Wanita itu sedang menyusui putranya.


"Sialan kau, Park. Monster sekejam dirimu memang harus mati sejak dulu. Selain membunuh orang, kau juga mau membunuh anakmu dengan memberinya susu beracun itu?!" Aleena berbicara setengah berteriak.


Park menutup pintu dengan pelan, "Bukan susu itu yang beracun, tapi tubuh Atherio yang tidak bisa mengkonsumsinya."


"Terserah mulutmu mau bicara apa, aku akan membunuhmu jika kau melukai putraku!" Bentak Aleena. Atherio kecil tertawa untuk pertama kalinya. Park dan Aleena melihat bayi mereka.


Aleena terkekeh pelan, "Ah, dia tertawa melihat kita bertengkar."


"Dia melihat kebodohan kita," ujar Park. Aleena menggerutu, "Kebodohanmu, bukan kita."


Park tahu betapa keras kepalanya Aleena. Dia hanya berharap semoga putranya tidak akan keras kepala seperti Aleena.


"Apa kau sudah memutuskan?" Tanya Park dengan ekspresi serius. Aleena menghela napas kemudian menatap Park, "Aku harus menancapkan pisau di leher pemimpin kelompok itu. Maka aku selesai."


"Aleena, apa maksudmu? Kau akan tetap pergi berperang?"


"Ini misi terakhirku."


"Aku tidak mau kau mati, aku.. aku mencintaimu, Alee."


Aleena menatap Park dengan ekspresi menyendu, "Aku tidak akan mati, kau pikir siapa yang melatih pasukan khususmu? Aku lebih baik darimu, aku akan kembali dan menjadi ibu untuk putraku."


Setelah mengatakan itu, Aleena bangkit dan mencium Atherio yang sudah tertidur sejak kapan. Wanita itu menidurkan bayinya ke ranjang. Sejenak ibu petir menatap putranya.


Aleena berlalu meninggalkan mereka berdua. Park menengadah ke atas, "Aku harus bagaimana, kita tidak bisa begini."


Peperangan telah terjadi. Kelompok petir melawan kelompok musuh dengan gesit dibawah arahan Aleena. Wanita itu turun ke medan perang bersama pasukan terbaik. Dan tanpa terduga, telah tiba bantuan pasukan dari kelompok Park. Dua lawan satu, tentu kelompok petir memenangkan perang dengan bantuan kelompok Park. Aleena tidak melihat Park. Pria itu tidak ikut berperang. Ji Hoo yang membantu peperangan menjelaskan jika Park menjaga Atherio dari serangan musuh yang bisa saja datang dengan tiba-tiba.


Aleena segera pergi ke rumah Park. Dia tidak melihat keberadaan Park dan putranya. Yang ada hanyalah beberapa pelayan yang sedang membersihkan darah di lantai.

__ADS_1


"Ada apa ini? Dimana Park dan putraku?" Tanya Aleena yang panik.


Salah satu pelayan menjawab dengan suara pelan karena takut, "Telah ada penyusup, tuan Park menghabisi mereka semua dan menyuruh kami membersihkan jejak ini. Tuan telah pergi bersama tuan muda."


Bagaikan tersambar petir mendengar jawaban tersebut. Aleena mencengkram lengan pelayan itu, "Katakan mereka pergi kemana!"


"Kami.. kami tidak tahu."


"Arrrgghhhh!!" Aleena berteriak sambil menjambak rambutnya sendiri.


"Beraninya kau mengambil Atherio dariku!"


Jika saja Aleena menurut untuk menjaga Atherio, maka Park dengan kelompoknya yang akan perang bersama kelompok petir untuk mengalahkan musuh.


Park mengakui jika kemampuan Aleena memang lebih baik dibandingkan kemampuannya sendiri. Hanya saja, Aleena terlalu percaya diri dan selalu mengikuti kata hatinya tanpa memikirkan resiko yang bisa saja tejadi.


Aleena pernah berjanji akan berhenti memimpin kelompok setelah perang. Tapi, karena Park membawa Atherio pergi, Aleena tidak berhenti disitu. Dia tetap menjadi gangster dan mencari tahu keberadaan Park dan putranya. Ternyata Park tinggal di Korea, tempat lama yang ditinggalkan Aleena. Tempat kelahiran Aleena. Wanita itu mencari tahu siapa saja yang membantu Park pergi ke Korea. Ada banyak nama termasuk orang-orang kepercayaannya sendiri yang berkhianat. Hakada salah satunya. Pria Jepang itu membantu Park pergi diam-diam dari Italia. Padahal Hakada adalah salah satu orang yang sangat dipercayai oleh Aleena.


Aleena juga memerintahkan pasukan khususnya untuk menyelidiki kelompok Park. Tapi, tidak mudah mencari informasi tentang kelompok Park yang sangat tertutup. Sepanjang hari Aleena memikirkan cara yang tepat untuk menemui Park dan putranya. Namun, terakhir kalinya dia bertemu Park ketika diserang musuh dengan tiba-tiba.


Park meminta Aleena menemui Atherio diwaktu yang tepat. Aleena tidak mengerti dengan permintaan terakhir pria itu. Padahal dia bisa menemui Atherio kapan saja. Namun, Aleena memilih bersabar, karena Park memang orang yang tidak terduga. Aleena mendapatkan foto Atherio yang sudah remaja dari seorang paparazzi yang ditugaskan Han Jin. Aleena sangat bahagia bisa melihat wajah putranya walaupun tidak secara langsung.


***


Buliran bening itu menetes dari sudut mata Aleena yang sudah terbangun. Ada Han Jin yang setia duduk di kursi tanpa menyadari apa pun. Dia tidak tahu ibu petir telah sadar. Aleena menoleh pada Han Jin. Wanita itu semakin tidak kuasa membendung air matanya. Han Gun memasuki kamar rawat dengan membawa dua mangkuk makanan hangat di tangannya. Laki-laki itu terkejut melihat Aleena yang sedang menangis.


"Ibu petir?" Han Gun menyimpan kedua mangkuk itu ke meja. Dia menghampiri Aleena. Han Jin terkejut mendengar suara adiknya. Tangannya menggapai lengan Han Gun, "Apa yang terjadi dengan ibu petir?"


Han Gun terlihat lega, "Ibu petir sudah bangun, Kak."


"Ah? Maafkan aku tidak menyadarinya." Han Jin merasa bersalah. Aleena masih belum bisa mengendalikan perasaannya. Han Gun bingung harus berbuat apa. Seumur hidupnya, dia tidak pernah melihat wanita nomor satu kelompok petir itu menangis seperti wanita pada umumnya.


"Kalian berdua kembalilah ke rumah, tidurlah dengan nyaman. Biarkan aku sendiri disini." Ucapan Aleena membuat kedua laki-laki itu heran.


"Aku mohon, aku akan baik-baik saja."


Setelah memikirkannya dengan matang, mereka berdua meninggalkan Aleena yang masih menangis.


◆◇◆


Hari minggu,


Atherina memakan makanan pesanannya yang masih hangat. Dia menikmati hari liburnya tanpa memperdulikan lebam di wajahnya akibat serangan Aleena. Ponselnya berdering. Gadis itu melihat nama adiknya di layar. Dia segera mengangkat panggilan dari adiknya, "Halo? selamat pagi, Rio?"


Terdengar suara dari seberang sana, "Menikmati harimu? Apa kau sudah makan?"


Suara bariton itu kembali menjawab, "Nanti aku makan, hari ini aku ingin bermalas-malasan."


"Jangan telat makan, jangan lupa cuci tangan sebelum makan, oh iya satu lagi, jangan memakan makanan yang mengandung susu. Atau wajahmu akan seperti stroberi."


Atherio terkekeh seksi, "Kau masih menganggapku anak kecil?"


Atherina menelan makanannya dan segera menjawab, "Kau tetap pria kecil bagiku."


"Tidak sadar, tubuhku lebih besar darimu, Atherina."


"Beraninya kau memanggil namaku. Panggil aku kakak!" Atherina meminum jusnya.


"Aku tidak mau."


"Jangan sampai Amerika mengubahmu, pria muda."


"Amerika tidak mengubah siapa pun. Aku mau bilang sesuatu."


"Apa?"


"Mulai sekarang, jadwalku penuh. Aku tidak bisa menghubungimu setiap waktu. Aku juga tahu kau pasti sibuk disana."


"Aku mengerti, tidak masalah. Apa ada lagi yang ingin kau katakan?"


"Iya.."


Atherina menunggu Atherio menyelesaikan kalimatnya.


"... aku mencintaimu."


"Ah, kau ini!" Belum sempat Atherina mengumpat, Atherio sudah memutuskan panggilannya. Gadis itu melihat ponselnya lalu menggeleng pelan.


"Anak ini.." Ponselnya dilempar begitu saja ke tempat tidur.


Setelah sarapan, Atherina pergi ke markas Aleena. Gadis itu melihat ibu petir sedang di kantornya. Dia tidak menyapa karena di luar dunia gelap, mereka akan terlihat seperti tidak saling mengenal. Sementara Atherina mengira jika wanita itu masih marah padanya.


Sepertinya ibu petir sedang sibuk, apakah aku kembali saja ke apartemen? Aku sedang malas menjalani misi. Atherina membatin dan berada dalam situasi kebingungan. Seseorang melingkarkan tangannya ke pinggang Atherina. Laki-laki itu membawanya ke lift. Atherina yang terkejut menoleh, ternyata Han Gun.


"Ibu petir sedang rapat di perusahaannya. Untuk sementara, Kakakku yang akan memulai rapat di markas," ucap Han Gun sambil menekan tombol menuju lantai dasar. Atherina melepaskan tanga Han Gun darinya, "Jadi, ada rapat mendadak di markas?" Han Gun mengangguk.

__ADS_1


"Kemarin ibu petir marah padaku dan bilang aku ini bukan anggotanya lagi, bagaimana jika dia masih marah dan tidak mau melihat keberadaanku disini?"


"Dia tidak banyak menceritakan kejadian semalam, ibu petir langsung bersikap seperti biasanya. Meskipun aku menemukannya dalam keadaan menangis ketika tersadar," kata Han Gun. Atherina mengerutkan keningnya.


Mereka telah sampai di lantai dasar. Ada banyak orang disana. Han Jin berdiri sebagai wakil Aleena. Pria itu mulai berpidato. Atherina tidak terlalu mendengarkan, menurutnya itu sangat membosankan.


".. oleh karena itu, ibu petir merekrut anggota baru yang handal.." Atherina mendongkak menatap Han Jin. Seseorang menghampiri Han Jin. Pria itu tersenyum tipis ketika Han Jin menepuk punggungnya.


".. namanya adalah Hwan Jang, dia akan menjalani misi pemula."


Semua orang bertepuk tangan kecuali Atherina yang menatap curiga pada pria yang tidak lain adalah Lee Hwan. Entah apa yang dilakukan polisi itu disana.


Pandangan Lee Hwan mengarah pada Atherina. Gadis itu mengalihkan perhatiannya kearah lain. Lee Hwan mengangguk pelan.


Setelah selesai berpidato, Han Jin memperkenalkan Hwan pada Atherina dan Han Gun. Pria itu berjalan dengan memegang bahu Hwan.


"Anggota baru ini memiliki keahlian yang bagus. Jadi, ibu petir membawanya kemari. Namanya Hwan Jang," ucap Han Jin.


Atherina dan Han Gun melirik sebentar pada Hwan yang berdiri tegak.


"Kau sudah bilang ketika berpidato tadi," ujar Atherina.


"Kenapa dia terlihat seumuran denganmu, Kak?" Tanya Han Gun.


Han Jin menyanggah ucapan adiknya, "Memangnya kenapa? Usia bukan masalah.."


".. yang laki-laki adalah Park Han Gun, adikku. Dan perempuan yang bersamanya adalah Atherina Park. Mereka berdua tiga tingkat posisinya diatasmu."


"Senang bertemu denganmu, sunbae." Hwan terlihat semangat.


"Tidak ada panggilan khusus dalam dunia gelap. Entah itu lebih tua atau lebih tinggi jabatannya. Semuanya diwajibkan memanggil nama, kecuali orang-orang penting yang memiliki julukan," ucap Atherina tegas. Hwan mengangguk mengerti.


"Kalian akan berada dalam misi yang sama setelah ini," ucap Han Jin. Han Gun dan Atherina saling pandang. Han Gun mulai protes, "Kami menjalani misi untuk promosi posisi kami."


"Promosi kalian akan berjalan cepat jika kalian mengerjakan misi sambil melatih pemula," kata Han Jin. Han Gun melihat tubuh Hwan, "Dia tidak terlihat seperti pemula."


Han Jin menjawab, "Dia memang terlatih. Tapi bagaimanapun juga, disini dia sebagai pemula."


Han Gun menekan lengan dan dada Hwan yang kekar. Atherina memutar bola matanya sambil memegang dahi melihat tingkah konyol temannya.


◆◇◆


Ketika Atherina akan memasuki mobil Han Gun, gadis itu melihat keberadaan Aleena di jarak yang cukup dekat. Atherina menutup pintu mobil Han Gun.


Di restoran Jepang, Aleena memesan ruangan VIP untuk mereka berdua.


Wanita itu berkali-kali menuangkan sake dan meminumnya. Atherina memperhatikan Aleena.


"Kau seperti gadis yang tiba-tiba jatuh dari atas dan sampai ke kelompokku." Atherina mengerutkan keningnya mendengar ucapan Aleena.


Apa dia sedang mabuk? Batin Atherina.


"Aku seperti melihat seseorang yang kukenal sejak lama dalam dirimu. Haha.. kau memiliki kemampuan seperti Park, sikapmu mengingatkanku sewaktu muda, dan namamu.. mengingatkanku pada putraku," nada bicara Aleena berubah menjadi sedih.


Pertama kalinya Atherina melihat wanita kuat di depannya itu terlihat begitu rapuh.


Aleena memperlihatkan sebuah buku pada Atherina. Gadis itu membukanya. Terdapat beberapa foto Atherio yang tertempel rapi dalam buku tersebut seperti sebuah album foto. Namun, itu bukan album foto. Sebuah buku harian yang berisi banyak tulisan dan dilengkapi foto Atherio sejak bayi sampai remaja.


Atherina tidak tahu Aleena bisa mengumpulkan foto adiknya sampai sebanyak itu. Padahal Atherina tahu jelas seberapa tertutupnya kelompok Park untuk melindungi pemimpin mereka. Memotret Atherio tanpa izin adalah kesalahan besar.


"Putraku sangat tampan, kan? Aku ingin melihatnya. Aku ingin memeluknya seperti dulu."


Atherina menggenggam kedua tangan Aleena. Buliran bening menggenang di pelupuk mata gadis itu, "Aku berjanji akan mempertemukan kalian. Aku berjanji. Atherio juga merindukanmu."


"Iya.. namanya Atherio. Putraku yang tampan bernama Atherio."


Atherina tersenyum sambil mengangguk cepat.


◆◇◆


"Wer aufhört, Fehler zu machen, lernt nichts mehr dazu“


(Theodor Fontane)


 


 


 


 


01 September 2019


By Ucu Irna Marhamah

__ADS_1


 


 


__ADS_2