![ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]](https://asset.asean.biz.id/atherio-park--sudah-terbit-.webp)
"Jika kau di takdirkan untuk terlahir kembali, maka kau ingin terlahir sebagai?"
(Ucu Irna Marhamah)
◆◇◆
Hari mulai gelap, Atherio dan Atherina duduk bersebelahan di kursi taman kota. Mereka berdua sedang memakan es krim.
"Apa ayah tidak akan marah karena kita pulang telat?" Atherina menggeleng menjawab pertanyaan Atherio, "Aku sudah bilang."
"Kapan dia pergi ke Singapura?" Mendengar pertanyaan itu, Atherina menoleh pada adiknya. "Apa kau begitu menginginkan dia pergi dari daratan Korea?" Tanya Atherina setengah menggerutu. Atherio terkekeh kecil, pandangannya teralihkan pada ujung rok Atherina, terdapat noda darah di sana.
Atherina yang merasa di perhatikan segera menutup pahanya, "What do you see?" Gerutu Atherina sambil melotot pada Atherio. "Bu-bukan itu yang kulihat, kenapa ada darah di seragam Kakak?" Tanya Atherio.
Atherina terkejut, "Ah? Benarkah?" Atherina mengeceknya, ternyata benar. Atherio tampak panik, "Kakak terluka?"
"Tidak-tidak, ini bukan darahku, kau tidak perlu cemas." Atherina mengibaskan kedua tangannya. "Kakak terjatuh?"
"Tidak, Rio. Ini urusan orang dewasa." Atherio pun diam, "Kakak juga masih kecil, kenapa ayah melibatkan Kakak dalam pekerjaannya yang berbahaya?"
Pertanyaan Atherio membuat Atherina berhenti memakan es krim. "Ini pekerjaan ayah," ucap Atherina sambil menatap Atherio dengan serius.
Atherio menghela napas panjang, "Apa suatu hari nanti aku juga harus ikut terlibat dengan pekerjaan ayah?" Atherina tampak berpiki kemudian mengangguk, "Kau akan memahaminya nanti, saat ini kau belum mengerti." Atherio menatap kesal pada kakaknya, "Kenapa begitu? Aku sudah cukup besar."
"Ah, sudah besar apanya? Mau ke kamar mandi tengah malam saja kau harus membangunkanku," gerutu Atherina sambil beranjak dari kursi.
"Jangan keras-keras, nanti ada orang yang mendengar," gerutu Atherio.
"What time is it now?" Tanya Atherio.
"It's 9 o'clock. Ya sudah, ayo pulang."
Sesampainya di rumah, Atherio dan Atherina terkejut melihat banyak koper di depan rumah. Mereka berdua saling pandang. Park keluar dari dalam rumah dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya.
Park J. A.
"Ayah, malam-malam begini mau kemana?" tanya Atherina. "Aku akan pergi ke Singapura besok sore."
"Tapi kenapa semua barang ini sudah siap sekarang?" Kini giliran Atherio yang bertanya. "Hari ini Ayah memiliki sedikit urusan di Incheon."
Park membuka pintu mobilnya, baru saja dia akan memasuki mobil, Atherio bertanya, "Ayah pergi tanpa pelukan hangat dari kami?" Atherina mendelik kesal pada Atherio.
Kenapa dia bertanya seperti itu? Dia selalu memulai pertengkaran! Atherina merutuki ucapan adiknya.
Park mengurungkan niatnya untuk memasuki mobil. Dia menolehkan pandangannya pada Atherio, "Aku tidak akan lama, secepatnya kembali ke Seoul."
"Kenapa Ayah tidak pernah menunjukkan rasa kasih sayang Ayah pada kami berdua setelah kami besar?" Atherio menyerang Park dengan pertanyaannya. Atherina menunduk, pertanyaan Atherio ada benarnya. Terkadang dia juga setuju dengan apa yang ada di dalam pikiran adiknya itu.
"Jangan terlalu memakai perasaanmu, kau akan mudah terpedaya."
"Apa kau tidak pernah memakai perasaan?" Atherio terus menghujani Park dengan berbagai pertanyaan. Atherina menyentuh bahu Atherio, dia memberikan kode agar berhenti bertanya.
Park menengadah menatap langit malam yang kelam. "Aku tidak terlalu menggunakan perasaan, itu akan menghambat semuanya.. terutama bisnisku." Park akan memasuki mobil.
"Kenapa, ya, ibuku bisa mencintamu?" Gumam Atherio. Atherina menepuk dahinya sendiri. Meskipun Atherio bergumam, Park pasti mendengarnya.
Perang antar pria Park di mulai, batin Atherina menjerit.
Park menutup pintu mobilnya dan berbalik menghampiri kedua anaknya. Atherina menyenggol lengan Atherio, "Bilang maaf.. cepat bilang maaf." Atherina berbisik pelan. Atherio tidak merespon kakaknya.
Kini Park berdiri di depan Atherio dan Atherina. "Ternyata bukan hanya wajahmu yang mirip Aleena, sifat dan sikapmu juga sama." Ucapan Park tidak terdengar seperti sedang marah. Atherina baru bisa menghela napas lega.
"Syukurlah. Jika aku mirip dengan Ayah, aku akan menjadi batu berjalan." Atherina menelan saliva karena ucapan sarkas Atherio. Ekspresi Park masih terlihat datar seperti biasanya.
Tiba-tiba Park tertawa, "Hahahaaa.. dasar bodoh. Jika kau mirip sepertiku, maka kau akan tampan." Atherina dan Atherio saling mendelik karena melihat reaksi ayahnya.
Park berhenti tertawa kemudian memeluk kedua anaknya. "Katakan saja kalau kalian memang ingin mendapat pelukanku," bisik Park. Atherio dan Atherina merasa terharu dengan tindakan manis ayah mereka.
Park melepaskan pelukannya, "Aku harus pergi. Atherina, jaga adikmu yang nakal ini." Atherina mengangguk mengiyakan. Park mengusap kepala kedua anaknya kemudian berlalu memasuki mobil.
Mobil melaju meninggalkan kediaman keluarga Park. Setelah mobil ayahnya benar-benar pergi, Atherio tertawa sarkas membuat Atherina terkejut dan melihat kepadanya.
"Kenapa kau tertawa?" Tanya Atherina. "Ternyata Tuan Park bisa tertawa dan membuat lelucon juga." Atherio berlalu memasuki rumah. Atherina tersenyum geli mengingat tingkah ayahnya.
Atherio Park
◆◇◆
Atherina memasuki kamarnya, dia menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur queen size. "Ah, lelah sekali."
Atherina menoleh ke arah meja belajarnya. Dia melihat ada selembar kertas di sana. Atherina mengerutkan keningnya. Dia beranjak bangun dan mengambil kertas itu.
"Atherina, malam ini ada pertemuan di tempat biasa. Jika kau tidak ada PR, temui rekan kita. Tapi jika kau sibuk, telepon Ji Hoo. Ayah Park."
Atherina memutar bola matanya. "Karena aku sayang ayah, aku sendiri yang akan pergi."
Sementara itu, Atherio sedang mengerjakan PR. Dia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 10 malam. "Kak Nana sudah tidur atau belum, ya?" Atherio segera menyelesaikan PR-nya kemudian beranjak keluar dari kamarnya.
Atherio melihat kakaknya menuruni tangga. Atherio mengerutkan keningnya. Malam-malam begini Kak Nana mau pergi kemana? Dia juga memakai mantel tebal.
Atherio mendengar suara mobil memasuki pelataran rumah. Dia melangkahkan kakinya menuju jendela besar. Tangannya bergerak menyingkap tirai, terlihat sopir pribadi ayahnya membukakan pintu mobil untuk Atherina. Gadis itu memasuki mobil lalu mobil itu melaju meninggalkan kediaman Park.
"Kenapa dari dulu ayah melibatkan kakak dalam pekerjaannya?" Atherio jatuh terduduk. "Pekerjaan ayah sangat berbahaya, bagaimana jika kakak terluka? Aku tidak mau kehilangan kakak.."
Atherio teringat kejadian-kejadian yang pernah terjadi di masa lalu. Penculikan, kekerasan dan pembunuhan.
Atherio tidak terlalu mengerti dengan pekerjaan ayahnya, tapi dia tahu jika pekerjaan ayahnya bertentangan dengan hukum. Atherio pernah melihat ayahnya membunuh seseorang di depan matanya.
Atherio yang masih kecil berjalan-jalan sendirian di halaman belakang. Dia melihat Atherina memasuki ruangan di belakang rumah. Atherio tersenyum jahil, dia ingin membuat kakaknya terkejut. Dia berjalan mengendap menuju ruangan itu.
__ADS_1
"Tidak ada ampun bagi penghianat." Atherio terkejut mendengar suara ayahnya yang sedang marah. Dia menghawatirkan kakaknya. Apa mungkin ayahnya marah pada Atherina?
Atherio mengintip lewat sela-sela pintu. Dia melihat Park menodongkan pistol ke kepala pria yang bertekuk lutut di depannya. Ada Atherina di samping Park.
Park menarik pelatuknya, Dor! Darah terciprat menodai ruangan itu. Atherio terbelalak, dia jatuh terduduk dan segera berlari pergi karena takut.
Atherio menarik napas sejenak dan menghembuskannya perlahan, "Apakah berita itu benar? Ayah seorang gangster?" Atherio bergumam pelan.
◆◇◆
Atherina tengah duduk di sebuah tempat hiburan malam. Dia mengenakan mantel tebal musim dingin dengan kacamata hitam. Ah, kenapa rekannya ayah lama sekali?
Pelayan menghampiri Atherina, dia menyajikan minuman beralkohol di meja Atherina, "Selamat menikmati, Nona." Pelayan itu membungkukkan badannya.
Atherina menjawab dengan suara di buat-buat seperti wanita dewasa, "Terima kasih." Pelayan itu pun berlalu meninggalkan Atherina. Atherina memberikan gelas minumannya pada anak buahnya yang duduk di meja di belakangnya.
Anak kecil tidak boleh minum itu, jika boleh, aku mau pesan cokelat panas saja.
Seorang pria di ikuti 4 orang bodyguard memasuki tempat itu. Dia melihat Atherina lalu menghampirinya.
"Excuse me, ini meja pesananku bersama rekanku." Pria itu menunjukkan kartu namanya pada Atherina, Min Tae Jin.
Atherina menurunkan kacamatanya dan menunjukkan kartu pelajarnya, Atherina Park. "Aku Putri sulungnya Park J A."
"Kau? Anak kecil? Kenapa kau yang di kirim Tuan Park." Tae Jin menepuk dahinya sendiri.
Atherina tidak menghiraukan ucapan Tae Jin. Dia berkata, "Kita bicara di ruangan VIP saja." Tae Jin menaikkan sebelah alisnya seolah meremehkan Atherina. Gadis itu menunggu jawaban Tae Jin. Akhirnya Tae Jin mengangguk setuju.
Atherina berdiri dari tempat duduknya. Orang-orang kepercayaan Atherina yang duduk di beberapa meja di sana berdiri semua dengan jumlah belasan orang. Tae Jin terkesima dengan mulut menganga.
Atherina berjalan melewati Tae Jin menuju ruang VIP. Tae Jin menggeleng-gelengkan kepalanya melihat betapa pentingnya putri seorang Park J A.
Kini Atherina dan Tae Jin duduk berhadapan. Empat orang anak buah Tae Jin duduk berdiri di belakangnya. Belasan orang kepercayaan Atherina juga berdiri di belakang Atherina.
"Kenapa bukan Tuan Park yang menemuiku?" Pria itu masih kesal karena Park mengingkari janjinya. "Aku wakilnya, apa anda keberatan Tuan Min?" Tae Jin sedikit merinding mendengar pertanyaan gadis di depannya.
"Tidak, tidak.. tapi, apa kau tahu ini bisnis orang dewasa?" Atherina mengangguk, "I know, jadi, mana barangnya?"
Usiaku tiga kali dari usianya, tapi caranya berbicara seperti gangster sejati, Tae Jin membatin. Dia memberikan kode pada anak buahnya. Dua orang anak buahnya membawa kotak yang cukup besar ke meja.
Kotak itu membuat wajah Atherina tidak terlihat karena terhalangi. Tae Jin tertawa kecil melihat itu. Salah satu anak buah Atherina membukakan kotak tersebut. Atherina harus berdiri di atas kursi untuk melihat isinya.
Kotak pun berhasil di buka, ternyata isinya tumpukan pistol terbaru. Atherina mengambil satu beserta set pelurunya. Dia memasangnya dengan cepat dan ahli. Tae Jin terpukau dengan kemampuan Atherina yang masih sangat muda.
"Ini asli?" Tanya Atherina. "Tentu saja," jawab Tae Jin cepat. Orang kepercayaan Atherina menyimpan laptop ke meja. Atherina mengetik sesuatu di laptop tersebut. Setelah selesai mengetik, dia memutar laptop agar layarnya mengarah pada Tae Jin.
"Nomor rekening anda," kata Atherina. Tae Jin tersenyum semangat dan segera mengetik digit angka di laptop tersebut.
"Ternyata anda sangat profesional, maafkan saya yang telah salah menilai anda."
◆◇◆
Matahari menunjukkan dirinya di bagian timur. Tidak seperti biasanya, gadis manis itu belum membuka matanya sama sekali.
Pintu kamarnya terbuka, Atherio yang sudah rapi dengan seragamnya memasuki kamar kakaknya.
"Kak Nana?" Panggil Atherio. Atherina tidak menjawab, dia masih terlalut dalam kisah di dunia mimpinya. Atherio duduk di tepi tempat tidur kakaknya. Dia memperhatikan wajah Atherina yang cantik. Atherio tersenyum, dia menyentuh pipi bulat kakaknya.
"Kak Nana, bangun Kak. Kenapa Kakak belum bangun?" Tanya Atherio yang mulai kesal.
Atherio mengguncangkan tubuh kakaknya. Atherio mendekatkan wajahnya ke telinga Atherina kemudian berbisik, "Kak Nana.. ayah sudah pulang."
Atherina terhenyak bangun dengan rambut berantakan seperti singa. "Mana ayah mana?" Tanya Atherina kemudian menguap. Atherio tertawa terbahak-bahak karena tipuannya berhasil.
"Kau tertipu," kata Atherio semangat. Atherina kesal dia melayangkan tangannya akan memukul adiknya. Atherio segera menghalangi dirinya dengan kedua tangan. Atherina telihat sedih, dia selalu melihat Atherio seperti itu ketika Park akan memukulnya.
Atherina mengusap lembut pipi bulat adiknya. Atherio terkejut dan menatap kakaknya. "Bagus-bagus, kau bangun lebih awal dariku hari ini." Atherina berbicara dengan keadaan kedua mata tertutup rapat.
"Ini sudah hampir jam 8, Kak." Atherio menggerutu. Atherina terkejut lalu melihat jam dinding, dia terbelalak kaget. "Kenapa tidak membangunkanku dari tadi?!" Atherina segera bangkit menuju kamar mandi. Atherio tertawa.
◆◇◆
Atherina sudah siap dengan seragam dan tasnya. Dia memasuki ruang makan dan melihat Atherio sedang mengolesi roti dengan selai. Atherina duduk di samping Atherio, dia akan mengambil roti di piring. Tapi Atherio mengambil piringnya sebelum Atherina mendapatkannya lebih dulu.
"Wash your hand." Atherina mengerutkan keningnya. "Tanganku bersih, Rio." Kata Atherina setengah menggerutu. Atherio menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tidak mau di bantah. Atherina mendengus kesal. Dia beranjak menuju wastafel dan mencuci tangannya dengan bersih.
Atherina kembali duduk di samping Atherio dan akan mengambil roti, tapi Atherio tetap menjauhkan piring dari Atherina. "Mana lihat tangannya." Atherina menunjukkan tangannya pada Atherio.
"Bagus, anak yang baik." Atherio memberikan rotinya pada Atherina. Mereka pun sarapan bersama.
"Kenapa Kakak bangun terlambat? Tidak seperti biasanya." Tanya Atherio dengan mulut penuh karena mengunyah roti. "PR," jawab Atherina pendek.
"Lalu, semalam Kakak kemana naik mobil?" Pertanyaan Atherio membuat Atherina berhenti mengunyah. Dia menatap adiknya yang masih mengunyah roti. Atherina meminum susu coklat hangat di depannya. "Urusan mendadak."
Atherio mendongkak menatap kakaknya. "Kenapa malam-malam? Kakak bisa beralasan, seperti di larang keluar rumah malam-malam."
"Ini masalah penting," sanggah Atherina. "Ayah lagi, ya?" Tanya Atherio. Atherina tidak berniat menjawabnya.
"Apakah ayah orang jahat? Apa berita di TV itu benar?" Atherina masih tidak berniat menjawab pertanyaan adiknya.
Atherio tersenyum kecut, "Ayah selalu berpesan sebelum pergi, dia bilang pada Kakak untuk menjagaku atau melindungiku. Apa aku ini terlalu lemah? Sehingga ada masalah apa pun selalu kalian sembunyikan dariku."
"Itu karena ayah sangat menyayangimu, Rio. Dia menyuruhku untuk menjagamu karena aku seorang kakak." Atherina ingin Atherio mengerti bahwa Park begitu menyayanginya.
"Aku anak laki-laki di rumah ini, seharusnya aku yang melindungi Kakak," sanggah Atherio. Atherina menghela napas panjang, "Hentikan ini, Rio. Kita bahas nanti saja, sekarang kita harus ke sekolah sebelum jam 8." Atherina beranjak dari tempat duduknya.
"Aku akan pergi bersama Paman Ji Hoo," kata Atherio kemudian berlalu meninggalkan Atherina.
Atherina menatap punggung Atherio yang menjauh dan menghilang di balik pintu. Atherina berjalan menuju telepon. Diar meraih gagang telepon kemudian menekan beberapa tombol angka.
Sejenak dia menunggu, "Halo? Paman Ji Hoo? Pagi ini Atherio ingin di antar olehmu, hati-hati di jalan, ya."
"..."
"Tidak ada apa-apa, kami hanya sedikit bertengkar."
__ADS_1
"..."
"Iya, terima kasih." Atherina menutup panggilannya. Dia mengangguk-anggukan kepalanya.
***
Ji Hoo terlihat cemas, "Tuan, apa kau yakin? Dia hanya gadis kecil, apa tidak berbahaya?" Atherina yang masih kecil berdiri di depan pintu. Dia menguping pembicaraan Ji Hoo dan Park.
"Aku tahu ini berbahaya, tapi aku bisa menjaga dan mendidiknya dengan baik."
"Tapi, Tuan, bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?" Park memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya.
"Aku tidak akan tinggal diam, aku menyayanginya. Dia putriku sekarang, dia bagian dari keluarga Park."
Atherina terbelalak.
"Maaf telah mempertanyakan anda," Ji Hoo menunduk dalam. Park menepuk pundak Ji Hoo.
Atherina yang sedang menguping di depan ruangan ayahnya tampak tidak berekspresi. Mendengar langkah kaki menuju pintu, Atherina segera melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.
***
Atherina melihat foto di dinding ruang keluarga, ada dirinya dan Atherio di foto itu. Atherio kecil tampak ceria berada dipangkuan Atherina yang tersenyum lebar. Atherina tertawa kecil melihat foto itu.
***
"Satu.. dua.. tiga.." kilatan lampu kamera memenuhi ruangan untuk beberapa saat. Atherina dan Atherio sedang berpose manis dengan di pandu oleh fotografer. Park memperhatikan mereka sambil duduk di kursi. Atherio turun dari pangkuan Atherina, dia berlari menghampiri Park. "Ayah.. ayaaaah.. ayo kita berfoto bersama," kata Atherio sambil menarik tangan kokoh ayahnya.
"Ah, nanti saja. Sekarang kau ke sana dan berfoto lagi dengan kakakmu." Atherio cemberut kesal kemudian menurut dengan kembali berfoto bersama Atherina.
Park tersenyum.
***
Atherina mendengar suara mobil berhenti di depan rumah, dia beranjak dari tempat duduk dan mengintip lewat jendela. Ternyata itu Ji Hoo yang datang untuk menjemput Atherio. Atherina melihat adiknya memasuki mobil kemudian mobil melaju meninggalkan kediaman Park.
"Sendiri? Kemana nona Park?" Ji Hoo bertanya sambil melirik spion tengah. "Kakak bersama sopir pribadi ayah, dari mana Paman tahu aku ingin berangkat ke sekolah di antar oleh Paman?" Tanya Atherio.
Ji Hoo tertawa, "Tuan muda ini bagaimana, bukankah tadi nona Atherina yang meneleponku dan menyuruhku untuk menjemput kalian, tapi aku bingung kenapa kalian tidak berangkat bersama," jawab Ji Hoo berpura-pura tidak tahu kalau kedua anak bosnya sedang bertengkar.
Atherio tersenyum mengingat wajah kakaknya jika sedang marah. Ternyata kakak memang selalu peduli meskipun aku nakal dan membantahnya. Aku beruntung memiliki kakak yang sangat menyayangiku.
Ji Hoo melihat pada spion tengah memperhatikan Atherio yang tersenyum manis. Apa yang membuat mereka bertengkar? Jika Tuan Park tahu, pasti dia akan segera membuat mereka akur.
"Nona Atherina pernah bilang, jika dia terlahir kembali, dia ingin menjadi seorang pria." Ucapan Ji Hoo membuat Atherio tertawa terbahak-bahak. "Aku rasa, saat ini pun dia memang bisa menjadi seorang pria. Dia bisa berkelahi dengan baik."
Ji Hoo mengangguk setuju, "Iya, Tuan Park mendidiknya dengan keras." Atherio terkejut dan melihat punggung Ji Hoo.
"Tuan Park selalu mengatakan bahwa perlu memiliki kemampuan yang sangat baik untuk melindungi keluarga. Dia memberikan banyak nasehat dan pemikiran yang mendasar sebagai seseorang dari keluarga Park." Atherio mencerna ucapan Ji Hoo dengan seksama.
"Selama satu tahun penuh nona Atherina belajar untuk menjadi seorang putri dari keluarga Park." Ji Hoo menerawang mengingat pertama kalinya dia bertemu dengan Atherina di tempat rahasia milik Park.
"Kenapa harus belajar menjadi putri keluarga Park, jika dia di lahirkan sebagai anggota keluarga Park?" pertanyaan Atherio membuat Ji Hoo merutuki apa yang dia bicarakan, "Sebagai anak sulung, nona Atherina harus di didik seperti itu menurut Tuan Park."
Atherio mengangguk mengerti. Dia menghela napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Atherio bertanya, "Kenapa dia melakukan itu pada kakak dan tidak melakukannya padaku?"
"Itu aku tidak tahu," jawab Ji Hoo. Itu karena Tuan Park ingin menjadikan Nona Park sebagai pelindungmu. Seandainya kau tahu, kau pasti akan membenci ayahmu.
Mobil yang membawa Atherio telah sampai di sekolah. Atherio turun dari mobil dan melangkahkan kakinya menuju sekolah, tapi dia kembali menghampiri Ji Hoo.
"Paman, tolong telepon kakak, apakah dia sudah berangkat kemari?" Ji Hoo mengangguk. Dia mengambil ponselnya.
"Tapi jangan bilang aku yang bertanya, ya." Ji Hoo terkekeh pelan kemudian mengangguk sambil menyimpan ponselnya ke telinga.
"Nona Park," Atherio memperhatikan Ji Hoo.
"Ada apa Paman Ji Hoo? Apa kalian berdua baik-baik saja?"
"Ah, iya tentu saja. Tuan muda baik-baik saja, dia sudah sampai di sekolah."
"Terimakasih, Paman."
Ji Hoo kembali bertanya, "Nona Park sekarang di mana? Apakah sudah di perjalanan menuju sekolah?" Atherio tampak cemas, dia takut kakaknya datang terlambat ke sekolah.
"Aku sedang di perjalanan menuju sekolah," jawab Atherina yang sebenarnya sudah sampai di sekolah. Dia berada di dalam mobil di area sekolah, pandangannya tertuju pada mobil di depan gerbang sekolah. Ada Atherio di sana bersama Ji Hoo di depan mobil tersebut. Atherina tersenyum melihat kekhawatiran yang terpancar dari wajah adiknya.
Ji Hoo melirik Atherio, dia memberikan kode pada Atherio bahwa Atherina sedang berada dalam perjalanan menuju sekolah. Atherio mengangguk lega.
"Apa Atherio bersamamu?" Tanya Atherina sambil melepas jaketnya. Atherina melihat Atherio mengibaskan kedua tangannya pada Ji Hoo di sana. Atherina tertawa pelan melihat tingkah adiknya ya gengsi untuk berterus terang.
"Tidak ada, Tuan muda sudah masuk ke sekolah," jawab Ji Hoo di seberang sana. Atherio mengangguk-anggukkan kepalanya. Ji Hoo mengakhiri panggilannya.
"Baiklah, aku masuk sekarang, ya. Terima kasih, Paman." Atherio berlalu memasuki area sekolah. Setelah Atherio benar-benar pergi, Ji Hoo kembali meletakkan ponselnya ke telinga. Dia tidak benar-benar mengakhiri panggilannya.
"Sebenarnya Tuan muda yang menyuruhku menelepon anda. Apa Nona mendengar suaranya barusan?"
Atherina tersenyum, dia keluar dari mobil. Ji Hoo menyadari keberadaan Atherina. "Aku tahu, terima kasih, Paman." Ji Hoo tersenyum kecil.
◆◇◆
Atherio melangkahkan kakinya memasuki kelas, dia duduk di samping anak laki-laki berambut jamur dengan poni hampir menutupi matanya.
"Sedih? Kesal? Bosan?" Tanya anak itu. Di tanda pengenalnya tertera nama Christian Lee. "Ah, jangan bertanya, aku benci pertanyaan. Kita tidak sedang ulangan." Atherio menggerutu kesal.
"Aku sedikit bertengkar dengan kakakku pagi ini," kata Atherio. Chris mendekatkan wajahnya membuat Atherio terkejut dan memundurkan tubuhnya.
"Aku tidak bertanya," kata Chris. Atherio mendengus kesal. Dia menyingkirkan poni yang hampir menutupi mata Chris. "Bisakah kau motong rambutmu?"
"Besok aku akan memotongnya. Kenapa kau bertengkar dengan kakakmu? Biasanya kalian akur, kan?" Jawab Chris di akhiri pertanyaan. Atherio menunduk sedih, "Terkadang aku merasa ayah lebih menyayangi kakak, tapi terkadang aku juga merasa ayah lebih menyayangiku."
Chris mendorong dahi Atherio, "Bodoh, itu namanya adil." Atherio memukul telunjuk Chris karena kesal telah mendorong dahinya dengan tidak terhormat.
◆◇◆
05.48 : 25 Juni 2019
By Ucu Irna Marhamah
__ADS_1