ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]

ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]
Harapan & Penantian


__ADS_3

Empat tahun kemudian,


Seoul, Korea Selatan.


 


 


Gedung perusahaan bernama Park J. A. Group dipenuhi dengan orang. Beberapa diantara mereka adalah awak media yang akan meliput berita tetang kepulangan putra Park Johan Armez dari Amerika, Atherio Park.


Beberapa mobil terhenti di depan gedung tersebut. Seketika tempat itu dipenuhi blitz kamera. Pintu dari alah satu mobil sport hitam itu terbuka. Pria bertubuh tinggi dengan setelan jas rapi keluar dari mobil tersebut. Wajah kokohnya terlihat begitu manly dengan pahatan bibir dan hidung yang indah. Kacamata hitam itu menutupi sepasang mata elangnya. Sebelum para wartawan mendekat, beberapa bodyguard melindungi tuan mereka dengan jarak yang sudah ditentukan. Seolah tidak boleh ada yang menyentuhnya sedikit pun.


Beberapa dari mereka mulai menggencarkan pertanyaan.


"Tuan Atherio, apa benar anda kembali dari Amerika untuk menghindari hukum?"


"Tuan, apa anda benar-benar seorang gangster?"


"Tuan, bagaimana pendapat anda dengan foto-foto yang beredar di media tentang penjualan senjata itu?"


"Tuan, bisakah kami mendapat penjelasan?"


Atherio tidak menjawab mereka, bahkan dengan melihat saja tidak. Dia tetap memandang lurus dan berjalan gontai seolah tidak ada siapa pun di depannya. Pria itu memberikan kode pada para bodyguard-nya dengan jentikkan jarinya.


Mereka membungkuk dan menghalangi wartawan-wartawan yang masih berusaha mendapatkan jawaban dari Atherio.


Sementara itu, Atherio memasuki ruang kerja ayahnya. Dia menarik tirai untuk melihat pemandangan kota Seoul yang telah dia tinggalkan selama 4 tahun. Pria itu tidak bisa melihat rumahnya dari gedung tersebut. Terlalu banyak gedung baru yang dibangun. Dulu, Atherio bisa melihat rumahnya dari gedung tersebut, dan sebaliknya. Dia juga bisa melihat gedung perusahaan ayahnya dari rumahnya. Sekarang semuanya berubah. Sepulangnya dari Amerika, dia langsung mendatangi tempat tersebut.


Ketika Atherio berbalik, moncong pistol itu berada di dahinya. Sedikit terkejut, karena dia tidak menyadari kehadiran orang lain di ruangan itu.


Pria bertopi di depannya yang memegang pistol tersenyum sinis, "Sampai disini saja, Atherio." Suara manly itu terdengar tidak asing bagi Atherio. Dia melihat seragam kepolisian yang melekat di tubuh pria di depannya itu.


Atherio memiringkan kepalanya, "Cepat sekali, Christian." Suara bariton milik Atherio menggema di ruangan itu.


"Berhenti menjadi gangster dan menyeralah," kata pria itu sambil mendongkak menatap Atherio. Benar, pria tampan itu adalah Chris. Atherio membuka kacamatanya memperlihatkan mata elangnya yang tajam, "Pergi dari sini, atau aku akan melaporkanmu pada polisi. Kau telah menyusup dan menodongkan senjata padaku."


"Polisi mana yang kau maksud? Apa yang kau lakukan sehingga mereka mau menutupi kejahatanmu?" Tanya Chris. Atherio menendang tangan Chris. Pistolnya melambung ke atas. Mereka mendongkak. Ketika pistol itu jatuh, Atherio akan menangkapnya. Namun, Chris menepis tangan Atherio dan dia berhasil memegang kembali pistolnya dengan posisi semula.


Atherio memutar bola matanya, "Kau jadi hebat rupanya."


"Aku telah menangkap beberapa anggota kelompok yang bekerja sama denganmu. Mereka sekarang di penjara. Nanti kau akan menyusul mereka. Aku tidak akan menangkapmu sekarang. Ada seseorang yang perlu aku tangkap lebih dulu sebelum dirimu," kata Chris sambil menyimpan kembali pistolnya. Dia menatap Atherio dengan tajam kemudian berlalu.


 


 


Atherio menutup matanya dengan alis berkedut, "Kau mau kemana? Pintu keluarnya ada di sana." Atherio menunjuk kearah sebaliknya. Chris kembali dan mengikuti arah yang ditunjuk Atherio.


 


 


"Tadi aku lewat sana," kata Chris.


 


 


◆◇◆


 


 


Atherio menyetir mobil sport-nya sendiri. Dia sedang menuju ke rumahnya. Ada beberapa mobil di belakangnya yang mengikuti Atherio. Mereka adalah Ji Hoo, Carlos, Victor, Gun Seok, Min Hyuk, Joon Ki, dan Esteban.


 


 


Sesampainya di kediaman Park, Atherio langsung mendapatkan sambutan dari seluruh pelayan. Mereka membungkuk hormat ketika tuan mereka kembali setelah sekian lamanya.


 


 


Kepala pelayan tersenyum hangat, "Selamat datang, Tuan Atherio Park."


 


 


"Terima kasih, kalian telah bekerja dengan baik." Setelah mengatakan itu, Atherio berlalu untuk melihat keadaan rumahnya. Tidak ada yang berubah. Atherio merasa nyaman ketika sampai di rumah itu. Dia melihat bingkai foto ayah dan ibunya yang masih terpasang di tempat semula.


 


 


Dia mendekat dan membungkukan badannya cukup lama. Ketika bangkit, dia melihat satu persatu paras kedua orang tuanya.


 


 


"Aku pulang. Ada banyak hal yang aku dapatkan ketika di Amerika. Banyak hal juga yang sudah aku lakukan selama di sana. Hal-hal baru untukku."


Diluar,


 


 


"Aaaahhh," desahan napas Esteban yang sedang memeluk tiang listrik di depan rumah Park membuat Joon Ki dan Min Hyuk saling pandang.


 


 


"Ada apa denganmu, Esteban?" Gerutu Joon Ki. Esteban tidak mau mengubah posisinya, "Aku merindukan Koreaaaa. Aaahh, rasanya aku benar-benar sudah tiba di rumaaahh."


 


 


Min Hyuk menggeleng pelan melihat tingkah konyol rekannya itu. Ji Hoo dan Gun Seok menghampiri mereka bertiga.


 


 


"Ada apa dengan anak ini?" Tanya Gun Seok yang keheranan melihat sikap aneh Esteban. "Dia mabuk?" Tanya Ji Hoo.


 


 


Joon Ki menggaruk tengkuknya, "Aku rasa, cuaca Amerika kurang cocok untuknya. Ketika pulang kemari, dia malah jadi begini."


 


 


Ji Hoo menarik Esteban yang tidak kunjung melepaskan tiang listrik, "Anak ini, lepaskan tidak?!"


 


 


Gun Seok ikut membantu dengan melepaskan jari-jari tangan Esteban yang menempel. Min Hyuk dan Joon Ki saling pandang.


 


 


"Kalian berdua ini kenapa? Aku hanya ingin menikmati udara Seoul. Jangan menarikku!" Gerutu Esteban.


 


 


"Kau ini mempermalukan kelompok kita saja. Bisakah kau melepaskan tiang listrik ini? Aku kasihan padanya," gerutu Ji Hoo.


 


 


Carlos keluar dari rumah. Dia melihat rekan-rekannya sedang 'melakukan sesuatu yang konyol' dengan tiang listrik. Setengah heran, pria itu berseru, "Kalian? Kita berkumpul sekarang di markas."


 


 


Semuanya menoleh kearah Carlos. Esteban melepaskan tiang listrik itu, alhasil dia terjatuh menimpa Ji Hoo. Carlos memberikan kode jika itu adalah perintah Atherio.


 


 


Di markas bawah tanah, Atherio dan Victor sedang berbicara. Mereka terlihat begitu serius. Ji Hoo dan rekan-rekannya memasuki ruangan tersebut. Mereka membungkuk hormat.


 


 


"Duduklah," kata Atherio. Mereka semua duduk dengan rapi.


 


 


Atherio mencondongkan tubuhnya ke depan. Kedua tangannya bertautan digunakan untuk menopang dagu. Dia memulai pembicaraan dengan tenang, "Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini. Tapi, meskipun ini di Korea, kita harus tetap berhati-hati. Paman Ji Hoo akan mengatur semuanya."


 


 


Hening.


 


 


Merasa tidak ada respon, Atherio kembali berkata, "Ketika di perusahaan, aku bertemu dengan Chris. Dia sudah menjadi seorang polisi."


 

__ADS_1


 


Ketujuh orang di ruangan itu terkejut. Mereka saling pandang.


 


 


"Seharusnya aku menembak dia waktu itu," gumam Gun Seok. Min Hyuk tampak berpikir, "Kita memiliki banyak koneksi. Dia tidak akan bisa menembus pertahanan kita, Tuan."


 


 


"Aku harap begitu," gumam Atherio.


 


 


Hening.


 


 


Atherio kembali mengeluarkan suaranya, "Karena kita baru tiba, aku akan meliburkan kalian selama beberapa minggu."


 


 


"Libur?" Joon Ki dan Esteban bertanya serempak lalu mereka berdua saling pandang.


 


 


Atherio mengangguk, "Iya, libur."


 


 


"Aaaahhh, senangnya. Pantai, pantai, pantai.." Esteban terus bergumam. Gun Seok mendelik kesal, "Aku pikir tiang listrik."


 


 


Joon Ki menahan tawa.


 


 


"Tapi, aku rasa kami harus menjaga Tuan. Kami tidak ingin polisi terus menerus menyelidiki Tuan," kata Victor. "Itu benar, kita harus semakin berhati-hati," Gun Seok menambahkan.


 


 


Sejenak Atherio mencerna kata-kata mereka. "Kalian bisa liburan sekarang. Aku mau tidur," kata Atherio kemudian berlalu meninggalkan markas.


 


 


Gun Seok dan Victor saling pandang. Ji Hoo memainkan jarinya di atas meja.


 


 


Hening.


 


 


"Rencanamu mau kemana?" Tanya Carlos pada Min Hyuk. Dia sengaja ingin menghilangkan kesunyian. "Aku rasa lebih baik aku tinggal beberapa hari di rumah lalu berlibur bersama istri dan kedua putriku," jawab Min Hyuk.


 


 


Esteban menghela napas berat, "Aahhh, seandainya aku juga punyaa istriiii."


 


 


"Hanya Min Hyuk dan Victor yang punya keluarga. Mereka bisa berlibur dengan keluarganya," kata Joon Ki mulai termakan drama Esteban.


 


 


Victor hanya menggeleng pelan melihat kedua pria itu. Min Hyuk terkekeh kecil.


 


 


 


 


"Benarkah? Wah, enak sekali."


 


 


Gun Seok tertawa, "Mereka memiliki sikap yang baik. Tidak salah banyak wanita yang menyukai mereka."


 


 


◆◇◆


 


 


Atherio merobek kalender yang sudah habis. Dia melihat tanggal satu di hari esok. Ulang tahunnya telah tiba.


 


 


Selama empat tahun terakhir, Atherio melarang siapa pun mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Dia akan menghukummu siapa saja yang berani mengucapkannya sebelum Atherina.


 


 


Setiap tahun, gadis itu selalu mengucapkannya. Namun empat tahun ini tidak ada ucapan apa pun dari Atherina. Pria itu menyadari jika Atherina pasti sedang sibuk di Jepang. Komunikasi mereka baik-baik saja di tahun pertama. Semakin lama, mereka semakin jarang berkomunikasi.


 


 


Atherio hanya merayakan ulang tahun Park dan Atherina. Besok pagi, tidak boleh ada perayaan ulang tahun di rumah itu.


 


 


Benar saja, keesokan harinya,


 


 


Atherio melihat semua pelayan melakukan tugas mereka dengan baik. Tidak ada yang membicarakan tentang hari ulang tahun Atherio.


 


 


Pria itu hanya memakai jubah mandi ketika keluar menuju balkon. Rambutnya yang basah membuatnya terlihat begitu seksi. Dia menghirup udara pagi di Seoul. Pagi pertamanya yang sejuk.


 


 


Para pelayan menyapa Atherio yang bergegas menuruni tangga dengan celana pendek dan kemeja putih. Pria itu membalas dengan anggukan singkat.


 


 


Dia berjalan keluar untuk melakukan lari pagi. Tapi, seorang pengantar paket datang. Atherio melihat pengantar paket itu sedang berbicara dengan penjaganya. Atherio menghampiri mereka.


 


 


Pandangan pengantar paket itu teralihkan pada Atherio, "Tuan Atherio, ya? Selamat pagi. Ada paket dari Jepang."


 


 


Mendengar nama negara itu, Atherio terkejut. Apakah dari Atherina? Atherio menerimanya.


 


 


"Terima kasih, semoga harimu menyenangkan." Pengantar paket itu pergi dengan motornya.


 

__ADS_1


 


Atherio melihat pengirimnya, ternyata benar. Atherina yang mengirim paket tersebut. Dia membuka paketnya di kamar. Ada banyak sekali benda-benda berwarna cerah di dalam kotak tersebut.


 


 


Sebuah gantungan kunci yang terukir namanya yang berwarna merah muda, squishy kelinci berwarna merah muda, dan kertas berwarna merah muda juga.


 


 


"Merah muda? Aku jadi ragu, apakah ini hari ulang tahunku, atau valentine day?"


 


 


Dear Rio,


 


 


Merah muda? Aku tahu itu kata pertamamu. Entahlah, aku juga bingung harus memberimu hadiah apa.


 


 


Sejenak Atherio berhenti membaca, "Dia tahu?"


 


 


Aku hanya berpikir jika benda-benda manis ini menggambarkan dirimu yang manis dan polos. Maaf, tiga tahun lalu aku tidak mengucapkannya. Aku selalu ingat, tapi kebetulan aku sedang dalam misi.


 


 


"Ya, aku memaafkanmu."


 


 


Ketika para pelayan menyapamu, tunjukkan senyumanmu. Jangan hanya mengangguk seperti kucing.


 


 


"Ah? Dia tahu juga?"


 


 


Aku akan pulang, tapi jika aki terlambat.. kau jangan marah, ya..


 


 


"Satu tahun lagi. Waktumu tinggal satu tahun lagi."


 


 


Iya, aku tahu satu tahun lagi. Tapi, aku tidak yakin bisa pulang cepat.


 


 


Atherio memundurkan kepalanya.


 


 


Emm.. kau pasti bertanya dimana kuenya? Hitung sampai tiga.. kuenya akan segera tiba..


 


 


"Benarkah? Satu.. dua.. tiga.."


 


 


Tiiiitttttt


 


 


Atherio mendengar suara dari depan. Dia melihat lewat balkon. Ada truk pengantar makanan yang berwarna merah muda. Kening Atherio berkerut.


 


 


Hei, baca lagi suratnya!


 


 


Atherio menunduk untuk melihat surat dari kakaknya.


 


 


Apa truknya sudah datang? Coba kau lihat lagi, ada kelinci merah muda di badan truk itu.


 


 


Seperti mematuhi perintah, Atherio melihat truk itu. Dan benar saja, ada kelinci merah muda yang lucu.


 


 


Ada, kan?


 


 


"Ah, iya.. ada." Atherio kembali membaca surat tersebut.


 


 


Selamat ulang tahun, dewasalah adikku yang manis. Tapi, bagiku kai tetaplah adik kecilku.


 


 


Nana Noona


 


 


Atherio tertawa. Tawa yang sempat hilang ketika berpisah dengan kakaknya. Dia menghela napas, "Aku juga ingin ciuman darimu, Atherina. Seperti waktu itu.


 


 


Kalender di kamar Atherio sudah dua kali berganti. Namun, Atherina tidak kembali. Gadis itu mengingkari janjinya. Atherio sudah bosan menunggu.


Tidak ada satu pun orang di rumah itu yang menanyakan kedatangan Atherina.


Bahkan, Atherio sudah menyiapkan penyambutan yang baik untuk kakaknya di hari yang telah di janjikan. Namun, tidak ada Atherina.


Pria itu menunggu di bandara Incheon. Dia melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Tidak ada Atherina disana.


Jika hari ini berakhir, maka kau bukan kakakku lagi. Jangan menyalahkanku, Atherina.


◆◇◆


 


 


"Melewati hari-hari bagai mimpi."


•••


 


 


03 September 2019


 


 


By Ucu Irna Marhamah

__ADS_1


 


 


__ADS_2