ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]

ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]
가을


__ADS_3

생일 축하드립니다


◆◇◆


 


 


Chris dan So Yeon duduk berhadapan. Gadis itu menunduk merasa bersalah pada Chris karena telah menumpahkan kuah mie yang panas ke tangannya.


"Maafkan aku," cicit So Yeon, entah berapa kali dia mengatakan itu. So Yeon tidak berani menatap Chris, kepalanya tertunduk dalam.


Chris mengibaskan tangannya, "Sudahlah, tidak apa-apa."


"Kau temannya Atherio?" Tanya So Yeon tanpa berani mengangkat wajahnya.


Chris mengerutkan keningnya lalu mengangguk-anggukkan kepala, "Ya, bisa di bilang begitu."


So Yeon terdiam, dia tidak tahu harus bicara apa lagi. Dia bukan gadis yang suka berbasa-basi apalagi jika bersama seorang laki-laki.


"Kau menyukai Atherio, ya?" Tanya Chris sambil menatap lekat-lekat gadis di depannya.


So Yeon terhenyak mendengar pertanyaan Chris. Dia mendongkak menatap Atherio, "A-apakah.. be-begitu terlihat?"


Chris memasang ekspresi sedang berpikir, "Emm, kurasa begitu."


"Aku.." Kedua pipi So Yeon sudah memerah seperti tomat. Gadis itu langsung menundukkan kepalanya karena dia ketahuan menyukai Atherio.


Chris terkekeh membuat So Yeon kembali mengangkat wajahnya, "Tidak apa-apa, aku bisa menjaga rahasia." Chris tersenyum hangat membuat So Yeon merasa nyaman.


Setelah jam pembelajaran di hari itu berakhir, semua murid Senior High School  kembali ke rumah masing-masing, tak terkecuali Atherio dan Atherina.


Mereka berdua kembali ke rumah dengan ekspresi serius. Tidak ada rasa lelah sama sekali yang terpancar dari wajah mereka.


Atherina bergegas menaiki tangga, "Setelah makan siang, kita akan ke markas, aku ingin mengumumkan sesuatu."


Atherio memutar kedua bola matanya, dia melihat ada Min Hyuk yang berdiri di dekat tangga. Pria itu sempat membungkukkan badan ketika Atherina melewatinya.


Atherio mengerutkan keningnya.


Satu tahun yang lalu, Atherio dan Atherina memutuskan untuk membangun markas baru di atas markas bawah tanah. Markas itu di jadikan tempat untuk bertransaksi dengan rekan atau pun pelanggan. Markas tersebut diberi nama Athema. Hari ini, Atherio dan Atherina berdiri di depan para anggotanya. Tidak hanya anggota kelompok Park, namun ada juga rekan dari kelompok lain yang hadir. Itu adalah pertemuan terbuka antar anggota kelompok yang saling bekerja sama.


Atherio memulai pembicaraan tanpa mau bebasa-basi, "Baiklah, aku senang ketika kalian semua hadir di tempat ini.."


Semua orang yang hadir di ruangan itu bertepuk tangan untuk pemimpin ganda kelompok Park. Azura yang memakai hoodie bertepuk tangan semangat bersama kelompoknya.


Atherio melanjutkan kalimatnya, ".. kakakku, Atherina Park, ingin mengumumkan sesuatu yang penting." Atherio mengangguk pada Atherina.


Atherina menganggukkan kepalanya kemudian mendekat ke pengeras suara, "Selamat sore semuanya, terima kasih telah datang ke pertemuan ini. Aku ingin mengumumkan bahwa mulai sekarang.. semua pintu dan gerbang yang telah tertutup cukup lama akan di buka kembali. Kita semua akan berhubungan secara langsung dengan orang luar, semuanya akan terkendali dengan baik."


Ruangan menjadi gemuruh karena suara tepuk tangan dari orang-orang yang hadir.


Setelah pertemuan terbuka yang singkat itu selesai, Atherio dan Atherina kembali ke rumah. Mereka berdua tengah duduk di kursi yang merupakan kursi untuk dua orang pemimpin.


Atherio sedang mengerjakan soal matematika yang sempat dia lupakan. Dia mengerjakan dengan mencari sumber lewat internet. Kedua matanya bergerak melihat ke layar komputer.


Sementara Atherina diam saja sambil memperhatikan adiknya. "Kenapa tidak mengerjakannya bersama teman yang satu kelompok denganmu?" Tanya Atherina.


Atherio menoleh sebentar, "So Yeon sudah mengerjakan beberapa soal, sisanya hanya orang-orang yang tidak berguna." Atherio kembali mengerjakan tugasnya.


Atherina mengangguk mengerti. Min Hyuk mengetuk pintu ruangan yang sebenarnya sudah terbuka lebar. Atherio dan Atherina menoleh.


"Ada apa, Paman?" Tanya Atherina. Min Hyuk memasuki ruangan, "Azokka ingin menemui anda."


Atherio dan Atherina saling pandang.


Di ruangan khusus untuk berjumpa dengan klien, Atherina terlihat duduk berhadapan dengan Azokka. Ada Min Hyuk dan Carlos berdiri di samping Atherina yang selalu setia mendampinginya.


Azokka memulai pembicaraan, "Aku ingin berterima kasih kepadamu, Nona Atherina."


Atherina mengernyit bingung, "Kenapa berterima kasih?"


Azokka tersenyum senang, "Aku merasa keadaan mental adikku menjadi lebih baik setelah mengenalmu, dia seperti menemukan jati dirinya yang sempat hilang."


Atherina merasa ucapan rasa terima kasih dari Azokka terlalu berlebihan. Selama ini dia tidak menganggap Azura teman, dia hanya menganggapnya orang biasa. Atherina hanya merasa kasihan pada Azura. Wanita itu bebas keluar masuk di kediaman Park karena status kakaknya yang merupakan pemimpin kelompok ular yang bekerja sama dengan Atherina dan Atherio. Kelompok Azokka sangat membantu dalam kemajuan bisnis gelap kelompok Park belakangan ini.

__ADS_1


Azokka menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Sifatnya jadi berubah ketika ibu kami tiada, dia jadi sedikit.. menyimpang."


Atherina mengerutkan keningnya, "Sebenarnya aku kurang mengerti dengan apa yang kau bicarakan, Tuan Azokka.. tapi, anggap saja jika apa yang aku lakukan adalah hal yang baik menurutmu itu sebagai sesuatu yang menjadi rasa terima kasihku juga atas kerja sama kita."


Azokka mencerna kata-kata Atherina yang sulit di mengerti menurutnya. Namun, dia tidak mau terlihat konyol, "Baiklah, aku harus kembali ke markas."


Mereka berdua berdiri dari tempat duduk lalu sama-sama membungkukkan badan sebagai rasa hormat. Min Hyuk mengantar kelompok itu sampai ke depan rumah. Atherina melangkahkan kakinya menuju jendela besar di ruangan itu. Dia melihat gedung besar milik mendiang ayahnya.


Atherina menutup matanya sejenak, "Park J. A. Group masih bisa berjalan walaupun berganti pemimpin untuk sementara. Itu karena Atherio masih sangat muda untuk mengurusnya. Aku sudah lelah, Paman Carlos."


Carlos menunduk mendengar keluh kesah nonanya. Dia mengerti beban yang terlalu besar itu di tanggung sendirian oleh seorang gadis muda seperti Atherina.


"Kapan Atherio akan dewasa? Menunggu sampai usianya 24 tahun itu sangatlah lama." Atherina menengadah memandang bangunan itu lagi.


"Musim gugur akan segera tiba, Nona."


Ucapan Carlos membuat Atherina bingung, tidak ada hubungannya dengan apa yang dia bicarakan.


Setelah beberapa saat Atherina berpikir, akhirnya dia ingat. "Benarkah? Musim gugur tahun ini datang lebih awal," gumam Atherina.


Sementara itu, Atherio sedang mengemas buku-bukunya ke dalam tas. Pandangannya tidak sengaja tertuju pada kalender yang tertempel di dinding kamarnya.


"Ah, jadi bulan ini sudah habis." Atherio merobek kalender yang bulannya habis. Dia membuang kertas itu ke tempat sampah di sudut ruangan.


Pandangannya kembali tertuju pada kalender, senyumannya merekah. "Besok hari ulang tahunku, aku minta hadiah apa, ya?'


Atherio tampak berpikir, "Ah, sayangnya dia selalu telat ketika mengucapkan selamat ulang tahun padaku."


◆◇◆


Hari mulai pagi, Atherio membuka matanya sejenak dia mengerjap pelan. Tangannya meraih jam tangannya dari meja dan memasangnya dalam keadaan mata tertutup.


Atherio mengucek matanya lalu melihat jam tangannya yang sudah terpasang. "Jam 8, hari ini hari minggu.. ah, kakakku benar-benar tidak berniat mengucapkan selamat ulang tahun padaku."


Dia melepaskan jam tangannya lagi dan menyimpannya ke tempat semula.


Atherio bangkit menuju ke kamar mandi. Berselang beberapa menit, laki-laki tampan itu keluar dari kamar mandi dengan pakaian rumahan yang sudah rapi.


Sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil, dia akan memakai pakaian di kamar mandi dan memakainya setelah mandi. Dia tidak suka ketika tubuhnya yang basah di terpa udara di luar kamar mandi.


"Masuk," kata Atherio. Pintu di buka, masuklah Atherina dengan cupcake kecil berwarna merah muda di tangannya. Tidak lupa ada sebuah lilin berwana senada di atas cupcake tersebut.


Dengan senyuman manis, Atherina menghampiri Atherio yang tertawa kecil melihat keberadaan kakaknya.


"Selamat ulang tahun, Riorio!" Atherina memberikan cupcake di tangannya pada Atherio.


Atherio menerimanya dan memperhatikan cupcake yang kecil itu. "Ya ampun, kau benar-benar memilih kue ulang tahun yang tepat. Sangat berkesan."


Atherina terkekeh, "Manis sekali sepertimu. Usiamu sekarang 17 tahun, cepatlah dewasa."


Atherio memutar bola matanya lalu meniup lilin dan memakan kuenya. Tidak lupa dia menyuapi Atherina.


"Aku tidak mengerti, kenapa selama ini kakak selalu terlambat mengucapkan selamat ulang tahun padaku." Terdengar setengah bertanya.


"Hari ini siapa yang pertama kali mengucapkan selamat ulang tahun padamu?" Tanya Atherina.


Atherio memiringkan kepalanya, "Tentu saja dirimu, aku mengabaikan semua surat yang lebih dulu datang padaku, aku tidak keluar dari kamar agar tidak bertemu dengan orang lain sebelum dirimu.. itu sengaja agar aku bisa mendapatkan ucapan ulang tahun yang pertama darimu."


Atherina tersenyum, "Kau mau tahu alasannya?"


"Tentu saja," jawab Atherio cepat.


"Apa kau ingat, kapan setiap kali aku mengucapkan selamat ulang tahun padamu?" Tanya Atherina lagi.


"Aku rasa selalu di jam segini." Atherio melihat jam tangannya.


Atherina mengangguk cepat, "Artinya aku mengucapkan ulang tahun padamu di waktu yang tepat."


Dia tampak berpikir sambil mencerna ucapan kakaknya. Atherio masih belum paham maksud kakaknya.


Atherina tertawa kecil melihat raut bingung yang terpancar di wajah adiknya. "Kau lahir pada jam 8:14:33. Menurutku, usiamu akan bertambah di jam yang sama setiap tahunnya. Jadi, aku hanya akan mengucapkan selamat ulang tahun ketika usiamu genap di jam tersebut."


Atherio mencerna ucapan kakaknya lalu dia menjentikkan jarinya, "Aku mengerti sekarang, aku rasa Kakak benar. Tapi.. kenapa orang-orang selalu mengucapkan selamat ulang tahun pada saat jam 12 malam?"


Atherina tampak berpikir, "Mereka menghitung sesuai tanggal, aku rasa begitu."

__ADS_1


Atherio mengangguk mengerti lalu dia menatap kakaknya, "Apa sekarang aku boleh meminta hadiahku darimu?"


"Hadiah? Oh iya, tentu saja, kau mau hadiah apa?" Tanya Atherina.


Atherio menatap kakaknya lalu berdehem pelan, "Aku mau kakak menciumku."


Sebenarnya Atherina terkejut mendengar permintaan adiknya, namun dia menyembunyikan keterkejutannya. Dia masih berpikir itu adalah permintaan yang masih terbilang wajar dari seorang adik mengingat mereka memang sangat dekat. Atherina mengusap rambut adiknya, dia perlu berjinjit untuk mengecup pipi adiknya yang lebih tinggi. Atherina akan mengecup pipi adiknya, namun dengan cepat Atherio menoleh padanya dan alhasil bibir mereka bersatu. Kedua mata Atherina membelalak, Atherio menahan kepala Atherina agar tidak menghindar darinya. Pandangan mereka bertemu. Atherina mendorong dada bidang adiknya dengan kuat. Atherina menjauh, dia menatap adiknya dengan tatapan tidak percaya. Atherina menyentuh bibirnya. Ini adalah ciuman pertama bagi Atherina maupun Atherio.


"Ayah bilang, ciuman hanya untuk orang yang terkasih. Apa Kakak tidak mau menciumku?"  Ucapan Atherio kecil masih terngiang di telinga Atherina.


"Aku mencintaimu, Kak."


Ucapan Atherio membuat Atherina tercengang. Dia tidak mau melihat wajah Atherio, dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Sebenarnya Atherina menyadari perasaan Atherio sejak lama. Namun, dia pikir itu tidak mungkin. Tapi, hari ini Atherio mengatakannya secara langsung.


"Ini salah, ini salah.. apa yang kau lakukan? Apa yang kau bicarakan? Aku kakakmu!" Atherina menatap Atherio. Kedua matanya bergetar.


"Aku tidak tahu, yang pasti aku mencintaimu." Atherio menjawab dengan santai tanpa merasa bersalah sama sekali.


Atherina menggeleng dan berlalu sambil bersungut-sungut, "Ini gila."


Atherio menyusul kakaknya, dia menarik tangan Atherina, "Kakak, aku tidak main-main."


Atherina berbalik sambil menepis tangan adiknya, "Aku tahu, tapi kau.. arrggh.."


Atherio kembali meraih tangan kakaknya, "Apa salahnya aku menyukai perempuan? Aku sudah cukup dewasa."


"Aku kakakmu," sanggah Atherina.


"Setelah apa yang kau lakukan padaku? Memperhatikanku selama ini, menjagaku dengan penuh kasih sayang, memperdulikanku, menyayangiku, melindungiku, melakukan apa pun untukku. Itu karena kau juga mencintaiku." Atherio terus membantah.


"Aku melakukannya karena kau adikku, dan aku kakakmu."


"Memangnya kau benar-benar kakak kandungku?"


Atherina membisu seribu bahasa. Tatapannya menjadi kosong. Atherio menyadari jika ucapannya telah melukai perasaan Atherina.


Dengan lembut, Atherio memegang kedua bahu kakaknya. "Maafkan aku."


Atherina mendorong dada Atherio kemudian berbalik untuk pergi, namun dia terkejut melihat keberadaan Carlos dan Ji Hoo yang menatap mereka dengan mulut terbuka.


Tubuh Atherina membeku seketika. Atherio mengalihkan pandangannya seolah tidak terjadi apa-apa.


◆◇◆


Atherio membuka amplop surat yang menumpuk di mejanya. Sejak beberapa hari yang lalu, surat itu sudah memenuhi kotak surat di depan rumahnya. Semua isinya adalah ucapan selamat ulang tahun dari orang-orang yang menyukainya. Atherio memutar bola matanya bosan. Dia bersyukur karena tidak memiliki akun media sosial. Jika dia memilikinya, pasti kotak masuknya sudah penuh. Atherio menyimpan semua surat itu ke dalam laci. Dia akan melanjutkan membacanya nanti. Atherio merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Jemari lentiknya menyentuh bibir merahnya. Senyuman manis mereka di bibir belahnya.


"Kapan aku bisa menciumnya lagi?"


Bel pintu utama berbunyi menandakan ada tamu yang datang. Atherio bangkit dan melihat ke jendela kamarnya yang lebar. Ada mobil berwana hitam yang biasa menjemput Chris ketika pulang sekolah. Atherio terperanjat, bagaimana bisa temannya datang tanpa memberitahu? Itu akan menjadi masalah untuknya. Atherina akan marah. Dia segera menuruni tangga untuk menemui temannya itu. Chris terus-menerus menekan bel dengan ekspresi ceria. Dia tidak sabar ingin menemui temannya yang sedang berulang tahun. Ada kotak berukuran sedang di tangannya. Pintu terbuka, Atherina yang membukanya. Chris tersenyum manis pada Atherina, di sambut dengan ekspresi bingung yang jelas terpatri di wajah Atherina.


"Halo, Kak."


"Ah, iya, kau siapa, ya?"


"Aku Christian Lee, temannya Atherio.. apakah Atherio ada di rumah?"


Teman? Atherio punya teman?


Atherio menuruni tangga, dia terkejut melihat kakaknya yang sudah membukakan pintu untuk Christian. Chris melihat keberadaan Atherio, dia melambaikan tangannya. Atherio tersenyum kaku sambil membalas lambaian tangan Chris.


Atherina menoleh pada adiknya yang berdiri di ujung tangga. Atherio juga menatap kepadanya.


◆◇◆


21 Juli 2019


By Ucu Irna Marhamah


Follow ig dan wattpad aku yaaa.... @ucu_irna_marhamah


Beli Ebook aku juga yaaa...



__ADS_1


__ADS_2