![ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]](https://asset.asean.biz.id/atherio-park--sudah-terbit-.webp)
"Selama di Jepang, nona Erina mengemban misi ganda. Misi yang dia jalani sesuai perintah ibu petir dan misi terakhir yang diberikan tuan Park. Itu semua tidak luput dari bantuan Han Jin dan Han Gun." Apa yang dikatakan mata-mata suruhannya masih jelas terdengar di telinganya.
Atherio mengetahui semuanya. Apa saja yang dilakukan Atherina selama di Jepang. Dia juga baru mendapatkan informasi jika kakaknya itu tinggal bersama Han Jin dan siang ini, sebelum Atherina datang ke rumahnya, gadis itu mengantar Han Jin ke rumah sakit.
Marah, itu yang ada dalam benaknya. Tapi, dia tidak bisa menyalahkan Atherina selamanya. Gadis itu berada dalam seperti terpenjara di dalam dua sel.
Atherio duduk di meja kerjanya. Dia meneguk sampanye dari botolnya. Terdengar pintu ruangan kerjanya diketuk. Atherio menoleh, "Siapa?"
"Ini aku," suara Atherina dari luar. Atherio mengusap kasar rambutnya, "Masuk."
Atherina membuka pintu dan melihat adiknya tampak kacau. Gadis itu berjalan menghampirinya sambil melihat banyak dokumen di meja.
"Kau mabuk?" Atherina mengambil botol itu dari tangan adiknya. Tapi, Atherio tidak memberikannya. Dia menjauhkan botol sampanye tersebut dari Atherina. Gadis itu menatap kesal pada Atherio.
"Waeyo?" Tanya Atherio.
"Jangan bekerja sambil mabuk, lebih baik minum kopi."
Atherio menatap Atherina dengan skeptis. Gadis itu juga menatap Atherio. Tersirat kesedihan di mata adiknya. Kedua alis Atherina terangkat, "Apa kau merasa sedih?"
Atherio tersenyum, "Aniyo, selama kau tetap berada di sini bersamaku."
Atherina tidak bisa bilang apa-apa. Dia bungkam.
"Aigoo, kakakku benar-benar cantik." Atherio tersenyum sambil menepuk pipi Atherina kemudian berlalu begitu saja.
Atherina tersenyum tipis sambil menggeleng pelan. Gadis itu melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 10 malam. Dia harus kembali ke rumah Han Jin.
Setelah memastikan Atherio sudah tidur, gadis itu pergi ke rumah Han Jin. Seperti biasa, pria itu masih terjaga hanya untuk menunggu Atherina dan memastikan jika gadis itu pulang dengan selamat.
Atherina merasa bersalah karena tidak memberikan kabar pada Han Jin. Apalagi pria itu tinggal sendirian tanpa pelayan. Hanya ada beberapa penjaga di depan rumah.
Aleena sengaja tidak membiarkan banyak orang tinggal disana karena dia ingin Atherina dan Han Jin memiliki waktu untuk berduaan.
"Atherina? Kau sudah kembali? Apa kau tidak apa-apa?" Tanya Han Jin yanh menyadari keberadaan Atherina karena suara sepatunya. Gadis itu mengusap bahu Han Jin, "Iya, aku tidak apa-apa."
"Atherio tidak berbuat buruk padamu, kan?" Tanya Han Jin. Atherina menghela napas panjang, "Tidak, aku baik-baik saja. Oh ya, aku mau membawa makanan untuk makan malam kita."
Han Jin tersenyum.
Selesai makan malam, keduanya berbincang sebentar di kamar Han Jin. Mereka banyak bercerita. Tiba-tiba kepala Han Jin terkulai ke bahu Atherina. Gadis itu cukup terkejut. Dia melihat mata Han Jin yang tertutup disusul dengan napas yang teratur.
Atherina melelapkan tubuh Han Jin dengan pelan-pelan. Gadis menyelimuti tubuh pria itu.
"Atherina, hanya kau satu-satunya alasan Han Jin untuk tetap bahagia." Aleena mengatakan itu sebelum dirinya pergi dari daratan Jepang.
"Aku menyayangi Han Jin, meskipun aku tidak pernah menganggapnya sebagai putraku."
Atherina berlalu ke kamarnya.
Ketika hari mulai pagi, Atherina bersiap-siap menunggu pengantar makanan yang sudah dia hubungi tadi. Han Jin belum bangun.
Ketika pengantar makanan itu tiba, Atherina segera menyajikannya ke meja. Atherina melihat Han Jin menuruni tangga. Gadis itu menghampirinya dan membantunya.
Selesai sarapan, Atherina mendapat telepon dari Atherio. Gadis itu terkejut karena baru ingat dengan perintah adiknya.
"Atherio lagi?" Tanya Han Jin.
"Maafkan aku," kata Atherina pelan. Han Jin tersenyum, "Tidak apa-apa, kau boleh menemuinya."
__ADS_1
◆◇◆
Atherio yang sedang berdiam diri di balkon, melihat mobil putih milik Atherina memasuki area rumah Park. Atherio menggigit bibirnya ketika Atherina turun dari mobil.
Atherina menyapa beberapa pelayan yang berada di halaman. Dia melihat Atherio di balkon dengan sekilas. Gadis itu berpapasan dengan Ji Hoo.
"Nona, selamat pagi."
"Selamat pagi, Paman Ji Hoo."
"Nona terlihat pucat, apa Nona sedang sakit?"
Atherina mengibaskan tangannya, "Ah, tidak."
"Apa Han Jin tidak bersikap baik?"
Atherina mendesis pelan lalu berbisik, "Jangan sampai ada yang tahu aku di sana."
Ji Hoo terdiam dan berbicara dalam hati, tuan Atherio sudah tahu. Percuma berbisik, Nona.
Atherina celingukan mencari seseorang, "Atherio sudah bangun?"
Ji Hoo ikut celingukan, "Aku belum melihatnya, Nona."
"Mungkin dia masih tidur. Oh ya, aku ingin menemui paman Victor dan paman Gun Seok saja," kata Atherina. Ji Hoo mengangguk, "Aku akan mengantar anda."
"Ah, tidak perlu. Aku akan menemui mereka. Katakan saja, dimana mereka berdua?" Tanya Atherina.
"Mereka di markas bawah tanah, seperti biasa," jawab Ji Hoo. "Baiklah, terima kasih, Paman." Atherina berlalu ke markas bawah tanah.
Dia melihat Victor dan Gun Seok yang sedang melatih anggotanya. Mereka berdua menoleh pada Atherina.
"Nona?" Kedua pria itu membungkuk hormat. Atherina juga membungkuk. Sikapnya membuat Gun Seok dan Victor saling pandang.
"Paman, aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian."
Atherina duduk berhadapan dengan Gun Seok dan Victor. Mereka berdua tampak serius menunggu Atherina mengatakan sesuatu.
"Aku merasa kalian telah bekerja keras melatih dua orang dari pasukan khusus yang menemaniku selama 6 tahun di Jepang. Aku sangat berterima kasih kepada kalian." Ucapan Atherina membuat Victor dan Gun Seok salah tingkah.
"Itu.. itu adalah tugas kami," ucap Gun Seok sambil tersenyum kaku. Victor mengangguk, "Kami menjalankan tugas sesuai perintah."
Atherina tersenyum, "Apa jadinya kelompok ini tanpa kalian."
Gun Seok dan Victor saling pandang sambil tertunduk karena tersipu. Atherina memberikan map berwarna coklat muda kepada mereka.
Victor dan Gun Seok mengambil map tersebut. Isinya adalah beberapa benda penting seperti; kartu, kunci mobil, dan dokumen lain. Mereka berdua saling pandang.
"Apa ini tidak berlebihan, Nona?" Tanya Victor. "Tidak, kalian berdua pantas mendapatkannya." Atherina tersenyum tulus.
"Nona, kami tidak yakin kedua orang itu bekerja dengan baik. Dan aku rasa lebih baik Nona memberikan ini pada mereka saja," kata Gun Seok.
"Mereka akan mendapatkan yang lain. Ini khusus untuk paman-pamanku," ucap Atherina sambil bangkit dari tempat duduknya. Dia mengusap punggung kedua pria itu.
"Terima kasih, Nona."
Atherina tersenyum seraya mengangguk kemudian berlalu. Gadis itu melihat Atherio duduk di meja makan sambil menopang dagu. Dia menghampiri Atherio dan duduk di sampingnya.
"Kenapa semalam kau pergi? Apa kau tidak benar-benar menyayangiku?"
"Aku ada urusan mendadak," jawab Atherina pendek. "Aku pikir, misimu dari ayah sudah selesai."
"Belum, sampai kau bertemu dengan ibu petir."
Atherio menepuk perutnya, "Aku lapar, aku ingin kau memasak sesuatu untukku."
Atherina terkejut, "Me-masak?"
Atherio mengangguk, "Waeyo? Kau akan memasak untukku, kan?"
Atherina mengalihkan pandangannya sambil mengetuk lantai dengan sepatunya, "Emm, aku rasa.. masakan para pelayan lebih baik."
Atherio menatap Atherina, pertanda bahwa dia tidak mau dibantah. Gadis itu mendengus dingin lalu mulai dengan memilih bahan. Gadis itu berkali-kali membuang napas gusar.
Tangan kekar itu mengambil daging dari tangan Atherina. Dia mendongkak menatap adiknya yang sudah mengenakan celemek. Dengan telaten, pria itu mulai memotong daging. Atherina memperhatikannya. Ternyata Atherio bisa memasak, dia baru mengetahuinya.
"Bagaimana bisa kau menjadi seorang istri jika kau tidak bisa memasak?" Gerutu Atherio. Atherina tampak berpikir, "Aku belum memikirkan pernikahan."
Atherio selesai memasak, dia menyuapkan sesendok kuah ke mulut Atherina. Gadis itu membuka mulutnya, "Kau benar-benar ahli, ya?"
Atherio mengangguk bangga. Tiba-tiba Atherina merasa mual. Dia menyentuh perutnya. Gadis itu mendorong dada Atherio menuju wastafel dan memuntahkan semua yang telah dia telan pagi ini. Atherio tampak cemas. Dia menghampiri Atherina. Tapi, gadis itu menahan tangan Atherio agar tidak mendekatinya.
Gadis itu membersihkan mulutnya lalu tampak berpikir, apa aku terlalu lelah?
Atherio menyentuh bahu kakaknya. "Kau sakit?" Tanya Atherio. Atherina mengedikkan bahunya kemudian melangkah pergi.
Atherio menatap punggung kakaknya yang menjauh, "Hei, kau belum sarapan!"
"Aku akan kembali nanti," kata Atherina dari luar ruangan. Atherio mengerutkan keningnya sambil menyusul Atherina. Ketika Atherina membuka pintu mobilnya, Atherio segera menutupnya.
Gadis itu menoleh padanya. Atherio menarik Atherina untuk memasuki mobilnya.
__ADS_1
"Kita ke rumah sakit," kata Atherio. "Aku tidak sakit," gerutu Atherina.
Di rumah sakit,
Atherio sedang berbicara dengan dokter yang memeriksa Atherina. Sementara gadis itu masih terbaring di atas ranjang.
Dokter itu tersenyum ramah, "Nona Atherina hanya perlu istirahat. Sepertinya dia kelelahan."
Atherio tampak memikirkan sesuatu, "Apa Dokter yakin, Atherina hanya kelelahan?"
"Iya, Nona Atherina harus beristirahat. Dia harus tidur lebih awal."
Setibanya di rumah, Atherio menyuruh kakaknya makan lalu minum obat. Setelah itu Atherina di paksa tidur. Tidak mau membantah, gadis itu memilih untuk menurut.
Ketika jam menunjukkan pukul 8 malam, Atherina terbangun. Dia teringat pads Han Jin. Mana mungkin dia membiarkan Han Jin sendirian di rumah.
Gadis itu bangkit dari tempat tidur dan keluar. Dia terkejut mendapati Atherio berdiri di depan pintu kamarnya dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.
"Mau kemana?" Tanya Atherio. Atherina menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga, "Aku harus pergi, besok aku akan kembali."
Sebelum menunggu tanggapan adiknya, Atherina melangkah untuk pergi.
"Apa kau punya pelanggan VIP?" Pertanyaan Atherio membuat Atherina terkejut sekaligus menghentikan langkahnya. Gadis itu berbalik dan menatap adiknya.
"Apa maksudmu?" Tanya Atherina dengan tatapan nanar.
"Kau pergi setiap malam, kau tidak berbuat buruk, kan?" Tanya Atherio menyelidik. Atherina menggeleng tidak percaya dengan ucapan adiknya, "Aku bukan wanita seperti itu."
"Kalau begitu, kembali masuk kamar dan tidur." Atherio menunjuk kamar Atherina. Gadis itu menggeleng, "Aku harus pergi."
Atherio mengepalkan tangannya melihat Atherina berlalu menuruni tangga.
Atherina pergi ke rumah Han Jin. Gadis itu menyuruh salah satu penjaga untuk memarkirkan mobilnya ke garasi.
Atherina memasuki rumah. Tampaklah seorang pria yang sedang mendengarkan musik. Terlihat earphone di telinganya. Atherina melirik sekilas sambil melewati Han Jin.
"Sudah pulang?"
Atherina terkejut. Dia tidak mengerti, bagaimana bisa Han Jin menyadari keberadaannya dengan mudah? Pria itu benar-benar memiliki kepekaan.
Atherina duduk di samping Han Jin. Pria itu melepaskan earphone-nya. Atherina memasang earphone tersebut ke telinganya, "Musiknya ada. Tapi, Kak Han Jin bisa mendengarku pulang."
Han Jin tersenyum, "Bukan hanya mendengar, aku juga bisa mengenali aroma parfum yang biasa kau pakai." Seketika Atherina mencium bau tubuhnya sendiri sambil melirik Han Jin.
"Kau bertemu Atherio?" Tanya Han Jin.
"Iya," jawab Atherina sambil menyandarkan punggungnya ke sofa.
"Kenapa nada bicaramu terdengar kesal?" Tanya Han Jin yang menahan tawa.
"Amerika telah mengubahnya. Dia minum dan bermain wanita dengan seenaknya. Jika ayah tahu, dia pasti akan bangkit dari kematian dan memukul anak itu sampai mati." Han Jin terkekeh karena Atherina berbicara dengan ketus.
Han Jin mengusap rambut Atherina, "Kenapa menyalahkan Amerika? Jika dia tidak bergaul dengan sembarang orang, dia tidak akan terpengaruh."
Ucapan Han Jin ada benarnya. Selama Atherio di Amerika, Ji Hoo dan Carlos selalu mengawasi kegiatan Atherio. Mereka berdua tidak pernah menceritakan tentang pergaulan Atherio padanya. Tapi, bisa saja Atherio menyuruh kedua orang itu untuk tutup mulut. Atherina menggeleng pelan memikirkan semua itu.
"Atherina, operasiku akan dilakukan besok. Aku harap kau berada di sana dan aku ingin melihatmu untuk pertama kalinya," ucap Han Jin sambil menyentuh tangan Atherina. Gadis itu sedikit risih dengan sikap Han Jin, tapi dia tidak ingin menunjukkannya. Atherina mengangguk, "Aku akan menemanimu."
"Aku tidak ingin disebut sebagai pemimpin yang lemah karena buta. Aku ingin menjadi seorang Han Jin yang dihormati seperti dulu," kata pria itu dengan kepala menengadah. Dia mengingat semua kenangan yang telah berlalu ketika kedua matanya masih bisa melihat dengan jelas.
Atherina merasa iba. Dia mengusap bahu Han Jin, "Mereka selalu menghormatimu, aku bisa tahu lewat tatapan mereka padamu."
Han Jin tersenyum, "Bisakah aku memelukmu?"
Atherina terdiam. Dia merasa tidak nyaman jika menolak permintaan Han Jin. Tapi, dia juga tidak bisa terus menerus menerima sikap pria itu terhadapnya.
"Tidak boleh, ya?" Tanya Han Jin. Atherina mendekat lalu melelapkan kepalanya ke dada bidang milik Han Jin. Pria itu mendekap Atherina dengan lembut. Gadis itu mendongkak menatap dagu Han Jin yang kokoh.
"Maaf, aku membuatmu tidak nyaman. Tapi.. aku mencintaimu, Atherina."
◆◇◆
"
Aku memang tidak bisa melihat. Tapi, aku bisa mendengar, merasakan, dan mencintai."
(Park Han Jin)
05 September 2019
By Ucu Irna Marhamah
__ADS_1