![ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]](https://asset.asean.biz.id/atherio-park--sudah-terbit-.webp)
"Ketika kau meremehkan musuhmu, itu artinya kau sudah siap dengan kekalahan."
_Park Han Jin_
◆◇◆
"Aleena Park dan Park J. A." Atherio yang menjawab pertanyaan Han Jin. Atherina menatap adiknya yang terlihat serius.
"Di kelompok Park, generasi keempat adalah generasi kakek, generasi kelima adalah generasi ayah, generasi keenam adalah Atherina Park dan Atherio Park.. itu berarti ayahku menikahi ibuku ketika generasi kelima berlangsung."
Sunyi..
Han Jin tersenyum, "tepat." Atherina terkejut, tidak menyangka jika perkiraan adiknya benar. Jadi, sedari tadi Han Jin menceritakan orang tua Atherio. Atherina melihat perkembangan yang cepat pada adiknya.
Atherio tampak berpikir, ".. lalu kau siapa?"
"Aku bukan siapa-siapa, kelompok petir hanya memiliki seorang pemimpin, yaitu Aleena Park. Dia mengadopsi beberapa anak dan menjadikan mereka pemimpin di wilayah tertentu, termasuk aku." Jawaban Han Jin membuat tangan Atherio mengepal.
Ayah, ibu, sama saja, batin Atherio. Atherina menyentuh tangan adiknya membuat kepalan tangannya melemah.
Atherio bangkit dari tempat duduknya, "Aku tahu, ibuku masih hidup, aku mendengar suaranya ketika di telepon. Dan aku juga tahu, kau kemari untuk menceritakan itu. Percuma, aku sudah tahu." Atherio berlalu.
"Apa kau tahu, sekarang dimana dia berada?" Tanya Han Jin. Langkah Atherio terhenti. "Kenapa aku harus mencarinya? Dia sama seperti ayah, penjahat!" Atherio melanjutkan langkahnya.
Atherina berseru memanggil adiknya, "Atherio, berhenti! Ini tentang ibumu."
Atherio berbalik, "Apa maksudmu ibu kita?" Tanya Atherio. Atherina terdiam kemudian menganggukkan kepalanya pelan. Han Gun menatap Atherina yang hampir keceplosan.
Atherio kembali duduk di samping Atherina. Dia mendengus kesal.
"Aku akan menceritakan kejadian yang sebenarnya di Milan sebelum Park J. A. meninggal. Siapkan popcorn dan cola," ujar Han Jin.
"Apa kau pikir kami akan percaya dengan ceritamu?" Tanya Atherio kesal. Han Jin tertawa, "Aku tidak memaksa kalian untuk mempercayaiku, aku mengatakan yang sebenarnya sesuai dengan apa yang terjadi."
Atherina mengangguk mengerti, "Kami akan mendengarkan, soal percaya atau tidaknya, nanti saja."
"PR kalian sudah selesai?" Tanya Han Jin. "Cepatlah," kata Atherio. Han Jin tersenyum, "Tidak sabaran."
***
Dor!
Sebelum peluru dari sniper itu mengenai Park, Aleena mendorong Park dan berguling ke lantai. Mereka bersembunyi di balik sofa.
"Musuhmu tahu keberadaanmu? Bagaimana bisa?" Bisik Aleena. Park menggelengkan kepalanya, tatapannya tertuju pada pistol di meja. Dia segera mengambilnya.
Dor!
Hampir saja tembakan sniper mengenai tangannya. Park memberikan pistol itu pada Aleena. Aleena menerimanya sambil menatap lekat wajah Park. Merasa di perhatikan, Park juga menatap Aleena.
Sniper memasuki ruangan, tidak hanya satu orang, ada tiga sniper di ruangan itu. Mereka bertiga menodongkan senapan ke balik sofa.
Sofa berguling menghantam mereka. Park lompat lalu mencekik kedua orang itu dan memutar leher mereka sehingga terdengar suara kreeekkk tulang yang patah. Kedua orang itu terkulai jatuh ke lantai.
Sniper yang satunya lagi berkelahi dengan Aleena. Wanita itu menjambak rambut sniper dan menyayat lehernya dengan pisau. Cairan merah kental itu terciprat ke wajah cantiknya yang sudah tidak muda lagi.
Park menatap Aleena yang memekik seperti wanita pada umumnya, "Ah, shit!! Darah sialan ini menodai gaun mahalku."
"Kau bisa membeli baju itu kapan saja, tapi kau tidak bisa membeli nyawa pada Tuhan," ucap Park. Aleena mendelik kesal pada Park.
Ponsel Park bergetar, dia merogoh saku celananya dan melihat nama Riorio di layar. Park melirik sekilas pada Aleena yang sedang menatapnya curiga.
"Halo?" Park mengangkat panggilan tersebut.
"Ayah.. Ayah? Apa Ayah baik-baik saja?"
Park tersenyum, "Aku baik-baik saja, kau tidak nakal, kan? Kau tidak membuat kakakmu dan pelatihmu kewalahan, kan?" Tatapan Aleena menyendu melihat percakapan Park dengan seseorang di seberang sana.
"Ayah, apa kau pikir aku ini anak kecil. Aku hampir 9 tahun."
Park melihat kesedihan yang terpancar di wajah Aleena. Dia tersenyum sambil memberikan ponselnya.
"Putramu," bisik Park.
"Ayah?"
"Atherio.." gumam Aleena dengan suara bergetar. Kedua mata Aleena berkaca-kaca karena telah mendengar suara putranya. "Atherio.." panggilnya lagi.
"Ibu," kedua alis Aleena terangkat mendengar jawaban putranya, dia tidak mengira putranya akan memanggilnya. Seorang putra yang belum pernah melihat wajah ibunya secara langsung, tapi bisa mengenali suara ibunya. Ibu yang telah mengandungnya.
Aleena tersenyum sambil menangis tanpa suara. Park yang melihat itu menghela napas kemudian mengalihkan pandangannya.
Tiba-tiba terdengar suara tembakan beruntun dari luar. Aleena dan Park segera bersembunyi dibalik sofa.
__ADS_1
"Ibu! Ayah!" Teriak Atherio dari seberang sana. Aleena akan menjawabnya, tapi dobrakan pada pintu membuat niatnya urung. Park memeluk Aleena lalu berdiri dan melompat menabrak kaca jendela. Tembakan para sniper membuat Ponsel Park terlempar ke lantai. Sementara keduanya berguling-guling di atap lalu terlempar ke atas mobil.
"Ah, sialan.. pinggangku." Aleena membantu Park berdiri kemudian melompat ke tanah. Mereka segera pergi ke tempat aman yaitu toilet perempuan.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Park. "Aku baik-baik saja," jawab Aleena dengan tatapan tertuju pada lengan Park yang berdarah.
"Johan, kau tertembak," bisik Aleena setengah memekik. "Tidak masalah."
"Bagaimana bisa musuhmu mengetahui keberadaan kita? Apa kau bilang pada orang luar sebelum datang kemari?" Tanya Aleena. "Aku hanya bilang pada orang-orang di kelompokku, aku juga tidak tahu siapa yang membocorkan ini," ujar Park.
Aleena menatap Park dengan serius, "Sepertinya ada pengkhianat diantara orang-orangmu." Park menatap Aleena.
"Waspadalah, pengkhianat itu bisa melukai Atherio," ucap Aleena. "Aku punya pelindung untuknya, seseorang yang bisa melindunginya dengan baik," sanggah Park.
Aleena mengerutkan keningnya, "Siapa?" Park membekap mulut Aleena ketika mendengar suara langkah kaki memasuki kamar mandi.
Terlihat bayangan orang dari lantai, Park membuka pintu bilik toilet dengan kasar sehingga membuat orang itu tersungkur. Park keluar dan menghajarnya lalu mengambil senapan dari sniper itu.
Park menarik tangan Aleena agar keluar dari kamar mandi. Mereka berlari pergi mencari tempat lain yang lebih aman. Tiba-tiba, beberapa mobil berhenti didekat mereka. Aleena dan Park menoleh, ternyata itu adalah orang-orang kepercayaan Park.
"Tuan Park, kami sudah mengalihkan perhatian mereka, sekarang Tuan Park dan Nyonya Park bisa pergi ke tempat lain," kata Min Hyuk sambil memberikan kunci mobil yang dia pegang. Park terkejut dengan keberadaan mereka.
Park dan Aleena saling pandang kemudian mengangguk. Tanpa pikir panjang, mereka memasuki mobil dan segera pergi meninggalkan tempat itu diikuti dua mobil untuk melindungi mereka berdua.
"Johan, sepertinya keadaan kelompokmu dalam ketegangan, sampai-sampai ada pengkhianat. Lalu, bagaimana bisa mereka datang kemari tanpa perintahmu? Lebih baik, berikan Atherio padaku agar dia bisa aman," kata Aleena.
"Tidak, aku yakin, pengkhianat itu bukan ada di kelompokku, tapi di kelompokmu! Aku mempercayai orang-orangku sepenuhnya!" bantah Park yang berusaha menyetir dengan fokus.
Aleena tampak berpikir, "Tidak mungkin, aku juga percaya pada orang-orangku."
Park mendengus pelan, "Bagaimana pun juga, aku tidak akan memberikan Atherio kepadamu. Kau tidak pernah memilih anak buah dengan baik, kau selalu mendahulukan perasaanmu, sehingga kau memilih orang karena rasa kasihan, bukan karena kemampuannya."
Tiba-tiba, salah satu mobil yang berada di belakang Park meledak. Aleena terkejut dan menoleh ke belakang. Mobil yang terbakar itu jatuh ke jurang. Park melihat dari spion, dia memukul stir.
"Apa kau bisa melihat dari mana asal penembak itu?" Tanya Park. Aleena mengerutkan keningnya, "Penembak?"
"Arah jam 2!" Teriak Park. Aleena mengambil senapan dari Park. Dia membidik orang yang berdiri di tebing.
Dor!
Orang itu terjatuh dari tebing karena tembakan Aleena tepat sasaran. Tiba-tiba mobil yang mengikuti Park yang tinggal satu itu juga meledak.
"Mobil-mobil yang meledak itu di tembak dari bawah jurang, aku tidak bisa melihat mereka," ucap Aleena. Park melihat spion, "Ada mobil yang mengikuti kita di belakang, ikuti aba-abaku."
Aleena menoleh ke belakang, "Siapa mereka?"
Muncul orang dari atap mobil di belakang sambil membawa senapan bom membidik mobil yang dikendarai Park.
"Satu.. dua.. tiga!" Park menarik Aleena sambil membuka pintu mobil dan melompat. Mereka berguling-guling jatuh ke jurang. Sementara mobil itu meledak ketika penembak meluncurkan bom.
Aleena meraih akar pohon yang besar tanpa melepaskan Park. Mereka berdua bergelantungan dengan keadaan tubuh memar dan berdarah.
"Lepaskan aku, Aleena.. atau kita mati bersama." Aleena mendengus mendengar ucapan Park. "Kau bilang tidak mau memberikan Atherio kepadaku, jika aku membiarkanmu mati, Atherio bersama siapa?" Aleena menggerutu.
"Dia bersama seseorang yang kuat, kau tidak perlu khawatir.. aku sudah mengadopsi anak untuk melindungi dia," ucap Park. Aleena mencerna ucapan Park.
Aleena tidak kuat lagi menahan tubuh mereka, tangannya terlepas dari akar. Sehingga keduanya jatuh ke bawah. Mereka jatuh ke semak-semak kering.
"Aku pikir, kita terjatuh ke bebatuan tajam," gumam Aleena. Dia melihat Park membuka jasnya dan melemparnya ke sembarangan arah.
"Tadi kau bilang ada penembak dari bawah jurang, waspadalah.. mereka pasti ada di sini," ucap Park sambil memegang luka tembakan di lengannya. Park menyadari tatapan Aleena padanya, "Apa yang kau lihat?" Tanya Park.
Aleena segera mengalihkan pandangannya sambil bergumam pelan, "Aku bahkan pernah melihat lebih dari itu."
Park mengerutkan keningnya, "Kau bilang apa?" Aleena segera menggelengkan kepalanya. Mereka berjalan mengendap menyusuri jurang yang dalam tersebut.
Park tidak berhenti menggenggam tangan Aleena sedari tadi, mereka terus berjalan. Kedua pipi Aleena memerah, namun tertutupi gelapnya malam.
"Jika kita masih hidup, aku akan mempertemukanmu dengan Atherio. Tapi, jika salah satu dari kita mati, kita tidak bisa menemuinya.. kau.. atau pun aku.. itu bisa membahayakan dia," kata Park.
"Jangan mati," gumam Aleena. "Aku tidak tahu, sampai kapan aku hidup, tapi kau jangan mati dulu, Aleena. Kau harus menemui Atherio di waktu yang tepat." Ucapan Park membuat Aleena terharu. Dia menatap punggung Park.
Seketika Park berbalik dan memeluk Aleena dengan erat. Kedua mata mereka beradu pandang.
"Temui Atherio ketika usianya 24 tahun," kata Park. Tiba-tiba terdengar suara tembakan yang bersahutan. Peluru-peluru itu menembus punggung Park. Aleena terbelalak, Park jatuh di pelukannya. Cipratan darah menodai wajah Aleena.
"Johan.." Aleena bergumam.
Dia mengangkat senapan dan menembaki orang yang telah membuat Park terluka. Semua sniper yang mendengar suara tembakan itu segera berlari ke sumber suara.
Penembak itu mati di depan Aleena yang terlihat murka. Park mengusap kepala Aleena dengan lembut, "Pergilah, mereka akan segera tiba."
"Aku akan membawamu ke rumah sakit," kata Aleena sambil menangkup wajah Park.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Alee.."
Aleena terbelalak, "Sialan, disaat seperti ini kau bicara begitu." Aleena memukul dada Park, membuat pria itu meringis. Sebenarnya Aleena tersipu dengan ucapan Park.
"Ah? Maafkan aku, bertahanlah, Johan." Park menggeleng pelan, "Pergi, cepatlah.."
"Johan,"
"Aleena.. aku mohon, ini permintaan terakhirku.. kau harus bertemu Atherio."
Aleena terlihat sedih, air matanya menetes melihat pria di depannya sekarat. Park jatuh terduduk, "Kau mau pergi, atau mau melihatku mati?"
Aleena menggeleng, terdengar suara dari semak-semak di sekitar jurang. Aleena mengedarkan pandangannya.
"Aleena, jika kau tidak mau pergi, aku akan menarik kata-kataku," ancam Park. Aleena berlari pergi dari tempat itu sambil menangis.
***
Atherina mengalihkan pandangan untuk menyembunyikan linangan air matanya. Atherio masih berkutat dengan isi kepalanya. Tidak ada ekspresi apa pun di wajahnya.
Han Gun menghela napas panjang. Dia meminum jus yang tersedia di meja.
"Dari mana kau tahu cerita itu dengan lengkap?" Tanya Atherio. "Ibu petir, alias Aleena Park."
"Apa aku bisa menemuinya? Dimana dia berada?" Tanya Atherio menahan emosi dalam hatinya.
"Aku tidak bisa mengatakan dimana dia berada, seperti permintaan terakhir ayahmu, Ibu petir akan menemuimu ketika usiamu genap 24 tahun." Atherio tidak terima dengan jawaban Han Jin, dia bangkit dari tempat duduknya untuk memukul Han Jin.
Sebelum tangan Atherio mendarat di wajahnya, Han Jin menangkap tangan Atherio. Atherina terkejut dengan gerakan pria itu, Atherio juga tampaknya tidak mengira dengan antisipasi Han Jin.
"Aku memang buta, tapi aku tidak tuli dan tidak berhati batu," kata Han Jin sambil melepaskan tangan Atherio. Han Gun tersenyum melihat ekspresi Atherio. Atherina menarik adiknya agar kembali duduk.
"Aku rasa ini sudah selesai.. yang penting kalian tahu jika Aleena Park masih hidup, aku akan pergi." Han Jin berlalu sambil menggerakkan tongkat besinya. Han Gun menyusul kakaknya.
Langkah Han Jin terhenti, "Atherio, kau tidak perlu khawatir, Ibu petir mengadopsi kami bukan untuk diangkat sebagai anak, tapi untuk menjadi orang kepercayaannya. Dia tidak menyayangi kami seperti seorang anak, tapi mengasihani kami dan membesarkan kami dengan baik."
Han Gun menunduk lalu merangkul kakaknya agar segera meninggalkan ruang pertemuan. Kini tinggal Atherio dan Atherina yang berada di dalam ruangan.
"Ada pengkhianat di kelompok kita, aku harus menemukannya." Ucapan Atherio membuat Atherina terkejut.
"Apa maksudmu? Kau mencurigai orang kita? Mereka tidak mungkin mengkhianati kita," sanggah Atherina.
Atherio menggeleng, "Seseorang harus bertanggung jawab atas kematian ayah. Han Jin bilang, ibu sempat bicara ketika aku menelepon ayah. Itu benar terjadi.. lalu dia bilang lagi, ayah dan ibu bertemu dengan orang-orang kepercayaan ayah ketika keluar dari toilet.." Atherina mengangguk mengiyakan.
".. ketika orang-orang kepercayaan ayah kembali sambil membawa jasad ayah, mereka tidak mengaku pernah bertemu dengan wanita. Padahal jelas, telingaku dan cerita Han Jin menunjukkan keberadaan ibu didekat ayah waktu itu. Coba Kakak pikirkan, apa alasan orang-orang kepercayaan kita berbohong?" Atherio mengakhiri dengan pertanyaan.
Tampaknya Atherina tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan adiknya. Atherio mengangguk, "Aku tahu, Kakak juga tidak tahu alasannya, tapi ini membuatku curiga." Laki-laki itu melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 3 malam.
Atherio menatap kakaknya, "Kakak tidurlah, ini sudah malam." Di balas anggukkan oleh Atherina. Mereka berlalu.
◆◇◆
Atherio membuka kunci kamarnya, dia masuk dengan pelan-pelan lalu merebahkan tubuhnya di samping Chris yang tertidur membelakanginya. Tampaknya Chris masih tertidur pulas. Atherio menutup matanya.
Kedua mata Chris terbuka, iris matanya bergerak ke samping.
Terdengar suara mobil terhenti di depan rumah, kedua mata Atherio terbuka. Chris juga membuka matanya.
Ketika Atherio bangkit, Chris segera menutup matanya berpura-pura tidur. Atherio melihat Chris yang yang terlihat masih tertidur.
Atherio melirik jam digital di meja yang menunjukkan angka 00.23. Laki-laki itu beranjak dari tempat tidur untuk keluar dari kamarnya dengan pelan-pelan. Tanpa pikir panjang, Atherio mengunci pintu kamar. Chris berbalik melihat ke pintu. Dia bangkit menuju jendela dan melihat Han Gun bersama seseorang yang membawa tongkat.
Han Gun menoleh kearahnya, Chris segera berjongkok untuk menghindari pandangan Han Gun.
◆◇◆
24 Juli 2019
By Ucu Irna Marhamah
Follow instagram dan wattpad aku\, yaaa.. @ucu_irna_marhamah
Beli Ebook aku juga, yaaa,,,,
__ADS_1