ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]

ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]
Team Paman Ji Hoo


__ADS_3

"A mistake increase your experience and experience decreases your mistakes. You learn for your mistake than others learn from your success."


◆◇◆


Sebelum berangkat ke sekolah, Atherio dan Atherina yang sudah rapi memakai seragam mengantarkan Park ke Bandara.


Park menyentuh bahu Atherio dan Atherina. "Mungkin aku akan lama tinggal di Italia. Aku sudah menitipkan pesan pada Ji Hoo. Aku harap kalian tidak terkejut dengan apa yang di katakan olehnya."


Ji Hoo yang berdiri di belakang Atherio dan Atherina mengangguk. Atherio menatap ayahnya, "Kenapa Ayah tidak bilang langsung saja?" Tanya Atherio.


"Aku tidak mau mengatakannya secara langsung," jawab Park. Atherina tidak berniat mengeluarkan suaranya, sedari tadi dia terdiam dengan tatapan kosong.


Park menyadari perbedaan sikap pada Atherina, dia menepuk pelan bahu Atherina. Gadis itu terhenyak dan serta merta dia mendongkak menatap ayahnya. Atherio menatap kakaknya.


Park tersenyum, "Selama aku pergi, aku harap kau bisa memahami Atherio.. dia memang pemberontak kecil, tapi dia akan lebih mendengarkanmu di bandingkan diriku." Atherina mengangguk ragu.


Park menepuk pipi Atherio membuat Atherio terkejut dan mengalihkan pandangannya pada Park. "Jangan diam-diam minum susu sapi," kata Park kemudian berlalu.


"Hanya itu?" Tanya Atherio. Park menghentikan langkahnya, "Jangan jatuh cinta dulu." Mendengar itu, Atherio menatap tajam ke arah Ji Hoo. Yang mendapat tatapan seperti itu terkejut.


Setelah itu, Ji Hoo mengantar Atherio dan Atherina ke sekolah. Mereka berdua sama sekali tidak berbicara, suasana menjadi canggung dan sunyi. Sesekali mata Ji Hoo melirik ke spion tengah melihat situasi kedua anak tuannya.


Ji Hoo merasa sikap kedua anak itu berubah belakangan ini. Seperti ada tembok penghalang di antara mereka. Sesuatu telah terjadi tanpa mereka rencanakan. Namun, Ji Hoo memilih untuk pura-pura tidak tahu.


Atherio melirik Atherina yang sedari tadi menatap jalanan yang di lalui oleh mobil itu. Kenapa kakak jadi diam begitu? Tidak seperti biasanya.


Mobil yang membawa mereka terhenti di depan sekolah, Atherio dan Atherina keluar dari dalam mobil. Tanpa berbasa-basi dengan Ji Hoo, mereka berdua langsung memasuki area sekolah.


Langkah Atherina semakin gegas, Atherio meraih tangan kakaknya. Atherina berbalik menatap adiknya.


Atherio menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. "Emm.. Kakak marah padaku?" Tanya Atherio dengan ekspresi yang membuat pandangan Atherina menyendu.


Atherina tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya, "Tidak, memangnya kenapa?" Atherina menarik tangannya dari genggaman Atherio.


Atherio merasa terluka dengan sikap kakaknya yang seolah tidak mau di sentuh, "Aku merasa.. Kakak berubah padaku." Atherio menunduk.


Atherina jadi merasa bersalah karena membuat Atherio sedih. Tangannya bergerak menyentuh dagu Atherio, "Maafkan Kakak, belakangan ini Kakak banyak pikiran karena tugas Kakak.. Rio mengerti, kan?"


Atherio menganggukkan kepalanya, Atherina tersenyum kemudian berlalu meninggalkan Atherio yang masih berdiri dengan tatapan sendu. Tepukan pada bahunya membuat anak itu terhenyak kaget. Dia menoleh ternyata Christian.


Tatapan Chris tertuju pada Atherina yang berjalan menjauh. Chris bergumam, "Dia kakakmu? Cantik, ya." Atherio menepuk pipi Chris, "Jangan melihatnya seperti itu!"


Jam pelajaran pertama, Atherio tampak serius mendengarkan guru yang menjelaskan di depan kelas. Tiba-tiba dia teringat ucapan ayahnya sebelum pergi ke Italia.


"Jangan jatuh cinta dulu."


Atherio meletakkan tangan di dagunya memasang ekspresi berpikir, Apa mungkin ayah tahu.. aku menyukai kak Nana? Tapi semalam Ayah tidak membahas tentang itu.


***


 


 


Park membuka matanya, dia melihat pada Atherio yang terlihat kesal. "Kau mau tahu? Aku akan menceritakannya dari awal.. semuanya.. bukan hanya tentang Atherina.. tapi tentang keluarga kita."


Atherio menghela napas panjang, "Kali ini jangan ada kebohongan." Park mendecih sambil tersenyum kecil, "Besok kau harus sekolah."


"Aku akan mendengarkan," kata Atherio.


"Baiklah,"


Park beranjak dari tempat duduknya, dia melangkah menuju jendela. Tangannya bergerak menyingkap tirai memperlihatkan suasana malam di kota Seoul.


"Dulu.. dulu sekali.. keluarga kita bukanlah keluarga yang kaya. Kakekku yang masih muda hidup dalam kemiskinan dan kesengsaraan. Namun, suatu hari.. dia tidak sengaja membantu seorang anggota gangster yang sekarat. Kakek merawatnya hingga sembuh. Sebagai tanda terima kasih, orang itu membawa kakek ke markas dan mengajaknya untuk bekerja di tempat itu.." Park menghela napas sejenak, dia menoleh pada Atherio yang masih setia mendengarkan cerita ayahnya.


".. suatu hari, dia di angkat menjadi orang kepercayaan pemimpin dari kelompok tersebut. Orang yang pernah di tolong kakek merasa iri dan timbul rasa dendam pada kakek. Ketika pemimpin kelompok meninggal karena suatu kecelakaan, kakekku di angkat menjadi pemimpin kelompok itu. Orang yang membenci kakek memilih keluar dari kelompok dan membuat kelompok baru. Kakekku menyebarkan kekuasaannya ke berbagai wilayah, termasuk Italia.. dia menikah dengan nenekku yang berkebangsaan Italia dan melahirkan ayahku.." Park menghentikan ceritanya, dia tertawa kecil.


Atherio mengerutkan keningnya, "Lalu?"


".. awalnya kakekku tidak menginginkan ayahku menjadi gangster seperti dirinya, tapi dia tidak punya pilihan lain. Jika ayahku tidak di didik menjadi gangster yang sejati, maka dia akan menjadi sasaran empuk musuh kakek. Kakek mendidik ayah dengan keras sehingga ayah menjadi pemimpin yang kuat. Dengan izin kakekku, ayah di perbolehkan ke Korea untuk memegang kekuasaan dunia gelap kakek yang ada di Korea. Sifat ayah jauh berbeda dengan sifat kakek. Ayahku memimpin dengan penuh kekejaman, satu kesalahan kecil adalah satu buah jari. Satu kesalahan besar adalah tangan dan kaki. Ayah menikah dengan ibuku yang berkebangsaan Korea, lalu.. aku pun terlahir sebagai monster.. mesin pembunuh yang  di ciptakan oleh ayahku sendiri.." Park kembali duduk di kursinya.

__ADS_1


Atherio mendengarkan dengan ekspresi menerawang, seolah cerita itu benar-benar terjadi di depannya.


".. ayahku selalu bilang 'jangan terlalu memakai perasaanmu, itu hanya penghambat,' aku selalu mengingatnya sampai sekarang."


"Lalu apa hubungannya dengan Ayah mengadopsi kak Nana?" Tanya Atherio yang tidak sabar meminta penjelasan sebenarnya dari Park.


Park menerawang membayangkan Atherina yang masih kecil, "Ketika pertama kali aku melihat anak itu di panti, aku melihat ada jiwa kepemimpinan yang besar dalam dirinya. Dia memiliki tatapan mata yang bagus, seperti tatapan yang mematikan. Aku melihat gambaran diriku di dalam diri Atherina."


"Kenapa Ayah menjadikan dia monster dan mesin pembunuh seperti Ayah? Sementara Ayah tahu, dia bukan anak Ayah, dia anak orang lain yang jadi korban keegoisan Ayah. Dia di korbankan untuk melindungi aku, anak Ayah.. apa ayah sadar dengan apa yang Ayah lakukan?" Atherio melayangkan kalimat yang seperti tamparan keras untuk Park.


Park mengangkat kepalanya menengadah sambil menarik napas. "Aku tidak mungkin mengorbankan anakku sendiri, aku butuh pelindung untuk melindungimu."


Atherio mengerti jika Park sangat mencemaskannya dan sangat menyayangi dirinya. Tapi apa yang dia lakukan pada Atherina itu tidak adil menurutnya.


"Aku pikir, jika seseorang mengadopsi anak dari panti asuhan adalah untuk mencintai dan menyayanginya seperti anak sendiri.. memberikan perlakuan seperti anak sendiri.. tapi apa yang Ayah lakukan ini semakin membuatku merasa tidak salah menilai Ayah. Ayah tidak lebih dari seorang pecundang." 


Atherio mengepalkan tangannya geram, "Anak-anak di panti asuhan itu berharap bisa mendapatkan orang tua yang mau menerima mereka dan menyayangi mereka. Anak-anak itu ingin mendapatkan kasih sayang yang tidak mereka dapatkan dari orang tua kandung mereka.. begitu pun kak Nana. Ketika pertama kali bertemu, aku melihat ekspresi bahagia di wajahnya.. aku yakin, waktu itu dia belum mengerti, kenapa Ayah mengadopsinya.. dia ingin mendapatkan tempat yang layak, orang tua yang memberikan kasih sayang, saudara yang baik.. tapi, ini yang Ayah lakukan!"


Setelah mengatakan itu, Atherio beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menuju pintu untuk meningalkan ruangan tersebut. Dia menarik knop pintu.


Park tersenyum melihat punggung putranya, "Ternyata kau sudah besar, bahasamu juga lebih luas.." Atherio menghentikan langkahnya, tangannya berhenti memutar knop.


".. aku harus berterimakasih kepada Carlos dan Min Hyuk."


"Lakukan apa pun yang ingin Ayah lakukan," kata Atherio ketus.


Park mendecih, "Setelah Atherina tinggal lama bersama kita dan setelah aku melihat sikapnya padamu, membuatku menyadari kalau dia memang lebih pantas menjadi putriku di bandingkan menjadi monster."


Atherio mengerutkan keningnya, dia berbalik menatap ayahnya. Park mencondongkan tubuhnya dengan kedua sikut bertumpu pada meja, "Atherina tidak hanya monster, dia memiliki separuh jiwa seperti malaikat dalam dirinya.. aku telah mengawasinya sejak lama, dia tidak pernah membunuh tanpa alasan. Orang yang mati di tangannya adalah orang yang memang pantas untuk mati."


Atherio mencerna ucapan ayahnya, wajah Atherina terbayang dalam benaknya.


"Sikapnya mengingatkanku pada ibumu," ujar Park. Atherio menatap Park.


"Iya, Aleena Park adalah seorang gangster sepertiku."


***


Atherio terhenyak ketika sebuah tangan menepuk bahunya, dia menoleh ke arah Chris. Atherio mengikuti arah tatapan Chris, ternyata sedari tadi dia melamun dan guru memperhatikannya.


◆◇◆


Di dalam pesawat, Esteban tengah mempersiapkan senjata dengan cepat dan ahli. Dia mengemas semuanya bersama Victor. Min Hyuk dan Carlos memperhatikan layar komputer yang sedang di tangani oleh Joon Ki.


Ji Hoo memperhatikan Gun Seok yang sedang memberikan arahan kepada anak buahnya. Gun Seok yang merasa di perhatikan menoleh ke arah Ji Hoo.


Ji Hoo menghampiri Gun Seok yang memberikan isyarat pada anak buahnya jika instruksinya sudah selesai. Semua anak buahnya berlalu memakai seragam khusus.


"Ada apa kau mendekatiku?" Tanya Gun Seok ketus. "Aku.. aku hanya ingin.. ingin bilang, kita harus berusaha hari ini," ucap Ji Hoo canggung.


Gun Seok mendelik Ji Hoo, "Tanpa kau bicara pun aku sudah tahu." Gun Seok berlalu meninggalkan Ji Hoo yang masih berdiri kikuk.


Carlos yang melihat itu menghampiri Ji Hoo, "Sebentar lagi kita tiba di Italia." Ji Hoo mengangguk pelan.


***


"Kenapa tuan Park memutuskan ini dengan tiba-tiba?" Pertanyaan Esteban membuat lamunan Ji Hoo buyar.


"Ji Hoo, bagaimana menurutmu?" Tanya Carlos. "Ah? Aku?" Ji Hoo kelabakan. Semua mata tertuju padanya dengan tatapan kesal.


"Maaf, aku tadi.. melamun. Bagaimana menurutmu Carlos?" Ji Hoo balik bertanya.


Min Hyuk dan Carlos saling pandang lalu menghela napas berat. Ji Hoo terkekeh kecil, Gun Seok menggeleng pelan.


Carlos pun berbicara, "Menurutku, apa yang di katakan Gun Seok ada benarnya. Kita tidak bisa diam saja ketika melihat bos kita dalam bahaya.. kalian tahu, kan, kenapa tuan Park tinggal di Korea? Karena musuhnya sangat banyak di Italia."


Victor mengangguk, "Belum lagi di sana ada orang yang benar-benar bisa membahayakan tuan Park."


"Baiklah, keputusannya adalah.. kita akan menyusul tuan Park dan membantunya menyelesaikan permasalahan di Italia," kata Ji Hoo kemudian beranjak dari tempat duduknya.


"Kau mau kemana?" Tanya Carlos.

__ADS_1


"Tidur," jawab Ji Hoo.


***


Ji Hoo melihat Esteban yang berdebat dengan Joon Ki. Dia sudah lelah melihat pertengkaran anggota termuda tim kepercayaan Park itu.


"Kau pikir ini mudah? Teknologi harus di perlakukan dengan hati-hati!" Gerutu Joon Ki. "Hanya tinggal menekan tombol pun kau banyak bicara," sambar Esteban.


"Hei! Jangan samakan keyboard dengan pelatuk pistol! Tanpa memakai otak pun orang bisa menembak!" Gerutu Joon Ki.


Esteban tersinggung dengan ucapan Joon Ki, "Kau sendiri yang punya otak tidak bisa menembak manekin, apalagi orang yang tidak punya otak!"


"Apa kau bilang!" Joon Ki beranjak dari kursinya. Min Hyuk menahan Joon Ki. "Kenapa!" Bentak Esteban sambil berdiri, tapi Victor menahannya.


Ji Hoo mengusap rambutnya dengan kasar, "Kalian berdua hentikan! Awas saja jika di markas musuh kalian begini!"


Esteban menatap kesal pada Ji Hoo, "Kau sendiri juga sering bertengkar dengan Gun Seok di tempat misi! Kenapa kau marah pada orang lain!"


Gun Seok mendelik tajam pada Esteban. Yang mendapat tatapan seperti itu langsung menutup rapat mulutnya.


Carlos memegang dahinya karena lelah, "Tim kita adalah tim terbaik. Tapi, anggotanya benar-benar tidak bisa diatur dengan baik."


Ji Hoo melipat kedua tangannya di depan dada, "Esteban, Joon Ki, kalian harus bersalaman dan saling memaafkan."


Esteban dan Joon Ki mengeluh, "Aku tidak.."


"Lakukan, atau aku akan menurunkan kalian ditengah jalan!" Potong Ji Hoo. Esteban dan Joon Ki melihat keluar jendela pesawat.


Esteban tersenyum miris, "Ji Hoo, kita berada di atas udara, bukan di jalan."


Ji Hoo tetap menatap dingin, "Lakukan, atau aku akan membuka pintu darurat sekarang."


Terpaksa kedua pria itu saling berjabat tangan dan berpelukan sambil meminta maaf dengan tulus di depan Ji Hoo. Anggota lain melihat Ji Hoo yang sedikit lebih galak dari biasanya.


◆◇◆


Atherio dan Atherina sibuk mencari orang-orang kepercayaan ayahnya yang tiba-tiba hilang sudah dua hari. Mereka bertanya kepada para pelayan dan para penjaga. Namun, tidak ada satu pun yang tahu.


"Kenapa mereka pergi tanpa minta izin dari Kakak?" Tanya Atherio.


Atherina mengedikkan bahunya, "Apa mereka semua dalam masalah? Aku tidak bisa menghubungi nomor mereka. Jika ponsel mereka semua tidak aktif bersamaan, itu berarti mereka sedang dalam satu tempat dengan misi yang sama. Tapi, misi apa? Aku tidak memberikan mereka misi. Ayah juga tidak mungkin memberikan misi ketika dia sendiri sibuk di Italia."


Atherio mencerna ucapan Atherina lalu dia bergumam pelan, "Ayah pergi ke Italia sendirian." Atherina menoleh ke arah adiknya, Atherio menatap Atherina.


"Jadi, mereka menyusul Ayah," ucap Atherio. Atherina mengerutkan keningnya, "Darimana kau bisa menyimpulkan itu?"


Atherio tampak berpikir, "Mereka tidak akan meninggalkan ayah sendirian, apalagi paman Ji Hoo bilang, ayah pergi ke Italia untuk menyelesaikan masalah."


Atherina tampak berpikir, "Aku juga curiga, tidak biasanya ayah pergi keluar tanpa membawa orang kepercayaannya."


Atherio mengangguk, "Bahkan ayah tidak membawa satu pun bodyguard."


"Aku jadi cemas, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan ayah?" Tanya Atherina. Atherio juga tampak khawatir. Dia teringat senyuman ayahnya semalam.


"Siapa orang yang akan di temui oleh ayah?" Gumam Atherina.


"Iya, Aleena Park adalah seorang gangster sepertiku."


◆◇◆


 


 


 


 


15 Juli 2019


By Ucu Irna Marhamah

__ADS_1


 


 


__ADS_2