ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]

ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]
The Sixth Generation


__ADS_3

"Pray, try, and believe."


◆◇◆


Atherio memakai setelan jas dengan rapi. Dia menghela napas berat.


"Aku berjanji, aku tidak akan lama." Ucapan Atherina semalam terngiang di telinganya.


"Jika ternyata kau mengingkari janjimu dengan tinggal lama di sana lebih dari 5 tahun, aku tidak akan menganggapmu kakakku lagi ketika kita bertemu nanti. Artinya, aku berhak memilikimu." Jawabannya semalam juga membuat Atherina berpikir keras. Atherio terkekeh mengingat ekspresi kakaknya yang kebingungan.


Pintu kamarnya diketuk, Atherio menoleh. Gun Seok berdiri di sana, "Kami semua sudah siap, para tamu juga sudah hadir di markas besar."


Atherio mengangguk.


Di markas besar, banyak sekali tamu yang hadir. Tidak lain mereka adalah kelompok yang sudah lama bekerja sama dengan Park J. A. selama ini. Atherina duduk bersama beberapa orang peting dari kelompok lain. Mereka tampak berbincang serius.


Atherio bersama Gun Seok memasuki ruangan. Mereka berdua mendapatkan sambutan berupa tatapan dari orang-orang yang ada di dalam sana.


"Mana kelompok petir?" Tanya Atherio. "Mereka bukan rekan kita, sama sekali tidak ada hubungan kerja sama. Hanya saja kelompok kita pernah berhubungan baik ketika generasi ayahnya tuan Park."


"Aku tahu, ibuku pemimpin kelompok petir, kan?" Gun Seok tidak menjawab pertanyaan Atherio.


"Ah, sial.. terlalu banyak kebohongan." Atherio menghampiri Atherina yang beranjak dari tempat duduknya. Gun Seok hanya mampu menghela napas berat.


"Kita mulai saja," ucap Atherio. Atherina mengangguk. Gadis itu melangkah ke tengah-tengah ruangan. Dia berdiri dan memulai pidatonya.


Atherio memilih untuk duduk memperhatikan Atherina yang sedang berbicara di depan. Senyuman tampan terukir di bibirnya, cantik sekali dirimu, aku tidak keberatan jika kau lama di Jepang. Itu artinya kau melanggar janjimu dan aku berhak mendapatkanmu, Atherina Park.


Atherio melirik kearah kelompok ular. Ada Azura disana. Atherio menautkan alisnya kesal melihat keberadaan pria itu. Azura terlihat tampan dengan setelan jasnya, dia menoleh pada Atherio seketika kedua alisnya menukik tajam ketika pandangan mereka berdua bertemu.


Azokka menarik dagu adiknya agar tidak melihat Atherio seperti itu. Sementara Atherio membuang muka pada Atherina yang masih serius berpidato.


Atherio jadi teringat dengan percakapan mereka semalam.


 


 


".. setelah usiamu menginjak 20-an, semuanya akan berubah menjadi semakin sulit. Bukan hanya kau, aku juga. Sebelum ayah membawaku ke rumah ini, ayah sudah memprediksikan apa yang akan terjadi ke depannya. Ada banyak rencana yang dia buat untuk kelompok kita di masa depan, termasuk juga tentangmu." Atherina melihat Atherio yang masih mendengarkannya dengan ekspresi serius.


"Bagaimana tanggapanmu?" Tanya Atherina.


"Apa rencananya?"


"Aku belum bisa mengatakannya, ada banyak rencana untuk beberapa kemungkinan." Ucapan Atherina terdengar ambigu.


"Jika kau pergi, apa menurutmu aku akan menjadi lebih baik?"


"Harus, kau harus menjadi lebih baik. Aku mempercayaimu."


"Bagaimana jika yang terjadi malah sebaliknya?"


Atherina menghela napas panjang, "jika itu terjadi, berarti aku telah gagal menjadi Atherina Park di rumah ini. Ayah telah salah memilihku untuk menjadi kakakmu."


Atherio tidak senang dengan ucapan kakaknya, "Apa kau menyesal telah menjadi bagian dari keluarga ini?"


Atherina menggeleng, "Tidak ada penyesalan. Aku semakin merasa beruntung ketika mengetahui bahwa tuan Park memiliki putra yang sangat manis."


Atherio mengusap kasar rambutnya, "Aku bisa gila karena ini."


"Jangan gila dulu, ini baru permulaan."


"Kapan kau akan pergi?"


"Secepatnya."


"Bisakah kau di sini selama satu bulan penuh?"


"Entahlah."


"Berapa lama?"


"Aku kembali setelah beberapa tahun disana."


"Itu lama, bagaimana jika 5 tahun?" ucap Atherio dengan nada ketus.


Hening.


"Kakak."


"Aku berjanji, aku tidak akan lama."


"Jika ternyata kau mengingkari janjimu dengan tinggal lama di sana lebih dari 5 tahun, aku tidak akan menganggapmu kakakku lagi ketika kita bertemu nanti. Artinya, aku berhak memilikimu."


Atherina memikirkan ucapan adiknya. Terdengar seperti sebuah ancaman. "Bagaimanapun juga, kau tetap adikku."


"Terserah, aku tidak akan memanggilmu kakak jika kau kembali lebih dari waktu yang ditetapkan." Atherio berlalu dari ruangan tersebut.


 


 


Atherio terhenyak ketika Atherina menyebutkan namanya. Dia melihat kearah Atherio sambil tersenyum kecil. Atherio juga tersenyum sambil menghampiri sang kakak. Atherina mengusap punggung adiknya.


".. mulai sekarang, kepemimpinan kelompok Park sepenuhnya ada di tangan Atherio Park." Mendengar ucapan sang kakak, Atherio terkejut. Semalam Atherina tidak membicarakan ini. Anggota kelompok Park membungkukkan badan. Semua orang yang hadir juga mengangguk hormat sembari bertepuk tangan.

__ADS_1


Atherio menatap kakaknya tidak percaya. Atherina juga menatap adiknya lalu mengangguk hormat. Atherio menggeleng, "Apa yang.."


◆◇◆


Semua tamu sudah pergi, yang ada di ruangan markas saat ini adalah seluruh anggota kelompok Park. Atherio mendelik kakaknya yang sedang membaca dokumen di tangannya.


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.." ucap Atherina. Semua mata di ruangan itu tertuju padanya.


".. dalam waktu dekat aku ingin mempersiapkan dua orang untuk ikut denganku ke Jepang."


Sunyi.


"Kenapa jadi hening?" Tanya Atherina. Suaranya menggema di ruangan tersebut.


Ji Hoo menggeleng, "Nona, sudah ditentukan oleh tuan Park siapa saja yang akan bersamamu."


Atherina menggeleng meniru Ji Hoo, "Aku akan membawa orang-orang yang aku pilih, kalian bertujuh tetap bersama Atherio. Dia pemimpin kita yang sangat membutuhkan kalian. Tidak ada yang sehebat tim-mu, Paman." Atherina menepuk dada Ji Hoo yang lebih tinggi darinya. Ji Hoo menjadi salah tingkah. Atherio menggaruk telinganya merasa tidak nyaman disebut sebagai pemimpin.


"Dua orang yang aku maksud adalah orang yang ahli dalam segala hal. Aku sangat membutuhkannya. Paman Gun Seok akan memberikan laporannya padaku. Iya, kan, Paman?" Atherina menoleh pada Gun Seok sambil tersenyum.


Gun Seok menjadi gelagapan, "Itu.. itu tidak mudah, Nona. Aku perlu melihat satu per satu dari mereka." Atherina menepuk lengan Gun Seok, "Aku percaya padamu." Gun Seok membeku.


"Jika Paman Gun Seok sudah menemukan orang yang cocok, Paman bisa meminta Paman Victor dan Paman Esteban untuk mengetes mereka." Esteban menunjuk dirinya seolah bertanya; aku? Sementara Victor mengangguk mantap.


"Nona, apa anda yakin dengan keputusan ini?" Tanya Carlos. Atherina mengangguk yakin. Min Hyuk dan Joon Ki saling pandang.


Atherio berdiri dari tempat duduknya lalu menghampiri Atherina. Laki-laki itu berdiri di samping kakaknya. "Semuanya sudah bisa kembali, kecuali tim paman Ji Hoo."


Semua orang membungkukkan badan kemudian berlalu meninggalkan ruangan.


Hening.


Atherio mengusap rambutnya frustasi, "Aku tidak mengerti maksudmu, Kak. Aku pikir, pembicaraan semalam adalah hal yang akan dibicarakan hari ini di depan semua orang. Tapi, yang kau bicarakan tadi.. sama sekali tidak ada hubungannya dengan apa yang kita bicarakan."


"Jika semalam aku bilang tentang ini, kau tidak akan setuju."


"Tentu saja,"


Atherina mendecih, "Sudah kuduga. Intinya, keputusanku sudah bulat."


Atherio menyeringai kecil, "Kau tidak bisa memutuskan, karena kau sudah melepaskan posisimu sebagai pemimpin. Sekarang aku pemimpin tunggal di sini."


Sunyi.


"Ini keputusanku berdasarkan keinginan ayah, kau tetap tidak bisa menolak," ucap Atherina.


"Baik, sekarang aku mau bertanya.. untuk apa kau pergi ke Jepang? Kenapa harus ke Jepang? Kenapa tidak ke tempat lain?"


Atherina merasa jika Atherio sudah cukup cerdas dan dewasa. Dia tidak bisa terus-menerus menghindari pertanyaan adiknya.


Atherio melirik kearah Carlos, "Paman Min Hyuk, apakah pembatalan misi bisa dilakukan jika pemimpin sebuah kelompok sudah berganti?"


Kepala Min Hyuk terangkat. Dia menoleh pada Carlos dan Atherina yang sedang melihat kearahnya. Min Hyuk mengalihkan pandangannya, "Iya, misi apa pun itu adalah keputusan pemimpin yang sedang berkuasa."


"Tapi, ini bukan misi. Ini adalah amanat," ucap Carlos. Ji Hoo menyentuh dahinya merasa pusing melihat penasehat dan ahli bahasa kelompok Park sedang beradu argumen.


"Bukannya tadi Paman bilang itu perintah?" Tanya Atherio. Carlos bungkam.


"Memangnya kenapa jika aku pergi ke Jepang?" Atherina memberikan pertanyaan yang membuat Atherio kembali berpikir.


"Kakak tidak berhak mempertanyakannya, sekarang aku pemimpin kelompok," sanggah Atherio.


"Semalam kau sudah setuju aku akan pergi ke Jepang."


"Aku tidak melarangmu pergi, aku hanya bertanya apa yang akan kau lakukan di sana."


Kenapa jadi berbelit-belit begini? Ji Hoo menjerit dalam hati.


Senyap.


Ponsel Esteban berdering. Esteban kelabakan, dia segera mematikan ponselnya. Dia terkejut karena semua mata menatap kepadanya. Dia tersenyum gugup. Joon Ki memutar bola matanya melihat tingkah Esteban.


Atherina melihat jam tangannya, "Ini sudah jam makan, kalian bisa makan siang. Aku akan bicara lagi lain kali." Atherina berlalu, tapi dia menghentikan langkahnya dan berbalik kemudian membungkukkan badan. Tim Ji Hoo terkejut dengan apa yang dilakukan Atherina. Mereka juga membungkuk hormat.


Atherio membuang napas kasar.


◆◇◆


Atherio memproses perpindahannya ke sekolah khusus untuk laki-laki. Dia di temani oleh Carlos dan Min Hyuk.


Laki-laki itu duduk di depan ruang guru. So Yeon menghampirinya, "Atherio?"


Merasa namanya di panggil, laki-laki itu menoleh. So Yeon tersenyum getir melihat Atherio. Mungkin ini adalah hari terakhir melihat wajah tampannya.


"Kau akan benar-benar pergi dari sekolah ini?" Tanya So Yeon. Atherio menganggukkan kepalanya. So Yeon mengalihkan pandangannya, "Soal yang waktu di taman sekolah itu.."


Atherio tersenyum lalu memotong ucapan gadis itu, "Aku tahu, kau mengatakan itu karena paksaan Hye In, tenang saja.. aku tidak menganggapnya serius."


.. aku ingin bilang, bahwa itu benar.. aku menyukaimu, So Yeon menjerit dalam hati. "Terimakasih, kau telah mengerti."


Atherio mengangguk, "Tidak akan ada yang mengganggumu, Hye In sudah tidak di sekolah ini lagi."


So Yeon menunduk sambil membatin, Aku tidak yakin, banyak yang menyukaimu selain Hye In.


"Bagaimana keadaan kak Erina?" Tanya So Yeon. Atherio tersenyum mengingat wajah kakaknya, "Dia sudah kembali dari rumah sakit. Aku tidak akan mencemaskannya lagi. Dia sekarang di rumah, aku sangat senang bisa bersamanya lagi."

__ADS_1


So Yeon mencerna ucapan Atherio, "Aku mengerti, sebagai satu-satunya keluarga yang kau miliki, kau pasti sangat menyayanginya."


"Lebih dari itu," ucap Atherio. So Yeon mengerutkan dahinya lalu tersenyum, "Kak Erina beruntung memilikimu adik yang baik sepertimu."


Atherio menggeleng, "Tidak.. aku yang berutung memilikinya."


So Yeon mengangguk-angguk paham. Carlos dan Min Hyuk keluar dari ruang guru. Atherio bangkit dari tempat duduknya, "Selamat tinggal."


So Yeon merasa sedih mendengar kalimat tersebut. Dia menggeleng, "Jangan katakan selamat tinggal, tapi sampai jumpa."


Atherio tersenyum, "Baiklah, sampai jumpa." gadis itu mengangguk. Atherio berlalu bersama kedua pria itu.


So Yeon tersenyum getir.


Di perjalanan menuju sekolah baru, Atherio melihat dokumen perpindahannya.


"Apakah kalian tahu, dimana markas kelompok petir?" Pertanyaan Atherio membuat Carlos menoleh. Min Hyuk yang menyetir tampaknya tidak terpengaruh dengan pertanyaan tersebut, dia tetap fokus menyetir.


Carlos menggeleng, "Kami tidak tahu, mungkin Ji Hoo tahu."


Atherio tampak berpikir, "Apa kalian punya informasi tentang mereka?"


"Tidak banyak, hanya tentang struktur kepemimpinannya yang kami tahu," jawab Min Hyuk.


Aku jadi curiga kepada Han Jin dan Han Gun, batin Atherio.


Di kediaman Park,


Atherina bersama Ji Hoo dan Gun Seok sedang berbicara. Mereka terlihat serius.


"Maaf, tapi kenapa Nona memberikan kepemimpinan sepenuhnya kepada tuan Atherio sekarang? Bukankan usia 17 tahun itu terlalu muda untuknya memegang posisi ini?" Tanya Ji Hoo.


"Bukankah tuan Park menginginkan tuan Atherio menjadi pemimpin ketika usianya 24 tahun?" Tanya Gun Seok seolah setuju dengan pertanyaan Ji Hoo.


"Kalian membutuhkan berapa tahun untuk mendapatkan kepercayaan ayah?" Atherina malah balik bertanya.


Gun Seok tampak berpikir, "Sekitar 5 tahun, itu pun masih perlu pembuktian lain untuk menunjukkan kesetiaan kami."


"Aku tidak punya pilihan lain, aku tidak punya cukup banyak waktu. Aku memerlukan kepercayaan yang sama."


Gun Seok mencerna ucapan Atherina. Sementara Ji Hoo mengangguk-angguk kecil.


Atherina menyandarkan punggungnya ke kursi, "Atherio memberikanku waktu 5 tahun, itu tidak cukup. Aku tidak yakin bisa kembali dalam waktu secepat itu."


"Lalu.. apa rencana Nona?" Tanya Gun Seok.


"Seperti yang aku katakan padamu kemarin. Aku butuh dua orang terbaik dari kelompok khusus yang kau pimpin. Aku akan pergi bulan depan."


Gun Seok mengangguk, "Akan aku usahakan."


Ji Hoo menghela napas panjang, "Nona tidak hanya meninggalkan tuan Atherio. Nona juga meninggalkan kami."


Atherina kembali duduk tegak, "Ah, Paman.. apa kau juga akan merengek seperti Atherio?"


Gun Seok terkekeh mendengar pertanyaan Atherina yang terlihat kesal. Ji Hoo tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. "Sebenarnya.. kami ini sedikit kewalahan melayani tuan muda. Jika dia marah, hanya Nona yang bisa menenangkannya."


"Hemm.. dia akan cepat dewasa.. aku harap dia bisa mengerti."


Hening.


"Oh ya, ngomong-ngomong, baru kali ini aku melihat paman Ji Hoo dan paman Gun Seok akrab?" Ujar Atherina setengah bertanya.


Gun Seok dan Ji Hoo mengalihkan pandangan ke arah lain. "Tapi, aku senang melihat kalian seperti ini. Ah, seandainya paman Esteban dan paman Joon Ki juga begitu."


Di markas,


"Jangan sembarangan menekan tombol!" Teriak Joon Ki.


"Kalau begitu, cepat lakukan!" Gerutu Esteban.


"Aku perlu berpikir!"


"Ah! Lama sekali!"


"Bisakah kau menunggu dan bersabar?!"


"Uang tidak bisa menunggu!"


Gun Seok dan Ji Hoo sedang membayangkan pertengkaran kedua orang itu.


"Tidak mungkin," gumam Ji Hoo dan Gun Seok berbarengan. Atherina terkekeh ketika melihat kedua pria itu yang kini saling pandang.


◆◇◆


18 Agustus 2019


By Ucu Irna Marhamah


Follow instagram dan wattpad aku\, yaaa ... @ucu_irna_marhamah


Beli Ebook aku juga, yaaaa...



__ADS_1


__ADS_2