![ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]](https://asset.asean.biz.id/atherio-park--sudah-terbit-.webp)
"It's never going to be the same again. And that's what killing me."
◆◇◆
Atherio sibuk dengan tugasnya sebagai pemimpin baru dalam kelompok. Sementara posisi Atherina menjadi setara dengan Ji Hoo. Setelah selesai rapat pertamanya sebagai pemimpin tunggal, Atherio menaiki tangga menuju kamarnya. Otomatis dia harus melewati kamar Atherina. Tanpa sengaja terdengar suara Atherina yang sedang berbicara dengan seseorang. Atherio merasa penasaran, dia mendekat ke pintu kamar Atherina yang sedikit terbuka. Dia melihat Atherina sedang duduk di tempat tidurnya sambil menelepon seseorang.
".. iya."
"..."
"Aku membutuhkan bantuanmu."
"..."
"Baiklah, akan aku tutup." Atherina mengakhiri panggilannya.
Siapa yang ditelepon kak Nana? Batin Atherio. Laki-laki itu segera pergi menuju kamar karena tidak ingin ketahuan menguping pembicaraan kakaknya.
Sementara waktu terus berlalu. Tak terasa, waktu kepergian Atherina ke Jepang semakin dekat.
Atherina duduk di bangku taman sekolah sendirian. Dia melihat ada banyak kupu-kupu yang hinggap pada bunga-bunga indah di taman sekolah. Atherina merasakan ada beban di sampingnya, dia menoleh ternyata So Yeon.
"So Yeon?"
Gadis itu menunduk dalam, "I-iya, Kak."
"Ada apa?" Tanya Atherina.
"Aku.. aku.. aku ingin menitipkan ini untuk Atherio." So Yeon memberikan sepucuk surat kepada Atherina. Gadis itu menerimanya dan sejenak melihat surat tersebut.
So Yeon bangkit lalu membungkuk, "Maaf merepotkanmu, terimakasih." Gadis itu berlalu meninggalkan Atherina.
"Apakah ini surat cinta?" Atherina menyimpan surat tersebut ke saku jaketnya. Dia menoleh ke samping dan terhenyak mendapati wajah tampan itu sedang memperhatikannya di jarak yang begitu dekat. Atherina segera memundurkan wajahnya.
"Kau! Mengejutkanku, dasar menyebalkan!" Atherina menggerutu sambil menyentuh dadanya karena terkejut.
Pria yang ternyata adalah Han Gun itu tersenyum geli, "Jadi, kapan kau akan pindah ke Jepang?"
"Memangnya kenapa?"
"Aku juga akan pindah ke Jepang."
Atherina mengernyit bingung, "Untuk apa kau pindah?"
"Waktu itu kau menelepon kakakku dan bilang membutuhkan bantuannya. Kakakku tidak memiliki waktu luang di Jepang, jadi dia menyuruhku pindah ke Jepang untuk membantumu."
Atherina mengangguk mengerti.
Han Gun menyandarkan tubuhnya ke kursi taman, "Apakah sebesar itu rasa sayangmu pada Atherio? Sampai-sampai kau mau melakukan semua ini." Kedua matanya tertutup merasakan hangatnya sinar mentari pagi.
Atherina menatap lurus seolah sedang menerawang, "Selain perintah dari tuan Park, ini juga keinginanku."
Han Gun menoleh, "Kau tahu? Kau hanya akan membuang-buang masa mudamu. Kau akan menyesal."
Atherina membuang napas pelan, "Hanya Atherio yang aku miliki. Dia adikku, keluargaku. Aku sudah siap sejak tuan Park membawaku ke rumah itu. Aku sama sepertimu, tidak memiliki keluarga. Tidak ada yang menginginkanku di dunia ini. Tapi, Atherio berbeda.. dia benar-benar membuatku merasa diakui."
Han Gun mencerna ucapan Atherina. Dia merasa tersentuh dengan ucapan gadis itu. Han Gun membenarkan posisi duduknya lalu mengusap punggung Atherina, "Aku mengerti perasaanmu."
Atherina mendelik kesal, "Jangan sentuh aku."
"Memangnya kenapa?" Han Gun memasang ekspresi bodoh.
Atherina memutar tangan Han Gun ke belakang membuat laki-laki itu meringis kesakitan. Atherina memukul punggung Han Gun, "Sudah kubilang jangan sentuh aku!"
"Aduh! Iya.. iya! Lepaskan aku!"
Sementara itu, Atherio sedang fokus belajar di kelasnya. Tidak ada perempuan di kelas itu. Bahkan tidak ada guru perempuan di sekolah tersebut. Atherio merasa lebih nyaman di sekolah barunya. Tapi, dia jadi teringat kepada Christian.
Sepulang sekolah, Atherio meminta sopir untuk melewati rumah Chris. Atherio melihat ada mobil di depan rumah temannya itu. Tapi, di luar rumah tidak ada siapa-siapa.
Mungkin ada tamu di rumahnya, batin Atherio.
Mobil hitam itu berhenti di pelataran rumah Park. Atherio keluar dari mobil tersebut. Dia memasuki rumahnya. Ada Atherina yang sedang memainkan ponselnya.
"Kak,"
Atherina menoleh, "Sudah pulang?" Atherio mengangguk sambil merebahkan tubuhnya ke sofa dan melelapkan kepalanya ke pangkuan Atherina.
"Bagaimana hari ini?"
"Tidak ada yang mengesankan, tapi terasa lebih nyaman dan tenang."
"Baguslah."
Hening.
Yang terdengar hanya suara musik dari permainan di ponsel Atherina.
"Kak," suara Atherio menggema. "Hem?"
"Besok Kakak pergi ke Jepang?"
__ADS_1
"Iya."
"Hemm."
"Memangnya kenapa?"
"Jika terjadi sesuatu, hubungi aku."
"Iya."
Sunyi.
Atherina teringat sesuatu, "Oh ya, ada seseorang yang menitipkan ini padamu." Atherina merogoh saku jaketnya dan memberikan surat dari So Yeon kepada Atherio.
"Dari siapa?"
"So Yeon."
Atherio membukanya. Atherina yang penasaran mendekat, mereka saling pandang lalu membaca surat tersebut.
Untuk Atherio,
Bagaimana kabarmu, Atherio?
Semoga kau nyaman di sekolah barumu.
Oh ya, banyak sekali perempuan yang menanyakanmu selama ini. Mereka menyayangkan perpindahanmu. Bukan hanya mereka, Christian juga menanyakanmu padaku. Dia merasa sedih karena kau tidak memberitahunya akan pindah sekolah.
Terimakasih telah menjadi teman kelas yang baik, dan maaf selalu merepotkanmu. Aku juga merasa bersalah karena aku merasa kepindahanmu itu karena kesalahanku.
Semoga kita bisa bertemu di lain waktu.
Teman kelas,
So Yeon
Atherio dan kakaknya saling pandang. Atherina kembali ke posisi semula sambil berdehem pelan. Atherio melirik kakaknya sebentar.
Atherina menekan pause di ponselnya dan menatap Atherio, "Sepertinya, dia begitu memperdulikanmu."
Laki-laki itu kembali melelapkan kepalanya ke pangkuan Atherina, "Aku lebih senang jika hanya kau satu-satunya orang di dunia ini yang memperdulikanku."
Atherina memutar bola matanya, "Apa kau tidak berpikir jika dia menyukaimu seperti siswi lainnya?"
"Aku tidak tahu, aku harap dia tidak menyukaiku."
"Kenapa?"
"Karena aku hanya menyukaimu."
"Aku tidak mau. Aku tidak bersalah karena mencintai perempuan, kan?"
Mereka saling menatap. Atherina mendekatkan wajahnya membuat Atherio membeku. Gadis itu membisikkan sebuah kalimat ke telinga adiknya, "Aku lebih tua darimu."
Atherina segera beranjak pergi membuat kepala Atherio terlelap ke sofa. Laki-laki itu terkekeh kecil melihat tingkah kakaknya, "Aku memang menyukaimu karena kau lebih tua dariku."
Di Bandara Incheon,
Tim Ji Hoo membungkukkan badan ketika Atherina dan Atherio turun dari mobil. Mereka berdua berada dalam satu payung karena rintik hujan yang semakin banyak malam itu.
Mobil-mobil yang mengantar Atherina melaju pergi. Kini hanya ada Atherina dan Atherio.
"Apakah ada yang ingin kau katakan sebelum aku pergi?" Tanya Atherina.
"Jantungku berdegup kencang," ucap Atherio. "Kau pasti kedinginan." Atherina mengeratkan jaket putih yang dikenakan Atherio.
"Jantungku begini karena kau akan pergi meninggalkanku." Atherina merasa sedih mendengar ucapan Atherio. Dia mendongkak menatap adiknya yang tinggi.
"Aku sudah bilang, ini tidak akan lama. Yang penting, kita tidak kehilangan komunikasi, ya." Atherina menangkup wajah Atherio. "Oh iya, ketika aku tidak ada, kau jangan merengek terus, ya. Jangan membuat orang-orang di sekitarmu kewalahan."
Atherio tampak berpikir, "Aku akan mengendalikan situasi dengan baik." Atherina mengangguk semangat.
"Emm.. bolehkah aku meminta sesuatu?" Tanya Atherio. "Apa itu?" Atherina menatap Atherio.
Atherio menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Aku ingin Kak Nana menciumku." Atherina segera menggeleng, "Tidak-tidak." Gadis itu ingat terakhir kali apa yang terjadi.
"Apa kau tidak ingin mengabulkan permohonan terakhir sebelum kita berpisah?" Atherio memperlihatkan *puppy*eyes-nya. Atherina memutar bola matanya. Dia mengusap rambut adiknya, "Mendekatlah."
Laki-laki itu menunduk agar bisa dijangkau oleh kakaknya. Atherina sedikit berjinjit dan mengecup lembut kening Atherio. Perlahan kedua mata Atherio tertutup merasakan hangatnya kecupan dari gadis yang dia cintai. Malam yang dingin itu terasa lebih hangat. Atherina menatap adiknya, "Jaga dirimu baik-baik, ya."
Atherio jadi teringat ucapan terakhir ayahnya. Atherina menepuk pipi adiknya, "Selamat tinggal." Gadis itu berlalu sambil mengusap pipinya yang dibasahi buliran bening yang berasal dari matanya.
"Kak Nana." Langkah gadis itu terhenti. Dia sama sekali tidak berniat untuk berbalik karena air matanya semakin banyak mengalir. Gadis itu tidak ingin memperlihatkan kesedihannya pada Atherio.
"Jangan katakan selamat tinggal, katakan sampai jumpa," ucap Atherio. Atherina tersenyum sambil mengusap air matanya. Dia berbalik lalu melambaikan tangannya, "Sampai jumpa.. aku menyayangimu, Rio."
Kedua alis Atherio terangkat, dia juga melambaikan tangannya melihat kakaknya memasuki bandara. "Aku mencintaimu, Kak Nana."
◆◇◆
Ji Hoo melirik Gun Seok yang sedang meneguk kopinya. "Gun Seok," panggil Ji Hoo. Pria itu menoleh, "Apa?"
__ADS_1
"Aku mau tahu, siapa kedua orang yang menjadi bodyguard nona Atherina di Jepang?"
"Mereka orang yang terbaik dari pasukan khusus, mereka tidak pernah sedikit pun melakukan kesalahan ketika mendapatkan misi. Memangnya kenapa?"
"Tidak, aku hanya sedikit cemas jika hanya ada dua orang yang ikut bersamanya. Apa itu bisa menjamin keamanan nona Atherina?"
Gun Seok mendecih, "Selama 25 tahun aku mengurus pasukan khusus, apa kau meragukanku?"
"Tidak, aku tidak meragukanmu. Aku sangat mempercayaimu. Kita dulu juga berasal dari pasukan khusus. Apa ini bagian dari rencana tuan Park?" Ji Hoo kembali bertanya.
"Aku juga tidak tahu. Sepertinya, nona Atherina membuat rencana sendiri."
Joon Ki dan Carlos berjalan melewati mereka berdua. Kedua pria itu menoleh. "Waahh, kalian baikan lagi, ya?" Joon Ki tersenyum jahil. Sementara Carlos menahan tawanya.
Gun Seok melepaskan sepatunya, "Kau ini! Kemari! Aku akan memukul pantatmu!" Berteriak sambil mengangkat sepatunya. Joon Ki segera berlari sambil tertawa.
Ji Hoo terkekeh pelan, "Dasar tidak tahu diri. Dia juga sering bertengkar dengan Esteban."
"Bisa gila aku," gerutu Gun Seok sambil memakai kembali sepatunya. Ji Hoo memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
"Aku juga bisa jadi gila jika terus begini, tapi.. aku rasa menyenangkan karena telah lama bersama kalian. Aku merasa masa kecilku yang suram bisa tergantikan dengan teman-teman gila seperti kalian," ujar Ji Hoo.
Gun Seok memutar bola matanya, "Terserah."
Esteban yang membawa tas memasuki markas. Dia menoleh kearah Gun Seok dan Ji Hoo yang sedang berbicara. Gun Seok mendelik tajam kepadanya. Esteban segera mengalihkan perhatian pada Ji Hoo.
"Uangnya." Esteban menepuk tas di punggungnya. "Coba kulihat," sahut Ji Hoo. Esteban membuka tasnya yang berisikan uang dollar amerika. Esteban mendekatkan wajahnya dan menghirup aroma uang dari tas tersebut. Ji Hoo dan Gun Seok saling pandang.
"Enak sekali aromanya.."
Gun Seok mendorong kepala Esteban sampai masuk ke dalam tas. Pria itu mengalihkan pandangannya, "Makan saja jika menurutmu aromanya enak." Gun Seok berlalu. Ji Hoo tertawa terbahak-bahak melihat itu. Esteban tidak mau mengubah posisinya. Ji Hoo menepuk kepala Esteban lalu berlalu juga.
"Aaahhh.. *I love mone*y."
"Jangan kau makan sendiri uangnya, atau kau akan mati," ucap Ji Hoo sambil membuka brankas besar di ruangan khusus. Ada banyak mata uang yang berbeda di dalam brankas tersebut. Esteban mengeluarkan kepalanya dari dalam tas membuat beberapa lembar dollar itu jatuh berserakan ke lantai.
"Apakah aku tidak boleh mencicipinya selembar pun?" Gerutu Esteban sambil membawa tas itu kepada Ji Hoo dan Gun Seok. Carlos menggeleng sambil tersenyum melihat tingkah kekanakan dari Esteban. Joon Ki menjulurkan lidahnya kepada Esteban.
"Apa kau!" Esteban mengangkat tangannya melihat Joon Ki. Sementara Joon Ki semakin ingin meledek Esteban.
"Kalian, hentikan!" Carlos menjewer telinga Esteban dan Joon Ki. "Awww sakit, tahu!" Esteban menepuk tangan Carlos. Begitupun dengan Joon Ki yang berusahan melepaskan tangan Carlos dari telinganya.
Ji Hoo dan Gun Seok sibuk memasukkan uang tersebut ke dalam brankas. Min Hyuk dan Victor memasuki ruangan tersebut. Kelima pria di dalam sana menoleh.
"Tuan Atherio ingin mengadakan rapat mendadak dengan semua orang malam ini," kata Min Hyuk.
"Semua orang?" Tanya Joon Ki yang sudah membebaskan telinga malangnya dari Carlos.
Victor mengangguk, "Iya, kita dan anggota lainnya."
Carlos dan Ji Hoo saling pandang. Esteban memukul tangan Carlos karena tidak kunjung melepaskan telinganya, "Telingaku!" Perhatian Min Hyuk dan Victor teralihkan padanya. Carlos terkejut dan segera melepaskan Esteban yang langsung mengusap telinganya yang sudah memerah.
Gun Seok menutup brankas, "Tentu saja, pasti akan ada banyak rapat setelah ini. Kita baru saja memiliki pemimpin tunggal, akan ada banyak perubahan baru yang perlu dibicarakan."
"Ah, kenapa kau memasukkan semua uangnya? Bagianku mana?" Esteban memprotes Gun Seok. Sementara Joon Ki memungut uang yang berserakan.
"Kau ini, bayaran kita sudah sangat besar. Tapi, kau masih saja memikirkan uang!" Gun Seok menendang pantat Esteban. Carlos dan Min Hyuk menghela napas panjang melihat tingkah rekannya.
"Kau mau uang?" Ji Hoo merogoh saku celananya. Esteban segera menghampiri sang ketua tim. Pria itu memberikan beberapa lembar won kepada Esteban.
"Aahhh... terima kasih, Ji Hoo! Kau memang ketua terbaik!" Esteban memeluk Ji Hoo. "Arrgh! Lepaskan aku! Menjijikan kau!"
Joon Ki yang sedang memasukkan dollar ke saku celananya langsung menghampiri Ji Hoo, "Kenapa hanya Esteban yang diberikan uang? Aku juga mau."
"Kau sudah mengambil dari lantai tadi. Kau pikir, aku tidak melihatnya." Ji Hoo menepuk dahi Joon Ki. "Itu berbeda, aku hanya menyelamatkan uang yang hampir terbuang." Joon Ki mengusap dahinya.
Ji Hoo mengusap kasar wajahnya, "Dasar kalian ini. Esteban, uangnya bagi dua dengan Joon Ki."
Seketika ekspresi senang di wajah Esteban pudar, berganti dengan ekspresi kesal, "Itu tidak adil!"Joon Ki bersorak senang.
Ji Hoo menunjuk pada Joon Ki, "Kau juga, uang yang tadi kau ambil di lantai, bagi dua dengan Esteban." Joon Ki jadi cemberut dan Esteban bersorak.
"Ye! Ayo kita beli sesuatu!" Esteban merangkul Joon Ki dan segera melangkah pergi.
"Kalian mau kemana?" Tanya Ji Hoo. Mereka berbalik dan menjawab dengan serempak, "Membeli sesuatu."
Carlos melipat kedua tangan di depan dada, "Kalian lupa? Rapat mendadak."
Joon Ki dan Esteban saling pandang, "Aaarrggghh tidaaaakk!"
Gun Seok menggeleng-geleng malas melihat drama mengerikan di depannya. Dia bergumam sendiri, "Bagaimana bisa tuan Park merekrut kedua idiot itu ke kelompok kita."
Carlos mengangguk setuju, "Kau terlalu memanjakan mereka, Ji Hoo."
"Kenapa kalian menyalahkanku? Aku hanya ingin mereka berdua diam dan akur," Ji Hoo menggelinjang seperti cacing. Min Hyuk dan Victori saling pandang.
Carlos menengadah ke atas, "Tuhan, selamatkan aku dari orang-orang ini."
◆◇◆
19 Agustus 2019
By Ucu Irna Marhamah
__ADS_1