![ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]](https://asset.asean.biz.id/atherio-park--sudah-terbit-.webp)
"Brother ➡ a person who is there when you need him; someone who picks you up when you fall ; a person who sticks up for you when no one else will ; a brother is always a friend for you."
_Shica Mahali_
◆◇◆
"Apa yang kau lakukan!" Atherina membentak Atherio. Itu membuat Atherio semakin kesal. Chris berlari menghampiri mereka dengan napas terengah.
"Apa yang aku lakukan? Dia mau melecehkanmu, kau diam saja, Atherina?" Tanya Atherio dengan nada geram. Atherina terkejut mendengar Atherio yang menyebut namanya.
Han Gun tersenyum sinis melihat kedua orang yang terlihat seperti sedang perang saudara baginya. Atherio benci melihat senyuman Han Gun, sehingga dia menghajar wajah Han Gun. Laki-laki itu tidak melawan, tapi teman-temannya menarik Atherio agar menjauh dari Han Gun.
Atherio melawan dan malah menghajar mereka semua. Chris dan Atherina menarik Atherio, tapi tetap saja dia melawan dan tidak sengaja sikutnya menghantam pelipis Chris.
"Atherio!"
Sama sekali tidak mau mendengar Chris dan Atherina. Atherio benar-benar kalap, dia melepas dasi dan dua kancing teratasnya.
Seseorang menyentuh bahunya, Atherio berbalik dan melayangkan pukulannya, tapi tangannya tertahan. Ternyata Pak Dong Wook yang menyentuh bahunya.
Atherio menoleh pada Chris dan Atherina yang menatap kesal padanya. Han Gun dan teman-temannya babak belur karena ulah Atherio.
◆◇◆
Atherio, Chris, Atherina, Han Gun, dan teman-teman Han Gun berdiri berbenjer. Dong Wook melipat kedua tangan di depan dada sembari melihat satu per satu siswa di depannya.
Dong Wook berhenti di depan Atherio, "Merasa paling hebat? Paling kuat? Paling tampan? Karena putra mendiang Park J. A.? Sehingga kau berani memukuli kakak kelasmu?!"
Memang benar, Atherio yang memukul Han Gun dan teman-temannya, bahkan dia tidak sengaja melukai Chris. Tidak ada yang memukulnya, jadi wajar saja kalau Dong Wook yang melihat kejadian itu secara langsung menuduh Atherio.
Pertanyaan Dong Wook membuat Atherio mengepalkan tangannya geram. Dong Wook menyadari itu, dia menarik kerah seragam Atherio dengan kasar.
"Hanya karena kau anak dari seorang pengusaha kaya, bukan berarti kau mendapatkan perlakuan khusus di sekolah ini!" Dong Wook mendorong Atherio dan menampar laki-laki itu. Atherina dan Chris terkejut.
"Pak, anda salah paham." Christian mendekat pada Dong Wook. Sementara pria itu menatap kesal pada Chris.
"Aku menyesal memperlakukanmu dan anak ini dengan baik ketika kalian datang padaku untuk mendaftar lebih cepat. Christian Lee, yang aku tahu, kau adalah anak yang baik sejak kecil. Apalagi kakakmu seorang polisi yang sangat disiplin." Ucapan Dong Wook membuat semua mata tertuju pada Chris.
Atherina benar-benar terkejut setengah mati mendengar itu. Dia menatap Atherio dengan tatapan tidak percaya. Kenapa adiknya bisa salah memilih teman? Jika saja Chris bukan keluarga seorang polisi, dia tidak akan terlalu terkejut mengetahui adiknya memiliki teman.
Han Gun mengalihkan pandangannya keluar jendela. Polisi? Han Gun membatin.
"Memangnya kenapa jika kakakku seorang polisi? Kenapa semua orang selalu membandingkan aku dengan dia? Karena dia lebih baik dariku? Ya, aku tahu.. tapi, semua orang melihatku karena status kakakku, bukan karena aku. Jangan berpikir jika kakakku seorang polisi, berarti aku juga memiliki pemikiran yang sama dengannya!" Chris menjawab dengan setengah berteriak dan disambut dengan tamparan keras dari Dong Wook.
Atherio dan Atherina terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Dong Wook. Atherina merasa jika sikap Dong Wook terlalu berlebihan.
Dong Wook mendecih, "Jadi kau membenci profesi kakakmu?! Kalau kau benci polisi, kau mau jadi apa?! Jadi gangster?! Pembuat masalah?! Pecundang!" Dia tetap memukul Chris dan Atherio. Atherina mengepalkan tangannya geram.
Atherina maju untuk menghalangi Atherio dan Chris dari amukan Dong Wook, "Bisakah anda berhenti menyakiti kedua anak ini?"
"Selama puluhan tahun, tidak pernah ada perkelahian di dalam sekolah. Ini akan menghancurkan nama baik sekolah. Bagaimana jika berita ini menyebar keluar? Orang akan berpikir bahwa sekolah ini adalah sekolah yang berisikan para gangster."
Atherina tampak berpikir.
"Lalu, apa hak anda memukul mereka? Jika anda berkenan, mari kita pergi ke kantor polisi untuk menyelesaikan ini. Bukan hanya mereka yang disalahkan, tapi anda juga karena telah memukul mereka." Yang dikatakan Atherina membuat Dong Wook terdiam seribu bahasa.
Terdengar suara pintu ruangan dibuka dari luar, semua mata tertuju pada pintu, ternyata Jang Hun. Dia memasuki ruangan sambil melihat kepada siswa yang ada di ruangan itu.
"Aku sudah mendengarnya dari kepala sekolah, Pak Dong Wook, ini tugasku. Anda bisa kembali," kata Jang Hun. Dong Wook berlalu dari ruangan tersebut sambil bersungut-sungut, "Ayah dan anak, sama saja."
Atherina mengerutkan keningnya, apa maksudnya? Dia mengenal ayah?"
"Erina, kau yang terlihat di tempat saat kejadian.." Atherina terhenyak dan segera menoleh kearah Jang Hun.
".. apa yang terjadi? Aku harap, kau berkata jujur, agar aku tahu siapa yang salah," kata Jang Hun.
Atherina masih memikirkan apa harus dia katakan pada Jang Hun. Sementara pria di depannya memilih duduk tanpa berhenti memperhatikan Atherina yang masih berpikir. "Sepertinya kau tidak punya jawaban, atau mungkin kau juga bersalah?"
Atherina menggeleng, "Atherio memukul Han Gun dan teman-temannya karena dia mengira kalau Han Gun melakukan hal buruk padaku, aku yakin, semua saudara di dunia ini akan bertindak seperti itu. Hanya saja, Atherio bertindak terlalu berlebihan." Han Gun merasa Atherina telah membelanya, dia bisa bernapas lega. Sementara Atherio tidak terima dengan jawaban sang kakak.
"Tapi, Han Gun juga berlebihan, ketika Atherio memukulnya, dia malah membuat Atherio semakin marah dengan ekspresi menyebalkan di wajahnya.." Han Gun terkejut dan mendelik kesal pada Atherina. Atherio mendecih pelan.
__ADS_1
".. aku berusaha melerai, tapi sulit juga mengatasi mereka," ucap Atherina. Jang Hun melirik kearah Chris.
"Lalu, dia? Kenapa ada dia ketika mereka berkelahi?" Tanya Jang Hun. Atherina menoleh kepada Chris.
"Dia teman dekat Atherio, dia juga membantuku melerai perkelahian tersebut, tapi mungkin ada seseorang yang tidak sengaja melukai wajahnya," jawab Atherina.
Jang Hun mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Atherina. Dia mengambil map berwarna coklat pudar dari rak, "Kalian boleh kembali, aku akan mengurus semuanya. Tapi ingat, jangan sampai ini terulang lagi, atau kalian keluar dari sekolah ini."
Chris mengerutkan keningnya, semudah itu?
Mereka membungkukkan badan kemudian berlalu keluar meninggalkan ruangan tersebut.
◆◇◆
Di rumah Park,
Atherina mengobati luka di wajah Chris. Atherio menatap malas kedua orang di depannya. Chris tersenyum melihat ekspresi Atherio.
"Kenapa kau diam saja ketika si Han Gun itu mendekatimu?" Tanya Atherio kesal. Atherina mendelik sesaat pada adiknya.
"Dia mengatakan sesuatu yang penting, kau akan terkejut jika mendengarnya," jawab Atherina. Atherio mengerutkan keningnya, dia penasaran dengan apa yang dikatakan Han Gun pada kakaknya. Sampai-sampai laki-laki itu harus berbisik.
"Yang aku lihat, Han Gun seperti mau menciummu," kata Atherio ketus. Atherina menggeleng, "Kemarilah." Gadis itu menggerakkan tangannya agar Atherio mendekat.
"Terima kasih, Kak," kata Chris setelah Atherina selesai mengobatinya. Atherina menganggukkan kepala. Atherio menggeleng, "Kakak mau apa? Kenapa menyuruhku mendekat?"
"Aku akan mengobati lukamu," jawab Atherina. "Aku tidak terluka, mereka tidak memukulku." Atherio berlalu, tapi Atherina menarik tangan adiknya dan mengobati luka di buku-buku tangan Atherio.
Chris tersenyum geli melihat tingkah konyol Atherio. Ketika Atherio memberikan tatapan membunuh, Chris segera berhenti tersenyum.
"Malam ini Han Gun akan datang," perkataan Atherina sukses membuat kedua mata Atherio membelalak. "Untuk apa dia datang kesini?" Tanya Atherio.
Atherina mengedikkan bahunya, "Mungkin meminta maaf padamu, tapi aku sarankan agar kau juga minta maaf padanya."
"Kenapa aku harus minta maaf? Aku tidak mau," gerutu Atherio sambil membuang muka.
Chris melihat kepada Atherio dan Atherina bergantian. Dia merasakan hangatnya persaudaraan diantara mereka berdua. Selama ini, Chris tidak mendapatkan perhatian dari kakaknya yang sibuk diluar sana.
"Memangnya kenapa jika dia tampan?" Tampaknya Atherina juga kesal. Atherio memasang ekspresi seperti sedang berpikir, "Mungkin saja Kak Nana menyukai dia."
"Kau ini, selalu menuduh seenak hatimu," kata Atherina ketus. Dia menoleh pada Chris, "Bagaimana lukamu? Terasa lebih baik?"
Chris mengangguk sambil tersenyum, "Sekarang terasa dingin." Atherina mengusap lembut rambut Chris.
◆◇◆
Bulan bersinar terang,
Atherio dan Chris tampak nyaman dalam dunia mimpi masing-masing. Mereka berdua tertidur dalam ketenangan malam.
Terdengar suara mobil terhenti di depan rumah, kedua mata Atherio terbuka. Dia bangkit dan melihat Chris yang tertidur begitu nyenyaknya. Jam digital di meja menunjukkan angka 00.23. Atherio beranjak dari tempat tidur untuk keluar dari kamarnya dengan pelan-pelan. Tanpa pikir panjang, Atherio mengunci pintu kamar dan berlalu menuruni tangga. Dia melihat Atherina melangkah menuju pintu utama.
"Kakak, tunggu!" Atherio bergegas menghampiri Atherina ketika gadis itu menoleh.
"Apa Christian tidak terbangun?" Tanya Atherina setelah Atherio berada di depannya. Laki-laki itu menganggukkan kepalanya, "Dia masih tidur.. Kak, ada yang ingin aku tanyakan padamu."
Atherina mengangguk. "Apa yang dikatakan Han Gun, sehingga Kakak membiarkan dia datang ke rumah ini?" Tanya Atherio.
Atherina mendekat, Atherio mengerutkan keningnya karena sikap kakaknya. Gadis itu mendekatkan wajahnya ke telinga Atherio membuat laki-laki itu membeku.
Atherina membisikkan sesuatu, Atherio terbelalak.
***
"Minggir," ucap Atherina. Han Gun menautkan alisnya karena kesal. Dia melihat nama di seragam yang dikenakan Atherina.
"Atherina Park, wah, nama besar kita sama.. aku tahu, kau anak pengusaha sukses itu. Kau pikir, karena Park J. A. adalah seseorang yang disegani, aku juga takut padamu?" Ledek Han Gun.
Atherina melangkah, tapi Han Gun bergerak menghalangi. "Kenapa kau menghalangi jalanku?" Atherina bertanya dengan nada kesal. Han Gun mendekatkan wajahnya. Atherina membelalak dan segera menahan dada Han Gun.
"Ada apa denganmu?"
__ADS_1
"Aku ingin membisikkan sesuatu," bisik Han Gun di depan wajah Atherina. Mereka saling menatap sejenak. Atherina menarik kembali tangannya. Han Gun mendekatkan mulutnya ke telinga Atherina.
"Apa kau tahu, sebelum Park J. A. meninggal, dia bertemu dengan seseorang? Dia.."
Gadis itu terkejut mendengar apa yang dikatakan Han Gun. Sementara Han Gun tersenyum melihat Atherio yang bergegas menghampiri dengan ekspresi penuh kemarahan.
".. adalah.."
Atherio mendorong kepala Han Gun dari dengan kasar sehingga Atherina terhenyak. Punggungnya bersentuhan dengan dada sang adik. Atherina mendongkak melihat ekspresi murka yang menghiasi wajah tampan Atherio.
"Apa yang kau lakukan!"
***
"Bagaimana jika dia berbohong?" Tanya Atherio. Atherina menunjukkan buku tebal berwarna hijau pudar kepada Atherio. "Dalam buku ini tertulis jelas kedekatan ayah dengan kelompok mereka. Selain itu, posisi Han Gun adalah pemimpin dari pasukan khusus kelompok mereka. Kakaknya Han Gun bernama Park Han Jin adalah ketua kelompok ini," penjelasan Atherina membuat Atherio perlu mencerna kalimat tersebut beberapa saat. Dia mengangguk mengerti kemudian membuka buku tersebut.
"Kelompok petir," gumam Atherio. "Keren sekali nama kelompoknya, kan?" Ucap Atherina sambil berlalu membuka pintu. Atherio menyusulnya dan berjalan berdampingan dengan sang kakak menuju markas bawah tanah.
"Park Han Jin ini seperti apa?" Tanya Atherio. "Aku belum pernah bertemu dengannya, tapi aku mengerti setelah membaca buku tersebut. Aku harap kau tidak perlu bersikap berlebihan ketika bertemu dengan dia," ujar Atherina.
"Bersikap berlebihan bagaimana?" Tanya Atherio. Mereka berdua menuruni tangga dan berhenti di depan pintu menuju ruang pertemuan. Ada Esteban dan Min Hyuk di depan pintu. Kedua pria itu membukakan pintu untuk pemimpin mereka. Atherina dan Atherio segera masuk.
Terlihat kedua orang duduk di kursi dengan beberapa orang bertubuh besar di belakang mereka. Salah satu dari kedua orang itu adalah Han Gun dan yang satunya lagi pria berusia sekitar 20 tahunan yang terus menunduk. Atherio dan Atherina duduk disusul beberapa orang berdiri di belakang mereka berdua.
"Aku harap hanya kita berempat di ruangan ini," kata pria di samping Han Gun. Atherina mengangkat tangannya memberikan kode. Semua bodyguard membungkukkan badan dan berlalu meninggalkan ruangan.
Pria itu mengangkat wajahnya membuat Atherio terbelalak. Wajahnya tidaklah buruk, bahkan sangat tampan. Tapi, kedua iris matanya berwarna putih keabuan.
Dia buta.
Atherina sama sekali tidak bereaksi, dia tetap pada posisi dengan ekspresi yang sama. Han Gun mendelik tajam pada Atherio. Masih ada bekas pukulan di wajahnya.
"Kau terkejut, pangeran Park muda?" Tanya pria yang tidak lain adalah Han Jin. Atherio mendelik kakaknya yang juga mendelik kepada dirinya.
"Maafkan adikku," kata Atherina. Han Jin tersenyum, "Tidak perlu meminta maaf, aku terbiasa dengan tatapan seperti itu." Atherio menunduk karena merasa bersalah.
"Langsung saja, aku ingin mengatakan beberapa hal yang penting.." Han Jin tidak ingin memperpanjang masalah kecil tersebut.
".. kelompok petir dan kelompok Park sama sekali tidak menjalin kerja sama. Mungkin ini kedengarannya aneh, tapi memang begitu. Kelompok Park dan kelompok petir berjalan masing-masing sebagai kelompok terkuat di dunia gelap. Kelompok petir tidak pernah berpikir untuk menjalin hubungan kerja sama dengan kelompok mana pun, itu karena kelompok petir mempercayai kekuatan sendiri sebagai cara untuk berdiri di dunia gangster." Han Jin memulai cerita.
Atherio mendengarkan dengan serius. Han Jin menarik napas sejenak, "Pemimpin kelompok petir generasi keempat tidak memiliki anak, sehingga dia mengadopsi gadis kecil dari panti asuhan.." Atherina mengerutkan keningnya.
".. namun, dia tidak memperlakukan gadis itu seperti seorang anak, dia menjadikan anak itu sebagai seorang gangster sejati.." Atherina masih mendengarkan, dia tidak menyadari tatapan sendu Atherio yang tertuju kepadanya.
Kenapa terdengar seperti kakak? Batin Atherio.
".. suatu hari, kelompok petir mengalami kesulitan besar. Serangan musuh tidak bisa dihentikan. Kelompok petir tidak bisa mengatasi kerusuhan yang terjadi. Saat itu, kelompok petir dipimpin oleh gadis kecil yang sudah beranjak dewasa. Dia berpikir, jika seharusnya kelompok petir menjalin hubungan kerja sama dengan kelompok lain yang kuat."
"Apakah si ayah yang mengadopsi gadis itu masih hidup?" Tanya Atherina. Han Jin mengangguk, "Saat terjadi kerusuhan itu, dia masih hidup meski pun dalam keadaan sakit.. gadis itu menemui ayahnya dan mengatakan, jika dia memerluan bantuan kelompok lain. Ayah angkatnya tidak punya pilihan lain, dia mengetahui jika kelompok yang bisa bersanding dengan kelompok petir hanyalah kelompok Park. Tanpa pikir panjang, dia menghubungi kelompok Park untuk meminta bantuan. Tentu saja kelompok Park tidak ingin membantu begitu saja, mengingat hubungan mereka sangatlah asing. Pemimpin kelompok Park ingin mendapatkan jaminan jika mereka berhasil membantu kelompok petir.. mereka meminta gadis pemimpin kelompok petir untuk menjadi pemimpin pasukan khusus kelompok Park, karena kelompok Park mendengar kehebatan gadis itu. Akhirnya disetujui karena kelompok petir benar-benar terdesak. "
Atherio menghela napas panjang. Han Jin tersenyum, "Setelah kelompok Park berhasil membantu kelompok petir, gadis itu menepati janji sang ayah untuk memimpin pasukan khusus kelompok Park sekaligus menjadi pemimpin dari kelompok petir. Ayah angkat gadis itu sudah hampir di ambang kematian, dia meminta pemimpin kelompok Park untuk menikahi putrinya tanpa harus menyatukan kepemimpinan kelompok. Setelah lama berpikir, akhirnya mereka menikah.. apa kalian tahu, siapa yang sedang aku ceritakan?" Han Jin mengakhiri ceritanya dengan pertanyaan.
Sunyi..
"Aleena Park dan Park J. A."
◆◇◆
23 Juli 2019
By Ucu Irna Marhamah
Follow Instagram dan Wattpad aku\, yaaa... @ucu_irna_marhamah
__ADS_1