ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]

ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]
Koin yang Berbeda


__ADS_3

Seoul, Korea.


 


 


Kesibukan tengah terjadi di kediaman Park. Setelah kepolisian mendatangi rumah itu, tim Ji Hoo menjadi lebih berhati-hati ketika bertindak. Bahkan mereka harus membatalkan semua transaksi untuk sementara demi mengembalikan situasi. Setelah membereskan seluruh kepanikan di rumah tersebut, beberapa anggota Park yang penting meninggalkan daratan Korea menuju Amerika bersama pemimpin mereka. Tentu saja itu menjadi pertanyaan besar bagi publik. Beberapa orang berpikir jika Park J. A. memang seorang gangster, maka dari itu Atherio yang meneruskan sisi gelap sang ayah dan sekarang dia pergi untuk menghindari polisi. Tidak ada tanggapan dari pihak Atherio. Mereka memilih pergi tanpa menjawab pertanyaan. Tidak ada yang bisa membuktikan apakah tim kepolisian yang benar, atau pihak Atherio yang benar. Tidak ada bukti yang pasti. Terlalu banyak kecurigaan dan konspirasi.


 


 


Lalu bagaimana kabar Lee Hwan dan Christian?


 


 


Mereka tidak melakukan apa-apa ketika orang yang ingin mereka tangkap pergi. Tapi, mereka tidak diam dan menyerah begitu saja. Mereka berdua mengumpulkan informasi. Berdua saja? Tidak! Mereka meminta bantuan dari orang lain walau tidak selamanya. Tidak ada yang berani mengorek kelompok Park terlalu jauh.


 


 


Di apartemen,


 


 


Lee Hwan menemukan foto Atherio dan Atherina yang masih kecil. Pria itu melihat wajah Atherina dengan seksama. "Dia kakaknya Atherio?" Hanya Lee Hwan sambil menunjukkan foto tersebut pada Chris. Laki-laki itu menoleh lalu mengangguk, "Kakak angkatnya."


 


 


"Untuk apa Park J. A. mengadopsi gadis ini jika dia memiliki seorang putra?" Lee Hwan bergumam sendiri. "Aku tidak tahu," jawab Chris sambil memberikan foto lain kepada Lee Hwan. Yaitu foto Atherina berseragam SMA. Lee Hwan melihatnya dengan teliti.


 


 


"Aku pernah melihatnya menembak seseorang yang telah berani masuk kamarnya dan melakukan hal buruk," kata Chris. Lee Hwan menatap Chris, "Di depanmu?"


 


 


Chris mengangguk, "Anak buahnya hampir menembakku jika aku mengatakan apa yang aku lihat pada orang lain."


 


 


Pandangan Lee Hwan kembali ke foto gadis itu. Chris mengambil foto tersebut dari tangan Lee Hwan. Pria itu kembali menarik foto Atherina.


 


 


"Kenapa kau melihatnya seperti itu? Jangan-jangan kau menyukainya," ucap Chris dengan nada curiga. Lee Hwan segera menyangkal, "Tidak, tapi.. dia memang cantik."


 


 


Chris memutar bola matanya, "Satu lagi, Atherio mencintainya."


 


 


Lee Hwan terkejut, "Kalau begitu, kita bisa memanfaatkan gadis ini untuk menangkap Atherio."


 


 


Chris mendengus pelan, "Kakak pikir, kak Erina itu gadis yang mudah ditangkap? Dia sangat misterius. Aku yakin, dia selalu membawa senjata kemanapun dia pergi."


 


 


"Sepertinya dia bukan orang yang mudah percaya pada orang lain."


 


 


"Apa rencana Kakak?"


 


 


"Kau pikir apa? Satu-satunya cara mendapatkan Atherio adalah Atherina."


 


 


"Memangnya kau tahu, dimana dia berada?"


 


 


"Ada yang bilang dia pergi ke Jepang, bukankah itu mencurigakan? Kakaknya pergi ke Jepang, sementara adiknya pergi ke Amerika." Lee Hwan memasang ekspresi berpikir.


 


 


"Jepang?"


 


 


"Kita perlu banyak persiapan untuk ke depannya."


 


 


Chris mengangguk paham.


 


 


◆◇◆


 


 


Han Gun sedang berjemur dibawah terik matahari. Dia sedang berbaring diatas balon berbentuk seperti angsa yang mengapung diatas kolam. Laki-laki itu hanya mengenakan boxer dan kacamata hitam. Tubuhnya yang terpahat indah terekspos begitu saja. Gayanya itu seperti sedang di pantai.


 


 


"Tidak ada hari yang paling indah selain beristirahat dan menganggur."


 


 


Atherina yang memakai kacamata hitam memasuki halaman belakang rumah Han bersaudara. Dia melihat Han Gun yang sedang menikmati suasana santai di hari yang panas itu. Gadis itu membuang muka karena merasa bosan menemukan Han Gun yang tidak pernah siap ketika ada misi baru.


 


 


Han Gun yang menyadari keberadaan Atherina pun berkata, "Berdiri saja disana? Ikutlah bergabung denganku. Mataharinya bagus."


 


 


Pandangan Atherina beralih pada Han Gun, "Kau lupa ada misi hari ini?"


 


 


"Misi? Ah, aku ingat. Bagaimana jika kita pergi besok?"


 


 


Atherina mengambil pistol dari jaket hitamnya lalu mengisinya dengan peluru. Gun Seok bangkit dan mengibaskan tangannya, "Tidak.. tidak.. kau tidak mungkin menembak temanmu, kan?"


 


 


Atherina menodongkan pistolnya dan..


 


 


DOR!


 


 


DOR!


 


 


DOR!


 


 


Balon angsa itu sudah meletus dan tenggelam. Atherina meniup moncong pistolnya. Tiba-tiba Han Gun muncul dari permukaan air dengan kacamata sudah tidak pada posisi semula. Laki-laki itu naik ke tepi kolam sambil bersungut-sungut, "Kasar sekali gadis ini."


 


 


Atherina menurunkan kacamatanya Dan memperhatikan Han Gun yang berlalu sambil membenarkan boxer-nya.


 


 


Markas kelompok petir,


 


 


Atherina dan Han Gun bertekuk di depan Aleena.


 

__ADS_1


 


Aleena menyelipkan rambutnya ke telinga, "Ini misi yang cukup berat, kalian harus mendapatkan tangan kiri Takashima untuk mendapatkan sidik jarinya. Dulu dia anggotaku, tapi dia berkhianat dengan membawa sesuatu yang berharga yang dia kunci dengan sidik jarinya. Sekarang benda berharga itu ada padaku. Aku sangat membutuhkan potongan tangan pengkhianat itu."


 


 


Atherina dan Han Gun saling pandang. Han Gun angkat bicara, "Sebelumnya aku pernah mendapatkan misi ini, dan Ibu petir juga tahu aku gagal memotong tangan seseorang."


 


 


Aleena menoleh kearah Atherina, "Bagaimana denganmu? Aku harap kau tidak keberatan dan mengamuk seperti misi yang kemarin."


 


 


Atherina mendongkak menatap wajah Aleena, "Aku siap mendapatkan sidik jari Takashima." Han Gun terlonjak dan refleks menatap Atherina. Dia tidak percaya Atherina akan menyanggupinya.


 


 


Atherina bangkit kemudian membungkuk, "Aku akan pergi. Han Gun, ayo." Han Gun bangkit lalu membungkuk pada Aleena dan berlalu pergi bersama Atherina.


 


 


Setelah kedua bawahannya pergi, Aleena bergumam pelan, "Kita lihat, apa yang akan dilakukan gadis itu?"


 


 


Di perjalanan, Han Gun terus berceloteh. Dia menyalahkan Atherina, ".. dan aku tahu kau memang suka berubah, kadang terlalu baik dan kadang kau juga terlalu kejam. Tapi, memotong tangan orang? Itu menjijikan! Kenapa kau tidak memilih mengerjakan misi 10 tahun yang sedikit lebih ringan di bandingkan yang 6 tahun, tapi menyusahkan?"


 


 


Atherina memasukkan peluru ke pistolnya. Sejenak Han Gun melirik kearah gadis itu dengan ekspresi was-was, lalu kembali fokus menyetir. Atherina mendelik Han Gun, "Aku lebih suka kau diam dan fokus menyetir, kau tampan sekali Park Jimin."


 


 


Han Gun menelan saliva, lama-lama aku bisa gila karena mendapatkan misi yang sama dengan gadis ini.


 


 


◆◇◆


 


 


Keadaan rumah yang sudah berantakan karena ada orang yang menyerang rumah itu dengan tiba-tiba.


 


 


 


 


Atherina dengan penutup wajah menodongkan pistol ke kepala salah seorang pelayan pria, "Katakan dimana Takashima?" Karena ketakutan, pria itu menunjuk ke salah satu ruangan. Sementara Han Gun masih sibuk dengan para penjaga yang mulai bermunculan. Atherina menendang pintu hingga roboh. Gadis itu tetap waspada dengan mengarahkan moncong pistol ke segala arah.


 


 


Dia melihat seseorang di sudut ruangan. Gadis itu mendekat dengan moncong pistol terarah pada orang itu, "Dimana Takashima?"


 


 


Pria tua itu mengangkat kedua tangannya, "Aku.. aku Takashima, tolong jangan bunuh aku. Aku akan melakukan perintah ibu petir." Melihat wajah keriput itu, Atherina merasa iba. Dia melihat kedua tangan keriput pria itu yang gemetar karena ketakutan. Tangan yang akan dia potong.


 


 


Han Gun yang juga memakai penutup wajah sudah selesai dengan penjaga rumah. Dia menoleh pada Atherina yang mengeluarkan pisau dari tasnya.


 


 


Di perjalanan pulang,


 


 


Han Gun yang sedang menyetir sesekali menoleh pada Atherina yang terlihat tidak bisa tenang. Ekspresi gadis itu terlihat sedang menahan marah. Han Gun menutup rapat mulutnya menahan diri untuk tidak bertanya.


 


 


"Aleena benar-benar.." Atherina akan mengumpat, tapi tidak jadi. Air matanya terlebih dahulu lolos mengalir dari sudut matanya. Han Gun tidak bisa bilang apa-apa.


 


 


 


 


".. Park J. A. tidak pernah memberikanku misi untuk membunuh orang. Dia memberiku misi yang berat, tapi bukan untuk membunuh orang."


 


 


Han Gun mengacak rambutnya karena frustasi, "Sudahlah, Erina! Jika kau mendapatkan misi untuk membunuh orang, itu bukan salahmu. Salahkan orang yang menyuruhmu!"


 


 


"Tapi, dia menyuruhku membunuh dengan tanganku!" Teriak Atherina. Han Gun menepikan mobilnya, "Lalu sekarang kau mau bagaimana? Kau mau kepastian dari Aleena, kan? Ingat, ini misi untuk Atherio."


 


 


Pandangan Atherina menyendu, "Atherio, adikku."


 


 


"Iya, sekarang lakukan misi ini tanpa perlu memikirkan yang lain. Ingat, Aleena itu tidak memiliki keteguhan hati. Bahkan mungkin hatinya kosong. Kau harus tahu, apakah dia masih pantas disebut ibu untuk Atherio?" Ucapan Han Gun membuat Atherina terdiam total.


 


 


"Bahkan wanita itu tidak pantas disebut ibu oleh para anggotanya."


 


 


Sesampainya di markas,


 


 


Aleena melihat kedatangan Atherina dan Han Gun. Dia tersenyum dan yakin jika kedua anggotanya itu sudah menyelesaikan misi dengan baik. Han Gun bertekuk, sementara Atherina meletakkan plastik tebal ke meja dengan kasar. Terkesan seperti menggebrak meja.


 


 


"Maaf, selamat malam." Setelah mengatakan itu, Atherina membungkuk dan segera pergi dari ruangan itu. Han Gun masih menunduk tanpa berekspresi dengan sikap Atherina. Aleena melihat plastik transparan yang cukup tebal itu. Dia mengangkatnya dan melihat ada banyak sidik jari berwarna merah yang terdapat pada benda tersebut.


 


 


***


 


 


Pria tua itu mengangkat kedua tangannya, "Aku.. aku Takashima, tolong jangan bunuh aku. Aku akan melakukan perintah ibu petir." Melihat wajah keriput itu, Atherina merasa iba. Dia melihat kedua tangan keriput pria itu yang gemetar karena ketakutan. Tangan yang akan dia potong.


 


 


Han Gun yang sudah selesai dengan penjaga rumah itu menoleh pada Atherina yang mengeluarkan pisau dari tasnya.


 


 


Atherina memotong jendela yang plastik tebal yang menghiasi ruangan itu dengan pisau di tangannya. Gadis itu melemparkan benda tersebut ke depan Takashima. Dengan moncong pistol yang masih diarahkan ke kepala Takashima, Atherina berkata, "Letakkan sidik jarimu di plastik itu, maka urusan kita selesai. Kau tidak akan mati."


 


 


Dengan ketakutan pria tua itu menoleh padanya, "Tapi.." Atherina melemparkan lipstik ke depan Takashima, "Pakai itu, cepatlah."


 


 


Dengan tangan gemetar, pria tua itu melakukan apa yang diinginkan Atherina."


 


 


Han Gun terdiam menyaksikan itu.


 


 


***


 


 


Aleena menoleh pada Han Gun. Dengan santai, dia bertanya, "Inisiatif yang bagus, bagaimana menurutmu?" Han Gun tidak menjawab.


 


 

__ADS_1


Aleena memindai sidik jari tersebut lalu membuka kotak yang dia maksud. Han Gun memperhatikannya. Ketika kotak itu terbuka, ternyata isinya gelas anggur yang masih baru. Han Gun mengerutkan keningnya heran.


 


 


"Takashima mencurinya dariku. Kau tahu, kan, aku benci ada orang yang melukaiku dengan mengambil barang mewahku. Takashima sering memintaku minum anggur bersama anggota kita sewaktu dia masih menjadi orang kepercayaanku. Dia bilang, kita harus merayakan kemenangan bersama. Dia pikir dia itu siapa? Aku tidak suka ada orang lain yang meminum anggur di depanku tanpa seizinku. Tapi, pria tua itu malah mencuri gelas anggur kesayanganku!"


 


 


Mendengar ucapan Aleena, Han Gun merasa bersalah karena telah menyalahkan perasaan Atherina. Aleena benar-benar keterlaluan dengan melebih-lebihkan masalah. Wanita itu bahkan menyuruh mereka berdua memotong tangan orang hanya karena mencuri gelas. Han Gun menahan emosinya. Dia bangkit lalu membungkuk, "Maaf, selamat malam." Laki-laki itu menghilang dibalik pintu.


 


 


Aleena mengedikkan bahunya karena heran dengan tingkah kedua remaja itu.


 


 


◆◇◆


 


 


Atherina duduk sendirian di bangku taman sekolah. Dia memikirkan misi yang akan dilakukannya selama 6 tahun ke depan. Dimulai dari sekarang, semuanya akan semakin sulit. Misi yang akan dia terima tidak sesederhana dulu. Gadis itu menatan telapak tangannya. Akan ada banyak darah jika dia tidak berpikir seperti manusia.


 


 


Dia ingat, ketika Park mengajarkannya tentang perasaan.


 


 


***


 


 


"Bunuh perasaanmu, maka kau bisa membunuh seseorang." Park tersenyum setelah mengatakan itu. Atherina kecil menatap ayahnya, "Membunuh? Kenapa aku harus membunuh? Tugasku hanya menjaga Rio."


 


 


Park mengusap rambut putrinya dengan lembut, "Ada banyak orang di luar sana yang ingin membunuh adikmu. Kau memilih yang mana? Membunuh mereka, atau membiarkan mereka membunuh Atherio?"


 


 


Kedua mata kecil itu membulat, "Aku tidak akan membunuh siapa pun, aku akan melindungi Atherio dengan memukul mereka. Paman Victor sudah mengajariku cara memukul orang jahat."


 


 


Park terkekeh, "Tidak ada orang baik di dunia ini. Semua orang di dunia ini jahat. Mereka siap membunuh kapan saja. Jika kau hanya memukul mereka, itu hanya akan membuat mereka lumpuh sementara dan mereka akan kembali untuk membunuh. Jika kau membunuh mereka, kau menghentikan mereka."


 


 


Atherina terdiam, "Ayah, tidak ada orang jahat di dunia ini.. tidak ada."


 


 


Park mengerutkan keningnya mendengar putri kecilnya yang protes, "Tidak ada orang jahat?"


 


 


"Tidak ada."


 


 


"Lalu ketiga anak laki-laki yang mengganggumu di panti asuhan?" Park menanyai putrinya.


 


 


"Mereka melakukan itu karena bibi Ji Eun tidak memperhatikan mereka. Bibi Ji Eun tidak menyukai anak laki-laki."


 


 


"Itu alasannya? Lalu, aku.. aku adalah orang jahat yang sudah membunuh banyak orang di tanganku." Park menunjukkan tangannya yang mengepal. Atherina kecil memegang tangan Park. Membuat kepalan tangan pria itu melemah.


 


 


"Ayah tidak jahat, Ayah sudah membawaku ke rumah ini dan menjagaku dengan baik. Meskipun aku bukan anak Ayah, tapi Ayah menyayangiku seperti menyayangi Atherio."


 


 


"Bagaimana jika sebenarnya aku ini jahat?"


 


 


"Ayah tidak jahat, Ayah hanya suka berbohong."


 


 


Seketika tawa Park meledak mendengar ucapan konyol Atherina.


 


 


***


 


 


Atherina menghela napas panjang mengingat kenangan itu. Atherina mengetahui betapa jahatnya Park J. A. dimatanya. Gadis itu tidak bisa membandingkan Park dengan penjahat lain. Park adalah orang yang sulit ditebak. Suasana hati pria itu sering berubah, seperti Atherina. Namun, Atherina baru menyadari jika ada penjahat yang berkali lipat lebih kejam dari Park. Siapa lagi kalau bukan Aleena. Wanita itu juga tidak mudah ditebak. Tapi, suasana hatinya tetap sama yaitu suka seenaknya.


 


 


Han Gun sedang dikerubungi oleh para gadis. Dia menoleh kearah Atherina yang duduk sendirian. "Permisi, aku harus menemui kakakku," kata Han Gun sambil berlalu.


 


 


"Ah, Park Jimin."


 


 


"Jimin!"


 


 


"Hei, Jimin!"


 


 


Han Gun duduk di samping Atherina, "Erina, apa yang kau pikirkan?"


 


 


Atherina menggeleng cepat. Han Gun tampak berpikir, "Aku.. minta maaf semalam membentakmu di mobil."


 


 


Tidak ada jawaban. Atherina tetap diam pada posisi.


 


 


"Malam ini ada misi baru."


 


 


Seketika Atherina menatap wajah Han Gun, "Apa misinya? Jangan bilang kita harus membunuh orang."


 


 


◆◇◆


 


 


"Jangan pernah bercerita bagaimana kau dahulu, tapi tunjukkan bagaimana kau sekarang."


•••


 


 


26 Agustus 2019


 


 


By Ucu Irna Marhamah


Follow ig @ucu_irna_marhamah


 


 

__ADS_1


__ADS_2