ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]

ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]
Park Johan Armez


__ADS_3

"I need a gangsta,


To love me better,


Than all the others do.


To always forgive me,


Ride or die with me.


That's just what gangsters do."


🎵🎵🎵


◆◇◆


 


Malam yang cukup terang oleh sinar rembulan. Langit Seoul terlihat bersih tanpa ada gumpalan awan yang lewat. Hanya ada beberapa bintang yang bertebaran menemani sang bulan. Sungguh malam yang damai, bukan?


Sebuah mobil sport putih membelah jalanan yang sepi di susul tiga mobil hitam di belakangnya. Di mobil sport putih itu ada seseorang yang cukup di segani dan dilindungi oleh orang-orang yang berada dalam ketiga mobil hitam di belakang mobil putih tersebut.


 


Park Johan Armez, itulah namanya. Dia pengusaha yang cukup terkenal di Korea Selatan. Pria berdarah Korea-Italia itu memiliki banyak cabang bisnis yang sudah melebarkan sayapnya sampai ke luar negeri.


Nama perusahaannya adalah Park J. A. Group.


Banyak isu beredar yang menyatakan bahwa Park bekerja sama dengan sekelompok gangster dan mafia di luar negeri sehingga dia bisa dengan mudah mendapatkan banyak keuntungan. Namun, semua tuduhan itu belum bisa terbukti dengan pasti.


Park menoleh pada gadis kecil yang duduk di sampingnya. Tampaknya gadis kecil itu berusia 6 tahunan. Gadis kecil itu bukan putrinya. Siang ini dia pergi ke panti asuhan.


 


 


Pria berjas itu melangkahkan kakinya dengan tegas di ikuti oleh beberapa orang bertubuh kekar di belakangnya. Park memasuki sebuah rumah panti asuhan yang sederhana.


Beberapa pengasuh muda yang berada di luar rumah panti asuhan saling berbisik setelah melihat Park memasuki panti.


"Pria yang di depan tadi itu tampak menyeramkan, dia itu siapa?"


"Kau tidak mengenalnya? Dia Tuan Park Johan Armez, pengusaha terkenal yang sering muncul di TV."


"Apakah dia begitu terkenal?"


"Tentu saja, banyak yang bilang dia itu mafia."


"Pantas saja, wajahnya menakutkan begitu. Oh ya, mau apa dia kemari?"


"Entahlah, mungkin dia mau mengadopsi salah satu anak dari panti asuhan ini."


"Jika iya, semoga anak itu bisa bahagia dan betah bersamanya."


"Kau ini bicara apa? Jika ada anak yang di adopsi oleh pria seperti Tuan Park, pasti anak itu sangat beruntung."


"Ah, iya, iya."


Pandangan Park diedarkan ke seluruh ruangan. Banyak sekali anak kecil di ruangan tersebut. Mereka semua bermain tanpa merasa terganggu dengan keberadaan Park bersama anak buahnya.


"Kalian semua boleh menunggu di luar," kata Park. Semua anak buah Park membungkukkan badan kemudian berlalu keluar. Park melangkahkan kakinya mendekati anak-anak itu.


"Tuan Park," mendengar namanya di panggil, Park menoleh ke sumber suara. Seorang wanita paruh baya berkacamata menghampiri Park.


"Mianhamnida, aku tidak mendengar anda datang, tadi aku sedang mengurus bayi-bayi kecil di kamar khusus." Park mengangguk sambil kembali melihat satu per satu anak-anak yang sedang bermain di ruangan itu. Wanita pemilik panti juga memperhatikan anak-anak asuhnya.


"Aku ingin anak perempuan," kata Park. Wanita itu tampak terkejut mendengar ucapan Park. Park menoleh pada pemilik panti yang segera mengubah ekspresi keterkejutannya menjadi ekspresi normal.


"Aku akan mengumpulkan beberapa anak perempuan untuk anda lihat," ucap pemilik panti sambil berlalu menghampiri anak-anak. Park memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.


Beberapa anak perempuan berbenjer di depan Park. Park melangkah melewati satu per satu anak. Dia memperhatikan setiap anak perempuan itu. Pemilik panti tampak menyembunyikan rasa cemasnya dari Park. Bukan tanpa alasan, banyak orang yang berpikir untuk tidak berurusan dengan seseorang yang bereputasi internasional seperti Park. Pria yang memiliki apa pun dan bisa mendapatkan apa pun.

__ADS_1


"Bibi Ji Eun!" Seorang anak laki-laki tiba-tiba masuk dan menghampiri pemilik panti. "Ada anak yang berkelahi!" Park melihat pada Ji Eun yang terlihat panik. Tanpa pikir panjang, Ji Eun menyusul anak itu ke halaman belakang. Park yang penasaran mengikuti mereka.


Terlihat tiga anak laki-laki terduduk di rumput dengan ekspresi kesakitan. Seorang gadis kecil berdiri di depan mereka dengan kedua tangan mengepal. Ji Eun segera menghampiri mereka.


Park memperhatikan gadis kecil yang berambut pendek itu. Ekspresi kesal di tunjukkan anak perempuan itu pada ketiga anak laki-laki yang ada di depannya. Ji Eun membantu ketiga anak itu berdiri.


"Kenapa kau memukul mereka?" Tanya Ji Eun sambil mengusap bahu gadis kecil yang tampaknya masih marah. "Mereka meledekku," jawabnya kesal.


"Sekarang minta maaf," bujuk Ji Eun. "Aniyo, mereka bertiga yang harus minta maaf." Gadis itu melipat kedua tangan di depan dada sambil membuang muka kesal. Ekpresi manisnya ketika kesal membuat Park tersenyum tipis.


"Kau yang memukul kami!" Salah satu dari mereka menggerutu. "Kalian yang mulai." Gadis kecil itu akan mencakar wajah anak laki-laki yang barusan bicara, tapi Ji Eun menahannya.


"Ketiga anak laki-laki itu harus minta maaf," kata Park yang sudah berada di belakang Ji Eun. Mereka menoleh pada Park.


"Kalian bertiga mau jadi jagoan? Dengan mengganggu seorang perempuan?" Tanya Park sarkas. Mereka bertiga menundukkan kepala lalu meminta maaf kepada gadis kecil itu.


"Kalian boleh kembali," kata Ji Eun. Mereka berempat berlalu.


"Tunggu, gadis kecil." Langkah anak perempuan itu terhenti ketika Park memanggilnya. Dia berbalik dan menatap Park.


"Aku akan mengadopsimu."


 


 


Gadis kecil itu menatap jalanan melalui jendela mobil. "Ini pertama kalinya aku naik mobil," kata gadis kecil itu dengan polos. Perhatian Park teralihkan oleh ucapannya. Dia menatap gadis kecil itu.


"Bagaimana perasaanmu?" Tanya Park. "Aku mau muntah," jawab gadis kecil itu sambil memegang kepalanya. Park tersenyum kecil mendengar ucapan konyol anak kecil yang ternyata sedang di landa mabuk perjalanan.


"Sebentar lagi kita sampai."


 


 


"Apa anda yakin akan mengadopsinya, Tuan Park?"


"Kenapa mempertanyakan keputusanku?"


"Aku bisa mengatasinya, aku akan membuatnya menjadi gadis terhormat dari keluarga Park."


 


 


Park melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 10 malam. "Apa aku pulang terlambat?"


Mobil sport putih milik Park memasuki kompleks perumahan elit. Gadis kecil itu mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil. Dia terpesona melihat kemegahan rumah-rumah besar di kawasan tersebut.


Sesekali Park memperhatikan tingkah polos anak itu. Mobil putih yang membawa mereka terhenti di pelataran rumah mewah milik Park. Terdapat tulisan Kediaman Park di dinding besar yang terletak di samping gerbang kokoh pelindung rumah tersebut.


Park dan gadis kecil itu keluar dari dalam mobil. Gadis itu memperhatikan halaman depan rumah yang begitu luas dan indah.


 


 


Park yang sudah berjalan lebih dulu menoleh ke belakang melihat gadis kecil itu. "Gadis kecil, ayo masuk."


Mendengar ucapan Park, anak itu terhenyak dan segera berlari menyusulnya.


Mereka berdua memasuki rumah. Anak itu terperangah melihat kemegahan rumah yang akan menjadi tempat barunya untuk bernaung. Kedua mata kecilnya berbinar dan tidak hentinya melihat ke sekeliling.


"Ini rumahku, semoga kau nyaman disini." Gadis kecil itu menoleh pada Park, "Ini bukan rumah, ini istana. Sangat besar dan mewah." Park mengangkat kedua alisnya, dia mendekati anak itu.


Park sedikit membungkuk untuk menyesuaikan tingginya dengan gadis kecil di depannya lalu mengusap rambut gadis kecil yang sudah menjadi anak perempuannya itu.


"Mulai sekarang, kau adalah putriku. Kau putri sulungku, namamu Atherina.. Atherina Park."


Kedua mata gadis itu membulat. "Aku akan mendidikmu dengan caraku sendiri. Seberat apa pun, kau harus menjadi putriku, putri seorang Park Johan Armez."

__ADS_1


"Aku akan membawamu ke dunia gelapku. Dunia yang bukan merupakan tempat untuk perempuan, tapi aku akan membuatmu menjadi lebih kuat dari pria. Kau akan menjadi pemimpin dari orang-orangku."


Atherina mencerna ucapan pria yang sudah menjadi ayahnya itu. Namun tidak ada satu pun kalimat yang dia pahami. Kata-kata yang sulit di mengerti oleh gadis kecil sepertinya.


◆◇◆


Atherina menyentuh knop pintu kemudian memutarnya, pintu pun terbuka. Terlihat ada dua orang pengasuh sedang bermain dengan anak laki-laki yang usianya sekitar 4 tahunan.


 


Kedua mata bulat milik anak manis itu teralihkan pada Atherina. Para pengasuh itu melihat Park berdiri di belakang Atherina. Mereka berdua membungkukkan badan kemudian berlalu keluar.


"Aku memiliki seorang putra yang usianya lebih muda darimu. Mulai sekarang dia adalah adikmu..." ucapan Park masih terngiang di telinga Atherina.


Anak itu terlihat bingung dengan keberadaan Atherina di kamarnya. Namun dia beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Atherina. Mereka saling menatap satu sama lain.


"... namanya Atherio Park, pewaris utamaku..."


Atherio memiringkan kepalanya ke kiri sambil memperhatikan Atherina dengan teliti. Atherina tetap diam dan melihat reaksi adik barunya yang menggemaskan itu.


Atherio memberikan robotnya pada Atherina. Atherina terkejut dengan apa yang di lakukan Atherio. Dia menerima robot itu. Atherio tersenyum lebar memperlihatkan susunan gigi bayinya yang rapi. Atherina gemas dengan sikap lucu Atherio. Dia tersenyum sambil memiringkan kepalanya meniru Atherio. Mereka berdua tertawa bersama.


Atherio menarik tangan Atherina untuk mengajaknya bermain bersama. Park tersenyum melihat pemandangan itu. "Tidak biasanya Atherio akrab dengan orang baru, kurasa mereka memang cocok." Park berlalu meninggalkan kamar putra kecilnya.


Atherina menemani Atherio bermain. Atherio terus berbicara sambil menunjukkan mainannya pada Atherina. Atherina tersenyum sambil memainkan pipi bulat milik Atherio. Anak laki-laki itu sangat senang karena dia memiliki teman baru untuk di ajak bermain. Dia memeluk Atherina dengan erat.


 


"Kakak tidak akan pergi lagi, kan?" Tanya Atherio dengan nada bicara yang terdengar lucu. Atherina menggeleng dengan cepat, "Aniyo, aku akan di sini bersama Rio," jawab Atherina.


"Kenapa ayah baru mempertemukan kita sekarang?" Pertanyaan Atherio yang polos membuat Atherina kebingungan harus menjawab apa. Park tidak memberikan jawaban untuk pertanyaan itu.


"... Atherio akan menganggapmu sebagai kakak kandungnya. Jangan sampai dia tahu kalau kau bukan kakak kandungnya..."


"Selama ini Kak Nana kemana saja?" Atherio mengguncangkan lengan Atherina. Atherina tersenyum mendengar Atherio memanggilnya Nana. "Kakak tidak mau bermain bersamaku?"


Atherina menggeleng cepat, "Itu tidak benar," sanggah Atherina. "Rio janji, Rio tidak akan nakal lagi, Rio tidak akan pura-pura tidur dan main di malam hari lagi." Atherio menjewer kedua telinganya sendiri.


Atherina memegang kedua tangan Atherio. "Jangan begini, Rio. Kak Nana akan selalu bersama Rio." Kedua mata bulat Atherio berbinar. "Janji, ya." Atherina mengangguk.


"... Atherina, berjanjilah padaku.. Kau akan selalu menjaga dan melindungi putraku, Atherio seumur hidupmu dengan seluruh jiwa dan ragamu."


"Aku berjanji akan menjaga Atherio Park dengan nyawaku sendiri."


Atherio mengangguk-anggukkan kepalanya. Atherina mengangguk sambil menggelitik dagu Atherio. Atherio tertawa karena kegelian.


Atherio melelapkan kepalanya ke pangkuan Atherina. Tatapannya tertuju ke langit malam. "Kakak tahu? Setiap malam aku sering pura-pura tidur. Ketika bibi Pengasuh pergi, aku akan bangun dan bermain dengan robot-robotku.."


Atherina merasa sedih mendengar ucapan polos Atherio.


"Ayah tidak pernah membiarkanku bermain dengan anak-anak lain. Ayah bilang, keluarga Park adalah keluarga istimewa yang harus memiliki teman yang istimewa juga... tapi aku tidak punya teman istimewa, aku sendirian."


Atherina mengerti, Atherio kesepian di istana itu. Dia memeluk Atherio dengan lembut, "Sekarang ada Kakak." Ucapan Atherina membuat kedua mata Atherio berbinar. Dia mencium pipi Atherina.


"Ayah bilang, ciuman hanya untuk orang yang terkasih. Apa Kakak tidak mau menciumku?" Ucap Atherio di akhiri dengan pertanyaan. Atherina tersenyum kemudian mencium pipi Atherio.


"Kakak tidur di kamarku, yaaa." Atherio bangkit sambil menarik tangan Atherina. Atherina tampak berpikir, "Aku harus bilang ayah dulu."


Atherio cemberut kesal, "Malam-malam aku sering mengompol di celana karena tidak berani ke kamar mandi sendirian, jika Kakak di kamarku, aku akan meminta Kakak untuk mengantarku ke kamar mandi."


Atherina terkekeh geli kemudian mengangguk, "Baiklah, aku akan tidur di kamarmu dan menemanimu ke kamar mandi nanti."


"Rio sayang Kakak," kata Atherio sambil memeluk Atherina dengan eratnya. "Seharusnya kau buang air kecil dulu sebelum tidur, jadi nanti malam kau tidak mengompol."


"Kalau begitu, sekarang antar aku ke kamar mandi."


◆◇◆


10.55 : 30 Agustus 2019


By Ucu Irna Marhamah

__ADS_1


 


 


__ADS_2