ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]

ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]
The Plans


__ADS_3

"Dari awal aku sudah siap dengan segala konsekuensinya."


_Atherina Park_


◆◇◆


Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Atherina masih menggulung tubuhnya dengan selimut, hanya kepalanya yang terlihat. Dia tidak berniat meninggalkan tempat tidurnya meskipun dia sudah bangun.


Pintu kamarnya terbuka, Atherina melihat bayangan adiknya dari kaca meja rias. Atherio sudah rapi dengan seragam sekolah yang melekat di tubuhnya. Atherina memilih untuk berpura-pura tidur.


Terasa beban di belakangnya, menandakan ada seseorang yang duduk di sana. "Kakak? Kakak masih demam?" Atherio menyentuh bahu Atherina yang masih berpura-pura tidur.


"Kakak tidak akan pergi ke sekolah?" Tidak ada jawaban, Atherio mendekatkan wajahnya ke telinga sang kakak.


"Kalau begitu, cepat sembuh, ya.. I love you."


Atherina mendengar langkah kaki yang menjauh di susul suara pintu yang tertutup dengan pelan. Atherina menoleh ke arah pintu lalu kembali ke posisi semula dan menutup kedua matanya.


Sementara itu di sekolah, Atherio sedang duduk di bangkunya bersama Chris. Dia sedang menggambar sesuatu, gambar sketsa wajah. Chris memperhatikan gambar yang di buat Atherio.


Chris melipat kedua tangannya di belakang kepala, kemudian dia bersandar dengan tangan sebagai bantalan. "Belakangan ini kau jadi pendiam, apa ada masalah lagi? Kau bisa menceritakannya padaku."


Atherio menoleh, "Tidak.. aku baik-baik saja."


"Kau menggambar apa?" Tanya Chris. "Sketsa wajah kakakku.. ya, aku tahu ini tidak bagus," jawab Atherio.


[Sketsa wajah Atherina kecil]


Chris kembali ke posisi semula, "Itu bagus." Atherio tersenyum, "Hari ini kakakku sedang demam.. mungkin itu karena dia memelukku ketika aku demam, jadi dia ikutan demam."


Chris mengangguk mengerti, "Aku belum pernah melihat kakakmu, padahal dia bersekolah di tempat yang sama dengan kita.. aku belum pernah melihat kalian pulang bersama."


Atherio menoleh sesaat pada Chris, "Kakakku bukan orang yang suka keluar kelas ketika lonceng istirahat berbunyi, dia akan terus berada di dalam kelas.. dia akan keluar kelas ketika ada hal yang membuatnya harus keluar."


Chris menatap Atherio, "Sejak kita berteman, kau lebih sering membahas tentang kakakmu di bandingkan ayahmu.. setiap hari kau membahasnya dan menceritakannya padaku, aku jadi berpikir.. jangan-jangan kau menyukai kakakmu sendiri."


Atherio telah menyelesaikan sketsanya, dia tersenyum puas dengan hasilnya. "Iya, aku menyukainya."


Chris terbelalak mendengar jawaban Atherio. "Apa kau bilang!"


Semua pandangan murid di kelas tertuju kepada mereka berdua. Atherio menyenggol lengan Chris, "Apa yang kau lakukan? Kenapa kau berteriak seperti itu?" Tanya Atherio menggerutu.


"Hehe, maafkan aku.. tapi.. apa yang kau katakan barusan itu benar?" Tanya Chris. Atherio mengangguk, "Iya."


"Kau pasti mengigau," gumam Chris dengan pandangan tertuju pada sketsa wajah yang selesai di buat oleh Atherio. "Wah, cantik sekali.. apalagi aslinya.. aku jadi semakin penasaran dan ingin bertemu dengannya." Senyuman Chris mengembang membuat wajahnya terlihat semakin manis. Atherio memukul lengan Chris membuat si pemilik meringis pelan.


Atherio melotot pada Chris, "Aku semakin tidak mau mempertemukanmu dengannya, bisa-bisa kau menyukai kakakku."


"Kau ini," gerutu Chris.


Sementara itu, Atherina duduk berhadapan dengan seorang pria berambut cepak. Terdapat tato ular di lengannya yang kekar. Pria itu adalah Azokka, pemimpin kelompok ular, sekaligus kakaknya Azura.


Atherina berniat memulangkan Azura pada kelompoknya. Dia juga ingin mengajak Azokka bekerja sama. Atherina tidak pergi sendirian, dia bersama Carlos dan Esteban.


Azura bersembunyi di belakang Atherina, seolah dia takut pada kakaknya sendiri.


"Wah.. wah.. suatu kehormatan seorang pemimpin gangster dari kelompok Park mendatangi markasku, apa kau kemari karena adikku berbuat kesalahan?" Ucap Azokka di akhiri dengan pertanyaan.


"Aku hanya ingin mengembalikan adikmu dan 8 orang anak buahmu." Azura terkejut, dia tidak mengira Atherina membiarkan anak buahnya hidup.


Jadi.. waktu itu dia berbohong.. dia tidak membunuh orang-orangku?


"Azura, kemari!" Azura tampak ketakutan, dia tidak mau melihat wajah kakaknya. Atherina bingung dengan sikap Azura. Azokka menarik lengan adiknya dengan kasar. Atherina terkejut dengan sikap Azokka.


"Aku sudah dengar tentang ulahmu, memalukan!" Bentak Azokka. Carlos dan Esteban saling pandang. Timbul rasa simpati dari hati Esteban untuk Azura.


"Dia pernah bilang padaku, kalau dia ingin sekali bertemu denganmu.. dia tertarik ketika mendengar namamu muncul di dunia gelap sebagai seorang gadis muda yang memimpin kelompok." Atherina mengangguk mengerti dengan penjelasan Azokka.


"Ada beberapa hal juga yang perlu di bicarakan," kata Carlos. Pandangan Azokka teralihkan pada Carlos. Dia menganggukkan kepalanya.


◆◇◆


Chris mengajak Atherio bermain ke rumahnya. Awalnya Atherio menolak, dia takut ketahuan ayahnya karena memiliki seorang teman. Namun, Chris tetap memaksa dan memohon. Akhirnya Atherio tidak punya pilihan lain.


Di rumah Christian, Atherio melihat ke sekeliling. Rumah yang besar dan mewah itu berdiri di depannya. Banyak sekali tanaman di halaman depan rumah Chris yang begitu luas.


Seorang wanita yang sedang duduk di bangku halaman rumah itu menoleh pada kedua anak laki-laki yang tiba di rumah tersebut.


Dengan senyuman, dia menyambut kedatangan mereka berdua. Chris memeluk ibunya, "Aku pulaaaang!" Melihat itu, Atherio menunduk sedih mengingat dia tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu dari seorang ibu.

__ADS_1


"Hei, ini ibuku," kata Chris yang membuyarkan lamunan Atherio. Dia mendongkak menatap So Eun. Dengan sopan, Atherio membungkukkan badannya.


"Senang bertemu dengan anda," ucap Atherio.


"Halo, ini siapa? Tampan sekali." Ibunya Chris menangkup wajah Atherio. Dia tersenyum menggemaskan membuat So Eun semakin gemas.


Chris yang menjawab, "Namanya Atherio Park.. putranya tuan Park J A." So Eun terkejut, "Benarkah? Wah putra seorang pengusaha terkenal itu, ya?" Atherio hanya terkekeh kecil mendengar ucapan So Eun.


Banyak sekali cemilan di atas meja, Chris mengambil bola-bola coklat dan memakannya. Atherio memperhatikan apa yang di lakukan oleh temannya itu. Chris memberikan toples berisi bola coklat itu pada Atherio. Atherio mengambilnya dan memakannya.


Melihat itu, So Eun tersenyum kecil, "Selama tinggal di Korea, Chris tidak pernah mengajak seorang teman ke rumah.. dia bilang dia tidak bisa beradaptasi dengan baik di sini. Aku pikir kenapa tidak bisa? Dia bisa bicara lancar dengan bahasa Korea. Hari ini aku senang sekali melihat putraku membawa seorang teman.."


Atherio mengangguk mengerti, pandangannya tertuju pada bingkai foto di dinding, terlihat seorang pria berseragam kepolisian dengan posisi hormat. So Eun menoleh ke arah tatapan mata Atherio.


"Itu Lee Hwan, kakaknya Chris." Atherio terkejut mengetahui bahwa kakaknya Chris adalah seorang polisi. Selama ini Chris tidak pernah menceritakannya.


So Eun tertawa, "Chris pernah bilang, dia juga ingin menjadi seorang polisi seperti kakaknya, bagaimana dia bisa jadi polisi jika punya sifat pemalu seperti itu."


Chris terkekeh pelan, dia menoleh pada Atherio. Chris tersenyum melihat ekspresi keterkejutan yang tercetak jelas di wajah Atherio, "Kau terkejut, ya? Aku tidak pernah menceritakan kakakku karena dia tidak di Seoul, dia bertugas di Daegu."


Atherio mengangguk sambil tersenyum kikuk. Polisi? Berarti kita di jalur yang bersebrangan, Chris.


So Eun memnuangkan jus ke dalam gelas, "Bibi harap Atherio sering main ke rumah, ya.. menginap juga boleh."


◆◇◆


Mobil hitam yang membawa Atherio terhenti di pelataran rumah Park. Atherio keluar dari dalam mobil, dia melangkahkan kakinya untuk memasuki rumah.


Langkahnya terhenti ketika mendengar suara mobil yang memasuki pelataran. Atherio menoleh, ternyata Atherina yang entah dari mana. Gadis itu keluar dari mobil dan melangkahkan kakinya memasuki rumah, tapi Atherio menghalangi jalan kakaknya.


"Kakak sedang sakit, tapi kenapa keluar rumah?" Tanya Atherio. Atherina tidak berniat menjawab pertanyaan adiknya, dia melangkahkan kakinya untuk melewati Atherio, tapi adiknya itu tetap bergerak menghalangi jalan Atherina.


"Aku mau tidur," kata Atherina. "Kakak kenapa berubah?" Tanya Atherio kesal. Atherina menubruk adiknya lalu memasuki rumah. Carlos dan Esteban yang melihat itu saling pandang sejenak kemudian berlalu.


Atherio mengepalkan tangannya geram.


Jam  telah menunjukkan pukul 9 malam, di ruang kerja Park, tampak pria itu sedang duduk bersandar pada kursi kebesarannya dengan kedua kaki bertumpu di atas meja kerjanya. Terselip cerutu di jari tangannya, tatapannya menerawang, dia sedang memikirkan sesuatu.


Ketukan pada pintu ruang kerjanya membuat pandangan Park teralihkan, "Masuk."


Pintu terbuka, masuklah Atherio dengan kepala tertunduk. Park mengerutkan keningnya melihat Atherio yang tidak biasanya datang ke ruang pribadinya.


Park membenarkan posisinya, "Duduklah." Atherio menarik kursi menimbulkan suara gesekan dengan lantai. Dia duduk dan menatap ayahnya.


"Apa yang membuatmu datang ke ruanganku? Apa ada masalah?" Park menatap putranya dengan intens. Mereka berdua dekat ketika 4 tahun terakhir. Setelah Atherio besar, Atherio sering membangkang dan melawan. Itu adalah bentuk pemberontakan karena ingin mendapatkan perhatian dari Park.


"Aku tahu.." gumam Atherio pelan dengan kepala yang masih tertunduk. Park mengerutkan keningnya, "Tahu apa?"


Atherio mengangkat wajahnya, dia menatap ayahnya dengan tatapan sendu. "Kak Nana bukan anak Ayah."


Kedua alis Park terangkat, "Tahu dari mana?" Pria itu mematikan cerutunya dan mencondongkan tubuhnya ke arah Atherio.


"Aku mendengar pembicaraan kalian," jawab Atherio pelan. "Lalu bagaimana perasaanmu?" Tanya Park.


Atherio tidak menjawab, dia mengalihkan pandangannya.


Park menyandarkan punggungnya ke kursi. Kedua matanya tertutup, "Aku harap kau tidak berubah pada Atherina setelah mengetahui ini."


Atherio menoleh pada ayahnya, "Kenapa hidupmu selalu di penuhi kebohongan?"


Park membuka matanya, dia melihat pada Atherio yang terlihat kesal. "Kau mau tahu? Aku akan menceritakannya dari awal.. semuanya.. bukan hanya tentang Atherina.. tapi tentang keluarga kita."


Atherio menghela napas panjang, "Kali ini jangan ada kebohongan." Park mendecih sambil tersenyum kecil, "Besok kau harus sekolah."


"Aku akan mendengarkan," kata Atherio.


"Baiklah,"


◆◇◆


Ji Hoo memasuki markas bawah tanah dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celana.


Keenam anggotanya ada di sana menyamankan posisi. "Selamat malam," sapa Ji Hoo.


"Kau lama sekali, kami bosan menunggu. Jika di sini ada cemilan, kami tidak akan mati kebosanan!" Esteban menggerutu kesal. Ji Hoo memutar kedua bola matanya kesal dengan ocehan Esteban.


"Sudahlah, dia baru datang." Carlos menepuk bahu Esteban yang terlihat masih kesal.


Ji Hoo duduk di kursi sambil menyalakan rokoknya. Keenam rekannya duduk melingkar di meja bundar itu.

__ADS_1


Sebagai pemimpin di antara rekannya yang lain, Ji Hoo memulai pembicaraan, "Besok tuan Park akan pergi ke Italia, tuan ingin menyelesaikan masalah di sana dengan segera."


"Jika itu masalah yang serius, kita pasti harus ikut bersamanya, bukan?" Tanya Min Hyuk.


"Tidak, dia bilang dia akan mengatasi semuanya sendirian." Ji Hoo memberikan sebatang rokok pada masing-masing dari mereka.


Joon Ki menyalakan rokok pemberian Ji Hoo. Min Hyuk menyatukan ujung rokoknya dengan ujung rokok Joon Ki sehingga ujung rokok Min Hyuk juga terbakar.


"Aku tidak meragukan kehebatan tuan Park, tapi.." Esteban tidak melanjutkan kata-katanya. "Esteban benar, jika terjadi sesuatu pada tuan Park, kelompok kita dalam bahaya.. meskipun ada nona Atherina, pandangan musuh akan berbeda ketika melihat tuan Park dan ketika melihat nona Atherina," ucap Victor.


"Aku akan bersama tuan Park," kata Gun Seok tiba-tiba. Semua mata tertuju padanya, Ji Hoo menggeleng, "Jangan lakukan itu, kau tidak bisa melawan perintah tuan Park."


"Aku tidak peduli, tuan Park mengadopsi kita dan memperlakukan kita dengan baik selama ini. Itu adalah untuk membantunya dan melindunginya, bukan jadi pengecut seperti ini." Gun Seok bangkit dari tempat duduknya, Ji Hoo menekan bahu Gun Seok sehingga dia kembali terduduk ke kursi.


"Jangan membangkang dari perintah," kata Ji Hoo. Gun Seok menepis tangan Ji Hoo, "Memangnya siapa yang memutuskanmu jadi pemimpin tim kami? Kau bukan anggota tertua, bukan anggota terlama juga di sini."


Sunyi...


Memang benar, anggota yang paling lama mengabdi pada Park adalah Carlos lalu Gun Seok di susul Victor. Sementara anggota yang paling tua adalah Victor dan Gun Seok.


"Lebih dari 30 tahun kita semua bersama, tapi selalu ada pertengkaran di antara kita. Bagaimana bisa kita menjadi kekuatan terbaik kelompok ini?" Tanya Carlos, sang penasehat yang sedari tadi terdiam akhirnya mengeluarkan suaranya.


"Bukankah pertengkaran itu adalah hal yang biasa?" Tanya Min Hyuk. "Tapi bukan berarti kita bertengkar hanya karena urusan pribadi, bukan?" Sanggah Carlos terdengar sarkas.


Gun Seok mendelik kesal pada Carlos, "Kenapa kau bicara begitu?" Tanya Gun Seok kesal.


Carlos menatap Ji Hoo dan Gun Seok bergantian, "Aku yakin, adikmu ingin kalian berdua akur."


Sunyi, suasana menjadi sedikit canggung. Min Hyuk menoleh pada Carlos, dia merasa kagum dengan Carlos yang bisa dengan mudah mengubah situasi hanya dengan bicara. Pantas saja jika posisi Carlos bisa mengimbangi Ji Hoo.


"Jadi, apa lagi yang di katakan tuan Park?" Tanya Carlos pada Ji Hoo. "Jika tuan Park sudah tiba di sana.." Ji Hoo menggantung kalimatnya.


Victor dan Min Hyuk tampak mendengarkan dengan serius, Gun Seok menautkan alisnya dengan tajam, Esteban dan Carlos menatap Ji Hoo, Joon Ki masih mencintai rokoknya.


".. tim kita akan terbagi dua," lanjut Ji Hoo. Carlos memegang dahinya seperti orang yang sedang sakit kepala.


"Kita bersama menjadi satu seperti ini adalah hal yang sulit, kita selalu bekerja terpisah. Untuk melindungi kelompok ini, kita harus bersama, bukan?" Tanya Min Hyuk.


"Kita memiliki dua orang yang penting, nona Atherina dan tuan Atherio. Itu sebabnya tim kita harus di bagi dua." Ji Hoo menyandarkan kepalanya ke kursi. "Tuan sudah memilih siapa saja orang yang akan bersama nona Atherina dan siapa yang akan bersama tuan Atherio."


"Aku ingin tahu," kata Joon Ki.


Ji Hoo kembali ke posisi, "Carlos, Gun Seok, Victor, dan Esteban akan bersama nona Atherina.. aku, Joon Ki, dan Min Hyuk akan bersama tuan Atherio."


Carlos mengerutkan keningnya, "Kenapa tuan Park membagi tim seperti ini? Apa tuan Park akan memisahkan kedua anaknya?"


Ji Hoo tersenyum, "Pertanyaan bagus, Carlos.. jawabannya.. iya.. tuan Park akan mengirim nona Atherina ke Jepang, sementara tuan Atherio akan di kirim ke Amerika."


"Jadi, intinya kita akan meninggalkan daratan Korea?" Tanya Min Hyuk. "Cerdas," Ji Hoo menyiram ujung puntung rokoknya dengan air mineral.


"Aku.. mencintai kak Nana.." ucapan Atherio masih terngiang di telinga Ji Hoo.


***


Ji Hoo yang berdiri di samping Park menundukkan kepalanya. Park tersenyum geli, "Putraku benar-benar sudah besar, ya?"


Ji Hoo menoleh ke arah Park, "Bagaimana menurut anda?"


"Atherina memang pantas di cintai.. tapi sebagai keluarga."


***


"Kenapa tuan Park memutuskan ini dengan tiba-tiba?" Pertanyaan Esteban membuat lamunan Ji Hoo buyar.


"Ji Hoo, bagaimana menurutmu?" Tanya Carlos. "Ah? Aku?" Ji Hoo kelabakan. Semua mata tertuju padanya dengan tatapan kesal.


"Maaf, aku tadi.. melamun. Bagaimana menurutmu Carlos?" Ji Hoo balik bertanya.


Min Hyuk dan Carlos saling pandang.


◆◇◆


 


 


By Ucu Irna Marhamah


 

__ADS_1


 


__ADS_2