ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]

ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]
The Truth


__ADS_3

"Ketika aku menyadari bahwa cinta ini adalah cinta yang berbeda."


_Atherio Park_


◆◇◆


Atherina melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 9 malam. "Paman Carlos, aku akan pergi tidur."


Carlos mengangguk, dia berdiri kemudian membungkukkan badan dan berlalu meninggalkan Atherina. Atherina menghela napas panjang sambil beranjak dari sofa menuju kamarnya.


Tiba-tiba dia teringat Azura, "Ya ampun, dia bisa mati jika aku biarkan begitu saja." Atherina mengambil ponselnya kemudian menelpon Esteban.


"Paman, kau masih di markas?"


"..."


"Berikan Azura makan, jika dia tidak mau, paksa saja."


"..."


Atherina mengakhiri panggilannya, dia melangkahkan kakinya menuju tangga. Kaki jenjangnya meloncati anak tangga untuk segera sampai di kamarnya. Saat melewati kamar Atherio, dia mendengar suara Atherio.


Atherina membuka pintu kamar adiknya, dia melihat Atherio yang terbungkus selimut. Dia menghampiri adiknya, tangannya bergerak menyentuh lengan Atherio.


Atherina terkejut merasakan suhu badan adiknya yang tinggi. "Rio.."


"Kak.. dingin..."


Atherina memeluk adiknya. "Kau pasti terlalu memikirkan kejadian tadi.. lain kali jangan menyusul ke tempat pertemuan.. itu berbahaya."


"Aku cemas ketika Kak Nana tidak ada di rumah," ucapan Atherio membuat kakaknya terharu. "Apalagi Kakak tidak sedang bersama dengan orang-orang yang biasa mendampingi Kakak."


Atherina mengeratkan pelukannya memberikan kehangatan pada Atherio. Bukan hanya tubuh Atherio yang terasa hangat, kedua pipinya juga.


"Kak.."


"Apa?"


"Mulai sekarang, aku yang akan melindungi Kakak."


"Tidurlah."


Atherio tersenyum, dia memegang kedua tangan kakaknya yang memeluk tubuhnya. "Apa aku harus sakit dulu agar Kakak mau tidur di kamarku lagi seperti dulu?"


"Semakin kita dewasa, maka semakin ada batasan di antara kita.. tidak seharusnya saudara perempuan berada di kamar saudara laki-lakinya."


Atherio mencerna ucapan kakaknya, "Kenapa harus ada batasan?" Tidak ada jawaban, Atherio mendongkak menatap wajah kakaknya yang terlihat tenang. Atherina sudah tertidur.


"Tidak akan ada perasaan yang timbul di antara saudara, kan?" Atherio bergumam sendiri. Kedua mata Atherina kembali terbuka, dia berpura-pura tidur.


Ketika hari mulai pagi, kedua mata Atherio bergerak dan perlahan terbuka. Dia mendapati dirinya yang berada di pelukan Atherina. Atherio merasakan suhu tubuh Atherina meningkat.


"Kakak demam.. jangan-jangan tertular karena memelukku semalaman." Atherio menyentuh dahi kakaknya. Atherio beranjak dari tempat tidur, tapi Atherina menggenggam tangannya. Atherio menoleh.


"Aku baik-baik saja," ucap Atherina kemudian bangkit dan berlalu dari kamar adiknya. Atherio menatap punggung Atherina yang semakin menjauh dan menghilang dari balik pintu.


Atherina memakai jaketnya, dia menuruni tangga dan berpapasan dengan Esteban. "Nona muda, Azura pingsan."


Atherina terbelalak, mereka segera menuju ke markas bawah tanah. "Paman memberikan dia makan, kan?"


"Dia menolak dan memuntahkan makanan yang ada di mulutnya." Atherina mendengus tertahan mendengar jawaban Esteban. Dia melihat Azura terkulai di kursinya.


Atherina tampak panik, dia meletakkan jarinya di depan hidung Azura. Atherina semakin panik, dia mengecek denyut nadi di leher Azura.


"Lepaskan ikatannya," ucap Atherina. Esteban mengangguk, dia segera melepaskan tali yang mengikat tubuh Azura. Atherina mendekat, dia meletakkan kepala Azura ke pahanya.


"Azura! Bangun!" Atherina menepuk-nepuk pipi Azura. "Azura!"


Kedua mata Azura terbuka, Atherina menghela napas lega setelah mengetahui Azura tersadar.


Gadis itu tersenyum melihat ekspresi kecemasan di wajah Atherina, "Kau begitu mengkhawatirkanku?"


Atherina membantu Azura berdiri, "Aku akan mengizinkanmu tinggal sementara di rumah ayahku, tapi bukan berarti kita teman.. satu lagi, jangan menunjukkan wajahmu di depan ayahku."


Azura tersenyum senang, "Yee!!!" Gadis itu melompat-lompat kegirangan. Atherina memperhatikannya dengan ekspresi yang menggambarkan kalimat ; 'ngapain sih dia?'


Atherina berlalu di ikuti Esteban dan Azura. Langkah Atherina terhenti, dia menyentuh kepalanya yang terasa sakit. Esteban mendekat, "Nona?"


Atherina mengangkat sebelah tangannya menandakan dia baik-baik saja. Dia melanjutkan langkahnya dengan gegas.


Di meja makan, Atherio mendelik kesal pada Azura yang terlihat konyol ketika melihat makanan. Dia makan dengan lahapnya. Atherina dan Atherio saling pandang kemudian memakan sarapan mereka.


Kemarin dia seperti malaikat maut ketika menghabisi orang-orangku, batin Atherina.


Usianya jauh lebih tua di banding kak Nana, tapi sikapnya jauh lebih kekanak-kanakan di banding aku, batin Atherio.

__ADS_1


"Atherina, apa yang kau lakukan pada orang-orangku?" Tanya Azura dengan mulut penuh. Atherina menoleh, "Orang-orangmu tersisa 8.. kau telah membunuh 4 orangku, satu nyawa orangku seharga dua orangmu.. jadi mereka semua aku bunuh untuk melunasi nyawa orangku."


Azura terbelalak, tapi kemudian dia melanjutkan makan. Atherio melihat pada Atherina yang terlihat kesal.


"Azura, bisakah kau membuka jaket musim dingin itu? Aku gerah melihatnya," kata Atherina.


Azura mengeratkan jaketnya, "Aku kedinginan."


"Kenapa kau membawa dia ke rumah?" Tanya Atherio. Atherina tidak menjawab, dia meneguk air hangatnya kemudian berlalu meninggalkan ruang makan.


Atherio mengerutkan keningnya melihat sikap kakaknya yang berubah.


Atherio mendelik tidak suka pada Azura, "Kenapa kau tidak pergi saja? Kau tidak sakit, kan? Kau hanya berpura-pura agar mendapatkan simpati kakakku."


Azura menoleh pada Atherio, "Aku penggemarnya.. dia satu-satunya gadis kecil dari dunia gangster yang hebat. Dia juga manis sekali." Kedua mata Azura berbinar.


"Kau sendiri perempuan,"


Azura mendelik kesal pada Atherio.


◆◇◆


Mobil sport putih memasuki pelataran kediaman keluarga Park di susul dua mobil hitam di belakangnya lalu terhenti di depan rumah tersebut.


Atherina berdiri di lantai dua, dia mengenakan dress hitam di balut blazer putih. Tatapannya tertuju pada mobil-mobil yang baru saja tiba. Atherio yang berdiri di sampingnya juga mengenakan setelan jas. Rambutnya yang biasanya beratakan kini tampak rapi.


Atherina melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 5 sore. Dia melangkahkan kaki menuju ke lantai bawah bersama Atherio di ikuti oleh Carlos, Min Hyuk, Ji Hoo, Victor, Gun Seok, Joon Ki, dan Esteban.


Park keluar dari mobilnya, dia melangkahkan kakinya memasuki rumah bersama anak buahnya. Langkahnya terhenti ketika melihat kedua anaknya bersama ketujuh orang kepercayaannya berdiri di depannya.


Mereka semua membungkukkan badan memberikan sambutan dengan penuh hormat terhadap Park. Pria itu menganggukkan kepalanya, mereka kembali menegakkan badan.


Atherio bersuara, "Selamat datang, Ayah." Park mengangguk sambil melangkah mendekat. Kedua tangannya bergerak menepuk bahu Atherio dan Atherina.


"Aku ingin melihat kalian dewasa dan memakai setelan ini," kata Park sambil memperhatikan pakaian yang di kenakan oleh kedua anaknya.


Setelah itu, mereka menyantap hidangan spesial sebagai tanda penyambutan tuan besar di rumah itu  Park duduk di kursi utama, di sisi sudut kiri kanan ada Atherina dan Atherio. Ketujuh orang kepercayaannya juga ikut serta dalam acara makan itu.


Sebenarnya mereka sedikit canggung, karena ini pertama kalinya mereka duduk satu meja dengan tuan besar Park.


Park mengeluarkan suara setelah selesai dengan hidangannya, "Aku mendapat banyak pujian dari rekan bisnis kita, itu karena kerja kerasmu Atherina."


Atherina mengangguk hormat, "Ini berkat Ayah dan bantuan Paman-paman kepercayaan Ayah."


Azura mengintip dari ruang keluarga, dia menguping pembicaraan mereka di ruang makan. Dia melihat hidangan di meja yang begitu banyak.


Semuanya menoleh kearah yang di lihat Park. Gun Seok bangkit dari tempat duduknya, dia melangkahkan kakinya dan melihat ada Azura di sana.


Gun Seok melihat pada Atherina, gadis itu mengerti dengan tatapan Gun Seok. Dia mengangguk pada Gun Seok. Pria itu menarik lengan Azura dan membawanya ke hadapan semua orang yang ada di ruang makan. Atherio menoleh pada Atherina.


Park beranjak menghampiri Azura, "Kau siapa? Kenapa berada di sini?" Tanya Park.


Azura melirik sekilas pada Atherina, Azura tersenyum pada Park, "Anda lupa? Aku ini rekan bisnis anda."


Mendengar jawaban Azura, Park menaikkan sebelah alisnya. "Tapi aku tidak mengenalmu, kau dari kelompok mana?" Tanya Park.


Azura menepis tangan Gun Seok, "Kelompok Ular." Park terkejut dalam diam. Dia menoleh pada Atherina yang menunduk dalam.


"Atherina, malam ini masuk ke ruang kerjaku."


Seketika Atherina mengangkat wajahnya menatap punggung sang ayah.


◆◇◆


Atherina memasuki ruangan pribadi ayahnya. Dia melihat ayahnya berdiri menatap keluar jendela, otomatis dia membelakangi pintu.


"Masuklah Atherina," ucap Park. Atherina melangkahkan kakinya. "Tutup pintunya." Atherina kembali untuk menutup pintu. Dia menarik napas sejenak lalu menghembuskannya.


Park berbalik melihat Atherina yang berjalan kearahnya dengan kepala tertunduk. Mereka berdiri berhadapan.


"Aku tidak menyalahkanmu jika kau mau bekerja sama dengan kelompok lain.. aku percaya padamu.. tidak masalah jika kelompok ular menjadi rekan kita." Park menyentuh bahu putrinya. Atherina tidak berani melihat ayahnya.


"Tapi aku tidak mau siapa pun yang bukan orang rumah, datang ke rumah ini tanpa izin dariku."


"Maafkan aku, Ayah.."


"Apa kau berteman dengan gadis dari kelompok ular itu?" Tanya Park. Atherina mengangkat wajahnya kemudian menggelengkan kepalanya.


"Apa kau bisa menjelaskannya?" Tanya Park. Atherina tampak berpikir, bagaimana cara menjelaskan semua itu pada ayahnya.


Atherina tampak berpikir, jika aku bilang Azura telah menghancurkan acara pertemuan dengan tuan Wu, bisa-bisa ayah melakukan sesuatu pada Azura.. jika itu terjadi, kelompok ular akan menyerang kelompok kami.


"Tidak, anda bisa menghukumku."


Atherio sedari tadi menguping pembicaraan mereka dari luar. Dia menyandarkan tubuhnya ke dinding untuk bisa mendengar apa yang di bicarakan ayah dan kakaknya di dalam.

__ADS_1


"Apa yang ingin kau katakan sebelum aku menghukummu?" Tanya Park kemudian berbalik membelakangi Atherina. Dia mengambil cerutu dan menyulut ujungnya.


Atherina menunduk dalam, "Maafkan aku tidak bisa menjadi putri yang baik untukmu, Tuan Park." Suara Atherina bergetar dan menggema di ruangan itu.


Atherio mengerutkan keningnya, dia mendekatkan telinganya ke pintu untuk mendengar lebih jelas lagi.


Park berbalik melihat putrinya, dia menghisap cerutunya lalu menghampiri Atherina.


"Beberapa kali aku hampir mencelakai putramu.. sungguh aku tidak bisa menjadi seperti yang kau inginkan, Tuan Park." Atherina menggeleng pelan. Atherio terkejut sekaligus bingung dengan pernyataan kakaknya.


Park memiringkan kepalanya, "Kau melukai hatiku dengan mengatakan itu, Atherina. Aku sudah menganggapmu sebagai darah dagingku sendiri."


Atherio terbelalak mendengar ucapan Park, dia menggelengkan kepalanya.


Jadi.. jadi.. kak Nana.. dia.. bukan kakak kandungku?  Batin Atherio.


"Melihatmu menghajar anak-anak itu di panti, aku teringat diriku yang dulu. Sejak kecil, aku akan marah jika harga diriku terluka." Park menghisap cerutunya, asap mengepul keluar dari mulutnya. "Ketika pertama kali kau datang kemari, kau sudah mengatakan janjimu.. aku percaya kau akan melakukannya untukku."


Atherina mengangguk, "Aku selalu mengingat janjiku.. aku akan melindungi Atherio Park dengan nyawaku sendiri."


Atherio masih menguping, kedua matanya membulat mendengar janji yang sebenarnya sudah dua kali terucap dari mulut kakaknya.


Atherio mendengar suara langkah kaki menuju ke arahnya. Dengan segera, dia berbalik melihat siapa yang datang,  ternyata Ji Hoo.


Ji Hoo akan mengeluarkan suaranya, tapi dengan sigap, Atherio membekap mulutnya. "Sssttt, aku perlu bicara dengan Paman," bisik Atherio. Ji Hoo menganggukkan kepalanya. Atherio menyingkirkan tangannya dari Ji Hoo. Mereka berdua segera meninggalkan tempat itu dengan mengendap.


◆◇◆


Di markas bawah tanah, Ji Hoo memperhatikan Atherio yang berlatih memukul samsak. Tubuhnya sudah di basahi keringat. Anak yang usianya hampir 9 tahun itu tampak serius berlatih.


"Tuan, jika ingin berlatih jangan malam-malam begini.. kau bisa berlatih di siang hari."


Atherio tidak menghiraukan ucapan Ji Hoo, dia tetap menghajar samsak di depannya.


"Arrrghhhh!!!!"


Atherio menghempaskan tubuhnya ke lantai. "Kenapa Park benar-benar seperti monster!" Teriak Atherio.


Ji Hoo melihat ke sekeliling, "Tuan, jangan keras-keras, nanti ada yang dengar."


"Kenapa.." Atherio bergumam.


Ji Hoo menghampiri Atherio, dia memberikan botol air mineral yang sudah di buka tutupnya. Atherio bangkit dan menerimanya. Dengan sekali teguk, satu botol air habis di telannya.


"Sebenarnya ada apa, Tuan? Kenapa Tuan ingin bicara denganku?" Tanya Ji Hoo.


Atherio menatap Ji Hoo, "Aku ingin bertanya padamu, Paman. Aku yakin, sebagai orang kepercayaan ayah, Paman tahu banyak hal tentangnya."


Ji Hoo mengangguk mengerti, "Aku akan menjawab pertanyaan yang aku tahu jawabannya."


"Apakah benar.. kalau kak Nana bukan anak kandung ayah?"


Pertanyaan itu membuat Ji Hoo tercengang. Dia mengalihkan pandangannya dari Atherio. Dengan kasar, Atherio menarik bagian depan baju Ji Hoo.


"Katakan padaku, Paman."


Ji Hoo kembali melihat pada tuannya lalu mengangguk pelan. Atherio menyingkirkan tangannya dari Ji Hoo. Dia mengusap kasar wajahnya dan rambutnya.


"Kenapa dia menyerahkan tanggung jawabnya yang sangat berbahaya pada anak orang lain? Kenapa tidak kepadaku yang merupakan anak kandungnya?"


"Tuan Park ingin melindungi anda, itulah sebabnya dia mengadopsi nona Atherina dari panti asuhan.."


"Maksudmu, ayah ingin melindungiku dengan memanfaatkan kak Nana sebagai tameng? Itu kejam! Dia bahkan memiliki hak untuk melawan ayah!"


"Tidak sesederhana itu, Tuan."


"Diam! Aku sedang bicara!" Teriakan Atherio membuat Ji Hoo terdiam seribu bahasa. Tidak biasanya Atherio bersikap begitu kepada yang lebih tua.


"Aku tahu bagaimana rasanya jika aku di posisi kak Nana.. aku pasti akan merasa terikat dan terbebani.. aku akan merasa nyawaku terancam bahaya ketika harus melindungi seseorang.. aku akan merasa kesulitan.." Atherio membayangkan wajah Atherina yang tidak pernah berhenti tersenyum untuknya.


"Senyuman itu asli.. senyuman yang nyata untukku.. dia tidak pernah memperlihatkan lukanya.."


Ji Hoo mencerna ucapan Atherio. Anak itu berbalik menatap Ji Hoo. "Paman, jangan bilang pada siapa pun kalau aku tahu tentang ini."


Ji Hoo menganggukkan kepalanya.


"Mulai sekarang aku yang akan melindungi kak Nana.. aku akan menjadi monster yang lebih menakutkan dari mereka berdua.. aku.. mencintai kak Nana.."


Ji Hoo terbelalak.


◆◇◆


By Ucu Irna Marhamah


 

__ADS_1


 


__ADS_2