ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]

ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]
Threat & Terror


__ADS_3

".. kejadian itu mengundang berbagai reaksi masyarakat. Setelah diintrogasi polisi, putra dari Park J. A., Atherio Park diberikan fasilitas privasi untuk menjaga nama baiknya dan mengembalikan mentalnya yang sempat down karena banyak sekali pertanyaan yang diberikan padanya. Kini wartawan dilarang memasuki area kediaman Park untuk menjaga situasi agar tidak semakin buruk. Tidak ada bukti kuat dari tim kepolisian tentang keterlibatan mereka dalam dunia gangster. Tunggu kabar selanjutnya di.."


Lee Hwan mematikan televisinya. "Pembohong! Ketika aku mengintrogasi laki-laki itu, tidak ada raut syok di wajah menyebalkannya."


Pria itu membaringkan tubuhnya di sofa. Dia mengambil ponselnya dan melihat percakapan terakhir dengan Jae Hyung. Foto-foto yang dikirimkan Jae Hyung tidak jelas ketika di perbesar. Ketika dia scroll foto-foto itu, Lee Hwan terkejut dengan foto terakhir di percakapan itu. Ada foto pria yang menodongkan pistol ke kamera. Lee Hwan mengingat wajah orang itu. Dia ada ketika pemeriksaan rumah Park. Tak lain pria itu adalah Gun Seok. Tampaknya Jae Hyung tidak sengaja memotret pria itu ketika menemukannya. Tiba-tiba, semua balon percakapan menghilang dengan sendirinya. Lee Hwan mendadak merinding.


Lee Hwan membatin, sepertinya mereka telah meretas ponsel Jae Hyung dan menghapus percakapan kami.


Terdengar suara bel pintu berbunyi. Lee Hwan terperanjat kaget. Dia melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 3 sore. Chris belum pulang dari sekolah di jam itu. Dia bangkit untuk membuka pintu. Tidak ada siapa pun di luar. Ada kotak paket di atas keset kaki. Lee Hwan mengambilnya dan membuka isinya kedua matanya membulat, seketika dia melempar kotak itu. Benda bulat yang dibungkus kain putih itu menggelinding keluar dari kotak. Terdapat bercak darah di kain tersebut. Lee Hwan menutup mulutnya karena merasa mual. Dia mendekat untuk membuka kain yang diduga membalut kepala manusia itu. Lee Hwan terduduk dan mundur ketika dia melihat wajah temannya, Jae Hyung. Lee Hwan menggeleng tidak percaya. Air matanya mengalir deras melihat itu.


Di rumah yang berhadapan dengan rumahnya, ada seseorang yang mengarahkan moncong senapan ke kepala Lee Hwan. Dengan tubuh lunglai lemas, Lee Hwan bangkit. Ada sesuatu yang jatuh dari kotak itu. Lee Hwan menunduk untuk mengambilnya. Tiba-tiba, terdengar tembakan yang mengenai pintu rumahnya. Lee Hwan tekejut, serta merta dia mengarahkan pandangannya ke jendela rumah tetangganya. Dia melihat penembak di sana. Si penembak mengumpat pelan, " Sial, tidak kena!"


Lee Hwan mengambil pistolnya dan segera memasuki rumah tersebut. Dia menendang pintu dan mengarahkan pistolnya ke segala arah. "Keluarlah!" Teriak Lee Hwan.


Rumah tersebut sunyi, seolah tidak ada orang di dalam. Lee Hwan mendengar suara dari lantai dua di rumah itu. Dia menaiki tangga dengan hati-hati karena tidak ingin menimbulkan suara. Satu per satu kamar diperiksanya. Dia tiba di kamar tempat si penembak membidik kepalanya tadi. Namun, tidak ada siapa pun di dalam.


Ketika Lee Hwan berbalik, pukulan keras dia terima tepat di wajahnya. Pistol yang dia bawa terlempar. Lee Hwan segera melawan penembak itu. Perkelahian pun terjadi.


Barang-barang di kamar itu berjatuhan dan pecah karena perkelahian tersebut. Lee Hwan berhasil mengalahkan orang itu. Dia membenturkan tubuh pria itu ke dinding beberapa kali.


"Katakan! Siapa yang menyuruhmu! Apakah Atherio?!" Teriak Lee Hwan di wajah pria itu. Bukannya menjawab, pria itu tertawa pelan lalu makin keras. "Kau sendirian, kau tidak bisa apa-apa."


Sekali lagi Lee Hwan membenturkan kepala pria itu ke dinding, "Jawab aku!"


Pria itu membuka jas hitamnya. Terdapat bom di tubuhnya. Lee Hwan terbelalak, "Bom bunuh diri." Lee Hwan membuka bom tersebut dari tubuh pria itu. Pria itu tertawa mengerikan.


Tinggal beberapa detik lagi bom itu akan meledak. Lee Hwan menampar wajah pria itu agar berhenti tertawa. Dia berhasil melepaskan bom dari tubuh pria itu dan melemparnya ke luar. Tidak terjadi ledakkan sama sekali. Sambil tersenyum, pria itu menunjukkan tombol bom tersebut di tangannya. Lee Hwan membelalak sambil menggeleng. Pria itu menekannya. Lee Hwan menutup kedua telinganya. Tidak terjadi ledakkan. Namun dia merasa rumah tersebut bergetar.


Lee Hwan baru menyadari, jika bom tadi adalah pengecoh. Bom asli ada di dasar rumah tersebut dan sebentar lagi akan meledak. Lee Hwan membawa tubuh pria itu keluar dari rumah tersebut lewat jendela. Sebelum melompat, rumah itu meledak Lee Hwan dan tubuh pria itu terlempar ke semak-semak di halaman rumah tersebut. Dengan mata kepalanya, Lee Hwan melihat jelas proses meledaknya rumah itu. Dia berusaha menarik tubuh pria itu dari semak-semak, namun kakinya tersangkut. Lee Hwan melihat pria itu sudah tidak bisa diselamatkan. Terpaksa dia menyelamatkan diri dengan berlari menuju rumahnya.


Baru beberapa langkah, mobil baru milik Lee Hwan yang terparkir di halaman rumahnya meledak. Lee Hwan terpental ke jalanan. Dia meringis dan menyaksikan rumahnya roboh karena ledakkan. Lee Hwan menggeleng cepat. Suara bising yang mendengung memenuhi indra pendengarannya. Darah segar mengalir dari telinganya. Dia tersungkur dan tak sadarkan diri.


◆◇◆


 


 


Di rumah sakit,


Christian menatap wajah kakaknya. Terdapat perban yang menutupi luka serius di wajahnya. Pria itu tampak tenang dengan mata tertutup terbaring lemah di ranjang kamar rawat. Chris menghela napas berat.


Tiba-tiba Lee Hwan membuka matanya. Chris terkejut dan bangkit untuk memanggil perawat. Tapi, genggaman tangan Lee Hwan membuat niatnya urung dilakukan.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Lee Hwan dengan suara serak. Chris kembali duduk, "Seharusnya aku yang bertanya. Kakak baik-baik saja?"


"Aku hampir mati," gumam Lee Hwan. Ingatan itu kembali berputar di kepalanya, "Mobil baruku.. rumah kita.."


Chris menggeleng cepat, "Kakak, jangan memikirkan hal lain. Sekarang kau harus tenang agar kau cepat sembuh."


"Atherio.. aku yakin, dia yang melakukan semua ini." Lee Hwan bergerak ingin bangun, tapi dia meringis merasakan kesakitan di seluruh tubuhnya. Chris membantu kakaknya untuk kembali berbaring.


"Polisi sedang menangani masalah ini. Kau tidak perlu repot-repot pergi. Bergerak saja susah." Mendengar ucapan Chris, Lee Hwan merasa sedikit lega.


Chris menundukkan kepalanya, "Ini salahku. Seandainya aku mengatakan semuanya padamu, semua ini tidak akan terjadi. Tidak akan ada korban yang meninggal."


Lee Hwan mengusap rambut adiknya. Chris terkejut, tidak biasanya Lee Hwan bersikap lembut padanya. "Jangan salahkan dirimu, simpan semua yang kau ketahui. Percuma meski aku menyelidiki kasus ini sampai tuntas. Mereka memiliki banyak koneksi dengan kepolisian."


Christian mengernyit mendengar ucapan kakaknya. Lee Hwan kembali berkata, "Pria itu tidak mungkin meninggal karena keracunan. Seseorang telah meracuninya untuk menghilangkan saksi." Lee Hwan teringat kejadian di ruang interogasi ketika pria itu kejang-kejang sampai meninggal dengan mulut berbusa.


"Apa yang akan Kakak lakukan setelah ini?" Tanya Chris. "Aku akan berhenti menyelidiki kasus ini. Aku akan mengundurkan diri dari kepolisian."


Chris tercengang dengan jawaban kakaknya. Dia tidak mengira Lee Hwan akan putus asa. Dia merasa tidak bisa melihat Lee Hwan pada diri kakaknya yang sekarang ini.

__ADS_1


Chris berdiri dari tempat duduknya, "Mana jiwa predator-mu, Kak? Apakah sampai sini keberanianmu? Atherio sudah keterlaluan. Jika Kakak ingin berhenti menjadi polisi, siapa yang akan menangkap Atherio? Kakak sendiri yang bilang, dia memiliki banyak koneksi. Mereka tidak akan menangkapnya." Chris mengepalkan tangannya geram. Dengan ekspresi konyol, Lee Hwan menatap adiknya yang sedang berkicau.


◆◇◆


 


 


Lee Hwan dan Chris tinggal di apartemen karena rumah mereka yang meledak sedang direnovasi. Mereka ingin rumah tersebut bisa segera utuh sebelum ibunya kembali dari luar kota. Kecuali, ibunya mendapat berita dari televisi.


 


 


Saat ini, Lee Hwan dan Chris sedang menemui Jang Eun, istrinya Jae Hyung. Wanita itu tidak bisa berhenti menangis, bahkan ketika mereka berdua mengunjungi rumahnya. Lee Hwan merasa sangat bersalah. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa kepada Jang Eun.


Di dalam taksi, kedua laki-laki itu sedang fokus dengan pikiran masing-masing. Tidak ada yang berniat memulai pembicaraan untuk menghilangkan kesunyian yang semakin mencekam.


Setibanya di apartemen, mereka berdua menghempaskan diri ke sofa. Lee Hwan bergumam kecil, "Aku menyesal telah menyuruh Jae Hyung pergi. Seharusnya aku yang pergi.."


Chris menatap kakaknya yang tampak begitu tertekan. ".. melihat Jang Eun seperti itu, rasanya aku sudah merampas kebahagiaan mereka."


Hening.


Detik jarum jam terdengar menggema di ruangan tersebut. Lee Hwan mengusap dadanya. Namun tangannya menyentuh sesuatu di dalam saku kemeja yang dia kenakan. Lee Hwan mengambilnya, ternyata benda berbentuk seperti pemantik api. Terdapat tombol merah di benda tersebut. Dia ingat, benda itu ditemukannya ketika mendapatkan paket berupa kepala Jae Hyung di dalam kotak.


"Apa itu, Kak?" Tanya Chris. "Aku tidak tahu."


Chris menekan tombol tersebut dan terdengar bunyi gemuruh dari alat tersebut. Seketika Lee Hwan melemparnya ke lantai.


"Krssshakk.. Hwan! Hentikan misimu! Mereka sangat berbahaya! Mereka bukan lawan yang sepadan! Krkskssk.." Lee Hwan terbelalak mendengar suara orang yang dia kenal, Jae Hyung. Chris tidak kalah kaget, dia menatap kakaknya yang membeku.


"... krrskskkskk.. Hwan! Jaga Jang Eun! Dia sedang mengandung putraku! Krsksks.." Lee Hwan gemetar mendengarnya. Chris menelan saliva karena ketakutan.


".. krksksk.. Pak Polisi, aku sarankan agar kau tidak ikut campur. Sampai di sini saja.." Itu suara Atherio. Kedua mata Chris melebar. Kedua bersaudara itu saling pandang.


".. sampai jumpa... krksksksksk... tiitt.. tiitt.." Chris dan Lee Hwan panik mendengar suara menyerupai bom yang akan meledak dari benda tersebut. Mereka berdua segera berlari ke dapur dan membawa wajan besar.


Tiitt


Tiitt


Lee Hwan melompat menutupi benda tersebut dengan wajan sambil menindihnya.


Tit tit tit tit.. Tiiiiiiiittt


"Tiarap!" Teriak Lee Hwan. Chris bertiarap dibalik sofa. Ledakkan pun terjadi, Lee Hwan terpelanting ke dinding membuat beberapa bingkai berjatuhan ke lantai dan pecah. Chris bangkit dan melihat keadaan. Semuanya baik-baik saja. Dia berlari menghampiri kakaknya. Lee Hwan meringis sambil memegang perutnya. Chris membantu kakaknya berdiri. Ada luka bakar di tangannya. Lengan bajunya yang panjang juga terbakar. Chris memadamkan api kecil di baju Lee Hwan dengan tangannya.


Lee Hwan mengumpat kesal, "Ah, sial.. mereka selalu mengirimkan ledakkan. Bisa-bisa telingaku mengalami tuli parsial." Chris mendudukkan kakaknya ke sofa.


"Atherio benar-benar keterlaluan," gumam Chris.


◆◇◆


Christian yang baru keluar dari kelasnya terlihat begitu lelah karena kegiatan pembelajaran yang begitu padat. Dia melangkah melewati gerbang sekolah. Tangannya melambai untuk memberhentikan taksi. Ketika dia membuka pintu taksi, seseorang memanggil namanya, "Chris."


Laki-laki itu menoleh. Seseorang dengan hoodie putih berdiri tidak jauh darinya. Chris mendekat untuk melihat dengan jelas siapa orang itu. Matanya membulat sempurna, "Atherio.."


"Kau baik-baik saja?" Tanya Atherio.


Chris menautkan alisnya geram mendengar pertanyaan konyol yang terlontar dari mulut temannya itu. Dia menatap Atherio, "Kau ingin aku mati karena ledakan itu?"


"Aku tidak suka dengan apa yang dilakukan kakakmu. Dia tidak sopan mengirimkan mata-mata ke rumahku. Ini peringatan dariku, berhenti berpikir untuk menangkapku. Jika kakakmu terus berusaha, dia akan berakhir sama seperti Jae Hyung."

__ADS_1


Chris mencerna ucapan Atherio, "Secara tidak langsung, baru saja kau mengakui perbuatanmu."


"Mulai saat ini, hubungan pertemanan kita berakhir. Jika suatu hari nanti kita bertemu, kita bukan teman lagi. Kita adalah musuh." Setelah mengatakan itu, Atherio berbalik meninggalkan Chris yang berdiri membeku.


"Atherio! Berhenti!"


Laki-laki itu tidak mengindahkan teriakan Chris yang terlihat marah. Chris menghentakkan kakinya karena kesal.


"Atherio! Jika suatu hari nanti kita bertemu, jangan salahkan aku yang akan menangkapmu dengan tanganku sendiri!" Teriak Chris.


Langkah Atherio terhenti. Dia mendecih, "Aku menunggumu." Chris terkejut mendengar tanggapan Atherio. Dia berlari untuk mengejar Atherio, tapi benda tumpul menghantam kepalanya. Chris jatuh tak sadarkan diri.


Kedua mata kecil itu menunjukkan manik bening yang tersembunyi dibalik kelopaknya. Chris telah bangun. Dia melihat ke sekeliling. Ternyata dirinya tengah terbaring di kamarnya. Dia ingat kejadian terakhir yang menimpanya sore ini. Setelah bertemu dan berbicara dengan Atherio, seseorang memukul kepalanya dengan cukup keras.


Pintu kamarnya terbuka. Chris menoleh sambil meringis menyentuh kepalanya yang sakit. Ternyata Lee Hwan yang masuk.


"Kepalamu sakit?" Lee Hwan bertanya sambil duduk di tepi ranjang. Chris mengangguk pelan.


"Pak Dong Wook menelepon, dia menemukanmu tergeletak tak sadar. Apa yang terjadi?" Tanya Lee Hwan.


Chris bergumam kecil, "Atherio.." Mendengar nama itu, Lee Hwan terlihat marah.


"Apa dia yang melakukan ini?!"


"Tidak, Kak. Tadi aku bicara dengannya. Saat dia pergi, seseorang memukul kepalaku dengan keras."


"Beruntung mereka tidak membunuhmu! Aku khawatir! Lain kali aku akan menjemputmu!"


Chris menatap kakaknya yang terlihat marah dan cemas. Dia tersenyum, "Memangnya Kakak akan menjemputku memakai apa? Mobil baru Kakak yang belum dipakai sudah meledak."


Lee Hwan terdiam lalu menghembuskan napas kasar. Dia menepuk dahi adiknya, "Aku akan membeli lagi."


Chris meringis sambil mengusap dahinya, "Memangnya kau punya uang dari mana?"


"Ah, lupakan soal mobil itu. Ketika bertemu dengan Atherio, dia bilang apa padamu?"


"Dia tidak ingin ditangkap. Dia mengancam akan melakukan hal yang sama seperti apa yang dia lakukan pada kak Jae Hyung."


"Anak itu!" Lee Hwan memukul telapak tangannya.


"Aku akan menangkapnya dengan tanganku sendiri." Chris mengepalkan tangannya.


Lee Hwan menatap adiknya dengan kedua alis terangkat, "Apa maksudmu? Aku tidak akan mengizinkanmu menangkap dia! Itu berbahaya!"


"Aku tidak peduli! Aku harus melakukannya!"


"Apa kau sudah tidak waras?!"


"Aku akan menjadi polisi."


◆◇◆


"Sage nicht alles, was du weißt, aber wisse alles, was du sagst."


(Matthias Claudius)


23 Agustus 2019


By Ucu Irna Marhamah


 


 

__ADS_1


__ADS_2