ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]

ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]
Alteration


__ADS_3

"Trau lieber deiner Kraft als deinem Glück."


_Publilius Syrus_


◆◇◆


Semua anggota kelompok


Park duduk rapi di ruang khusus untuk rapat. Mereka berbincang sambil


menanti pemimpin tunggal generasi keenam setelah Park J. A., Atherio


Park.


Kelompok Park memang dikenal sebagai kelompok besar yang sangat disiplin dan teratur. Tentu saja, karena selain pemimpin gangster, Park juga seorang pengusaha besar semasa hidupnya. Caranya menjalankan bisnis di dunia gangster  tidak jauh berbeda seperti memimpin di perusahaan. Ada banyak peraturan yang


dia gunakan di dalam kelompok. Peraturan ketat yang mengikat setiap


anggotanya, termasuk pemimpin. Itulah sebabnya kelompok Park adalah


salah satu kelompok terkuat di Korea.


Atherio memasuki ruang


rapat. Dia memakai setelan berwarna hitam. Laki-laki itu terlihat begitu


dewasa dan mempesona. Wajah tampan itu tampak serius dan berkharisma.


Min Hyuk dan Victor mengikutinya di belakang. Mendadak ruangan menjadi


hening.


Semua anggota berdiri


lalu membungkukkan badan menyambut kedatangannya. Atherio mengedarkan


pandangannya ke setiap penjuru ruangan.


Atherio membuka suara,


"Ini pertama kalinya aku berdiri sendiri sebagai seorang pemimpin.."


suaranya menggema. Ji Hoo dan Carlos mengangguk sembari memperhatikan


Atherio yang memulai pidatonya tanpa basa-basi. Joon Ki dan Esteban


tampak serius mendengarkan.


".. tanpa kakakku. Aku


tahu ini mendadak. Tapi, dalam satu bulan ini aku akan membuat peraturan


baru. Bukan berarti peraturan lama tidak berlaku. Peraturan lama akan


terus berlaku atau direvisi. Kalian tahu, seburuk-buruknya dunia gelap


ini, harus ada peraturan untuk menjaganya agar tetap ada."


Sunyi.


Atherio kembali


mengeluarkan suaranya, "Aku rasa, ini adalah pidato pertamaku ketika


menjadi pemimpin tunggal. Mungkin, ini juga akan menjadi pidato


terakhirku."


Mendadak semua orang


bingung dan bertanya-tanya. Ruangan menjadi sedikit berisik. Gun Seok


menepuk tangannya tiga kali agar semuanya diam. Benar saja, seketika


ruangan kembali senyap.


Atherio mengangguk, "Aku


tidak akan berpidato lagi, karena jika ada hal yang ingin aku


sampaikan, aku akan meminta paman Ji Hoo yang menyampaikannya pada


kalian."


Ji Hoo mengangguk mengerti.


"Aku tidak akan


berhadapan secara langsung dengan kalian. Kecuali jika aku menghukum


seseorang, otomatis aku akan berhadapan dengan orang tersebut."


"Perubahan yang cepat," gumam Carlos. Tidak hentinya dia menatap mata Atherio yang tampak memancarkan sinar harapan besar.


"Aku tidak hanya


menjalankan bisnis di dunia gelap ini. Aku juga harus mengurus


perusahaan ayah dan perlu memulainya lagi dari bawah." Atherio menatap


lurus ke depan sembari menutup mata sejenak.


"Hanya itu yang ingin


aku sampaikan," ucap Atherio mengakhiri pidatonya. Semua anggota


membungkukkan badan. Atherio memberikan kode pada Min Hyuk dan Victor,


langsung di balas anggukan oleh kedua pria itu.


Atherio meninggalkan ruangan.


Hujan deras mengguyur kota Seoul. Tumbuhan hijau di sekitar rumah Park bergoyang-goyang bermandikan air hujan.


Atherio berdiri


membelakangi ketujuh orang kepercayaannya. Tangan kekar itu menyentuh


jendela besar di depannya. Terlihat uap hangat dari tangannya membekas


di jendela.


"Mulai sekarang aku yang akan mengurus semuanya. Aku akan memberikan tempat khusus kepada kalian," ucap Atherio.


Esteban dan Joon Ki


saling pandang. Ji Hoo memasang ekspresi berpikir. Carlos dan Victor


memasang wajah datar. Sementara Gun Seok dam Min Hyuk tidak bergerak


dari posisinya.


"Sebagai putra dari


seorang Park J. A., aku akan tampil seperti pengusaha pada umumnya. Jika


tidak, publik akan curiga dan mulai menyelidiki kita. Aku tidak mau


dunia gelap kita tercium oleh polisi. Aku akan menjalankan bisnis besar


di perusahaan ayah ketika usiaku sudah cukup matang."


Hening.


Atherio yang merasa tidak mendapatkan respon memilih untuk berbalik. Ternyata mereka masih serius mendengarkan.


 


"Aku tidak akan memecahkan tim ini, tapi tugas kalian akan terpisah untuk membentuk tim baru dibawah bimbingan kalian."


"Ah?" Joon Ki bersuara.


Atherio menoleh kearahnya, "Ada yang ingin kau katakan, Paman Joon Ki?"


keenam pria lainnya juga menoleh pada Joon Ki.


Pria itu segera menggeleng menjawab pertanyaan Atherio.


"Besok


kalian akan mendapatkan tugas baru dariku. Ini sudah larut, selamat


malam." Atherio berlalu setelah ketujuh pria itu membungkuk hormat


padanya.


Seperti yang dikatakan Atherio semalam. Keesokan harinya, ketujuh pria itu mendapatkan tugas baru dari pemimpin mereka.


Ji


Hoo bertugas menyampaikan pesan dari Atherio kepada anggota lain. Dia


juga bertanggung jawab mengawasi anggota lainnya yang bertugas.


Tugas


Victor adalah melatih kemampuan bela diri pasukan khususnya yang baru

__ADS_1


saja di bentuk. Lalu tugas Gun Seok masih sama, memimpin pasukan


khususnya yang lama. Carlos bertugas mengajarkan anggota lainnya dalam


strategi. Min Hyuk bertugas membimbing anggota lainnya dalam mempelajari


bahasa asing. Tugas Joon Ki adalah membentuk ahli komputer dan


mengajarkan mereka untuk menguasai teknologi canggih. Terakhir Esteban,


tugasnya masih sama yaitu mengatur persenjataan dan penjualannya.


Tugas Atherio?


Untuk


saat ini tugas utamanya adalah belajar dan mempersiapkan diri masuk ke


dua dunia barunya nanti. Dia berjanji akan menjadi lebih baik dari


ayahnya.


◆◇◆


Sementara itu, bagaimana kabar So Yeon?


Benar, seperti dugaan sebelumnya. Dia di bully oleh


para siswi yang mengidolakan Atherio karena dianggap telah membuat


masalah yang menyebabkan Atherio pindah sekolah. Namun, beruntung ada


Christian yang membantunya dalam masa sulit itu.


Keduanya berteman baik.


Sebenarnya Christian juga mendapatkan masalah setelah dia kembali dari rumah Atherio.


***


Di rumah Chris yang sepi,


mobil


hitam memasuki pelataran rumah tersebut. Remaja laki-laki itu turun


dari mobil. Tak lain dia adalah Chris. Atherio menganggukkan kepalanya


sambil melihat temannya itu. Di balas dengan hal yang sama oleh Chris.


Mobil hitam tersebut berbalik meninggalkan Chris sendirian di rumahnya.


Chris bergumam, "Teman.. aku memiliki seorang teman, dan kini aku sendiri lagi."


Tanpa


dia sadari, seseorang siap menarik pelatuk senapan sambil membidik


kepalanya. Chris melihat tali sepatunya yang terlepas. Dia berjongkok


untuk membenarkannya.


Peluri melesat tanpa suara.


Tembakan pembunuh berpakaian lengkap itu meleset, "sial!"


Chris


terkejut, dia melihat ke semak belukar tempat pembunuh itu bersembunyi.


Kedua matanya terbelalak. Rumahnya telah di kepung oleh pembunuh


bayaran yang siap membunuhnya kapan saja.


Tanpa


pikir panjang, Chris berlari memasuki rumahnya di susul tembakan yang


beruntun. Dia segera menutup pintu dengan jantung berdegup kencang


karena ketakutan. Empat pembunuh itu keluar dari tempat persembunyian


dan menodongkan senapan ke pintu.


Chris bergumam pelan, "Aku tidak bisa mendengar suara letupan senjata mereka. Tapi, aku bisa mendengar suara pelatuknya."


Mereka menembaki pintu sampai rusak dan masuk. Tidak ada Christian di dalam.


Tiba-tiba,


yang lainnya malah kabur ke belakang rumah. Polisi itu menarik penutup


mulut pembunuh di depannya, namun tidak berhasil. Pembunuh itu


menaburkan bubuk ke mata polisi dan segera lari menyusul teman-temannya.


Sementara polisi itu meringis sambil mengucek matanya.


Chris menghampiri polisi itu dan membantunya berdiri.


Tertera nama Lee Hwan di seragam yang dikenakannya. Pria itu membasuk wajahnya di wastafel dapur. Chris memperhatikan pria itu.


Lee Hwan langsung menelepon rekannya sembari mengambil handuk. Selesai menelepon, dia menatap Chris.


"Siapa


mereka, Chris? Kenapa mereka mau membunuhmu? Apa yang terjadi?"


Rentetan pertanyaan itu keluar setelah dia mengusap wajah tampannya


dengan handuk putih.


"Aku tidak tahu," jawaban simpel yang didapatkan Lee Hwan. Tiga kata yang menjawab tiga pertanyaannya.


Lee


Hwan melempar handuknya ke meja makan, "Aku mencemaskanmu! Kau


sendirian di rumah, bagaimana jika salah satu dari mereka berhasil


menembakmu? Kau akan menjadi babi panggang."


Sebenarnya


Chris juga masih terguncang karena kejadian barusan. Tapi, dia berusaha


terlihat baik-baik saja atau Lee Hwan akan terus mengintrogasinya


semalaman.


"Kapan


Kakak pulang?" Chris bertanya pada kakaknya. "Beberapa hari yang lalu


aku sudah tiba di sini dan aku panik mengetahui kau tidak ada di rumah."


Chris terdiam, seharusnya dia tidak menanyakan pertanyaan barusan.


"Aku


bertanya pada salah satu temanmu, dia bilang kau sering bersama anaknya


Park J. A.," ucap Lee Hwan setengah bertanya. Pria itu menuangkan air


ke dalam gelas.


Chris mengusap rambutnya yang berkeringat, "Iya."


"Kau pernah dengar berita tentang Park J. A.? Pria itu gangster. Menghalalkan


segala cara untuk mendapatkan banyak uang. Termasuk menjual obat


terlarang, menjual organ tubuh manusia, menjual senjata secara ilegal,


dan masih banyak lagi."


Chris membuang napas kasar, "Aku pernah mendengarnya. Aku tidak berteman dekat dengan Atherio."


"Benarkah? Lalu kenapa kau menginap di rumahnya?" Lee Hwan bertanya sambil menatap adiknya. Dia meneguk air sampai habis.


Tidak ada jawaban dari Chris.


Lee


Hwan mendecih kesal. Dia meletakkan gelas kosong ke meja dengan kasar.


Pria itu kembali menatap adiknya, "Berniat membohongiku? Tidak ada


gunanya, Christian Lee."


"Apa kau telah membuat kesalahan sehingga mereka mengirim pembunuh bayaran untuk menembakmu?"


"Kakak, berhenti mengintrogasiku! Aku sudah bilang kalau aku tidak tahu."


Ponsel


Lee Hwan bergetar. Dia langsung mengangkat panggilannya. Terjadi

__ADS_1


percakapan yang singkat tentang penembakan yang baru saja terjadi.


"Siapa yang berniat menembakku? Apakah itu gangster?" Tanya Chris setelah melihat Lee Hwan mengakhiri pembicaraan di telepon.


"Bukan,


tapi sepertinya musuh kelompok Park. Mungkin mereka melihatmu bersama


Atherio dan berniat melakukan sesuatu kepadamu untuk mendapatkan reaksi


dari Atherio."


Chris tampak berpikir. Beberapa polisi yang ditelepon oleh Lee Hwan datang untuk memeriksa keadaan mereka.


***


Lee Hwan akan tinggal di Seoul. Dia mengaku sedang diliburkan selama beberapa minggu oleh kepolisian Daegu.


"Liburan? Lalu kenapa Kakak memilih pulang ke rumah? Kenapa tidak liburan di tempat lain?" Tanya Chris dengan nada ketus.


Lee


Hwan mendelik kearah adiknya, "Aku tahu ibu tidak sedang berada di


rumah. Jadi, aku harus menjagamu. Ngomong-ngomong, kenapa pertanyaanmu


barusan itu seolah tidak senang aku ada di sini."


Iya, akan lebih baik jika kau tidak ada di sini, batin Chris. "Pekerjaanmu pasti berat. Jadi, aku menyarankan agar kau berlibur."


Lee Hwan mendorong dahi adiknya, "Jika aku memilih pantai sebagai tempat liburan, maka kau akan mati konyol kemarin."


Chris memukul tangan Lee Hwan lalu mengusap dahinya.


Chris jadi teringat dengan ucapan Atherio di mobil saat mengantarnya pulang. "Mungkin


ada beberapa musuhku yang melihatmu bersamaku. Bisa saja mereka


menargetmu sanderaan atau memberikan banyak pertanyaan tentangku padamu.


Setelah mereka mendapatkan informasi yang cukup, mereka akan


membunuhmu.."


Chris tidak mengerti


dengan kehidupan sulit Atherio yang tidak bisa diprediksi. Di mata


Chris, apa yang dilakukan Atherio dan Atherina terlihat seperti


kejahatan yang disembunyikan.


".. kau tenang saja, aku akan melindungimu dengan mengirimkan bodyguard untuk mengamatimu dari dekat. Ketiga bodyguard itu akan menjadi tetanggamu, jangan khawatir."


Sebenarnya, ketika pembunuh itu menaburkan bubuk ke mata Lee Hwan, ketiga bodyguard yang dikirim Atherio berhasil menyeret pembunuh lainnya yang lebih dari


7 orang. Kenapa mereka tidak menolong Chris ketika ada yang membidik


kepalanya? Mereka tidak mungkin menunjukkan diri ketika ada Lee Hwan di


rumah itu. Ingat, Lee Hwan sudah ada di rumah sebelum Chris pulang. Para bodyguard mengawasi dengan hati-hati agar tidak dicurigai Lee Hwan yang merupakan seorang polisi.


Lee Hwan menepuk


tangannya di depan wajah Chris. Laki-laki itu terhenyak. "Kenapa


melamun?" Lee Hwan bertanya dengan nada kesal.


Chris menatap kakaknya dengan serius, "Kak.." pria itu menatap adiknya.


".. Kakak tidak tinggal


di sini untuk misi, kan?" Pertanyaan Chris membuat ekspresi keterkejutan


terpampang jelas di wajah Lee Hwan. Chris memegang tangan kakaknya,


"Misi apa, Kak? Menyelidiki keluarga Park?"


Lee Hwan menepis tangan adiknya, "Ini urusanku." Pria itu berlalu meninggalkan Chris yang dipenuhi rasa curiga.


"Kakak, jawab aku!"


Lee Hwan berhenti dan berkata, "Aku tahu, kau sedang berusaha melindungi Atherio."


Chris terdiam. Dia merasa jika dirinya memang melindungi temannya itu secara tidak langsung.


"Jujur saja, aku datang


kemari bukan hanya menyelidiki keluarga Park dan kelompoknya. Aku juga


sedang menyelidiki kelompok lain.." Seketika Chris menatap wajah


kakaknya.


"Selama penyelidikan ini berlangsung, kau sebagai saksi akan mendapatkan pengawasanku." Lee Hwan melanjutkan langkahnya.


Chris melelapkan wajahnya ke meja. Banyak hal yang berputar di kepalanya.


"Atherio, sebenarnya kau ini siapa?"


"Menurutmu aku ini apa?"


"Kau temanku."


"Baguslah jika kau berpikir begitu."


"Yang mereka katakan tentang keluargamu itu tidak benar, kan?"


"Apa yang mereka katakan?"


"Kalian keluarga gangster."


"Jika itu benar, bagaimana?"


"Tidak mungkin! Itu tidak benar."


"Terserah padamu kau menganggapku apa."


Chris bergumam pelan, "Apa yang harus aku lakukan?"


Di tempat lain,


So Yeon *** kertas di tangannya. Air matanya menetes membasahi


pipinya. Gadis itu melempar kertas yang sudah kusut itu ke tempat


sampah. Dalam kertas itu ternyata terukir sketsa wajah Atherina yang


masih kecil. Ada tulisan hangeul di sudut kertas bertuliskan 'Aku mencintaimu selamanya, kak Nana. Atherio'.


So Yeon berlari memasuki kamarnya sambil menangis. Dia melempar


kacamatanya ke sembarang arah. Gadis itu suka mencari informasi tentang


Atherio. Dia pernah menggeledah isi tas milik Atherio. Dia juga sering


melewati rumah Atherio hanya untuk memastikan keberadaan Atherio. Dia


sudah benar-benar terobsesi dengan Atherio. Isi kepalanya dipenuhi semua


hal tentang Atherio.


Lalu, bagaimana bisa dia mendapatkan sketsa wajah Atherina?


Ketika Atherio datang


kesiangan dan memintanya membawakan tas lewat jendela, So Yeon melihat


kertas itu dari tas Atherio yang sedikit terbuka. Dia mengambilnya dan


melihatnya di rumah. Awalnya dia berpikir cinta Atherio pada Atherina


hanya sebatas adik kakak yang begitu dekat, namun belakangan ini dia


jadi mengerti lewat ekspresi dan ucapan laki-laki itu ketika


membicarakan kakaknya.


So Yeon menatap pantulan


wajahnya di cermin. Dia tampak lebih cantik ketika tidak mengenakan


kacamata. Walaupun wajahnya terlihat kacau karena menangis.


"Tidak bisa begini,"


◆◇◆


 


20 Agustus 2019


By Ucu Irna Marhamah


 


 

__ADS_1


__ADS_2