![ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]](https://asset.asean.biz.id/atherio-park--sudah-terbit-.webp)
"Trau lieber deiner Kraft als deinem Glück."
_Publilius Syrus_
◆◇◆
Semua anggota kelompok
Park duduk rapi di ruang khusus untuk rapat. Mereka berbincang sambil
menanti pemimpin tunggal generasi keenam setelah Park J. A., Atherio
Park.
Kelompok Park memang dikenal sebagai kelompok besar yang sangat disiplin dan teratur. Tentu saja, karena selain pemimpin gangster, Park juga seorang pengusaha besar semasa hidupnya. Caranya menjalankan bisnis di dunia gangster tidak jauh berbeda seperti memimpin di perusahaan. Ada banyak peraturan yang
dia gunakan di dalam kelompok. Peraturan ketat yang mengikat setiap
anggotanya, termasuk pemimpin. Itulah sebabnya kelompok Park adalah
salah satu kelompok terkuat di Korea.
Atherio memasuki ruang
rapat. Dia memakai setelan berwarna hitam. Laki-laki itu terlihat begitu
dewasa dan mempesona. Wajah tampan itu tampak serius dan berkharisma.
Min Hyuk dan Victor mengikutinya di belakang. Mendadak ruangan menjadi
hening.
Semua anggota berdiri
lalu membungkukkan badan menyambut kedatangannya. Atherio mengedarkan
pandangannya ke setiap penjuru ruangan.
Atherio membuka suara,
"Ini pertama kalinya aku berdiri sendiri sebagai seorang pemimpin.."
suaranya menggema. Ji Hoo dan Carlos mengangguk sembari memperhatikan
Atherio yang memulai pidatonya tanpa basa-basi. Joon Ki dan Esteban
tampak serius mendengarkan.
".. tanpa kakakku. Aku
tahu ini mendadak. Tapi, dalam satu bulan ini aku akan membuat peraturan
baru. Bukan berarti peraturan lama tidak berlaku. Peraturan lama akan
terus berlaku atau direvisi. Kalian tahu, seburuk-buruknya dunia gelap
ini, harus ada peraturan untuk menjaganya agar tetap ada."
Sunyi.
Atherio kembali
mengeluarkan suaranya, "Aku rasa, ini adalah pidato pertamaku ketika
menjadi pemimpin tunggal. Mungkin, ini juga akan menjadi pidato
terakhirku."
Mendadak semua orang
bingung dan bertanya-tanya. Ruangan menjadi sedikit berisik. Gun Seok
menepuk tangannya tiga kali agar semuanya diam. Benar saja, seketika
ruangan kembali senyap.
Atherio mengangguk, "Aku
tidak akan berpidato lagi, karena jika ada hal yang ingin aku
sampaikan, aku akan meminta paman Ji Hoo yang menyampaikannya pada
kalian."
Ji Hoo mengangguk mengerti.
"Aku tidak akan
berhadapan secara langsung dengan kalian. Kecuali jika aku menghukum
seseorang, otomatis aku akan berhadapan dengan orang tersebut."
"Perubahan yang cepat," gumam Carlos. Tidak hentinya dia menatap mata Atherio yang tampak memancarkan sinar harapan besar.
"Aku tidak hanya
menjalankan bisnis di dunia gelap ini. Aku juga harus mengurus
perusahaan ayah dan perlu memulainya lagi dari bawah." Atherio menatap
lurus ke depan sembari menutup mata sejenak.
"Hanya itu yang ingin
aku sampaikan," ucap Atherio mengakhiri pidatonya. Semua anggota
membungkukkan badan. Atherio memberikan kode pada Min Hyuk dan Victor,
langsung di balas anggukan oleh kedua pria itu.
Atherio meninggalkan ruangan.
Hujan deras mengguyur kota Seoul. Tumbuhan hijau di sekitar rumah Park bergoyang-goyang bermandikan air hujan.
Atherio berdiri
membelakangi ketujuh orang kepercayaannya. Tangan kekar itu menyentuh
jendela besar di depannya. Terlihat uap hangat dari tangannya membekas
di jendela.
"Mulai sekarang aku yang akan mengurus semuanya. Aku akan memberikan tempat khusus kepada kalian," ucap Atherio.
Esteban dan Joon Ki
saling pandang. Ji Hoo memasang ekspresi berpikir. Carlos dan Victor
memasang wajah datar. Sementara Gun Seok dam Min Hyuk tidak bergerak
dari posisinya.
"Sebagai putra dari
seorang Park J. A., aku akan tampil seperti pengusaha pada umumnya. Jika
tidak, publik akan curiga dan mulai menyelidiki kita. Aku tidak mau
dunia gelap kita tercium oleh polisi. Aku akan menjalankan bisnis besar
di perusahaan ayah ketika usiaku sudah cukup matang."
Hening.
Atherio yang merasa tidak mendapatkan respon memilih untuk berbalik. Ternyata mereka masih serius mendengarkan.
"Aku tidak akan memecahkan tim ini, tapi tugas kalian akan terpisah untuk membentuk tim baru dibawah bimbingan kalian."
"Ah?" Joon Ki bersuara.
Atherio menoleh kearahnya, "Ada yang ingin kau katakan, Paman Joon Ki?"
keenam pria lainnya juga menoleh pada Joon Ki.
Pria itu segera menggeleng menjawab pertanyaan Atherio.
"Besok
kalian akan mendapatkan tugas baru dariku. Ini sudah larut, selamat
malam." Atherio berlalu setelah ketujuh pria itu membungkuk hormat
padanya.
Seperti yang dikatakan Atherio semalam. Keesokan harinya, ketujuh pria itu mendapatkan tugas baru dari pemimpin mereka.
Ji
Hoo bertugas menyampaikan pesan dari Atherio kepada anggota lain. Dia
juga bertanggung jawab mengawasi anggota lainnya yang bertugas.
Tugas
Victor adalah melatih kemampuan bela diri pasukan khususnya yang baru
__ADS_1
saja di bentuk. Lalu tugas Gun Seok masih sama, memimpin pasukan
khususnya yang lama. Carlos bertugas mengajarkan anggota lainnya dalam
strategi. Min Hyuk bertugas membimbing anggota lainnya dalam mempelajari
bahasa asing. Tugas Joon Ki adalah membentuk ahli komputer dan
mengajarkan mereka untuk menguasai teknologi canggih. Terakhir Esteban,
tugasnya masih sama yaitu mengatur persenjataan dan penjualannya.
Tugas Atherio?
Untuk
saat ini tugas utamanya adalah belajar dan mempersiapkan diri masuk ke
dua dunia barunya nanti. Dia berjanji akan menjadi lebih baik dari
ayahnya.
◆◇◆
Sementara itu, bagaimana kabar So Yeon?
Benar, seperti dugaan sebelumnya. Dia di bully oleh
para siswi yang mengidolakan Atherio karena dianggap telah membuat
masalah yang menyebabkan Atherio pindah sekolah. Namun, beruntung ada
Christian yang membantunya dalam masa sulit itu.
Keduanya berteman baik.
Sebenarnya Christian juga mendapatkan masalah setelah dia kembali dari rumah Atherio.
***
Di rumah Chris yang sepi,
mobil
hitam memasuki pelataran rumah tersebut. Remaja laki-laki itu turun
dari mobil. Tak lain dia adalah Chris. Atherio menganggukkan kepalanya
sambil melihat temannya itu. Di balas dengan hal yang sama oleh Chris.
Mobil hitam tersebut berbalik meninggalkan Chris sendirian di rumahnya.
Chris bergumam, "Teman.. aku memiliki seorang teman, dan kini aku sendiri lagi."
Tanpa
dia sadari, seseorang siap menarik pelatuk senapan sambil membidik
kepalanya. Chris melihat tali sepatunya yang terlepas. Dia berjongkok
untuk membenarkannya.
Peluri melesat tanpa suara.
Tembakan pembunuh berpakaian lengkap itu meleset, "sial!"
Chris
terkejut, dia melihat ke semak belukar tempat pembunuh itu bersembunyi.
Kedua matanya terbelalak. Rumahnya telah di kepung oleh pembunuh
bayaran yang siap membunuhnya kapan saja.
Tanpa
pikir panjang, Chris berlari memasuki rumahnya di susul tembakan yang
beruntun. Dia segera menutup pintu dengan jantung berdegup kencang
karena ketakutan. Empat pembunuh itu keluar dari tempat persembunyian
dan menodongkan senapan ke pintu.
Chris bergumam pelan, "Aku tidak bisa mendengar suara letupan senjata mereka. Tapi, aku bisa mendengar suara pelatuknya."
Mereka menembaki pintu sampai rusak dan masuk. Tidak ada Christian di dalam.
Tiba-tiba,
yang lainnya malah kabur ke belakang rumah. Polisi itu menarik penutup
mulut pembunuh di depannya, namun tidak berhasil. Pembunuh itu
menaburkan bubuk ke mata polisi dan segera lari menyusul teman-temannya.
Sementara polisi itu meringis sambil mengucek matanya.
Chris menghampiri polisi itu dan membantunya berdiri.
Tertera nama Lee Hwan di seragam yang dikenakannya. Pria itu membasuk wajahnya di wastafel dapur. Chris memperhatikan pria itu.
Lee Hwan langsung menelepon rekannya sembari mengambil handuk. Selesai menelepon, dia menatap Chris.
"Siapa
mereka, Chris? Kenapa mereka mau membunuhmu? Apa yang terjadi?"
Rentetan pertanyaan itu keluar setelah dia mengusap wajah tampannya
dengan handuk putih.
"Aku tidak tahu," jawaban simpel yang didapatkan Lee Hwan. Tiga kata yang menjawab tiga pertanyaannya.
Lee
Hwan melempar handuknya ke meja makan, "Aku mencemaskanmu! Kau
sendirian di rumah, bagaimana jika salah satu dari mereka berhasil
menembakmu? Kau akan menjadi babi panggang."
Sebenarnya
Chris juga masih terguncang karena kejadian barusan. Tapi, dia berusaha
terlihat baik-baik saja atau Lee Hwan akan terus mengintrogasinya
semalaman.
"Kapan
Kakak pulang?" Chris bertanya pada kakaknya. "Beberapa hari yang lalu
aku sudah tiba di sini dan aku panik mengetahui kau tidak ada di rumah."
Chris terdiam, seharusnya dia tidak menanyakan pertanyaan barusan.
"Aku
bertanya pada salah satu temanmu, dia bilang kau sering bersama anaknya
Park J. A.," ucap Lee Hwan setengah bertanya. Pria itu menuangkan air
ke dalam gelas.
Chris mengusap rambutnya yang berkeringat, "Iya."
"Kau pernah dengar berita tentang Park J. A.? Pria itu gangster. Menghalalkan
segala cara untuk mendapatkan banyak uang. Termasuk menjual obat
terlarang, menjual organ tubuh manusia, menjual senjata secara ilegal,
dan masih banyak lagi."
Chris membuang napas kasar, "Aku pernah mendengarnya. Aku tidak berteman dekat dengan Atherio."
"Benarkah? Lalu kenapa kau menginap di rumahnya?" Lee Hwan bertanya sambil menatap adiknya. Dia meneguk air sampai habis.
Tidak ada jawaban dari Chris.
Lee
Hwan mendecih kesal. Dia meletakkan gelas kosong ke meja dengan kasar.
Pria itu kembali menatap adiknya, "Berniat membohongiku? Tidak ada
gunanya, Christian Lee."
"Apa kau telah membuat kesalahan sehingga mereka mengirim pembunuh bayaran untuk menembakmu?"
"Kakak, berhenti mengintrogasiku! Aku sudah bilang kalau aku tidak tahu."
Ponsel
Lee Hwan bergetar. Dia langsung mengangkat panggilannya. Terjadi
__ADS_1
percakapan yang singkat tentang penembakan yang baru saja terjadi.
"Siapa yang berniat menembakku? Apakah itu gangster?" Tanya Chris setelah melihat Lee Hwan mengakhiri pembicaraan di telepon.
"Bukan,
tapi sepertinya musuh kelompok Park. Mungkin mereka melihatmu bersama
Atherio dan berniat melakukan sesuatu kepadamu untuk mendapatkan reaksi
dari Atherio."
Chris tampak berpikir. Beberapa polisi yang ditelepon oleh Lee Hwan datang untuk memeriksa keadaan mereka.
***
Lee Hwan akan tinggal di Seoul. Dia mengaku sedang diliburkan selama beberapa minggu oleh kepolisian Daegu.
"Liburan? Lalu kenapa Kakak memilih pulang ke rumah? Kenapa tidak liburan di tempat lain?" Tanya Chris dengan nada ketus.
Lee
Hwan mendelik kearah adiknya, "Aku tahu ibu tidak sedang berada di
rumah. Jadi, aku harus menjagamu. Ngomong-ngomong, kenapa pertanyaanmu
barusan itu seolah tidak senang aku ada di sini."
Iya, akan lebih baik jika kau tidak ada di sini, batin Chris. "Pekerjaanmu pasti berat. Jadi, aku menyarankan agar kau berlibur."
Lee Hwan mendorong dahi adiknya, "Jika aku memilih pantai sebagai tempat liburan, maka kau akan mati konyol kemarin."
Chris memukul tangan Lee Hwan lalu mengusap dahinya.
Chris jadi teringat dengan ucapan Atherio di mobil saat mengantarnya pulang. "Mungkin
ada beberapa musuhku yang melihatmu bersamaku. Bisa saja mereka
menargetmu sanderaan atau memberikan banyak pertanyaan tentangku padamu.
Setelah mereka mendapatkan informasi yang cukup, mereka akan
membunuhmu.."
Chris tidak mengerti
dengan kehidupan sulit Atherio yang tidak bisa diprediksi. Di mata
Chris, apa yang dilakukan Atherio dan Atherina terlihat seperti
kejahatan yang disembunyikan.
".. kau tenang saja, aku akan melindungimu dengan mengirimkan bodyguard untuk mengamatimu dari dekat. Ketiga bodyguard itu akan menjadi tetanggamu, jangan khawatir."
Sebenarnya, ketika pembunuh itu menaburkan bubuk ke mata Lee Hwan, ketiga bodyguard yang dikirim Atherio berhasil menyeret pembunuh lainnya yang lebih dari
7 orang. Kenapa mereka tidak menolong Chris ketika ada yang membidik
kepalanya? Mereka tidak mungkin menunjukkan diri ketika ada Lee Hwan di
rumah itu. Ingat, Lee Hwan sudah ada di rumah sebelum Chris pulang. Para bodyguard mengawasi dengan hati-hati agar tidak dicurigai Lee Hwan yang merupakan seorang polisi.
Lee Hwan menepuk
tangannya di depan wajah Chris. Laki-laki itu terhenyak. "Kenapa
melamun?" Lee Hwan bertanya dengan nada kesal.
Chris menatap kakaknya dengan serius, "Kak.." pria itu menatap adiknya.
".. Kakak tidak tinggal
di sini untuk misi, kan?" Pertanyaan Chris membuat ekspresi keterkejutan
terpampang jelas di wajah Lee Hwan. Chris memegang tangan kakaknya,
"Misi apa, Kak? Menyelidiki keluarga Park?"
Lee Hwan menepis tangan adiknya, "Ini urusanku." Pria itu berlalu meninggalkan Chris yang dipenuhi rasa curiga.
"Kakak, jawab aku!"
Lee Hwan berhenti dan berkata, "Aku tahu, kau sedang berusaha melindungi Atherio."
Chris terdiam. Dia merasa jika dirinya memang melindungi temannya itu secara tidak langsung.
"Jujur saja, aku datang
kemari bukan hanya menyelidiki keluarga Park dan kelompoknya. Aku juga
sedang menyelidiki kelompok lain.." Seketika Chris menatap wajah
kakaknya.
"Selama penyelidikan ini berlangsung, kau sebagai saksi akan mendapatkan pengawasanku." Lee Hwan melanjutkan langkahnya.
Chris melelapkan wajahnya ke meja. Banyak hal yang berputar di kepalanya.
"Atherio, sebenarnya kau ini siapa?"
"Menurutmu aku ini apa?"
"Kau temanku."
"Baguslah jika kau berpikir begitu."
"Yang mereka katakan tentang keluargamu itu tidak benar, kan?"
"Apa yang mereka katakan?"
"Kalian keluarga gangster."
"Jika itu benar, bagaimana?"
"Tidak mungkin! Itu tidak benar."
"Terserah padamu kau menganggapku apa."
Chris bergumam pelan, "Apa yang harus aku lakukan?"
Di tempat lain,
So Yeon *** kertas di tangannya. Air matanya menetes membasahi
pipinya. Gadis itu melempar kertas yang sudah kusut itu ke tempat
sampah. Dalam kertas itu ternyata terukir sketsa wajah Atherina yang
masih kecil. Ada tulisan hangeul di sudut kertas bertuliskan 'Aku mencintaimu selamanya, kak Nana. Atherio'.
So Yeon berlari memasuki kamarnya sambil menangis. Dia melempar
kacamatanya ke sembarang arah. Gadis itu suka mencari informasi tentang
Atherio. Dia pernah menggeledah isi tas milik Atherio. Dia juga sering
melewati rumah Atherio hanya untuk memastikan keberadaan Atherio. Dia
sudah benar-benar terobsesi dengan Atherio. Isi kepalanya dipenuhi semua
hal tentang Atherio.
Lalu, bagaimana bisa dia mendapatkan sketsa wajah Atherina?
Ketika Atherio datang
kesiangan dan memintanya membawakan tas lewat jendela, So Yeon melihat
kertas itu dari tas Atherio yang sedikit terbuka. Dia mengambilnya dan
melihatnya di rumah. Awalnya dia berpikir cinta Atherio pada Atherina
hanya sebatas adik kakak yang begitu dekat, namun belakangan ini dia
jadi mengerti lewat ekspresi dan ucapan laki-laki itu ketika
membicarakan kakaknya.
So Yeon menatap pantulan
wajahnya di cermin. Dia tampak lebih cantik ketika tidak mengenakan
kacamata. Walaupun wajahnya terlihat kacau karena menangis.
"Tidak bisa begini,"
◆◇◆
20 Agustus 2019
By Ucu Irna Marhamah
__ADS_1