ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]

ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]
Christian Lee


__ADS_3

"Seseorang akan menjadi lebih kuat ketika dia berusaha melindungi sesuatu yang berharga."


                                                                               _Gun Seok_


◆◇◆


"Apa yang kau lakukan di sini, Chris? Kenapa kau tidak bilang dulu jika kau akan datang kemari?" Atherio memberikan beberapa pertanyaan pada Chris.


Mereka berdua berada di halaman belakang. Chris meletakkan kotak yang sedari tadi dia pegang ke atas meja.


"Selamat ulang tahun" kata Chris semangat. Atherio membuka kotak tersebut tanpa ingat dengan pertanyaan yang sempat dia lontarkan. Isinya kue ulang tahun dengan lilin berbentuk angka 17. Chris bertepuk tangan semangat. Dia menyalakan lilin tersebut.


Setelah meniup lilin, Atherio tersenyum simpul, "Terima kasih, ya."


"Terima kasihnya nanti saja, kau harus memotong kuenya dan memberikan potongan pertamanya pada kakak cantikmu itu."


Atherio memotong kuenya, "Aku sudah mendapatkan kue ulang tahun darinya.. hadiahnya juga.."


.. ciuman manis, sambung Atherio dalam hati. Dia memberikan potongan itu pada Chris.


"Hehe," Christian menerimanya. "Pasti kak Erina yang pertama mengucapkan selamat ulang tahun, ya?"


Atherio mengangguk, "Selalu dia yang pertama, aku tidak akan membiarkan orang lain mengucapkannya lebih dulu sebelum kakakku."


Chris mengangguk paham, "Ibuku pergi keluar kota beberapa minggu, apakah aku boleh menginap di rumahmu? Sebentaaaarrr saja." Chris memperlihatkan puppy eyes-nya.


Atherio menggeleng cepat, "Tidak, kakakku tidak akan mengizinkan orang lain menginap di sini."


"Kalau begitu, aku yang akan meminta izin secara langsung dari kak Erina." Chris beranjak dari tempat duduknya untuk mencari Atherina.


Atherio segera menyusul Chris, dia mengejar Chris yang berlari lebih cepat darinya. Chris menemukan Atherina di dapur. Gadis itu sedang minum jus. Atherio mengejar Chris yang bersembunyi di balik punggung Atherina. Gadis itu terlihat bingung dengan apa yang di lakukan oleh kedua laki-laki yang dua tahun lebih muda darinya itu.


Atherio akan menggapai Chris yang berlindung di balik tubuh Atherina. Atherio harus berhadapan dulu dengan Atherina untuk mendapatkan Christian. Terjadi kontak mata antara Atherio dan Atherina, namun itu hanya berlangsung beberapa saat. Atherina yang memilih mengalihkan pandangannya.


"Kak, Atherio mau menyakitiku." Chris bicara dengan nada manja. Atherina menolehkan kepalanya sejenak pada Chris yang tersenyum manis.


"Rio, kenapa kau mau menyakiti temanmu?" Tanya Atherina dengan menekan kata 'teman'.


"Aku.." Belum sempat Atherio melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba Chris tertawa terbahak-bahak. Atherio menatap kesal pada temannya itu.


"Rio? Hahaaaa.. Riorio." Tawa Chris semakin kencang. Dia tertawa sambil memegang perutnya.


Atherio merasa kesal, "Apa yang kau tertawakan? Itu panggilan sayang dari kakak untukku."


Chris berhenti tertawa, dia terlihat murung sekarang. Atherina berbalik melihat Chris.


Christian mengubah ekspresinya, "Oh ya, Kak.. bolehkah aku menginap beberapa hari di sini?"


Atherina terkejut, "Ah? Tapi.."


"Ibuku pergi keluar kota cukup lama, apa Kakak tidak kasihan melihat aku yang masih kecil ini tinggal sendirian?" Christian bertingkah imut agar Atherina mengizinkannya.


Atherio mendekat, "Itu hanya alasannya saja, Kak."


Chris memperkuat serangannya dengan puppy eyes. Dia yakin Atherina akan tidak tahan dengan ekspresi manisnya.


Atherina memundurkan tubuhnya, "Baiklah, baiklah, jangan memperlihatkan ekspresi seperti itu."


Kedua mata Atherio membelalak, semudah itukah Atherina mengizinkan orang lain tinggal di rumahnya? Ya, meskipun sementara.


Serta merta Chris memeluk tubuh Atherina yang lebih kecil darinya. Atherina terkejut dengan apa yang di lakukan Chris. Atherio yang melihat itu tampak kesal dan memilih pergi meninggalkan mereka berdua. Chris tahu Atherio merasa cemburu, dia melepaskan pelukannya. Atherina melihat ke tempat Atherio berdiri tadi. Laki-laki itu sudah tidak ada di sana.


◆◇◆


Atherina mengetik komputer di kamarnya. Pintu kamarnya tidak tertutup, ada Atherio berdiri di sana entah sejak kapan. Dia ingin menemui kakaknya, tapi masih ada keraguan dalam hatinya. Dia berpikir, apakah Atherina akan berbicara padanya setelah apa yang dia lakukan pagi ini.


Dengan meyakinkan dirinya sendiri, Atherio mengetuk pintu kamar kakaknya. Atherina menoleh melihat keberadaan adiknya di ambang pintu. Pandangannya kembali fokus ke layar komputer.


"Masuk."


Atherio memasuki kamar Atherina dan duduk di samping kakaknya itu. Pandangannya tertuju ke layar. Seperti biasa, Atherina sedang mengerjakan programnya.


"Maaf," kata Atherio pelan sambil menatap wajah kakaknya dari dekat.


Atherina menggerakkan kepalanya ke samping untuk merespon adiknya, "Tidak masalah, Christian hanya beberapa hari di sini, kan?"


"Bukan itu, aku minta maaf.. soal ciuman itu."


Atherina menghentikan jemarinya yang sedang mengetik keyboard. Dia menunduk sebentar kemudian melanjutkan mengetik.


Atherina membuka mulutnya, "Lupakan, seolah apa pun yang terjadi pagi itu sebagai sesuatu yang tidak pernah terjadi."


Atherio menautkan alisnya, "Aku minta maaf untuk ciuman itu, bukan tentang perasaanku."


Kini Atherina menoleh menatap adiknya dengan penuh rasa kesal, "Atherio, aku harap kau sadar dengan apa yang kau katakan."


"Tentu saja aku sadar, aku sangat sadar. Apa kau pikir aku ini sedang mabuk?" Atherio juga tampak kesal.


Atherina memilih diam, jika dia terus bicara, Atherio juga akan terus membantahnya.


"Seharusnya Kakak tidak mengizinkan Chris menginap di sini." Atherio menggerutu pelan.


"Dia temanmu, kan?" Atherina mematikan komputernya.

__ADS_1


Atherio mendesah kecewa, "Dia bisa mengganggu kinerja kelompok."


Atherina beranjak dari tempat duduknya, "Aku sudah menyuruh pelayan untuk menyiapkan sebuah kamar. Aku sudah bilang pada Chris, kalau kamar itu adalah kamarmu. Kau tidur dengan dia."


Atherio tercengang kaget mendengar keputusan kakaknya, "Apa? Aku tidur dengan Christian?"


Atherina berbalik menatap adiknya dengan serius, "Iya, awasi dia.. jangan sampai dia mengetahui apa pun tentang kita."


Atherina berlalu, namun Atherio menghalangi jalan kakaknya. "Kakak, ini tidak adil. Dia tidur di kamar itu dan aku tidur di kamarku yang sebenarnya saja, ya."


Atherina menggeleng tegas, "Kau tidak mau menurut? Apa aku perlu diam padamu selama satu bulan karena kejadian pagi ini?"


Atherio terdiam dan berpikir. Atherina berlalu tanpa menunggu jawaban dari adiknya.


"Ah, sial!"


◆◇◆


Christian sedang berada di kamar yang sudah di siapkan oleh para pelayan. Mereka mengatakan bahwa ruangan itu adalah kamar Atherio.


Christian mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar tersebut. "Wah, kamar Atherio luas sekali."


Ada beberapa foto Atherio dan Atherina di dinding. Chris merasa iri melihat kedekatan Atherio dengan kakaknya, sementara dia sendiri kurang berkomunikasi dengan sang kakak yang selalu sibuk bekerja.


Kakaknya Chris yang merupakan seorang polisi itu sangat tegas. Apalagi selisih usia mereka terpaut cukup jauh, yakni 9 tahun.


Atherio memasuki kamar tersebut, Chris menoleh dan tersenyum melihat wajah kesal temannya itu.


"Dasar menyebalkan, kau benar-benar menyebalkan." Atherio menghempaskan tubuhnya ke ranjang.


Chris malah tersenyum dengan wajah polos tanpa merasa berdosa, "Kau ini marah padaku atau kau punya masalah dengan kakakmu?"


Atherio mengerutkan keningnya dan menoleh sesaat pada Chris. Dari mana dia tahu? Apa dia cenayang?


"Emm, begitulah." Atherio mengubah posisi tidurnya membelangi Chris yang masih berdiri di tempatnya.


Chris mendekat ke depan Atherio. Dia menyeret kursi agar bisa duduk. "Katakan saja, aku mau mendengarkan."


"Pagi ini aku mencium kakakku," kata Atherio dengan ekspresi polosnya.


Chris membelalak lebar, "Mencium? Apa kau gila?" Bisik Chris.


"Aku rasa.. iya, mungkin." Atherio memasang ekspresi berpikir. Chris menepuk dahinya, "Apa kau bisa lebih bodoh dari itu?"


"Iya, aku langsung menyatakan perasaanku saat itu juga."


Chris menggeleng pelan dengan sikap Atherio yang terdengar begitu ceroboh. "Jika aku jadi Kak Erina, aku akan menghajarmu."


"Untung dia bukan kau, dia hanya marah padaku."


Hari mulai malam.


Di kediaman Park, tepatnya di ruang makan, ketiga anak yang sudah beranjak remaja itu duduk rapi di meja makan. Atherina berada diantara Chris dan Atherio. Mereka melihat hidangan yang masih utuh di meja.


Ada sedikit kecanggungan diantara mereka bertiga. Atherina tidak biasa mengucapkan, 'selamat makan!'. Atherio yang biasanya mengatakan itu. Namun, kali ini situasinya berbeda. Ada Chris di sana, dia tidak mau terlihat kekanakan. Chris terbiasa mengucapkan, 'selamat makan!', tapi kali ini dia adalah tamu.


Sebagai yang tertua, Atherina memutuskan untuk mengeluarkan suaranya, "Emm, kalian makanlah."


Atherio dan Chris saling pandang.


Terdengar suara langkah kaki memasuki ruang makan, ketiga pasang mata itu tertuju pada sosok wanita muda yang kini berdiri di dekat pintu.


Dia Azura, "Hai! Apa kalian akan makan tanpaku?" Wanita yang saat ini berusia 24 tahun itu duduk di samping Chris.


"Selamat makan!!" Tanpa merasa malu, dia memakan hidangan tersebut. Yang lainnya menyusul.


"Dia ini siapa?" Tanya Azura sambil menunjuk Chris. Yang di tunjuk tersenyum santun.


"Aku temannya Atherio," jawab Chris. "Teman? Erina, kau mengizinkan Atherio berteman?" Tanya Azura.


Atherina melirik Atherio dan Chris bergantian, "Mereka teman sekolah, lebih baik kau memakan makananmu dengan tenang, Azura."


Usia Azura memang terbilang dewasa, namun wajahnya tidak menunjukkan kalau dia sidah berusia puluhan. Sikapnya juga jauh lebih kekanakan dari Atherina bahkan Atherio.


Azura berceloteh selama makan malam, "Aku juga temannya Erina, bahkan aku ini sebenarnya satu-satunya teman dia. Erina tidak pernah memiliki teman seumur hidupnya, karena..."


"Karena aku rasa kau memang orang yang baik." Atherina memotong ucapan Azura. Atherio dan Chris menoleh pada Atherina. Azura merasa terharu dengan ucapan Atherina.


"Bolehkah aku menginap malam ini? Temannya Atherio saja menginap, apa kau tidak mau mengizinkanku menginap juga?" Tanya Azura dengan manjanya.


"Hemm, baiklah." Atherina mengangguk malas.


◆◇◆


Azura memasuki kamar mandi, dia melepaskan pakaiannya. Topinya juga dia lepaskan. Selama ini dia tidak pernah memperlihatkan rambutnya yang pendek. Dia menatap wajahnya yang terpantul di cermin kamar mandi. Cukup lama dia berdiri mematung. Tampaknya dia sedang memikirkan sesuatu.


Azura menatap pintu kamar mandi lalu bersuara, "Atherina?"


Atherina yang sedang membaca buku pelajaran menoleh kearah kamar mandi. Gadis itu memutar bola matanya karena kesal kepada Azura yang memanggilnya setiap waktu.


"Ada apa?" Tanya Atherina sambil kembali mengarahkan pandangannya ke buku.


Azura menggigit bibirnya, "Bolehkan aku meminjam celana dalam milikmu? Aku lupa tidak membawanya."

__ADS_1


Atherina beranjak dari tempat tidur menuju lemari dan mengambil apa yang diminta Azura. Atherina juga membawakan BH dan gaun tidur untuk temannya itu. Dia membuka pintu kamar mandi, tapi Azura menahannya dari dalam.


"Buka pintunya," kata Atherina. Azura mengulurkan tangannya keluar. Atherina menggeleng pelan melihat tingkah Azura. Dia memberikan pakaian tersebut kepada Azura.


Azura segera menutup pintu kamar mandi. Atherina mengernyit heran dengan sikap wanita itu.


Azura melihat pakaian dari Atherina. Dia mengambil celana dalam dan BH yang berwana hitam itu. Sejenak Azura melihat kedua benda privat tersebut dengan intens.


Atherina meregangkan tubuhnya lalu menyimpan semua buku pelajaran ke meja. Dia melihat ke kamar mandi. Tidak ada suara, namun Azura tidak kunjung keluar. Gadis itu tidak mau banyak berpikir, dia menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur.


Pintu kamar mandi terbuka, Azura keluar dengan pakaian yang sama ketika dia tiba di kediaman Park. Atherina menoleh, "Kenapa memakai pakaian itu lagi? Bukankah aku sudah memberikan pakaian untuk tidur?"


Azura menyimpan gaun tidur yang dimaksud oleh Atherina ke atas meja. "Malam ini dingin, aku mau pakai ini saja," ujarnya sambil menghampiri Atherina.


"Seperti biasa, kamar untukmu sudah dipersiapkan." Azura mengerti, Atherina tidak pernah mau tidur bersama orang lain, kecuali Atherio itu pun waktu mereka masih kecil. Wanita itu mengangguk kemudian berlalu dari kamar Atherina.


Setelah Azura pergi, Atherina menutup pintu kamarnya. Dia kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Kedua matanya tertuju pada bingkai foto di meja. Dalam foto tersebut ada Atherina dan Atherio yang masih kecil.Keduanya saling memeluk dan tampak bahagia.


"Apa yang kau pikirkan, Rio?"


◆◇◆


Chris merapikan dasinya sambil bercermin. Atherio keluar dari kamar mandi dengan seragam yang sudah melekat rapi di tubuhnya.


Mereka berdua menuruni tangga menuju meja makan. Beberapa orang pelayan menyajikan makanan ke meja. Atherio tidak melihat keberadaan Atherina. Tidak berpikir lama, dia memilih duduk di ikuti Chris.


"Kenapa hari ini banyak makanan? Ini jam sarapan, bukan makan siang." Atherio bertanya pada kepala pelayan.


Kepala pelayan mengangguk sembari menjawab, "Nona Park sendiri yang memerintahkan kami untuk menghidangkan makanan ini."


Chris tersenyum lebar, "Mungkin karena ada aku." Atherio menatap kesal pada temannya itu. "Lalu, sekarang di mana kak Nana?" Tanya Atherio.


"Nona sudah selesai sarapan dan berangkat lebih dulu." Atherio kecewa mendengar jawaban dari kepala pelayan.


Selesai sarapan, mereka berdua memasuki mobil. Chris terkejut melihat keberadaan Atherina di kursi depan.


"Kak Erina?" Chris bergumam.


Atherio menoleh ke dalam. Atherina tidak merespon, di kursi kemudi ada Esteban yang tersenyum ceria.


"Selamat pagi," sapa Esteban.


"Selamat pagi," Chris dan Atherio menjawab serempak. Mobil hitam tersebut melaju meninggalkan kediaman Park.


"Paman, nanti antarkan Azura pulang ke markasnya," kata Atherina.


Chris mengerutkan keningnya. Markas? Chris membatin. Atherio menoleh kearah kakaknya.


Apa yang kakak katakan? Chris pasti curiga, batin Atherio.


"Baik, Nona."


Sesampainya di sekolah, Atherina berlalu tanpa berbasa-basi. Atherio akan mengejar, tapi setelah beberapa saat berpikir, dia tidak melanjutkan langkahnya.


"Mungkin dia masih kesal padamu karena ciuman itu, oh iya, ditambah lagi dengan ungkapan perasaanmu padanya," kata Chris seolah bisa membaca pikiran Atherina. Atherio mendengus kesal.


"Sok tahu, kau!"


Chris berlalu lebih dulu meninggalkan Atherio yang kesal. Laki-laki itu menggerutu sambil menyusul Chris.


Sementara itu, Atherina berjalan gontai dengan pandangan lurus ke depan. Ada kumpulan siswa yang sedang berbincang-bincang. Atherina harus melewati mereka untuk mencapai kelasnya.


Siswa-siswa itu menoleh kearah Atherina yang berjalan akan melewati mereka. Namun, salah satu dari mereka menghalangi Atherina. Terpaksa gadis itu harus berhenti.


Park Han Gun, nama itu tertera di seragam yang dia kenakan. Atherina mendongkak menatapnya.


Gadis itu membatin, ada apa anak dengan ini? Kenapa dia menghadangku? Tidak berguna.


"Minggir," ucap Atherina. Han Gun menautkan alisnya karena kesal. Dia melihat nama di seragam yang dikenakan Atherina.


"Atherina Park, wah, nama besar kita sama. Aku tahu, kau anak pengusaha sukses itu. Kau pikir, karena Park J. A. adalah seseorang yang disegani, aku juga takut padamu?" Ledek Han Gun.


Atherina melangkah, tapi Han Gun bergerak menghalangi. "Kenapa kau menghalangi jalanku?" Atherina bertanya dengan nada kesal. Han Gun mendekatkan wajahnya. Atherina membelalak dan segera menahan dada Han Gun.


"Ada apa denganmu?"


"Aku ingin membisikkan sesuatu," bisik Han Gun di depan wajah Atherina. Mereka saling menatap sejenak. Atherina menarik kembali tangannya. Han Gun mendekatkan mulutnya ke telinga Atherina.


Gadis itu terkejut mendengar apa yang dikatakan Han Gun. Sementara Han Gun tersenyum melihat Atherio yang bergegas menghampiri dengan ekspresi penuh kemarahan.


Atherio mendorong kepala Han Gun dengan kasar sehingga Atherina terhenyak. Punggungnya bersentuhan dengan dada sang adik. Atherina mendongkak melihat ekspresi murka yang menghiasi wajah tampan Atherio.


"Apa yang kau lakukan!"


◆◇◆


22 Juli 2019


By Ucu Irna Marhamah


Follow instagram dan Wattpad aku, yaa...


Beli Ebook aku juga, yaaa...

__ADS_1




__ADS_2