![ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]](https://asset.asean.biz.id/atherio-park--sudah-terbit-.webp)
"Terkadang
rasa persaudaraan itu bisa terjalin meski tanpa adanya ikatan darah."
(Ucu Irna Marhamah)
◆◇◆
Perlahan kedua mata bulat Atherio bergerak dan
terbuka, menunjukkan manik abu-abunya yang lebar. Yang pertama dia lihat adalah
wajah asing gadis kecil yang lebih tua darinya. Atherio melihat wajah itu, dia
teringat pertemuan semalam. Gadis kecil itu adalah kakaknya, Nana.
Atherio mendapati dirinya tertidur di lengan
Atherina. Itu terjadi semalaman. Tangan Atherina yang lebih besar darinya
memeluk tubuhnya dengan erat seolah lepas sedikit saja, dia bisa kehilangan
Atherio. Anak kecil itu tersenyum geli kemudian beranjak bangun sambil
meregangkan tubuhnya ala bayi.
Atherina membuka matanya, dia bangkit sambil
mengucek kedua mata dan memperhatikan Atherio. "Sudah pagi, ya?"
Atherio mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kakak, ini pertama kalinya Kakak
berkunjung ke rumah yang ini, kan? Ayo kita berkeliling!" Atherio menarik
tangan Atherina dengan semangat. Dia berlari sambil memegang erat tangan
Atherina yang ikut berlari sambil mengucek matanya karena masih setengah sadar.
Atherio berjalan di depan Atherina, dia
menjelaskan semua hal yang ada di setiap sudut ruangan rumahnya itu. Atherina
yang tadinya masih mengantuk langsung kembali segar karena terpukau oleh keindahan
rumah tersebut.
Atherio menunjuk sebuah bingkai foto yang sangat
besar yang terpajang di dinding ruang keluarga. "Lihat, itu foto ibu.. ibu
sangat cantik dan ayah bilang, aku mirip dengan ibu." Atherina melihat
wanita cantik yang terlihat begitu anggun dan keibuan di dalam foto itu.
"Eomma..." Atherina bergumam
pelan. Atherio menoleh kemudian tersenyum, "Kakak pasti pernah memeluk
ibu, kan?" Atherina terkejut mendengar pertanyaan adiknya itu. Dia
terlihat sedih, dia bahkan tidak mengenali siapa orang tuanya. Atherina hanya
mengangguk pelan.
"Atherio kehilangan ibunya sejak
kecil..."
Ucapan Park masih terdengar jelas di telinga
Atherina ketika ayahnya itu menceritakan tentang Atherio. Atherina memeluk
Atherio dan mendudukkan anak manis itu ke pangkuannya. "Ada Kak Nana,
Kakak akan terus memeluk Atherio." Atherio membalas pelukan Atherina.
"Aku sayang Kakak!" Atherio berseru semangat. Atherina tersenyum.
Sementara itu, Park sedang duduk di kursi
kebesarannya di kantor. Dia menyalakan api dari pemantik lalu menyulut ujung
cerutunya.
"Aku dengar, Tuan mengadopsi seorang anak
perempuan," kata seorang pria yang duduk di sofa di samping meja kerja
Park. Pria itu tampak sedikit gugup karena telah bertanya demikian.
"Ne, Atherio membutuhkan seorang
kakak." Park menghisap cerutunya. "Emm, apa menurut anda ini tidak
akan berbahaya? Selain mengincar Tuan muda, mereka juga bisa mengincar putri
anda."
Park menghembuskan asapnya dan menatap
penasihatnya di dunia gelap. "Carlos, bukan tanpa sebab aku mengadopsi
Atherina. Aku ingin dia menjadi pemimpin kalian. Oleh karena itu, aku akan
mendidiknya dengan benar. Sebelum Atherio siap menjadi pemimpin, Atherina harus
lebih dulu menjadi contoh bagi adiknya."
Carlos mengerutkan keningnya, "Apa anda akan
menjadikannya monster agar menjadi boneka anda?" Mendengar pertanyaan
lancang itu, Park sama sekali tidak tersinggung. Itu karena dia sudah terbiasa
dengan ucapan sarkas penasihatnya.
"Dia akan menjadi pelindung putraku dan
pelindung keluarga Park." Carlos tidak berani berkata lebih jauh
lagi. "So, kau kemari hanya untuk menanyakan hal
itu?" Mendengar pertanyaan Park, Carlos terhenyak.
Dia jadi gugup dan berkata, "Ah, tidak..
tidak.. itu aku.. kemari ingin mengatakan hal lain. Aku kembali dari Italia
Rabu malam. Ketika tiba di Seoul, aku melihat kelompok musuh anda juga berada
di Seoul. Apa anda mencium pergerakan mereka?"
"I know,
Ji Hoo dan Victor sudah mengawasi mereka sejak lama." Carlos terkejut
mendengar itu. "Jadi, mereka sudah lama di Seoul? Bagaimana bisa mereka
tinggal bebas di negara asing seperti itu?"
"Mungkin mereka memiliki koneksi dengan
beberapa orang penting," jawab Park santai. "Akan lebih baik jika
anda memperketat penjagaan di rumah anda, Tuan Park." Ucapan Carlos di
jawab dengan anggukan oleh Park.
"Aku sudah mengatasinya, apa kau mau bertemu
dengan putriku?" Pertanyaan Park membuat Carlos duduk tegak dan mengangguk
cepat. "Tentu saja, Tuan. Bukankah dia calon pemimpin kami?" Jawab
Carlos semangat. "Aku akan mempertemukan kalian setelah dia belajar banyak
dariku."
Carlos menghela napas berat. Ah, aku
pikir tuan akan memperkenalkan putrinya pada kami secepatnya, batin
Carlos.
Di kediaman Park, Atherio dan Atherina sedang
bermain petak umpet. Atherio menutup matanya dengan kedua tangan mungilnya. Dia
sedang menghitung.
"... 27... 28... 29... 30... Setelah 30,
__ADS_1
berapa, ya?" Atherio tidak mau banyak berpikir, dia segera membuka matanya
dan melihat ke sekeliling. Dia mulai mencari Atherina ke setiap ruangan.
Atherio juga bertanya pada pelayan atau penjaga yang ada di rumah itu untuk
menemukan Atherina.
Beberapa menit berlalu, Atherio tidak menemukan
Atherina. Dia mulai lelah dan menangis di lantai sambil memeluk lututnya.
Atherina yang mendengar tangisan Atherio segera keluar dari tempat
persembunyiannya. Dia menghampiri Atherio dan memeluk adiknya.
"Kakak?" Atherio mendongkak menatap
kakaknya. "Kakak jangan hilang lagi, mulai sekarang aku tidak mau bermain
petak umpet lagi," gerutu Atherio. Atherina mengangguk, "Mianhae."
Atherio mengangguk.
Park memelangkahkan kakinya memasuki rumah,
ketika dia mau menaiki tangga, dia melihat Atherio dan Atherina. "Kalian
kenapa?" Tanya Park karena melihat kedua anaknya yang manis itu terlihat
sedang menangis.
Atherina terlihat cemas, dia takut Park akan
marah padanya karena telah membuat putra semata wayangnya menangis.
"Tadi.. kami bermain petak umpet, tiba-tiba
Kak Nana hilang. Aku takut jika dia benar-benar hilang." Tangisan Atherio
semakin kencang. Mendengar itu, Park menggeleng pelan.
"Makanya, jangan bermain permainan seperti
itu. Kakakmu tidak akan kemana-mana, dia akan tetap di sini bersamamu jika kau
tidak nakal." Setelah mengatakan itu, Park berlalu menaiki tangga.
Atherina tidak mengira, Park tidak marah padanya.
Bahkan pria itu terlihat tidak peduli sama sekali. Dia merasa sedih lalu
memeluk Atherio lebih erat.
Jika ayah tidak memperhatikan Rio dengan baik,
aku yang akan memperhatikannya.
Park memasuki ruang kerja di samping kamarnya.
Dia menghela napas sejenak kemudian mengambil beer dingin dari
kulkas. Park memilih duduk di sofa dan meminum beer tersebut.
Pria itu mengambil amplop besar berwarna coklat pudar dan membuka isinya.
Ada beberapa lembar foto. "Tidak sia-sia aku
membayar paparazzi itu." Park melihat satu per satu foto
yang terlihat begitu jelas tanpa ada buram sama sekali. Dalam foto itu terlihat
beberapa orang asing sedang berkumpul, ada juga foto yang menunjukkan aksi
kekerasan yang mereka lakukan.
"Ah, bangsat ini." Park meneguk bir di
tangannya.
Dia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 8
pagi. Park menekan interkom di meja, "Suruh kedua anakku untuk sarapan,
mereka pasti lupa dengan sarapan karena bermain."
Park bekerja di malam hari. Di jam malam, dia
Karyawannya bekerja di jam normal seperti perusahaan pada umumnya. Oleh karena
itu, mereka jarang bertemu dan bertatap muka secara langsung dengan Park.
Musuh Park menjuluki dirinya monster tidur. Itu
karena Park tidak pernah mengenal kata tidur setelah menjadi seorang
pemimpin gangster di usianya yang masih sangat muda, yaitu 12
tahun.
Di ruang makan, Atherio terlihat begitu lahap
memakan sarapannya. Sementara Atherina memakan sarapannya dengan pelan. Dia
teringat pada teman-teman yang sudah dia anggap saudaranya di panti yang memakan
makanan seadanya. Bahkan terkadang mereka tidak makan jika bibi Ji Eun tidak
memiliki uang untuk membeli makanan.
Atherina merasa jahat karena dia lebih dulu
keluar dari panti dan di adopsi oleh orang kaya seperti Park. Dia bisa makan
enak, tidur nyenyak dan memiliki keluarga baru.
"Kakak, makanannya tidak enak, ya?"
Pertanyaan Atherio membuat Atherina terhenyak. "Enak sekali, hanya saja
aku ingat pada teman-temanku. Aku merindukan mereka."
Atherio merasa iri karena Atherina memiliki
teman. Dia tidak mengira Park akan mengizinkan Atherina berteman dengan anak
lain. Tanpa mereka sadari, Park menguping pembicaraan mereka dari ruangan
sebelah. Dia memasang alat pendengar di telinganya. Di seluruh ruangan di rumah
itu tidak hanya di pasang CCTV, tapi juga alat pendengar jarak jauh. Tentu saja
hanya Park yang mengendalikan semua benda itu.
Pengasuh menyajikan dua gelas susu ke meja.
Atherio melihat gelas susu yang berada di depan Atherina. "Kakak, bolehkah
kita bertukar susu?" Atherina melihat gelasnya dan gelas milik Atherio.
Dia mengangguk, Atherio dengan semangat mengambil gelas susu milik Atherina
kemudian meminumnya.
"Manis, ya? Itu susu sapi, Atherio."
Mendengar suara berat itu membuat Atherio dan Atherina menoleh, ternyata Park.
Atherio terkejut, dia segera menyimpan gelasnya ke meja. Park menghampiri
mereka, "Kau tahu kau tidak boleh meminum susu sapi?" Suara Park
meninggi. Bukan hanya Atherio yang ketakutan, Atherina juga tampak ketakutan.
Dia merasa bersalah karena telah mengizinkan Atherio meminum susu dari
gelasnya. Para pelayan membungkukkan badan kemudian berlalu pergi meninggalkan
ruang makan.
"Kau bilang kau berjanji tidak akan nakal
lagi jika aku membawa kakakmu kembali! Susu sapi tidak baik untukmu, aku akan
mengirim Atherina kembali ke Italia!" Atherio menggeleng cepat mendengar
itu. Atherina merasa bersalah, kedua matanya berlinangan air mata.
"Ja-jangan bawa Kak Nana pergi, nanti aku
sendiri lagi," ucap Atherio, terdengar menyayat hati. "Ayah, ini
__ADS_1
salahku, maafkan aku." Kini Atherina berbicara untuk membela adiknya.
"Jangan membelanya, dia harus bertanggung
jawab atas kesalahannya. Jangan terlalu memanjakan dia. Bereskan barangmu,
Atherina, kita akan pergi sekarang." Ucapan Park terdengar begitu kejam
dan berlebihan menurut Atherina.
"Tidak, hukum saja aku." Atherio
menunjukkan kedua telapak tangannya pada Park. Park memukul kedua tangan
putranya, tidak keras, tapi Atherina yang menjerit keras. Park dan Atherio
menoleh pada Atherina yang terlalu mendramatisir keadaan.
Atherina memeluk Atherio, "Jangan memukul
Rio, Tuan. Ini salahku, aku berjanji tidak akan membagi susu sapi
padanya." Atherio mendengar Atherina menyebut Tuan, dia mengernyit dan
melihat pada ayahnya. Park menyentuh dahinya seperti orang sakit kepala.
"Aish, anak-anak ini," gumam Park kemudian berlalu. Atherina menangis
sambil terus memeluk Atherio. "Kakak, ini tidak sakit." Atherio
menunjukkan telapak tangannya pada Atherina. Atherina mengusap kedua pipi
bulatnya yang basah karena air mata. Dia melihat kedua telapak tangan adiknya.
Park memang kejam, sekali pun pada putra
kandungnya, tapi dia akan menghukum sesuai dengan kesalahan yang telah
dilakukan anaknya itu.
"Tidak sakit?" tanya Atherina, Atherio
menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kenapa tidak bilang kalau kau tidak boleh
minum susu?" Atherina melipat kedua tangan di depan dada.
"Aku akan sakit jika minum susu sapi, tapi
susu kacang kedelai tidak enak," jawab Atherio. Atherina menghela napas
berat.
◆◇◆
Keesokan harinya,
Atherio masuk rumah sakit, terdapat ruam merah di
tubuhnya. Belum lagi suhu badannya meningkat. Park duduk di kursi tunggu sambil
bersandar dan melipat kakinya. Atherina sibuk mengintip dari kaca pintu kamar
khusus untuk pemeriksaan pasien. Karena badannya pendek, dia harus
melompat-lompat untuk bisa melihat ke dalam.
Park menoleh kearah Atherina mendengar suara
sepatu putrinya itu yang berhentakkan dengan lantai rumah sakit. "Adikmu
tidak akan kemana-mana," kata Park. "Nanti dokter menyuntik
Rio." Ucapan polos Atherina membuat Park menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
Park beranjak dari tempat duduknya, dia
menghampiri Atherina kemudian mengangkat tubuh Atherina. Atherina mendongkak
menatap ayahnya, kemudian pandangannya teralihkan pada Atherio yang sedang di
periksa dokter dan suster di dalam.
"Aku lupa tidak bilang padamu tentang ini.
Atherio alergi terhadap susu hewan. Sejak kecil dia tidak mendapatkan ASI dari
ibunya, dia selalu minum susu kedelai sebagai pengganti." Atherina
terlihat sedih.
Suster keluar dari ruang pemeriksaan. Dia melihat
pada Atherina yang di gendong Park. "Hai, kau pasti mencemaskan adikmu,
ya?" suster mencubit pipi Atherina. Atherina mengangguk cepat, Park
menurunkan Atherina. Gadis kecil itu segera berlari ke ruang pemeriksaan untuk
menemui Atherio.
"Kakak," Atherio menggenggam tangan Atherina.
Atherina terkejut merasakan tangan Atherio begitu panas menyentuh tangannya.
Park memasuki ruang pemeriksaan, dia memasukkan kedua tangan ke dalam saku
celananya.
"Dokter bilang kau harus menginap di sini
untuk dirawat. Aku dan kakakmu akan pulang." Ucapan Park membuat Atherio
terkejut. "Aku tidak mau tinggal di sini sendirian, aku mau pulang ke
rumah dan bermain dengan Kakak." Atherio menangis tersedu-sedu. Atherina
juga terlihat sedih.
"Aku akan bicara pada dokter agar kau bisa
pulang, tapi kau harus berjanji untuk tidak melanggar aturanku." Atherio
mengangguk mengiyakan ucapan ayahnya. "Iya, aku janji."
Kedua suster yang ada di sana saling pandang.
Mereka tidak mengira, seorang Park J. A. bersikap begitu tegas pada putranya.
Tidak ada sikap memanjakan sama sekali. Padahal Dokter memperbolehkan Atherio
pulang.
◆◇◆
Atherio dan Atherina tertidur dengan kepala
Atherio terlelap ke bahu Atherina dan kepala Atherina terlelap ke kepala
Atherio. Park duduk di samping pria yang menyetir mobil miliknya.
"Putra dan putri anda sangat manis,
Tuan." Park menoleh pada pria itu, "Putrimu juga manis, Min
Hyuk." Min Hyuk tersenyum mendengar pujian tuannya. "Terima kasih,
Tuan."
Sesampainya di rumah, Park berusaha membangunkan
Atherio dan Atherina. Namun tidak satu pun dari kedua anak manis itu mau
bangun. Park menghela napas panjang kemudian mengangkat kedua anaknya itu dan
membawa mereka berdua seperti sedang memanggul karung beras.
"Perlu saya bantu, Tuan?" Tanya Min
Hyuk. "Tidak, parkirkan saja mobilku."
"Baik, Tuan."
Park memasuki kamar Atherio, dia menidurkan kedua
anak manis itu ke tempat tidur. Mereka berdua berpelukan, Park menggeleng
pelan, "Mereka memang tidak akan pernah bisa dipisahkan." Setelah
bicara seperti itu, dia keluar dari kamar dan menutup pintu pelan-pelan.
Kedua anak itu masih berkelana di dunia mimpi
__ADS_1
mereka. Tanpa merasa terganggu sedikit pun.