ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]

ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]
Ibu Petir yang Terluka


__ADS_3

 


 


New York, Amerika.


 


 


Esteban melihat jam tangannya. Beberapa orang kulit putih melihat senjata yang dia bawa.


"I like this gun," ucap salah satu dari mereka sambil mengarahkan pistol tersebut layaknya seorang polisi. Esteban memutar bola matanya.


"This is the best gun from our gang. So, please faster. I don't have many times."


Sementara itu, Gun Seok mengurus pasukan khusus yang berada dalam kuasanya. Begitu juga dengan Victor yang terlihat serius melatih pasukan khususnya.


Joon Ki sedang sibuk dengan komputernya. Sementara Ji Hoo sedang memberikan pengarahan pada Carlos dan Min Hyuk. Gun Seok menoleh kepada Ji Hoo. Merasa diperhatikan, Ji Hoo melirik Gun Seok. Sejenak pandangan mereka bertemu.


"Apakah tuan muda sudah pergi sekolah?" Pertanyaan Carlos membuat kontak mata itu terputus. Ji Hoo mengangguk.


"Apa Nona Atherina menelepon kalian?" Tanya Ji Hoo. "Tidak," Min Hyuk dan Carlos menjawab hampir bersamaan. "Nona Atherina pasti sangat sibuk."


Tokyo, Jepang.


Aleena melemparkan beberapa lembar foto ke hadapan Atherina dan Han Gun yang sedang berlutut di depannya. Terlihat seorang pria di foto tersebut.


"Pria itu telah berhutang 200 juta padaku. Dia harus membayar dengan kepalanya. Buronan ini memiliki harga kepala senilai hutangnya padaku."


Atherina menautkan alisnya. Han Gun menoleh pada Atherina.


"Aku akan kembali secepatnya untuk misi ini," tutur Atherina sambil bangkit dan berlalu diikuti Han Gun. Han Jin tetap setia berada di samping ibu petir. Dia tidak berekspresi sama sekali.


"Aku mau lihat, apa yang akan dilakukannya sekarang?"


"Dia cukup cerdas," ujar Han Jin. Aleena tersenyum, "Kau benar, tapi apakah dia akan selamanya cerdas?"


Beberapa jam kemudian, Atherina kembali dengan Han Gun. Mereka membawa pria di foto itu dalam keadaan hidup. Atherina meletakkan brankas ke meja Aleena.


Aleena terkejut dengan apa yang dilakukan Atherina. Gadis itu menarik dagu pria itu, "Isi brankas itu adalah uang sejumlah hutangnya padamu. Aku juga membawa pria ini kemari."


"Sialan gadis kecil ini sangat kasar!" Teriak pria itu sembari berontak dalam cengkraman Han Gun. "Aku juga berpikir begitu," gumam Han Gun.


Posisi Atherina semakin meningkat. Misinya terus berlanjut seiring dengan posisi penting yang dia dapatkan. Gadis itu menerima misi sesuai keinginan Aleena, tapi mengerjakannya sekehendak hati. Aleena jarang merasa kecewa dengan hasil misi yang dikerjakan gadis itu. Malahan, wanita itu jadi tertarik dengan cara berpikir Atherina yang berbeda darinya. Wanita itu selalu terkejut dengan apa yang dilakukan Atherina.


Aleena memikirkan cara agar Atherina berhenti memberikannya kejutan ketika pulang dari misi.


Aleena menatap Atherina, "Aku memiliki dendam terhadap seseorang. Dia telah memisahkanku dengan orang yang aku cintai.." Atherina memikirkan perkataan Aleena. Bayangan Atherio muncul di benaknya. Han Gun dan Han Jin mendengarkan dengan serius.


".. aku kehilangan orang yang aku cintai karena pria itu. Erina, Han Gun, bunuh orang itu dengan perlahan. Biarkan rasa sakit menyiksanya sebelum kematian."


Ternyata bukan tentang Atherio. Atherina tampak berpikir, dia tidak bisa terus menerus memikirkan cara yang berbeda.


"Apa kalian bisa pergi untukku?" Tanya Aleena membuat Han Gun mengerjap pelan. Dia menoleh pada Atherina.


"Aku tidak bisa menerima misi ini," ucap Atherina cepat. Semua mata tertuju padanya. "Kenapa? Kau mau misimu gagal?" Tanya Aleena sambil tersenyum mengintimidasi.


Atherina menatap Aleena dengan intens, "Di dunia gangster tidak ada alasan membunuh karena dendam pribadi. Dunia gelap adalah dunia bersama. Sebuah kelompok menyakiti kelompok lain, maka akan terjadi perang. Ada banyak peraturan yang mengikat anggota gangster. Ibu petir, anda di sini memang sebagai seorang pemimpin. Tapi, anda juga terikat peraturan. Jika anda melanggar peraturan, bagaimana bisa kelompok terkuat ini bisa berdiri?"


Aleena merasa tidak terima dengan ucapan gadis di depannya, "Kenapa kau berani berkata begitu?"


Atherina teringat pada Carlos dan Min Hyuk, "Aku tidak mau membunuh orang yang tidak punya masalah denganku dan kelompok ini."


"Jika kau berkata begitu, kau memerlukan 10 tahun untuk posisi Han Gun!" Teriak Aleena sambil menarik jaket Atherina.


"Kalau begitu, aku keluar dari kelompok ini!" Atherina menepis tangan Aleena dengan kasar. Itu membuat ibu petir marah. Aleena menyerang Atherina. Terjadi perkelahian diantara kedua wanita kuat itu.


"Aku membunuh orang karena alasan! Kau tidak tahu apa-apa, gadis bodoh!" Aleena menerjang dada Atherina. Beruntung, gadis itu menyilangkan tangannya untuk menahan kaki Aleena. Tidak ada satu orang pun yang berani menghentikan perkelahian itu.


"Kau tidak tahu bagaimana rasanya berpisah dengan seorang anak! Kau tidak tahu! Mereka memisahkanku dengan putraku! Satu-satunya putraku!" Atherina membeku mendengar ucapan Aleena. Tidak menyadari serangan Aleena, gadis itu tersungkur mendapat pukulan di wajahnya. Aleena menendang kaki Atherina. Gadis itu meringis pelan.


"Kau tidak akan mengerti!" Aleena akan menendang kaki Atherina sekali lagi, tapi gadis itu mengapit kedua kaki Aleena dengan kakinya dan menariknya hingga wanita itu terjatuh.


"Masih pantaskah kau dipanggil ibu? Ketika kau tidak mampu memilih antara kelompokmu dan anak kandungmu!" Teriak Atherina menggelegar bagai petir di telinga Aleena. Wanita itu terdiam setelah mendapatkan pertanyaan Atherina.


Han Jin menautkan alisnya, meskipun dia tidak bisa melihat perkelahian tersebut, dia bisa membayangkan suasana hati kedua wanita itu.


Aleena memiringkan kepalanya sambil menatap tajam kearah Atherina, "Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri!" Wanita itu bangkit dan pergi. Atherina berusaha bangkit. Han Gun membantunya.


"Aku harus menghentikan ibu petir," ucap Atherina sambil berlari menyusul Aleena. Wanita yang sedang diliputi kesedihan bercampur kemarahan itu memasuki mobilnya. Atherina melihat mobil Han Gun.


Hujan deras mengguyur jalanan Tokyo. Tapi itu sama sekali tidak menghentikan Aleena. Wanita itu menyetir dengan penuh kemarahan. Sementara di belakangnya ada Atherina yang menyusul dengan mengendarai mobil milik Han Gun.


Aleena menyadari keberadaan Atherina, tapi dia mengabaikannya.


Mobil Aleena terhenti di depan rumah besar dengan gaya Jepang. Aleena mengambil pistolnya. Dia keluar dari mobil dengan keadaan tubuh yang basah karena hujan. Wanita itu membuka pintu geser yang merupakan pintu utama di rumah itu. Atherina memarkir mobil dengan seenaknya. Dia segera keluar dan menerobos hujan untuk menyusul Aleena.


Aleena memasuki rumah tersebut dan menembaki siapa pun yang berpapasan dengannya di dalam rumah itu. Namun, suara derasnya hujan menyamarkan suara tembakan. Atherina melihat kilatan dari moncong pistol Aleena di rumah itu. Dia segera masuk dan melihat apa yang telah dilakukan Aleena.


Gadis itu terkejut melihat banyak orang yang tertembak di lantai. Bau amis darah memenuhi ruangan. Aleena membawa banyak peluru cadangan. Atherina mendengar suara tembakan di lantai dua. Dia segera menaiki tangga sambil mengusap bajunya yang basah kuyup.

__ADS_1


Aleena menarik bagian depan baju pria yang tampaknya seumuran dengan Park. Pria itu terlihat ketakutan. Aleena mengarahkan pistolnya ke pelipis pria tersebut.


"Aku menderita karena kalian. Atherio, putraku. Kalian memisahkan dia dariku! Kenapa!" Aleena mengguncangkan tubuh pria itu. Wanita itu menendangnya sampai terbentur dengan dinding.


"Hakada, kau telah membuatku kehilangan akal dengan membantu Park membawanya ke Korea! Aku tidak bisa menemuinya! Aku hanya bisa melihat fotonya! Aku ingin melihatnya! Aku ingin memeluknya!" Aleena berteriak seperti wanita gila.


"Nyonya Park, lepaskan aku.. aku.. aku mohon."


Aleena terus menerus memukul dan menendang Hakada, "Jika aku harus memilih antara Atherio dan kelompok petir, aku akan memilih putraku! Putraku! Saekya!!" Aleena jatuh terduduk.


Atherina yang sedari tadi berdiri di depan pintu tampak begitu sedih melihat Aleena seperti itu.


Dor!


Atherina terhenyak mendengar suara tembakan disusul jeritan Hakada. Gadis itu menggeleng cepat dan menghampiri Aleena.


"Ibu petir, hentikan! Ini tidak akan mengubah apa pun!"


"Jangan mendekat!" Aleena mengarahkan pistol itu kepada Atherina. Gadis itu berhenti melangkah. Hakada begerak cepat dan mencekik Aleena. Atherina terkejut dengan kelicikan Hakada. Wanita itu tampak kesulitan bernapas.


"Lepaskan ibu petir!" Teriak Atherina. Hakada tertawa terbahak-bahak, "Aleena, kau mau tahu.. kenapa Park memisahkanmu dengan Atherio? Itu karena Park hanya menjadikanmu mesin pembuat anak dan pergi setelah mendapatkan apa yang dia inginkan. Pria itu ingin menjadikan Atherio seperti dirinya, monster tak berekor, monster tidur, monster mengerikan, monster tak berhati."


"Itu tidak benar! Jangan dengarkan dia!" Teriak Atherina. Hakada menatap tajam kearah gadis itu. Dia membawa pistol dan mengarahkannya ke pelipis Aleena yang masih berusaha melepaskan diri.


"Tidak seharusnya wanita berada di dunia gelap seperti ini. Semua ini terlalu berbahaya. Aleena, temui Park dan tanyakan apa yang barusan aku katakan." Hakada menarik pelatuknya. Aleena menutup matanya.


Dor!


Dor!


Dor!


Dor!


Dor!


Tubuh yang sudah tidak bernyawa itu terkulai jatuh ke lantai. Darah segar mengalir dari luka tembakan itu. Aleena mendongkak menatap Atherina yang masih berdiri terpaku dengan pistol di tangannya. Gadis itu menembak Hakada.


Aleena berdiri sempoyongan sambil menghampiri Atherina, "Apa maksudmu! Kau tahu apa!"


Atherina terdiam.


"Katakan! Kenapa kau bicara seolah kau tahu segalanya?!"


Dengan air mata yang menggenang, gadis itu menatap Aleena, "Aku tidak tahu apa-apa. Tapi, aku merasa apa yang aku katakan tidak ada yang salah." Gadis itu berbalik membelakangi Aleena sambil mengusap air matanya.


"Bagaimanapun, aku sudah menyelesaikan misiku. Aku sudah membunuhnya." Ucapan Atherina membuat Aleena memutar kedua bola matanya.


"Kau pikir, setelah mengatakan semua itu, aku akan menaikkan posisimu!" Gerutu Aleena. Refleks Atherina berbalik menatap kesal wanita itu, "Kenapa bisa begitu? Aku sudah menyelesaikan misiku, kenapa Ibu petir tidak mau menaikkan posisiku!"


Hujan sudah reda ketika Aleena membuka pintu mobilnya. Tiba-tiba, wanita itu tersungkur dan tak sadarkan diri. Atherina terkejut dan segera mengecek denyut nadi Aleena.


Terdengar suara dari balik semak-semak basah di samping rumah itu. Atherina bisa merasakan keberadaan orang lain di tempat itu.


"Kalian berdua boleh keluar," kata Atherina. Kedua orang berpakaian serba hitam dengan penutup wajah keluar dari persembunyian mereka.


"Bantu aku membawa wanita ini ke rumah sakit," ucap Atherina dengan nada serius. Kedua orang itu membungkuk lalu menuruti perintah Atherina.


Siapakah kedua orang asing itu?


Tidak lain mereka adalah pasukan khusus yang terpilih oleh Gun Seok untuk melindungi Atherina selama di Jepang. Mereka berdua bertugas membantu Atherina ketika misi. Namun, keberadaan mereka dirahasiakan dari Han Jin dan Han Gun.


◆◇◆


 


 


Aleena yang masih pingsan terbaring di ranjang kamar rawat. Sementara Atherina bersama dua anggota pasukan khususnya sedang berbicara di balkon.


Han Jin bersama Han Gun yang berpegangan tangan bergegas memasuki kamar dimana Aleena berada. Atherina yang berdiri di balkon sendirian menoleh ketika dua bersaudara itu membuka pintu. Han Gun melihat Aleena yang belum sadar lalu menoleh kearah Atherina yang masuk dari balkon.


"Apa yang kau lakukan di balkon?" Tanya Han Gun. Han Jin terlihat cemas karena tidak melihat situasi, "Bagaimana keadaan ibu petir?"


"Dia hanya pingsan. Dokter bilang dia akan segera bangun." Atherina hanya menjawab pertanyaan Han Jin. Tapi, Han Gun tidak berniat memberikan pertanyaan yang sama.


"Aku mau pulang," kata Atherina sambil melempar kunci mobil milik Han Gun. Dengan tangkas, laki-laki itu menangkapnya.


Atherina berlalu setelah mengatakan, "Aku pulang dengan mobil ibu petir, sampai jumpa besok."


"Ah, apa dia punya surat izin untuk mengendarai mobil?" Tanya Han Gun dengan nada ketus.


Han Jin mengeratkan jaketnya, "Ibu petir harus dipindahkan ke ruang VIP. Disini terlalu dingin."


Sesampainya di apartemen, Atherina menelepon Ji Hoo.


"Bagaimana keadaanmu di sana Nona Erina?"


"Aku baik-baik saja, bagaimana keadaan Atherio bersama kalian di tempat baru?"


"Tuan Atherio menjalani kegiatan dengan baik di sini. Meskipun cuacanya sangat panas."

__ADS_1


Atherina sedikit tersenyum mendengar jawaban Ji Hoo, "Aku belum pernah pergi kesana, jadi aku tidak tahu seberapa panasnya Amerika. Padahal Paman sering kesana."


"Ah? Ehehe, terakhir kali aku kemari tidak sepanas ini."


"Apa polisi masih mengejar kalian?"


"Untuk saat ini kami aman. Kegiatan transaksi dilakukan dengan cepat agar tidak mencurigakan."


"Aku merasa sedikit lebih tenang mendengarnya."


"Nona, berhati-hatilah ketika melakukan misi. Bisa saja para polisi juga berencana menangkap anda."


Atherina menatap ke sekelilingnya dengan ekspresi datar, "Aku akan mengendalikan situasi dengan baik."


"Apakah dua orang pasukan khusus Gun Seok telah melakukan tugas dengan baik?"


"Iya, mereka benar-benar bertindak cepat dan tepat. Aku merasa terbantu dengan kehadiran mereka."


"Aku merasa lega mendengarnya."


"Paman, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu tentang ibu petir."


"Iya, Nona. Aku mendengarkan."


"Dia sangat mencintai Rio, dia masih menginginkan kehadiran putranya. Mungkin dia terlihat seperti nenek sihir yang kehilangan akal, tapi dia memiliki sisi baik yang tersembunyi."


"Apakah ini misi Nona?"


Atherina tersenyum, "Aku mengatakannya, ya?"


"Sebenarnya tuan Park memang sudah memberitahuku tentang misi ini sejak lama. Tapi, aku tidak bisa bilang apa-apa ketika Nona bilang ini misi rahasia dan misi terakhir dari tuan Park untuk anda."


Atherina tertawa, "Posisimu sangat penting di hati tuan Park. Paman adalah orang istimewa baginya."


"Aku merasa terlalu berlebihan jika seperti itu."


Atherina menggeleng pelan mendengar tanggapan Ji Hoo.


"Ini sudah larut, Nona. Jagalah kesehatan anda."


"Iya, terimakasih Paman Ji Hoo. Aku akan menutup teleponnya."


Setelah percakapan itu berakhir, Atherina merebahkan tubuhnya dengan nyaman ke tempat tidur.


Dia menatap langit-langit kamarnya, "Kenapa 6 tahun itu sangat lama?"


Tak lama, Atherina tertidur dengan nyenyaknya.


◆◇◆


 


 


"Save in your mind."


•••


 


 


28 Agustus 2019


 


 


By Ucu Irna Marhamah


Bila ingin mengenal penulis\, boleh follow ig @ucu_irna_marhamah


 


 


 



 


 



 


 


__ADS_1


 


 


__ADS_2