ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]

ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]
The First Day


__ADS_3

"I'm fucked up, I'm black and blue. 


I'm built for all the abuse.


I got secrets that nobody, nobody, nobody knows,"


🎵🎵🎵


◆◇◆


Musim telah berganti, Tahun juga sudah berlalu, semuanya berubah, namun ada juga beberapa hal yang tidak berubah.


Jari-jari lentik itu menyisir rambut hitam kelam yang mengkilap. Mata bulat namun tampak tajam itu melihat pantulan dirinya lewat cermin besar di hadapannya. Bibirnya yang seksi tertarik ke samping.


"Kau selalu tampan, Atherio Park." Suara itu menggema di kamar tersebut. Tidak lain dan tidak bukan, laki-laki tampan itu adalah Atherio Park. Hari ini adalah hari pertamanya di  Senior High School. Suaranya sudah berubah, terdengar sedikit lebih manly.


Atherio terlihat semakin tampan di.  Namun, meskipun dia mulai beranjak remaja, tetap saja masih telihat ada manis-manisnya.


Seragam barunya sudah rapi di tubuhnya yang tinggi dan kekar di usianya yang masih terbilang muda. Atherio melenggang pergi sambil menyambar tasnya dari meja.


Dia bergegas menuruni tangga. Langkahnya terhenti di depan dua buah bingka foto yang besar di ruang keluarga.


Foto Park dan Aleena yang berdampingan. Atherio membungkukkan badannya dua kali. "Selamat pagi, Ayah, Ibu."


 


Atherio tersenyum cerah pagi ini, dia menuju ruang makan dan melihat ada dua orang pelayan di sana menyajikan roti ke meja makan.


Atherio tidak melihat keberadaan kakaknya, "Apa ada yang melihat kak Nana?"


Kedua pelayan itu saling pandang lalu menggelengkan kepalanya, "Tidak, Tuan." Mereka berdua membungkukkan badan kemudian berlalu meninggalkan ruang makan. Atherio mengambil dua lembar roti lalu mengoleskan selai coklat dengan asal.


Dia menyantap roti tersebut sambil berjalan keluar dari dalam rumah. Atherio melihat gadis dengan seragam yang sama berdiri membelakanginya. Rambut hitamnya yang panjang di bawah sikut itu bergerak-gerak karena diterpa angin.


Atherio tersenyum, dia merangkul gadis yang lebih pendek dan lebih kecil darinya.


"Ah? Kau lama sekali," gerutu gadis itu terkejut. Dia adalah Atherina, wajahnya terlihat lebih dewasa. Dia telah kehilangan pipi bulatnya.


Atherio tersenyum dengan mulut yang masih penuh membuat pipinya bulat. "Mulutmu seperti habis meledak, bisakah kau makan dengan benar, Tuan muda Park?" Tanya Atherina yang melihat banyak coklat di bibir Atherio.


Atherina mengambil tisu dari dalam tas dan memberikannya pada Atherio lalu dia bergegas memasuki mobil. Atherio masih mengunyah rotinya, dia menyusul Atherina memasuki mobil.


Ji Hoo yang menjadi mengantar seperti biasa. Dia melajukan mobilnya setelah tuan muda menutup pintu mobil.


Atherio mengembalikan tisu kakaknya. Atherina mengerutkan keningnya sambil menerima tisu itu. Atherio membuka botol air mineral dan meneguknya sampai sisa setengah.


Atherina menarik dagu Atherio dengan lembut, dia membersihkan mulut Atherio yang belepotan. Atherio terpaku dengan sikap manis kakaknya. Matanya tak berhenti memandang wajah Atherina di jarak sedekat itu.


Atherina yang merasa di perhatikan mau tak mau harus menoleh pada adiknya. Tatapan mereka bertemu.


Ji Hoo melirik spion tengah, dia sedikit lengah hampir menabrak motor di depannya. Namun, dengan segera dia menginjak rem. Atherio dan Atherina tersentak ke depan.


"Paman, ada apa?" Gerutu Atherio yang merasa momen indahnya terganggu. Atherina melihat ke depan, pengendara motor itu memaki-maki sambil melihat kearah mobil mereka.


Atherina memutar bola matanya.


Sesampainya di sekolah, Atherio memasuki ruang pendaftaran ulang siswa baru Senior High School. Semua siswa baru berkumpul di sana bersama orang tua mereka. Atherio duduk sendirian di kursi menunggu namanya di panggil.


Seseorang duduk di samping Atherio sambil menyodorkan sebuah kertas berisi formulir yang belum terisi. Atherio menoleh pada orang itu, "Christian."


 


Ternyata laki-laki itu adalah Christian, dia terlihat begitu tampan dengan seragam yang sama seperti Atherio. "Kita bisa daftar lebih dulu, ayo ikut aku." Atherio menyusul Chris menuju ruang guru.


"Teman ibuku seorang guru, dia bisa mendaftarkan kita lebih dulu tanpa harus menunggu dan mengantri panjang," ucap Chris direspon dengan anggukkan kepala oleh Atherio.


Mereka memasuki ruang guru, terlihat ada beberapa guru di sana. Atherio dan Chris membungkukkan badan hormat. Chris melihat seorang guru laki-laki dengan kacamata tebal sedang berkutat dengan layar komputer.


Mereka berdua menghampirinya. "Permisi, Pak Dong Wook," sapa Christian. Yang merasa namanya dipanggil menoleh.


"Iya, ada yang bisa Bapak bantu?" Tanya Dong Wook sambil melihat pada Atherio dan Chris bergantian.


"Namaku Christian Lee, ibuku, Nyonya So Eun tidak bisa hadir untuk mengantar pendaftaran ulang ini, jadi aku datang pada anda."


Dong Wook terlihat sedang berpikir keras, "Ah, iya aku ingat. Nyonya So Eun adalah temanku dulu."


Chris tersenyum sambil mengenalkan Atherio pada Dong Wook, "Ini Atherio Park." Atherio mengangguk hormat.


Dong Wook mengangguk juga, dia tampak kembali berpikir, "Kenapa nama kalian berdua di depan sementara marga kalian di belakang?"


Atherio yang menjawab pertanyaan Dong Wook, "Itu karena namaku di ambil dari bahasa asing, jadi nama margaku mengikuti di belakang."


Chris mengangguk mengiyakan, "Itu benar, begitu pun dengan namaku."


"Kalau begitu, coba tulis nama kalian dalam hangeul." Dong Wook memberikan kertas kosong kepada mereka berdua. Keduanya saling pandang.


Setelah selesai melakukan pendaftaran ulang, siswa baru di suruh mencari kelas yang sudah di bagikan oleh pihak sekolah pada waktu daftar pertama.


Atherio dan Christian tidak satu kelas, namun kelas mereka berdampingan. Setelah menemukan kelas baru, mereka berdua memilih berkeliling menyusuri koridor sekolah. Siswa baru akan memulai pembelajaran mereka setelah jam istirahat pertama.


Kedua tangan Chris dilipat di belakang kepala. Atherio memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Semua pandangan siswi tertuju kepada kedua orang tampan itu. Mereka semua tampak berbisik-bisik membicarakan keduanya.


Menyadari berbagai tatapan dan bisikan, Christian menoleh pada sekumpulan siswi senior-nya. Dengan senyuman yang cerah, Chris melambaikan tangannya kearah mereka. Jeritan histeris pun menyambutnya, Chris terkekeh kecil melihat itu. Atherio menoleh malas.


Chris menyenggol lengan Atherio, "Tunjukkan sikap manismu, senior yang cantik-cantik itu akan menyukai kita."

__ADS_1


Atherio memutar kedua bola matanya, "Terserah."


Sementara itu, Atherina sedang membaca buku di kelasnya. Meskipun bel istirahat sudah berbunyi, sama sekali dia tidak berniat keluar dari dalam kelasnya.


Beberapa orang siswa berjalan melewati kelasnya sambil bercanda dan tertawa. Perhatian Atherina tidak teralihkan sama sekali, kedua matanya tetap fokus ke buku. Salah satu dari siswa itu melihat kearah Atherina yang berada di dalam kelas.


Senyuman siswa itu merekah kala melihat Atherina yang dikenal pendiam dan misterius. Perhatian siswa itu kembali teralihkan pada teman-temannya yang berisik. Dia tersenyum karena tingkah konyol teman-temannya.


Atherina menoleh kearah gerombolan siswa yang sudah mengilang dari jendela kelasnya. Dia memutar kedua bola matanya lalu kembali fokus pada bukunya.


◆◇◆


Bel pulang berbunyi, Atherina mengemas semua bukunya ke dalam tas dengan santai.


Beberapa teman sekelas Atherina saling berbisik, "Adik kelas kita yang tadi manis sekali, ya?"


"Iya, anak baru tahun ini banyak yang tampan."


"Ah, aku ingin menjadi kelas satu lagi agar bisa sekelas dengan mereka yang manis-manis."


"Aku juga."


Atherina tidak terlalu menghiraukan ucapan mereka. Semoga yang mereka bicarakan bukan Rio.. ah, pasti bukan Rio.


"Erina," salah satu dari mereka menegurnya. Atherina menoleh kearah mereka.


"Adikmu sangat tampan, aku tidak mengira usianya hanya berselisih dua tahun denganmu." Atherina mengerutkan keningnya.


Jadi benar, mereka membicarakan Rio.


"Kalian akrab, kan?" Tanya mereka. Atherina mengangguk. "Wah, boleh aku minta nomornya?" Mereka tampak semangat dan menghampiri Atherina.


Atherina tersenyum kecil, "Adikku tidak punya ponsel." Teman-teman sekelasnya kecewa, "Aaahhh, sayang sekali."


Atherina tidak memiliki kedekatan dengan siapa pun di kelasnya. Dia cenderung pendiam dan misterius. Namun, semua orang menyukainya karena dia baik dan cantik. Atherina tidak termasuk murid yang cerdas di kelas. Dia tidak pernah mendapatkan peringkat baik di kelasnya. Sebenarnya bisa saja dia menjadi bintang kelas tiap tahunnya, mengingat di markas dia selalu berlatih segalanya bersama para pelatih. Tapi, karena statusnya sebagai pemimpin gangster, dia tidak mau membuat orang lain curiga.


Atherina melangkahkan kakinya keluar dari kelas. Dia melihat semua kelas satu sudah kosong. "Kelas satu cepat sekali keluarnya."


Atherina melanjutkan langkahnya, tapi dia berpapasan dengan seorang siswa yang tadi memperhatikannya. Atherina menghentikan langkahnya menatap laki-laki tampan itu.


 


Laki-laki itu tersenyum, "Hai, namamu Erina, ya?" Atherina menganggukkan kepalanya merespon pertanyaan laki-laki itu.


Laki-laki itu mengulurkan tangannya pada Atherina, "Namaku Kang Jun Woo." Atherina menerima uluran tangan Junwoo sehingga mereka berjabatan tangan.


"Aku dengar kau masuk kelompok kebahasaan untuk kegiatan di luar pembelajaran, apa itu benar?" Tanya Junwoo.


Atherina menganggukkan kepalanya, "Iya, kegiatan hari senin dan sabtu." Junwoo membulatkan matanya, "Benarkah? Bagaimana jika aku ikut masuk kelompok itu? Aku juga mau belajar bahasa asing."


"Apakah masih bisa masuk satu orang anggota lagi?" Tanya Junwoo. Atherina menjawab, "Iya, tentu saja, bu guru pasti senang jika ada yang ingin belajar bahasa asing."


Junwoo melompat senang, "Ah? Baiklah, aku akan mendaftar besok."


"Aku mau ke tempat parkir, sampai jumpa," kata Atherina kemudian berlalu. Junwoo menyusulnya, "Tunggu!"


Sementara itu, Atherio sedang di dalam mobil. Dia menunggu kakaknya sambil makan chicken, Ji Hoo yang duduk di kursi kemudi tampak sedang memperhatikan ke sekeliling.


"Bagaimana hari pertama Tuan di sekolah?" Tanya Ji Hoo. "Tidak ada yang berkesan," jawab Atherio dengan mulut penuh.


"Pasti ada siswi yang mengidolakanmu, kan?" Tanya Ji Hoo sambil tertawa kecil. Atherio berhenti mengunyah, "Dari mana Paman tahu?"


"Di sekolah memang biasa seperti itu, mengidolakan junior atau senior memang hal yang biasa," jawab Ji Hoo.


Atherio ber-oh-ria.


Pandangan Ji Hoo tertuju pada sepasang murid yang keluar dari gerbang sekola. Kedua alis Ji Hoo terangkat ketika menyadari jika itu adalah Atherina.


"Nona Park bersama siapa, ya?" Gumam Ji Hoo pelan, namun Atherio mendengarnya. Dia beranjak dari tempat duduknya dan mencondongkan tubuhnya ke depan melihat arah tatapan Ji Hoo.


Laki-laki yang bersama Atherina tersenyum tampan sambil melambaikan tangannya pada Atherina yang berlalu pergi. Atherio cemberut kesal mengetahui kakaknya memiliki teman laki-laki di sekolah.


Atherina memasuki mobil, dia duduk di samping Atherio yang masih cemberut. Ji Hoo melajukan mobilnya meninggalkan sekolah.


Atherina melihat pada Atherio yang cemberut, tanpa merasa terbebani dengan ekspresi lucu adiknya, gadis itu memilih mengambil chicken dari tangan Atherio dan memakannya.


"Kakak pacaran?"


Mendengar pertanyaan konyol adiknya, Atherina menoleh dan menjawab, "Aku? Tidak."


"Lalu laki-laki idiot tadi itu siapa?" Tanya Atherio dengan nada ketus.


"Dia Junwoo, aku baru mengenalnya." Atherina memberikan kembali chicken milik adiknya. Atherio memakannya lagi.


"Tapi dia sepertinya menyukai Kak Nana." Atherina menggeleng, "Kami baru berkenalan tadi, mana mungkin dia menyukaiku."


Atherio mengalihkan pandangannya malas, Ji Hoo menyadari rasa cemburu yang di rasakan tuannya.


Atherina teringat percakapan teman-teman sekelasnya. Dia melirik kearah adiknya, "Oh iya, tadi teman sekelasku membicarakanmu. Mereka meributkan ketampananmu, lain kali jangan menarik perhatian mereka. Bisa-bisa mereka mendekatimu lalu menempel padamu seperti permen karet."


Atherio tampak berpikir, dia menatap kakaknya sambil tersenyum dan menyipitkan matanya, "Kakak cemburu?"


Atherina memundurkan tubuhnya karena mendengar pertanyaan konyol adiknya, "Apa yang kau bicarakan, aku tidak ingin mereka diam-diam mencari informasi idola mereka, yaitu dirimu. Nanti mereka bisa tahu tentang kita."


Atherio mendengus lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela untuk melihat jalanan yang dilewati mobil mereka.

__ADS_1


Atherina menatap Atherio, merasa di perhatikan, Atherio kembali melihat pada kakaknya. Pandangan mereka bertemu.


"Aku harap kau tidak terlalu menunjukkan bakatmu di sekolah," kata Atherina. "Memangnya kenapa?" Tanya Atherio.


"Aku harap kau tidak perlu meminta jawaban," ujar Atherina lalu memutuskan kontak mata duluan.


Sesampainya di rumah, Atherina segera memasuki ruang kerja ayahnya. Dia mengerjakan tugasnya sebagai pemimpin kelompok. Segelas kopi dingin selalu setia menemaninya ketika berkutat dengan komputer.


Gadis itu memperhatikan laporan keuangan setiap minggunya. Tidak ada sepeser pun yang luput dari perhitungan seorang Atherina Park. Jika ada yang salah dengan keuangannya, Atherina akan bertindak. Entah itu kerugian maupun keuntungan, dia perlu mempertanyakan kejujuran anggotanya. Apakah anggotanya korupsi, atau menipu rekannya.


Atherio memasuki ruang kerja ayahnya dengan kopi dingin di tangannya. Pandangan atherio sejenak teralihkan oleh kedatangan adiknya. Atherio duduk di samping kakaknya lalu memperhatikan laporan keuangan yang terpampang di layar komputer.


"Sudah di hitung?" Tanya Atherio kemudian meneguk kopinya.


Atherina menyandarkan punggungnya ke kursi, "Iya, ada yang janggal."


Atherio meletakkan kopinya di samping kopi milik kakaknya. Dia melihat ke layar, "Kas kita kelebihan? Jadi, kita mendapat untung lebih banyak? Itu bagus, kan?"


"Ada yang menjual barang kita dengan harga tinggi, jadi kas kita juga bertambah sebesar ini.. aku tidak mau ada orangku yang memanfaatkan rekan kita dengan menipu harga. Mendapatkan kepercayaan itu sulit, Rio. Kita akan mengembalikan ini." Atherina beranjak dari tempat duduknya.


"Kakak mau kemana?"


"Mencari siapa yang telah berani berbuat seperti ini," jawab Atherina kemudian berlalu meninggalkan ruangan.


Atherio kembali menatap layar komputer, dia mengerutkan keningnya lalu segera menyusul kakaknya.


◆◇◆


Atherina berdiri sambil memasukkan peluru ke dalam pistolnya. Di depannya ada anak buahnya yang duduk tertekuk dengan ekspresi ketakutan.


"Aku belum pernah menghukum mati orangku, tapi kenapa kau tidak mengakui kejahatanmu? Kau menipu rekanku, kan?" Tanya Atherina.


Dengan gemetar ketakutan, orang itu berusaha menjelaskan alasannya, "Nona, aku minta maaf.. ini kesalahanku, aku menjual dengan harga sebesar itu agar mendapatkan sebagian keuntungan untuk biaya istriku melahirkan. Tapi sebagian lagi aku masukkan ke dalam kas."


Ekspresi Atherina tetap datar, "Bagaimana pun juga, apa pun juga alasannya, seperti apa kondisinya, kau telah merugikan rekan kita.. seharusnya kau bilang kepadaku jika kau membutuhkan uang.. dengan melakukan tindakan seperti ini, kau membuatku kehilangan kepercayaan terhadap dirimu." Atherina menodongkan pistolnya ke dahi orang itu.


Yang di todong pistol makin ketakutan, keringat dingin menetes dari dahinya.


Atherio membuka pintu markas dan terkejut mendapati Atherina yang akan menembak orang di depannya.


"Kak Nana! Tidak!" Teriak Atherio.


Dor!!


Teriakan orang itu membuat kedua mata Atherio melebar kaget. Atherina menoleh kearah adiknya yang berdiri terpaku di ambang pintu.


Orang itu masih hidup, ternyata Atherina menembak lantai. Gadis itu menyimpan pistolnya ke meja. Dia menatap datar orang di depannya yang terlihat masih syok karena nyawanya hampir terenggut. Atherio menghampiri kakaknya dan melihat kearah orang itu.


Atherina melipat kedua tangan di depan dada, "Ini sebagai peringatan, bahwa aku bisa menghukum orangku yang melakukan kesalahan sekecil apa pun.. aku tidak menghukummu karena kau punya anak yang membutuhkan sosokmu."


Orang itu menyentuh kaki Atherina, "Terimakasih, Nona.. terimakasih.. aku berjanji akan memperbaiki semua kesalahanku."


Atherina mundur karena tidak nyaman dengan perlakuan orang yang jauh lebih tua dari darinya, "Tidak perlu seperti ini.. untuk saat ini kau akan di tempatkan sebagai anak buah biasa."


Orang itu tampak terkejut dan tersirat rasa kecewa dengan keputusan Atherina. Namun, di sisi lain dia juga mensyukuri karena Tuhan masih memberikan Atherina hati nurani untuk memaafkan kesalahannya.


Atherina mengambil pistolnya kembali dari meja membuat orang itu kembali berkeringat karena ketakutan, "Uang di kas akan aku tarik dan akan aku berikan kembali pada rekan yang telah kau tipu, uang yang kau pakai juga harus kau kembalikan."


"Ba-baik, Nona."


"Kau boleh kembali."


Orang itu membungkukkan badannya pada Atherina dan Atherio bergantian lalu berlalu pergi.


Atherio menatap kakaknya lalu bernapas lega, "Aku pikir Kakak benar-benar akan menghabisinya."


"Memangnya kenapa jika aku menghabisinya?" Tanya Atherina sambil mengeluarkan peluru dari pistolnya. "Istrinya baru melahirkan," jawab Atherio.


Atherina mengantongi pistol dan pelurunya, "Aku tahu, tadi dia juga bilang begitu. Tapi, kesalahan tetaplah kesalahan, Rio. Seharusnya dia tidak menyalahgunakan kepercayaanku.. sebagai seorang pemimpin, kau harus bisa lebih tegas."


"Kakak pernah menghukum seseorang?" Tanya Atherio penasaran.


Atherina menatap adiknya, "Bukan seseorang, banyak orang kita yang telah aku hukum. Aku memberi mereka satu kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Jika mereka dua kali melakukan kesalahan, mau tidak mau aku akan menghukum mereka."


"Dengan?" Tanya Atherio lagi.


"Memotong jari mereka," jawab Atherina. Atherio terbelalak mendengar jawaban kakaknya. Dia jadi teringat ucapan mendiang ayahnya.


".. Ayahku memimpin dengan penuh kekejaman, satu kesalahan kecil adalah satu buah jari. Satu kesalahan besar adalah tangan dan kaki.."


Atherio membatin, monster pembunuh, seperti kakek.


"Ini sudah malam, bukankah besok kau harus sekolah?" Pertanyaan Atherina membuyarkan lamunannya.


Atherio mengangguk, "Kakak juga besok sekolah, tidurlah."


Atherina mengangguk.


◆◇◆


17 Juli 2019


By Ucu Irna Marhamah


 

__ADS_1


 


__ADS_2