![ATHERIO PARK [SUDAH TERBIT]](https://asset.asean.biz.id/atherio-park--sudah-terbit-.webp)
"Ketika kau sudah berjanji, pilihanmu hanya dua, menepatinya seperti seorang ksatria, atau mengingkarinya seperti seorang pengkhianat."
_Ucu Irna Marhamah_
◆◇◆
Atherio bermain sepeda di halaman depan. Seperti biasa dia akan menunggu kakaknya pulang dari sekolah dan mengajaknya bermain.
Terlihat beberapa anak kecil lewat di depan gerbang kokoh pelindung kediaman Park. Atherio memperhatikan mereka, anak-anak itu tertawa bersama karena saling melempar candaan.
Atherio selalu mengingat ucapan ayahnya, Park selalu mendidik Atherio dengan penuh keangkuhan.
***
"Keluarga Park adalah keluarga yang istimewa, kau tidak bisa berteman dengan sembarangan anak." Ucapan Park membuat beberapa anak kecil yang berdiri di belakang Atherio menunduk ketakutan.
Atherio memandang ayahnya, dia tidak percaya ayahnya akan mengatakan hal tersebut di depan teman-temannya.
Pada akhirnya, dia tidak bermain dengan anak-anak yang seumuran dengannya lagi. Dia selalu bermain sendirian sebelum Atherina datang ke rumah itu.
Pada malam hari, Park akan memaksa putranya untuk segera tidur. Atherio menurut, tapi dia tidak benar-benar tidur. Ketika ayahnya pergi dari kamar, Atherio akan bangun lagi dan bermain dengan robot-robot mainannya. Dia tidak menyadari ada alat pendengar jarak jauh di kamarnya. Park selalu memperhatikannya walau tidak pernah menunjukkannya secara langsung.
"Anak ini," gumam Park ketika mengetahui Atherio yang berpura-pura tidur dan malah bermain di malam hari.
Tak jarang Atherio bermain sampai pagi. Di jam itu Park pergi ke kantor untuk mengecek hasil kerja karyawannya di siang hari. Namun bukan berarti Atherio kehilangan pengawasan ayahnya. Park menghubungkan akses rumah dengan akses kantor. Dia bisa mengawasi Atherio kapan saja dan di mana saja.
Atherio takut pada ayahnya ketika sedang marah, dia akan menuruti perintah ayahnya, walaupun pada akhirnya dia selalu membangkang dengan cara yang menggemaskan. Tapi Park juga terkadang tidak bisa mengendalikan putranya yang suka mengamuk dan merajuk.
"Ayah.. Ayaaahh ketika masih kecil, apa cita-cita Ayah? Ayah ingin menjadi apa?" Itu pertanyaan yang pernah terlontar untuk Park. Mendengar pertanyaan itu, Park menjawab tanpa harus memikirkannya terlebih dahulu.
"Aku ingin menjadi aku yang sekarang." Atherio mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban sang ayah. "Ayah tidak mau bertanya hal yang sama?" Tanya Atherio menggerutu.
"Memangnya cita-citamu apa?" Park bertanya sesuai keinginan putranya. "Aku ingin menjadi Presiden dan menyuruh Ayah tetap berada di rumah untuk bermain bersamaku." Park mencerna ucapan putranya.
"Satu lagi, Presiden Atherio Park akan menyuruh Ayah untuk tidak galak-galak lagi." Park tertawa mendengar ucapan anaknya. "Berani sekali kau Presiden kecil." Park memukul pelan pantat putranya.
***
Atherio melihat ada mobil hitam terhenti di depan gerbang. Itu bukan salah satu mobil ayahnya. Atherio mengetahui setiap benda milik ayahnya dengan rinci termasuk mobil, orang kepercayaan, dan yang lainnya.
Beberapa orang asing keluar dari mobil, mereka membawa senjata. Atherio melihat tidak ada penjaga satu orang pun di rumahnya. Biasanya para penjaga akan siap siaga berdiri di setiap penjuru halaman depan dan belakang.
Atherio merasakan ada kehadiran seseorang di belakangnya, bayangan orang itu terlihat di tanah. Dia menoleh, tiba-tiba tubuhnya di masukkan ke dalam kain seperti karung dan di angkat di bawa pergi ke dalam mobil.
◆◇◆
Di belakang sekolah, terlihat seorang anak perempuan berdiri berhadapan dengan pria yang lebih tinggi dan jauh lebih tua darinya. Pria itu tersenyum sinis. Rambut pirangnya yang menandakan bahwa dia orang asing, bergerak karena tertiup angin.
Atherina menatap pria itu dengan tajam.
"Who are you?" Atherina mengeluarkan suaranya. Pria itu melepaskan kacamatanya. Terlihat iris matanya yang berwarna biru menatap tajam pada Atherina.
"Aku bisa bahasa Korea," kata pria itu sambil mengaitkan kacamatanya ke saku jas yang dia pakai.
"Untuk apa kau kemari?" Tanya Atherina. "Saat ini bos kami ada di Incheon," pria itu seperti menjawab pertanyaan Atherina, tapi bukan itu jawabannya. Atherina menautkan alisnya dengan tajam.
"Kau terlihat seperti malaikat maut ketika melihatku, padahal kau hanya gadis kecil berusia 7 tahun." Atherina sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan pria hadapannya.
"Park membesarkanmu dengan cara yang menakutkan. Pasti dia telah mencuci otakmu, dia ingin menjadikanmu monster seperti dirinya." Atherina melipat kedua tangan di depan dada, "Jadi kau seorang musuh?"
"Saat ini orang-orangku sedang datang ke rumah Park. Mereka membawa sesuatu yang berharga dari sana." Mendengar itu, kedua mata Atherina membulat karena terkejut.
"Bukankah yang berharga itu adalah darah dagingnya? Kau hanya pion catur yang di pungut oleh Park untuk kepentingannya sendiri.. aku yakin kau mengerti maksudku. Kau sudah memahami di usiamu sekarang, kan?"
Atherina menyingsingkan lengan bajunya. Dia memperlihatkan kepalan tangannya, "Want to know it's like to die?"
Sementara itu, di gedung terbengkalai, terlihat Atherio sedang duduk di sebuah kursi. Di depannya ada seorang pria berwajah Asia sedang menghisap cerutu di tangannya.
"Siapa namamu?" Tanya pria itu. Atherio tidak menjawab. Dia mengalihkan pandangannya kepada para penjaga berwajah asing yang begitu menakutkan.
"Tidak mau menjawab, ya? Arogan seperti ayahnya." Pria itu mematikan api cerutunya yang masih panjang. "Mau aku keluarkan isi perutmu?"
Atherio sama sekali tidak terlihat ketakutan, "Aku sudah melakukannya sendiri pagi ini," jawab Atherio polos. Pria itu terkekeh sinis.
"Bagaimana jika aku mengirimkan sebelah tanganmu kepada Park?" Tanya pria itu dengan tatapan horor. "Jika kau mau mengirimkan tanganku, kau juga harus mengirimkan seluruh tubuhku." Pria itu tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Atherio.
"Bagaimana jika aku membunuhmu sekarang?" Tanya pria itu. Atherio tampak berpikir, "Aku tidak mau mati."
"Kita lihat saja nanti, monster mana yang lebih dulu sampai di tempat ini."
◆◇◆
__ADS_1
Park menegak minuman berwarna merah menggoda itu. Dia melihat ke layar komputernya, sesekali tangannya bergerak mengetik sesuatu.
Bruaaakkkk
Pintu ruangan kerja Park di buka secara paksa dari luar membuat pandangan Park tertuju pada pria yang terlihat panik dengan napas terengah-engah.
"Gun Seok, bisakah kau sedikit lebih lembut dengan mengetuk pintu ruanganku?" Tanya Park yang terlihat agak kesal.
"Tuan.. mianhamnida.. Tuan.. Ehhh.. Mereka menculik tuan muda," kata Gun Seok dengan napas terengah-engah. Park sama sekali tidak tampak terkejut atau panik. Dia melanjutkan memperhatikan layar komputer.
"Pantas saja aku tidak bisa melacak lokasinya," gumam Park. Gun Seok tampak bingung karena tuannya sama sekali tidak mencemaskan putranya yang sedang dalam bahaya. "Tuan, bagaimana dengan tuan muda?" Gun Seok mendekati Park dengan berdiri di depannya.
Park menjawab pertanyaan Gun Seok, "Biarkan saja, aku akan meminjamkan anakku sebentar.
Bukankah kita perlu mengetahui lokasi mereka?" Park memasukkan perangkat pelacak ke komputernya.
Lampu kecil di kalung yang selalu di pakai Atherio berkedip. Park memasang alat pelacak pada kalung tersebut untuk berjaga-jaga. Pria di depannya menyadari itu, dia tersenyum. Atherio menoleh kearahnya.
"Memang antisipasi yang bagus, Park," gumamnya. "Apa ayahmu sangat menyayangimu?" Tanya pria itu. Atherio tampak berpikir.
"Sepertinya Park lebih menyayangi kakakmu. Jika dia menyayangimu, dia akan segera datang kemari untuk mengambilmu."
Sementara itu, Park memutar layar komputernya menunjukkan lokasinya pada Gun Seok.
"Suruh Carlos dan yang lainnya untuk mendatangi lokasi ini," kata Park kemudian beranjak dari kursi sambil membenarkan dasinya.
"Apa kita perlu memanggil pasukan khusus dari markas?" Gun Seok bertanya dengan ekspresi cemas. "Tidak perlu, Kim Jong Woon tidak berbahaya, dia hanya tikus kecil." Park berlalu keluar dari ruangannya diikuti Gun Seok.
"Apa perlu helikopter agar anda cepat sampai?" Tanya Gun Seok. "Ani, aku akan naik mobil saja, Incheon itu dekat."
"Tapi Tuan, tuan muda di sana dalam bahaya. Bagaimana jika mereka melakukan sesuatu padanya?" Park menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Gun Seok yang juga berhenti mendadak.
"Dia tidak akan berani melakukan itu. Tapi baiklah, Siapkan helikopternya.. norak sekali aku mendatangi bangsat itu dengan helikopter." Park menggerutu kesal sambil melanjutkan langkahnya, Gun Seok mengikutinya sambil menelpon.
"Halo, siapkan orang-orang kita ke lokasi yang sudah aku kirim, siapkan helikopter juga untuk Tuan Park."
Ponsel Park berdering, Park mengeceknya, nomor tidak memiliki nama yang menelepon. Dia memberikan ponselnya pada Gun Seok. Dengan segera, Gun Seok menerimanya. Dia menunda pembicaraan dengan anak buahnya dan menerima telepon dari ponsel Park.
"Halo, siapa ini?"
"Berikan ponselnya pada Park," itu adalah suara Kim Jong Woon, orang yang menculik Atherio.
Gun Seok memberikan ponsel tersebut pada Park. "Kenapa menelepon, Kim? Aku akan segera ke sana," ucap Park.
"Putramu sangat tampan, tapi sepertinya dia mirip dengan ibunya. Hanya saja sifatnya mirip denganmu. Cepatlah kemari Park, aku merindukanmu, aku ingin segera bertemu denganmu."
"Cihhh, menjijikan."
"Jika dalam 30 menit kau belum tiba juga, aku akan mengirimkan organ tubuh putramu satu per satu."
"Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan, kau pikir putraku akan diam saja? Dia tidak sebodoh yang kau pikirkan." Park mengakhiri panggilannya. Gun Seok terlihat cemas, dia masih mendengarkan ucapan anak buahnya di seberang sana sambil menguping pembicaraan Park dengan si penculik.
"Secepatnya, tuan muda tidak bisa menunggu lama," kata Gun Seok pada anak buahnya diseberang sana. Park tersenyum mendengar ucapan anak buahnya yang begitu mencemaskan putranya.
"Baik bos!"
Gun Seok mengakhiri panggilannya, dan tetap mengikuti Park dari belakang.
◆◇◆
Tersedia banyak makanan yang tampak lezat di depan Atherio, tapi tampaknya anak itu sama sekali tidak berniat memakannya.
Kim yang melihat itu pun angkat bicara, "Hungry? Makanlah sesuatu."
"Pasti ada racun di makanan itu, kan?" Mendengar ucapan Atherio, Kim mengambil salah satu makanan dan memakannya.
"Seperti yang kau lihat, tidak ada racun. Tidak ada susu sapi di sini." Atherio terkejut karena pria di depannya bisa mengetahui bahwa dia alergi susu sapi.
"Kau merindukan ayahmu?" Tanya Kim. "Tidak, kami 'kan tinggal serumah." Setelah mendengar jawaban Atherio, Kim menyesal telah bertanya. Dia tahu itu memang pertanyaan konyol.
Kim melempar ponselnya ke depan Atherio, "Bilang padanya untuk segera menjemputmu."
Atherio mengambil ponsel tersebut, "Ayah? Ayaaah?"
"Kau lapar?" Pertanyaan itu yang pertama kali di dengar Atherio. "Tidak, Ayah sedang apa?"
"Ayah sedang di jalan... ah tidak, Ayah tidak di jalan.. Ayah di udara, kau tunggu saja, ya. Tikus di depanmu tidak menakutimu, kan?"
Atherio menoleh ke arah Kim yang sedari tadi memperhatikannya. Atherio mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Ayah membawa makanan?" Tanya Atherio setengah berbisik, tapi Kim masih bisa mendengarnya.
"Tidak, apa aku harus mendarat dulu untuk membeli sesuatu?"
"Tidak perlu, aku akan menunggu. Jangan terlalu santai," Atherio menyimpan ponsel tersebut ke meja.
__ADS_1
"Park memang terlalu santai,"
Tiba-tiba terjadi ledakkan dan menyebabkan pintu gedung terbengkalai itu terbuka lebar membuat cahaya matahari masuk lewat sana. Para penjaga di dalam terkejut, mereka semua bertiarap. Atherio dan Kim juga terkejut, mereka melihat ke pintu.
Terlihat sebuah siluet tubuh gadis kecil berdiri di sana. Siapa lagi kalau bukan Atherina. Atherio terkejut melihat keberadaan kakaknya. "Kak Nana!"
"Ah? Jadi monster kecil manis ini yang tiba lebih dulu di sini? Tapi bagaimana caranya?" Kim memasang ekspresi seperti sedang berpikir keras.
Terdengar suara pria terbatuk-batuk memasuki gedung. Pria yang memiliki ciri khas orang barat itu berdiri di belakang Atherina. "Ah pria itu," gumam Kim.
"Paman Esteban!" Atherio mengenali pria yang merupakan salah satu anak buah ayahnya itu. "Ciao, maaf sedikit terlambat!" Ujar Esteban.
"Lepaskan Atherio," ucap Atherina tanpa basa-basi. Atherio melihat ekspresi Atherina sangat menakutkan tidak seperti biasanya. Dia terlihat seperti orang jahat ketika menatap Kim.
"Aku ingin ayahmu yang mengambilnya." Atherina mengepalkan tangannya geram, anak buah Kim mengepung Atherina dan Esteban. Esteban memasang kuda-kuda.
Atherina menoleh kearah Atherio, di mengubah ekspresinya seperti biasa. Dengan senyuman, Atherina berbicara pada Atherio, "Rio, berbaliklah dan tutup matamu, seperti saat kita bermain petak umpet." Kim menoleh pada Atherio.
Atherio tersenyum kemudian mengangguk semangat, dia berbalik membelakangi mereka semua lalu menutup matanya dengan kedua tangan. Kim mengerutkan keningnya.
"Mulai berhitung," kata Atherina.
"Satu.."
Atherina menyerang duluan, dia berkelahi dengan hebatnya, tanpa rasa takut. Gerakan yang sempurna dibantu Esteban. Kim sampai terkesima dan berdiri terpaku di tempatnya. Teriakan kesakitan terdengar menggema memenuhi ruangan.
".. dua.."
Beberapa anak buah Kim tersungkur jatuh ke tanah. "Luar biasa.. Park benar-benar telah berhasil menciptakan monster dalam waktu sesingkat ini," gumam Kim.
".. tiga.."
Semua anak buah Kim jatuh hanya dalam hitungan ketiga.
Sunyi,
Atherio berhenti menghitung, "Apa sudah selesai?" Suara Atherio menggema di ruangan itu. "Sudah, kemarilah." Atherio berbalik dan segera berlari memeluk Atherina, Atherina membalas pelukannya.
Terdengar suara derap langkah kaki menuju gedung itu. Ternyata Park bersama anak buahnya yang berjumlah sangat banyak. Mereka terkejut melihat semua penjaga gedung terbengkalai itu tergeletak tak sadarkan diri di depan gedung.
Park yang berdiri di depan memperhatikan tubuh-tubuh yang tergeletak di tanah. Carlos, Victor, Gun Seok, Min Hyuk, dan Woo Joon Ki berdiri di belakangnya.
"Cek, apakah mereka masih hidup?" Mendengar perintah tersebut, semua anak buah Park bergerak untuk mengecek keadaan orang-orang yang tergeletak itu.
Victor berjongkok dan mengecek denyut nadi dari salah satu penjaga. "Mereka masih hidup, tapi sepertinya syaraf mereka sedikit bermasalah. Ini adalah perbuatan orang yang ahli dalam bela diri sepertiku," ucap Victor.
Park mengangkat wajahnya melihat langit yang cerah, "Dia sudah tumbuh sesuai dengan keinginanku."
"Dia?" Gun Seok bertanya karena bingung. "Victor, kau melatihnya dengan baik," ucap Park sambil menepuk bahu Victor. Victor menganggukkan kepala hormat, "Arigatou gozaimasu, Tuan."
Mereka memasuki gedung dengan gegas.
Sementara itu, Kim tertawa terbahak-bahak melihat drama kecil di depannya. Atherina menautkan alisnya dengan tajam sambil melihat Kim. Atherio menoleh ke arah Kim. Esteban melihat Kim dengan ekspresi malas.
"Kalian begitu akrab, terlihat seperti saudara. Atherio, apa kau tahu siapa gadis kecil yang kau peluk itu? Dia bukan.."
"Apa aku terlambat?" Ucapan Kim terpotong karena kehadiran Park bersama orang-orang kepercayaannya, belum lagi anak buahnya juga datang. Pandangan Atherio, Atherina dan Esteban tertuju pada sekutu mereka yang baru datang.
"Kau sendirian sekarang, anak buahmu sudah tak berdaya. Lebih baik kau menyerah sekarang sebelum aku yang me.." Park tidak melanjutkan kata-katanya, dia melihat pada Atherio.
"Min Hyuk, bawa Atherio pergi." Mendengar perintah Park, Min Hyuk segera mengangkat tubuh Atherio dan membawanya keluar dari gedung itu.
"Kenapa kau melakukan ini? Setelah kau mengkhianatiku, aku tidak membunuhmu. Tapi kau malah melakukan hal bodoh dengan membuatku marah dua kali," Kim tertawa mendengar ucapan Park.
"Hentikan anak buahmu di wilayahku!" Bentak Kim. Park menautkan alisnya dengan tajam, "Aku tidak pernah melanggar perbatasan wilayah."
Atherina melihat ke arah Park, Park juga menoleh pada Atherina, "Carlos, bawa Atherina pada Min Hyuk, suruh dia untuk membawa Atherina dan Atherio pergi ke tempat lain."
Carlos menghampiri Atherina, "Nona," Atherina mengangguk mengerti. Dia melangkahkan kakinya pergi bersama Carlos.
"Wait, little girl." Ucapan Kim membuat Atherina menghentikan langkahnya, begitu pun dengan Carlos yang berbalik menatap Kim.
"Apa yang kau lakukan pada anak buahku yang aku kirim ke sekolah untuk menemuimu?"
◆◇◆
15.44 : 24 Juni 2019
By Ucu Irna Marhamah
__ADS_1