Ayah Aku Rindu

Ayah Aku Rindu
Kebahagiaan Sesaat


__ADS_3

Hari ini aku bangun agak kesiangan. Badanku terasa pegal semua mungkin kemarin aku begitu aktif dan melakukan perjalanan jauh. Kemarin sakitnya tak ku rasakan sama sekali, hari ini baru ku rasakan efeknya.


Ku menarik badan ku berulang - ulang kali.


"aku jadi malas ke sekolah ni," kataku dalam hati.


"Tok...tok...tok..."


Pintu kamarku di ketuk.


"Lila...lila...ayo bangun nak, kamu tidak ke sekolah ya?" Tanya ibu.


Ku menarik nafas panjang.


"Tidak bu," jawabku sambil membuka pintu.


Ibu meraba - raba kening ku.


"Kamu kenapa sayang, kamu tidak demam kok." kata ibu.


"Badanku sakit semua bu, pegal rasanya," jawabku lemas.


"Ya sudah...kamu istirahat saja nanti sebentar ibu telpon wali kelas kamu,"


ibupun pergi meninggalkanku.


Aku kembali ke tempat tidur ku dan beristirahat. Akupun terlelap.


Tok...tok...tok...


Pintu kamarku diketuk lagi, hingga membuatku terbangun dari tidur lelapku.


"Lila...lila, ayo bangun dulu nak! Ayo sarapan!" Ajak ibu.


Aku merasa lemas tapi ku paksakan untuk bangun dan membuka pintu untuk ibu.


Kreaaaakkkk...


Pintu ku buka.


"Ayo sarapan!" Ajak ibu sambil merangkul lengan ku.


Aku mengangkuk lemas.


Aku dan ibu menuju ruang makan dan ayah sudah menunggu kami.


"Sayang kamu kenapa?" Tanya ayah kuatir.


"Badan lila sakit yah, pegal semua." Jawabku lemah.


"Sarapan dulu, habis itu kamu istirahat. Selesai sarapan baru ayah membelikanmu obat."


"Iya ayah, makasih yah...," kataku sambil mengangguk tanda setuju.


Aku mengambil sesondok nasi dan ku isikan ke dalam mulutku. Ku rasakan pahit di mulut ku, nafsu makan ku menurun.


"Kok hanya sesuap?" Tanya ibu bingung.


"Mulut lila terasa pahit bu."


Ibu memperhatikanku secara seksama.


"Wajahmu, kok memerah?" Tanya ibu


Ibu melangkah ke arahku dan meraba keningku sekali lagi.


"Ya ampun kamu demam, tadi pagi kamu tidak apa - apa." kata ibu panik.


"Lila tidak apa - apa kok bu," jawabku menenangkan ibu.


"Kita langsung ke dokter ya!" Ajak ayah.


Ayah mengeluarkan mobil dan membantu ibu memapahku masuk ke dalam mobil.


✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨


"Dok bagaimana keadaan anak saya?" Tanya ayah.


"Anak bapak terkena radang tenggorokan. Pasti selama ini anak bapak sering jajan dan minum minuman dingin," kata dokter.


Ayah hanya terpaku mendengar penjelasan dokter. Dan ibu melirik ayah tampa berkata sepata katapun.

__ADS_1


Dokter menuliskan resep obat yang nanti ditukarkan di apotik samping tempat prakteknya.


"Terima kasai dokter," kata ayah dan ibu bergantian.


Ayah menukarkan resep dokter di apotik sekalian membayar biaya konsultasi dokter.


Sedangkan aku dan ibu menunggu di mobil.


Sepulangnya ayah dari apotik kami langsung menuju rumah.


"Yah...itu lila sakit karena ayah yang terlalu memanjakan lila berlebihan. Selalu di beri uang jajan. Kan ibu sudah bilang kalau sebaiknya lila tu makan di rumah bukannya jajan sembarangan." Omel ibul


Ayah tersenyum merasa bersalah.


"Maaf ya bu, ayah tidak akan mengulanginya lagi." Ayah meminta maaf.


"Anak sakit dulu baru menyesal, coba lila baik - baik saja, kalau ibu bilangin pasti bawelnya minta ampun persis anaknya." Omel ibu lagi.


Aku dan ayah saling menatap dan tersenyum.


"Ini obat kamu," ibu memberikan obatku dengan kesal.


"Nanti lila tak kunjung sembuh loh, kalau ibu memberikan obat seperti itu." kata ayah menggoda ibu.


Aku hanya tersenyum, tak mengeluarkan suara sedikitpun; benar - benar malas.


"Kalau sudah selesai; ayo ibu antar kamu ke kamar, kata ibu.


Ibu merangkul lenganku dan memapahku ke dalam kamar, ayahpun mengikuti kami dari belakang.


Ibu membaringkan ku, mengangkat selimut dan menyelimutiku. Sebelum ayah dan ibu kemabali ke kamar mereka, ayah dan ibu mencium keningku secara bergantian.


"Selamat tidur sayang; moga mimpi indah," kata ayah.


Mataku mulai terasa berat, mungkin karena efek obatnya. Akupun tertidur dengan pulasnya samapai - sampai aku tak sadar kalau sudah bagi.


Ibu membuka kamarku, langsung menuju tempatku berbaring, ibu meraba keningku. ku mendengar ibu berbicara sendiri.


"Syukurlah demamnya sudah turun,"


Ku membuka mataku dan ku sapa ibu.


"Pagi juga sayang, udah mendingan ya?"


"Iya bu, lila sudah merasa baikan."


"Ohya sarapan kamu mau dibawa ke sini atau mau makan sama ayah dan ibu?"


"Makan sama ayah dan ibu saja."


"Okok...ibu duluan ya,"


Aku tersenyum sambil mengangguk.


Setelah merapikan rambutku, aku menuju ruang makan.


"Selamat pagi sayang, bagaimana kabarmu hari ini?" Tanya ayah.


"Pagi yah, sudah mendingan. Badan lila sudah tidak pegal - pegal lagi.


"Syukurlah, ayo duduk dekat ayah; kita sarapan." Ajak ayah.


Aku mengunyah makanan, kali ini rasanya agak mendingan mungkin karena obatnya sudah bekerja. Aku makan sedikit lahap. Ku lihat ayah dan ibu menatapku dan tersenyum. Ku lihat wajah mereka tersirat rasa kebahagiaan mungkin karena aku mulai berangsur pulih.


"Ohya lila, ibu hampir lupa. Kemarin sahabat - sahabatmu datang menjengu mu. Karena ibu bilang kamu masih tidur, mereka langsung pamit pulang. Katanya biar kamu beristirahat dulu."


Belum setengah menit ibu selesai bicara, terdengar suara sahabat - sahabatku. Memanggil namaku sambil mengetuk pintu.


Aku tersenyum dan berkata dalam hati.


"Benar - benar umur panjang mereka."


Mereka menyapa ibu dan menanyakan kabarku.


"Eee lila, bagaimana kabar mu?" Tanya vita yang melihat kedatanganku di ruang tamu.


"Sudah mendingan, sih!"


"Kamu sakit apa?" Tanya aby.


Sebelum ku jawab pertanyaan aby, ibu sudah duluan menjawabnya.

__ADS_1


"Radang tenggorokan, terlalu banyak jajan."


Sahabatku tertawa berbarengan.


"Kalian tidak ke sekolah?" Tanyaku


"Pergi kok," jawab margot.


"Masa? Kenapa jam begini sudah pada nongol di sini?" Tanyaku


"Kami sudah meminta ijin di guru piket, jadi kamu jangan terlalu kuatir ya. Kami tidak akan dihukum kok," jawab atan.


Satu jam telah berlalu, ke lima sahabatku berpamitan kepada kedua orang tuaku dan aku. Merekapun kembali ke sekolah.


Ku kembali ke meja makan dan duduk di sebelah ayah.


"Ayah, ayah tidak ke kantor ya?" Tanyaku.


"Tidak! Ayah lagi kurang fit mungkin jangkit dari kamu."


"Hmmm...ayah! Penyakit ayah kambuh lagi ya?" Tanyaku.


Ayah terdiam sejenak.


"Ayah, jawab dong." Rewelku.


"Tidak sayaaaannngggg, jawab ayah.


"Kalau sakit ayah kambuh, lila harap ayah jangan sembunyikan dari lila ya, seperti waktu itu." Kataku


Ku sodorkan jari telunjukku untuk membuat perjanjian dengan ayah. Awalnya ayah merasa berat tapi ayah menyodorkan jari telunjuknya untuk ku lingkari dengan jari telunjukku.


"Janji!"


"Iya, Ayah janji!"


"Lila ke kamar dulu ya, mata lila sudah lima watt ni. Gantuk berat, kataku.


"Iya cepat ke kamar mu, nanti kamu bisa tidur sambil jalan lagi." Goda ayah ku.


Aku hanya tersenyum.


Ayahku itu memang humoris, jika ada orang yang belum mengenal beliau, orang itu akan mengira ayahku orang yang cool dan sangar.


✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨


Ku menarik selimutku dan ku pecamkan mata.


Terdegar suara dari kejauhan ada yang memanggilku dan berteriak minta tolong.


Mataku masih terasa berat karena efek obat dan ku berusaha mengumpul kembali nyawaku yang hilang sejenak.


"Lila...lila tolong ibu nak."


Terdengar jelas sekarang, ternyata itu suara ibu. Akupun beranjak darì tempat tidur dan berlari ke arah ibu.


"Ada apa bu?" Tanyaku.


"Tolong ibu, papah ayahmu. Ayahmu...ayahmu jaaaatuh dari sofa dan tak sadarkan diri." Kata ibu terbata - bata.


Ku merasa sesak di dada, air mataku menggenang tapi ku berusaha tenang dan tegar.


"Ayo bu!" Ajak ku


"Lila...tolong lihat nomor hp dokter bram di hp ibu, dan tolong di kontak ya," kata ibu gugup.


Aku dan ibu memapapah ayah ke kamar tidur ku lekas mengambil hp ibu. Ku otak atik hp ibu dan mencari nomor hp dokter.


"Ketemu!" Kata ku.


Ku menekan nomor dokter dan akupun menelpon dokter.


Aku : "Dok bisa ke rumah? Penyakit ayah sepertinya kambuh dan ayah tidak sadarkan diri."


Dokter : "Ok...aku mempersiapkan petalatan dan langsung menju ke rumah.


Ku mematikan hpku. Kududuk lemas di samping tempat tidur ayah. Ku melihat ibu nampak sedih sambil memegang tangan ayah. Sesekali ibu mencium tangan ayah. Melihat adengan itu air mataku jatuh membasahi pipiku.


Ku hapus sesegera mungkin air mataku dan berkata dalam hatiku.


"Kamu harus kuat dan tegar lila, jangan menambah kesedian ibu."

__ADS_1


__ADS_2