
"Anak-anak silakan kumpul tugas kalian." perintah Bu Siska guru Biologi kami.
"Baik Bu," jawab kami kompak.
"Lila tugas kamu mana? Tanya Vita.
Ku membongkar isi tas ku, mencari buku tugas Biologi.
"Di mana ya? Kok tidak kelihatan, padahal tadi aku sudah menyimpannya di dalam tas."
"Cepat Lila nanti kamu di hukum Bu Siska loh," lanjut Vita.
Ibu Siska memang terkenal sebagai guru yang paling kiler. Dia tidak akan memberi ampun kepada siswa-siswi yang bandel ataupun yang tidak mengerjakan tugasnya.
"Di mana tugas ku? Tugasku hilang!" ku membongkar semua isi dalam tas.
"Ketemu!" Seru ku dan akhirnya aku menarik nafas panjang tanda legah.
"Syukurlah aku tidak jadi di hukum," lanjut ku.
"Lila...Lila..., kebiasanmu dari dulu tak kunjung hilang ya, Vita menjewer telinga ku.
Memang dari dulu kebiasaanku yang paling buruk adalah suka melupakan sesuatu yang aku simpan sendiri salah satunya seperti sekarang ini, aku lupa di mana ku simpan buku tugas Biologiku.
Ku tertawa malu, dan bergegas mengantar tugas Biologi ku.
"Aman!" Ku elus dada ku
Dan Vitapun tersenyum melihat tingkah ku itu.
Tiba saatnya jam istrahat, kami berenam berkumpul di pojok kantin untuk membahas segala hal, entah itu tugas, curhatan hati ataupun rencana - rencana yang kami bahas seperti sekarang ini.
Vita membuka percakapan.
"Aby, Margot sore kita ke rumah Lila ya, kita buat puding.
"Hanya kalian ya terus aku dan Neno?" tanya Atan.
"Kalian juga lah, sahut ku."
"Okok jam berapa?" Tanya Margot bersemangat.
" Jam 04.00 ya," jawab ku singkat.
"Ingat jangan suka ngaret ya," lanjut Vita.
"Aman bos, kami tidak akan telat kata Neno.
Bel masuk berbunyi, kami berenam kembali ke kelas masing - masing untuk mengikuti segala proses pembelajaran.
Tak lama kemudian bel panjang berbunyi seluruh kelas menjadi riuh.
"Hore...pulaaanggg," pekik kami.
"Tumben hari ini pulang cepat," tanya Vita.
Aku hanya mengangkat bahuku tanda tak tahu.
"Guru - guru ada rapat, makanya kita pulang cepat. Sahut wati ketua kelas kami.
Sepulang sekolah aku dan vita berbelanja untuk kegiatan kami, membuat puding ala - ala kami.
Nada dering handphone ku berbunyi, ku bergegas mengambilnya dari tasku. Tertulis dilayar hpku "Ayah memanggil"
"Halo Yah...,maaf Lila hari ini pulang terlambat karena Lila sama Vita masih berbelanja yah." Aku langsung memperjelas sebelum di tanya Ayah.
"Ohhhh, Ayah mau bilang kalau Ayah sama Ibu mu mau keluar sebentar." Sambung Ayah.
"Kemana Yah?" Tanya ku.
"Ada urusan sedikit sayang," lanjut Ayah.
"Kok Ayah sama Ibu akhir - akhir ini sering keluar, selalu saja ada urusan," ngomel ku.
Terdengar tawa Ayah dari seberang.
"Sudah ya sayang, Ayah dan Ibu pergi dulu. Pamit Ayah.
"Dah Ayah! Hati - hati di jalan," aku mengakiri percakapan ku dengan Ayah.
"Lila, Ayah dan Ibu kamu pergi lagi ya?" tanya Vita.
"Iya Vit," jawabku singkat.
"Kemana?" Vita lanjut bertanya.
Dan akupun hanya mengelengkan kepala ku.
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐
"Lila...Lila," panggil Neno dan Atan.
"Neno, Atan silakan masuk," ku mempersilakan Neno dan Atan.
"Di mana yang lain?" Tanya Atan.
"Mungkin sebentar lagi, kan ini baru pukul 15.30," jawab ku.
"Kamu berdua mau minum apa?" Tanya ku lagi.
"Apa saja, yang penting jangan diberi racun." Sahut Neno menggodaku.
"Hmmm," ku mencibirkan bibir ku.
"Tumben hari ini kamu mau membuatkan kami minuman, lagi mimpi baik ya semalam," lanjut Atan yang tak mau kalah dari Neno.
__ADS_1
Mereka berdua memang sama - sama usilnya.
"Ibu dan Ayahmu mana? Kok tidak kelihatan?" Tanya Neno.
"Ayah dan Ibu ku lagi ada urusan, sebentar juga mereka balik." Jawab ku.
"Lila...Lila!" Panggil Vita, Margot dan Aby.
"Hei kalian, ayo masuk. Neno dan Atan sudah menunggu kalian dari setengah jam yang lalu loh, kataku sambil mempersilakan ketiga sahabatku masuk.
Vita mengeluarkan bahan untuk membuat puding, hasil belanjaan kami berdua tadi.
Margot dan Aby mengambil tempat untuk menyimpan bahan, sedangkan Atan dan Neno sibuk berbain PS di ruang TV.
"Lila di mana kedua orang tuamu?" Tanya Margot.
"Iya dari tadi ayah dan ibumu tidak kelihatan?" Sambung Aby sambil mengaduk adonan puding.
"Aku tak tahu kemana ayah dan ibuku pergi. Hanya tadi ayahku menelpon, kata ayah mereka keluar sebentar ada urusan sedikit."
"Owww...jawab mereka kompak."
"Lila di mana cetakan pudingnya?"
Tanya Aby seperti seorang koki hebat.
"Ini!" Ku berikan cetakan puding berbentuk hello kittie kepada Aby.
"Tinggal tunggu berapa menit dan puding siap di santap," lanjut Aby.
Dua puluh menit kemudian Vita mengeluarkan puding dari kulkas.
"Tara... pudingnya sudah jadi," kata vita. Kami semua begitu terpesona dengan hasil karya kami.
"Ternyata kalian pandai masak juga ya," goda Atan.
"Kira - kira kalian berempat hanya bisa berdandan, cengeng, bawel dan rewel;" sambung Neno.
Atan dan Nenopun tertawa geli melihat ekspresi kami setelah mendengar perkataan mereka.
"Selamat soreh semuanya," ibu memberi salam.
"Selamat soreh bu,"
"Sore tanta!" Jawab kami.
"Senangnya tanta melihat kalian semua di sini, biar Lila tidak kesepian karena om dan tanta tidak ada di rumah."Lanjut ibuku.
Sahabat - sahabatku membalas perkataan ibuku dengan senyuman.
"Tanta silakan dicoba puding buatan kami," kata Margot sambil menyodorkan potongan puding pada ibu.
Ibu mengambil sepotong puding dan mencicipinya.
"Ibu, Ayah di mana? Kok tidak kelihatan?" tanyaku.
"Oh...Ayahmu lagi keluar kota sayang." jawab ibu singkat.
"Bukannya tadi ayah pergi sama ibu?" Tanya ku.
"Iya; tadi ayah dan ibu pergi bersama tapi, tadiada telepon dari kantor ayah, dan ayah mendapat tugas ke luar kota, kata ibu.
"Owwww trus kapan ayah pulang bu?" Tanya ku lagi.
"Lusa sayang," jawab ibu.
"Kok lusa? Mengapa tidak besok pulangnya?" Tanya ku lagi.
"Sayang, ada beberapa urusan yang harus ayah selesaikan jadi lusa baru bisa balik. Dan lagian ayah pergi karena urusan kantor bukan piknik," kata ibu.
"Malam ini kamu bisa sendiriankan?" Tanya Ibu.
"Emangnya Ibu mau ke mana?" Tanyaku.
"Ibu mau menginap di rumah Oma, Oma lagi sakit" jawab ibu.
"Aku ikut ya Bu?" "Tidak usah sayang, besok kamukan masih harus ke sekolah.
"Semuanya Tanta tinggal ya," lanjut Ibu.
"Ok Tante!" Jawab mereka.
Vita, Aby, Margot, malam ini kalian bertiga temani aku ya?" Pintaku.
"Maaf Lila, aku tak bisa menemanimu karena malam ini ada acara keluarga di rumahku, maaf ya;" kata Margot.
"Aku juga Lila, maaf ya;" kata Vita.
"Tidak apa - apa kok kan ada Aby, atau kamu juga ada acara malam ini ya By?" Tanyaku.
"Kalau aku sih, tidak ada acara jadi bebas.
Dan aku bisa menemani kamu malam ini.
Aku telpon Aayahku dulu ya; untuk meminta ijin nginap di rumah mu," kata Aby.
"Okok!" Kataku.
"Lila sudah gelap ni, kami pulang dulu.
"Tante kami pamit pulang. " Iya, hati - hati di jalan ya" kata ibu ku.
Aku dan aby mengantar kepergian sahabat - sahabat kami ke depan rumah dan kami segera masuk karena hari sudah semakin gelap.
"Lila, aby ayo bantu ibu," kata ibu. "Iya bu, iya tanta," jawab aku dan aby hampir bersamaan.
__ADS_1
"Aby tolong ambilkan tanta tas yang di atas lemari itu ya, dan kamu Lila tolong masukan map kuning itu ke dalam tas pakaian ibu.
"Ibu ke dapur dulu."Ibu pergi meninggalkan kami dan menuju dapur.
"Hmmm, map apa ini?" Tanyaku dalam hati.
Ku membuka map itu dan ku melihat isi map itu, tiba - tiba ibu datang dan merampas map dari tanganku.
"Sayang, tidak baik membongkar isi map ini," kata Ibu.
"Lila tidak membongkarnya ko Bu, Lila hanya melihatnya saja," jawabku.
Ku merasa ada yang tak beres, tak biasanya Ibu bersikap seperti itu.
"Bu...kok di dalam map ada foto copy kartu kesehatan dan KTP milik ayah?" Tanyaku lagi.
"Hmmm...Itu, itu untuk urusan kantor ayah.
Ayah berpesan kepada ibu untuk mengirimnya besok;" kata Ibu.
"Ibu tidak berbohongkan?" Tanyaku menyelidiki.
"Tidak sayang," jawab Ibu. "Tidak ada yang ibu sembunyikan dari Lilaan?" Tanyaku lagi.
"Tidak sayang," jawab Ibu.
"Sudah ya..., Ibu berangkat dulu, takutnya tidak ada ojek lagi, ohya kalian jangan lupa makan dan jangan ingat mengobrol saja karena esok kalian harus bangun pagi.Ibu sudah menyiapkan makanan." Kata ibu mengalihkan pembicaraan.
"Baik bu, baik tanta, jawab aku dan aby.
"Hati - hati di jalan bu, salam buat oma." Lanjutku.
Hatiku masih merasa tak puas, masih ada rasa curiga. "Aneh, buat apa kantor meminta foto copy KTP dan kartu kesehatan ayah," gumamku.
"Lila ada apa? Jangan bilang kamu kesurupan?" Tanya aby.
"Enak saja! ayo makan," ajakku.
"Habis dari tadi kamu komat - kamit tak jelas sih," lanjut Aby.
"Hmmm, enak saja, ini makan. Ku masukan sendok yang berisi penuh nasi dan lauk ke dalam mulut Aby agar Aby berhenti berbicara.
"Hahaha" aku tertawa geli melihat wajah Aby yang menjadi merah seperti udang rebus, dan pipinya seperti bakpao.
"Jahat kamu Lila, awas pembalasan ku," kata Aby.
Ku julurkan lidaku mengejek Aby dan tak merespon apa yang di katakannya. Ku anggap kata - katanya seperti angin yang berlalu.
"Tumben ayah tidak mengabariku," kataku dalam hati.
Aby aku telpon ayahku dulu ya," kata ku.
"Baru sehari saja sudah telpon, apa lagi ayah kamu pergi satu minggu, bisa mati berdiri kamu, omel Aby.
"Bukan begitu By, ayahku tidak biasanya seperti ini. Kalau ayah pergi ataupun telah tiba di suatu tempat ayah akan mengabariku."
"Mungkin ayahmu masih sibuk," lanjut Aby.
"Mungkin, tapi kok perasaanku jadi tak enak ya?" Lanjutku.
"Lila...wajarlah kamu seperti itu karena ayahmu belum mengabari mu," Aby menenangiku.
"Kok tidak diangkat," gerutuku.
"Sabar Lila mungkin ayahmu masih sibuk, sebentar saja, baru kamu menghubungi ayah mu lagi," kata Aby.
"Baiklah," kataku sambil menarik nafas panjang.
Perasaanku semakin gelisa. Aku mondar - mandir di ruang tamu sambil melihat jam diding dan akupun tak sabar lagi untuk menghubungi Ayah.
"Lila ayo duduk di sini," ajak Aby.
" Iya," jawabku," tapi hatiku masih gunda gulana.
Selang beberapa menit hpku berdering, akupun bergegas membuka hpku.
"Hore ayah mengirim pesan padaku."
Sedangkan aby hanya bisa menggeleng - gelengkan kepalanya melihat sikapku.
"Lila maaf ya nak, ayah tidak bisa menerima telponmu karena ayah harus menyelesaikan urusan kantor. Sekali lagi maaf ya sayang."
Hatiku sedikit legah setelah membaca pesan ayah.
"Apa aku bilang, ayahmu pasti sibuk sehingga belum bisa menghubungi mu," kata Aby.
Aku tersipu malu mendengar perkataan Aby."
Yuk istrahat! Sudah jam sepuluh ni, bisa - bisa kita berdua bangun kesiangan." Kataku.
"Iya, iya," jawab Aby.
"Sebenarnya siapa ya yang membuat kita terjaga sampai jam begini, gerutu Aby."
Ku tersenyum dan berkata, "Aby sayang jangan marah - marah dong nanti lekas tua."
Aku dan Aby menuju kamar dan beristirahat agar besok kami dapat bangun pagi.
"Ayah jangan tinggalkan Lila."
Air mataku mengalir membasahu pipi ku.
"Lila...Lila," Aby memanggilku sambil mengoncangkan tubuhku.
"Lila, ayo bangun! Kamu kenapa?" tanya Aby.
"Ak...aku mimpi buruk By, sudah berapa kali aku selalu memimpikan hal yang sama. Aku bermimpi kalau Ayah ku meninggal."
__ADS_1
"Itu karena sebelum tidur kamu lupa berdoa, makanya kamu bermimpi hal - hal yang buruk." Kata Aby sambil menghapus air mata di pipiku.