
"Tok...tok...tok
Pintu depan di ketuk.
Aku beranjak dan berlari menuju pintu depan.
Ku membuka pintu.
Creaaakkk...
"Malam dok," sapaku.
"Malam," jawab dokter singkat.
"Lewat sini dok," ku menunjukan arah menuju kamar ayah.
Dalam perjalanan menuju kamar ayah, ku menceritakan kepada dokter tentang kronologi singkat kejadian tadi.
Sesampainya di kamar dokter mulai memeriksa ayah.
"Dok...bagaimana keadaan suami saya?" Tanya ibu kuatir.
"Bu...suami anda harus di rawat di rumah sakit, mungkin ada benturan di kepala karena jatuh tadi jadi perlu di CT SCAN."
"Ehhh..." ayah merintih kesakitan.
Aku dan ibu langsung menghampiri ayah.
"Ayah..." Panggil ibu
"Ayah..." Panggil ku.
Ayah membuka matanya.
"Bapak bagamana keadaannya bapak?" Tanya dokter.
"Masih sakit dok, kepala saya pusing sekali," jawab ayah menahan sakit.
"Bu...saya akan menelpon ambulans. Suami anda harus di rawat di rumah sakit," kata dokter.
Ibu hanya mengangguk dan terpaku di samping ayah, sesekali ibu meramas tangan ayah.
"Oh... Tuhan, terasa sesak hati ini." Batinku berteriak dan menangis.
🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠ðŸŒ
Sesampainya di rumah sakit, ayah langsung di larikan di ruang ICU.
Ku melihat ayah dari kaca luar, banyak alat yang di pasang di tubuh ayah. Batinku semakin berontak, aku tak sanggup melihat ayahku di pasang dengan alat - alat seperti itu.
Ku berlari dan bersembunyi di belakang ruangan ICU, ku menangis, meratap sejadi - jadinya.
Ku sengaja mencari tempat tersembunyi biar ibu tak melihatku menangis. Ku tak mau ibu bertambah sedih karena melihatku bersedih.
"Tuhan...tolong sembuhkan ayah, kami masih membutuhkannya. Terutama aaaku Ya Tuhan, bagaimana diriku tampa ayah."
Aku terus menangis.
Ku bangun berdiri, ku hapus air mataku dan melangkah ke ruangan ICU, ruangan di mana ayah di rawat.
"Lila...kamu pulang dan beristirahat, kamukan belum benar - benar sembuh," kata ibu.
"Tidak apa kok bu, lila mau temani ayah sama ibu."
"Jangan keras kepala, ayah biar ibu yang jaga."
"Sebentar lagi baru lila pulang ya, biarkan lila bersama ayah sedikit lebih lama bu."
"Baik lah, kamu mau duduk di samping ayah?" tanya ibu.
Aku mengangkuk.
Hatiku sedih tapi ku berusaha menyembunyikannya.
"Ayah...ayah..." panggilku sambil mencium tangan ayah.
Ayah membuka mata berlahan, menahan sakit.
__ADS_1
Ayah mengelus pipiku,
"Ayah lekas sembuh ya!"
Ku lihat wajah ayah berubah sedih.
"Jangan bersedih ayah, jangan kuatirkan lila. Lila baik - baik saja. Ayah harus fokus dengan penyakit ayah. Lekas sembuh ya, lila balik dulu ke rumah."
Ku pergi tampa melihat ayah, ku takut air mataku jatuh tak bisa di bendung lagi.
Saat ku keluar dari ruangan ayah, aku berpapasan dengan dengan dok yang membawa hasil lab ayah.
"Bu..., suami ibu harus di rujuk ke rumah sakit yang lebih besar karena kancer suami ibu sudah masuk stadium empat. Suami ibu harus di kemotrapi dan radioterapi. Rumah sakit ini belum memiliki alat untuk kemo dan radiotrapi."
"Baik dok, apa saja yang penting suami ku bisa sembuh." Jawab ibu.
Hatiku teriris mendengarnya, ingin ku berteriak tapi aku tak mau ayah dan ibu menjadi kuatir terhadapku. Rasanya benar - benar menyiksa ku, sesak rasanya.
Ku berlari pulang, ku tak sanggup mendengar penjelasan dokter lagi.
Ku rebahkan tubuhku di tempat tidur ku, ku menarik nafas panjang berulang - ulang kali. Tak ada gairah dalam diriku, semangat ku hilang.
Aku tak bisa tidur walaupun ku paksa mata ini tuk menutupnya. Aku beranjak dari baringanku. Berjalan mondar - mandir di kamarku. Tak jelas, bingung.
"Ah...apa yang harus ku perbuat?"
Ku membuka pintu kamar dan berjalan menuju ruang tamu.
Aku begitu ling lung, seperti orang gila. Aku terjatuh dan menangis sejadi - jadinya.
Ku menangis melepaskan segala beban yang meyiksa ku.
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
Aku menggigil kedinginan karena ternyata semalam aku tertidur di lantai ruang tamu.
Ku membuka mataku, terasa perih. Mungkin karena aku menangis semalaman.
Ku melihat sekeliling,terasa begitu sepih. Karena ayah dan ibu ku masih di rumah sakit.
ku, ku melihat wajah ku di cermin, tampak begitu sembab dan kedua mataku bengkak semua.
Ku melanjutkan aktivitasku harianku tampa semangat sedikitpun.
"Lila...kamu kenapa?" Tanya vita bingung melihat sikapku.
Aku menatap vita, tak terasa air mataku mulai menggenang. Ku peluk erat vita dan tangis ku pun pecah.
"Kamu kenapa lila?" Vita semakin bingung karena aku tak menjawabnya.
Vita hanya bisa menarik nafas panjang, dia memberikan ku kesempatan untuk tenang.
"Ayah ku vita...ayah ku...di ICU!" Kataku terbata - bata.
"Aaaayah ku mengidap penyakit kanker stadium empat." Lanjut ku.
"Apa?" Vita tersontak kaget.
"Sudah...berhenti menangis ya! Sebentar lagi pelajaran akan di mulai." Lanjut vita.
Ku mengangkuk. Ku hapus air mataku.
Vita hanya menatap ku sedih dan iba.
Pelajaran demi pelajaran ku lewati tapi aku tak memiliki semangat sedikitpun. Keceriaan ku pun ikut menghilang.
"Yuk kita ke kantin," ajak vita.
Aku menggelengkan kepala ku.
"Aku malas vit,"
"Ayolah!" Vita menarik paksa tangan ku.
Aku pun terpaksa bangun dan mengikuti vita ke kantin.
"Hay, kalian berdua ayo ke sini," ajak margot.
__ADS_1
"Lila kamu kenapa? Kok matamu bengkak?" Tanya aby.
"Jangan terlalu bertanya, biarkan kami berdua duduk dulu." Pinta vita.
"Mbak mana pesanan kami?" Tanya neno sedikit berteriak.
"Lila kamu kenapa? Cerita dong sama kami! Jangan di pendam itu tidak baik," kata margot.
"Iya lila, kita berenam kan bukan sekedar sahabat." Lanjut atan.
"Ayah lila masuk rumah sakit dan sekarang ada di ruangan ICU," kata vita.
Suasana hening sejenak.
Wajahku nampak murung dan sedih.
"Lila...ayo habiskan makananmu," kata vita seperti emak - emak.
"Kasian makanannya di anggurin seperi itu, bisa - bisa majanannya menangis loh," sambung neno.
Ku tersenyum kecut dan dan memakan makanan ku. Baru sesuap tapi tak bisa telan. Terasa kenyang perut ku.
Sahabat - sahabat ku bergantian menatapku tapi tak berkata apa - apa. Mereka membiarkanku untuk menikmati lamunanku. Mungkin mereka berpikir kalau aku butuh kesendirian. Tapi tak bertahan lama mereka membiarkan ku asyik dengan lamunan ku. Mungkin karena mereka takut aku ke sambet. Atau takut hal - hal yang menakutkan terjadi pada ku.
"Lila...bagaimana kalau soreh ini kita sama - sama menjenguk ayahmu di rumah sakit," usul atan.
"Setuju, sepulang sekolah kita langsung ke rumah sakit." Lanjut margot.
"Setujuuuuu..."
Aku menatap ke lima sahabatku itu, dan ku tersenyum melihat tingkah mereka. Ku merasa hatiku sedikit terobati dengan kehadiran mereka.
Bel panjang berbunyi, kini waktunya pulang. Sahabat - sahabatku sudah menunggu ku di gerbang sekolah. Hari ini kami berencana untuk bersama - sama ke rumah sakit, menjenguk ayah ku.
"Vita dan aby di mana?" Kok tidak kelihatan?Tanyaku.
"Tadi mereka persis di belakang kami, mungkin masaih singgah di suatu tempat," kata margot.
"Itu mereka," atan menunjuk ke arah pintu masuk rumah sakit.
"Kalian dari mana sih?" tanya margot.
"Nih!" Aby menujukan parsel yang berisi buah - buahan.
"Ayo" ajak ku.
Setibanya di ruangan ICU, kami melihat ibu berada di luar ruangan.
"Ibuuu...kenapa di sini?" Tanya ku.
"Ayahmu lagi beristirahat, jadi ibu mencari udara segar di sini."
Ku memakluminya, ibu pasti sangat cape dan lelah.
"Pasti ibu belum tidur sama sekali."
"Ibu sudah makan?" Tanya ku lagi.
"Sudah!"
"Ibu istirahat dulu ya, biar lila sama sahabat - sahabat lila yang menjaga ayah."
"Ahhh...maaf ya tanta sudah merepotkan kalian."
"Tidak kok tanta," kata atan.
"Tanta pulang dulu ya, oh ya lila masuknya jangan bersamaan ya nanti kalian dapat teguran dari pihak RS."
"Iya tanta, Iya bu...
Ku masi tak sanggup melihat ayah dengan peralatan medis di sekujur tubuh nya.
Tapi ku harus berani, dan kuat.
Mau sampai kapan ku menghindar dan tak sanggup menatap alat - alat itu.
Apa lagi ada sahabat - sahabat ku yang ingin menjenguk ayah, tak mungkin aku tak masuk bersana mereka.
__ADS_1