Ayah Aku Rindu

Ayah Aku Rindu
Sunset


__ADS_3

Ku mempersiapkan bekal untuk kami berdua karena janji ku kepada Atan.


Ku membawa minuman bersoda dan keripik ubi kesukaan ku juga beberapa cemilan untuk kami santap nantinya.


Satu kresek penuh, berisikan cemilan.


Akupun menuju pantai dan ku melihat Atan sudaah menunggu ku dan ku menghampirinya.


"Sudah dari tadi ya? Maaf! Tadi aku masih menelpon ayah.


"Tak apa kok! Aku juga barusan di sini."


"Ayo!" Ajak atan


"Kemana?" Tanya ku penasaran.


"Ikut saja!"


"Kepana sih?"


"Ikut saja lah, pasti kamu suka."


Akupun mengikuti Atan dari belakang seperti anak ayam yang mengekori induknya.


Dalam hati ku bertanya tanya ke mana sembenarnya tujuan kami.


Kami menyusuri pantai dan jalan setapak, melewati bukit bukit kecil.


Setelah 20 menit perjalanan dari penginapan kami, akhirnya kamipun tiba di suatu bukit.


"Bagaimana menurut mu Lila?" Kata atan sambil menunjukan pemandangan yang terpampang di depan kami.



"Woooowww...!" Aku terpukau dengan apa yang kulihat. Benar benar indah ciptaan Tuhan, sangat menabjukkan.


"Indahnya! Benar - benar indah,"


"Kamu suka?"


"Iya!" Jawabku sambil mengangukkan kepala ku.


Ku duduk menatap, terpesona dengan pemandangan yang ada di depan ku.


Ku mengamati sekitar kami dan lagi lagi ku menikmati pemandangan. Aku benar - benar terpukau dengan keindahannya.


"Dari mana kamu tahu tentang tempat ini?" Tanya ku penasaran.


"Dari pengelolah penginapan! Jawab Atan enteng.


"Aku ingin menujukan sesuatu kepada kamu?" Kata Atan sambil menatapku dalam.


"Lagi? Apa itu? Bukan ini sudah ya?" Tanyaku penasaran.


"Aku ingin menunjukan mu Sunset, kata orang sunset di sini begitu indah."


Ku meneguk minuman bersoda sambil menunggu Sunset.


"Atan, ayo makan! Sambil menunggu sanset." Kata ku sambil menyodorkan sebungkus besar keripik ubi.



"Wah indahnya, jadi pingin berlama lama di sini." Kata ku sambil mengunyak kripik ubi.


"Iya sangat indah, seperti kamu!"


"Deeeeeggggg... deeegggg... deeeeggg..."


Jantung ku berdetak begitu kencangnya.


"Ada apa ini?"


Ku tersenyum menyembunyikan perasaan ku.


"Kamu memang hebat bisa mengetahui tempat indah seperti ini." Kata ku mengalihkan pembicaraan.


"Iya kapan - kapan kita berdua ke sini lagi, kita berdua saja." Kata Atan sambil menatap ku penuh arti.

__ADS_1


Kamipun saling berpandangan.


Ada rasa yang bergejolak di dalam sana, di dalam hati ku dan jantung ku berdetak tidak normal.


"Ya Tuhan, apa yang terjadi? Mengapa ku merasa seperti ini !" Gumam ku di dalam hati.


Tak ada kata, hanya tatapan penuh arti dari Atan membutku salah tingkah.


Ini hanya perasaan ku atau aku terlampau geer.


Tapi aku tetap memegang teguh prinsip ku. Sahabat adalah sahabat, hanya bisa dijadikan saudara bukan kekasih.


Lagian aku ingin membahagiakan kedua orang tua ku, tak ada pacaran atau kekasih dalam kamus ku.


"Buang jauh jauh Lila, kamu tak boleh memendapam rasa. Atan itu sahabat mu.


Segeralah musnakan perasaan itu, jangan berharap lebih."


"Sepertinya sudah gelap, yuk turun. Aku takut nanti kita bertemu dengan binatang yang berdesis." Kata ku sambil beranjak berdiri.


Atan memengang tangan ku, dan aku tak kuasa menolaknya. Ku biarkan dia menggenggam tangan ku


Ku merasakan jantung ku berhenti sesaat karena tangannya yang lembut menyetuh tangan ku.


"Bisakah kita sedikit lebih lama di sini?" Tanya atan menatapku begitu dalam.


Ku sengaja mengalihkan pandangan ku dengan melihat jam di tangan ku.


"Lain kali ya, aku kuatir kalau teman teman kita akan mencari kita. Soalnya sudah jam 06.05 nih, dan hari semakin gelap. Acaranya pasti sudah di mulai." Kata ku berusaha tenang walaupun sebenarnya perasaan ku terasa campur aduk.


"Ayo, lain kali kita akan ke sini lagi."


"Berjanjilah pada ku Lila."


"Ya Tuhan apa yang harus ku jawab? Aku takut dia merasa kecewa dan sedih."


"Ada apa dengan ku, sadar...sadar lah Lila, Atan itu sahabat mu!"


"Janji!" Kata atan membuyarkan lamunan ku.


"Iya, lain kali." Jawab ku agar Atan mau kembali kembali ke penginapan.


Aku takut hati ku tak sejalan dengan prinsip ku. Aku takut hati ku lemah tak sekuat logika ku. Aku takut logika ku juga ikut melemah seperti hati ku.


"Ahhh...Tuhan bantu aku!"


Atan memengang tangan ku dan kami menyusuri jalan yang kami lewati tadi.


Dan aku membiarkan dia memegang tangan ku, tanpa perlawanan dari ku.


Kami pun tiba di pantai.


Teman - teman kami sudah berkumpul dengan kelompok masing - masing.


Kami telah sampai tapi aku tak kuasa melepas genggaman tangan Atan.


"Hei kalian, dari mana saja sih?" Tanya Vita.


"Jalan - jalan!" Jawab Atan dengan santainya.


"Kenapa tidak ajak - ajak sih?" Rewel Vita


Aku dan atan berlalu tanpa merespon rewelannya vita.


Kamipun bergambung dengan kelompok kami.


Atan selalu bersama ku dan dia tak melepaskan genggaman tangannya sama sekali.


"Atan ...atan...," panggil ku.


"Ada apa?" Jawab Atan lembut.


Deeggggg...degggg...deeeggggg...


Jantung ku berdetak kencang.


"Atan, please! Buat biasa saja, aku bisa kehabisan nafas kalau kamu bertingkah seperti itu terus."

__ADS_1


"Atan lepaskan tangan ku!" Kata ku berbisik.


"Apa?" Kata atan pura pura tak mendengarkan perkataan ku.


"Lepaskan tangan ku!"


Atan memandang ku dan tersenyum, tapi dia tak melepaskan tangan ku.


Hatiku semakin amburadul, aku takut ketahuan sahabat - sahabat ku.


"Ohh Tuhan, semoga mereka tak melihatnya!"


"Atan...Atan," aku memanggilnya lagi.


"Ada apa Lila?" Tanya atan. Suaranya begitu lembut dan manja.


"Tolong lepaskan tangan mu."


"Kenapa memangnya?"


"Tak enak dengan teman - teman dan sahabat sahabat kita."


"Memangnya ada yang salah?"


"Iya, tangan mu tu!" Aku menunjukan tangannya yang masih memegang erat tangan ku.


"Biar saja!"Jawabnya cuek.


"Anak ini!"


"Memangnya salah kalau aku memengang tangan orang yang ku sayangi? Salakah jika aku mencintai sahabat ku sendiri?"


Deeegggg...Degggg...Deeeeggg...


Pertanyaan Atan membuat jantungku berpacu semakin kencang.


Ku mengamati sekeliling ku, aku takut ada yang mendengarkan atau ada yang curiga dengan sikap kami.


"Syukurlah, mereka sibuk dengan hp mereka."


"Kamu tidak salah kok, hanya saja kita ini di indonesia bukan di luar negeri."


"Memangnya kalau di indonesia, kita tidak boleh menunjukan perasaan kepada orang yang kita sukai ya?"


"Bukan begitu sih!"


"Terus!"


Ku terdiam sesaat.


"Tunggu! Sejak kapan kami jadian? Sejak kapan Atan bilang suka sama aku? Apakah sanset hanya sebagai alasan? Ahhhh...aku pusing!"


"Kayaknya seru nih!" Neno mengagetkan kami.


Dan akupun terbangun dari lamunan panjang ku.


"Apa Neno curiga? Apa Neno mendengarkan apa yang kami perbincangkan tadi?"


Ku menarik nafas panjang.


"Ayo ngaku, tadi kalian berdua ke mana?" Tanya Neno bak seorang detektif.


Ada rasa curiga yang tersirat di raut wajahnya.


"Jalan - jalan." Jawab Atan cuek.


"Kalian tidak melakukan hal yang aneh aneh kan?


"Dasar pikot ( pikiran kotor ) kamu," lanjut atan sambil mendorong kepala Neno.


**Note :


Terima kasih buat para reader setia ku .❤❤


Karena masih tetap membaca dan mendukung karya ku.


Tetap dukung author ya, dengan cara like, vote, rate dan coment yang membangun.

__ADS_1


Dan jadikan favorite biar tetap bisa membaca kelanjutannya**.


__ADS_2