Ayah Aku Rindu

Ayah Aku Rindu
Acara Penutupan


__ADS_3

Hari semakin gelap dan acara penutupan akan segera dimulai. suasananya terasa begitu hangat, rasa persaudaraan begitu kental.


Neno sudah kembali ke tempat duduknya semula tampa berpamitan dengan ku dan Atan. Seperti hantu yang tak meninggalkan jejak.


Sedangkan aku dan Atan masih sama seperti sedia kala.


Atan belum juga melepaskan tangan ku dari genggamannya.


"Selamat sore menjelang malam guru - guru ku sekalian dan teman - teman sejawad ku. Malam ini, malam terakhir kita di sini. Terima kasih atas segala partisipasi teman - teman sekalian untuk ikut andil memeriahkan kegiatan kita. Saya persilakan pak Adrian untuk memberikan sepata dua kata untuk mewakili Bapak Kepala Sekolah. Kepada bapak, saya persilakan." Kata Andi selaku MC.


Pak adrian melihat jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya.


"Selamat malam semua, Yang terhormat Bapak Kepala SMA Negeri 01, yang terhormat rekan - rekan guru ku sekalian dan anak - anak ku terkasih. Bapak sangat bahagia karena ternyata anak - anak bapak memiliki kemampuan yang hebat dalam berolah raga. Walaupun ini hanya kegiatan darma wisata tapi kalian melakukannya dengan sebaik mungkin. Bapak harap kalian mempertahankan itu. Terima kasih."


Pidato singkat pak Adrian guru olah raga kamipun usai.


Kami semua bertepuk tangan dan bersorak sorai.


Kamipun melingkari kayu yang disusun rapi, dan acara api unggun pun akan segera dimulai.



Panitia sengaja mengadakan kegiatan api unggun untuk mempererat persaudaraan,


memupuk kerja sama (gotong royong), menambah rasa keberanian dan kepercayaan diri, mengembangkan bakat dan kreatifitas dan memupuk disiplin bagi kami semua.


Panitia juga membuat kegiatan api unggun agar suasana menjadi lebih gembira dan lebih bebas.


Puncak acarapun di tutup dengan nyanyian Dika.


"Untuk menutup acara kita ini, kita sambut Diiiikkkaaaaa..., untuk membawakan sebuah lagu. Kepada dika saya persilakan." Lanjut Andi.


Dika pun maju ke tengah lingkaran dengan malu - malu, menggaruk kepala dan pipinya walaupun sebenarnya tidak gatal sama sekali.


Maklum lah Dika adalah anak yang pemalu.


Dika mengambil gitarnya dan mulai melantunkan lagu "CINTA TERPENDAM - JUDIKA".


Kami yang mendengarnya, ikut terbuai alunan gitar dan suaranya akan membuat siapa saja yang mendengarnya jatuh cinta.


Kami semakin terbuai dibuatnya, dan kamipun ikut menyanyikan bersama Dika..


**Aku tak kuasa didekatmu


Aku tak bisa sembunyikan hatiku


Terlalu lama aku pendam


Terlalu jauh aku merasakan


Mencintaimu tanpa kau tahu itu


Kini kau tahu segalanya


Tentang rasaku ku kan siap terima


Apapun yang akan terjadi


Cukup hanya sekali kukatakan


Aku cinta, cinta sampai mati


Dan kutunggu hingga akhir waktu mengambil cintamu


Terlalu lama aku pendam

__ADS_1


Terlalu jauh aku merasakan


Mencintaimu tanpa kau tahu itu


Terlalu lama aku pendam


Terlalu jauh aku merasakan


Mencintaimu, menginginkanmu tanpa kau tahu itu


Apapun yang akan terjadi


Cukup hanya sekali kukatakan


Aku cinta, cinta sampai mati**.


Mendengarkan lagu yang dinyanyikan oleh Dika, membuat jantung ku berdebar - debar dan hatiku menjadi tak karuan, di tamba Atan memegang tangan ku semakin erat.


Atan menoleh ke arah ku, menatap ku dalam.


Tatapannya membuat ku merasakan hal yang tak seharusnya ku rasakan dan aku menjadi salah tingkah, seperti seorang anak yang kedapatan mencuri roti oleh ibunya.


"Ohhhh...Tuhan bantu aku!"


Lagi, lagi dan lagi, dan untuk kesekian kalinya aku meminta pertolongan Tuhan untuk membantu ku mengontrol hati ku yang semakin tak karuan.


Acara berjalan dengan meriahnya, tetapi kami harus mengakhirinya karena esok kami harus bangun lebih awal.


"Besok jam 06.00 pagi kita semua berkumpul di pendopo dan tidak boleh telat. Sampai bertemu besok teman - teman ku sekalian. Selamat malam!" Andi mengahiri acara penutupan.


"Atan, lepaskan tangan mu." Kata ku memohon.


"Sedikit lagi, ku ingin sedikit lebih lama seperti ini."


Akhirnya Atan melepaskan gengaman tangannya.


"Selamat beristirahat Lila, semoga mimpi tentang kita."


Ku membalas perkataan Atan dengan senyuman dan berlalu menuju kamar.


✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨


"Ayah...ibu...lila pulang!"


"Selamat datang sayang, bagaimana kegiatannya?" Tanya ayah.


"Sangat...sangat...meeeennnnyyeeeennnaaaaannnnggggkkkan, ayah!" Kata ku sambil memeluk ayah.


"Aku merindukan kalian. Merindukan canda ayah dan merindukan masakan ibu."


"Sana mandi! Kamu bau asam," kata ibu sambil menutup hidungnya.


Ku mencium tubuh ku, memang sedikit bau asam. Mungkin karena berdesakan di dalam bus sehingga membuat ku keringat dan menghasilkan bau asam.


"Dah...yah, dah...bu.., Lila mandi dulu ya, nanti kita lanjutkan ceritanya.


Akupun bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri ku agar tidak bau asam lagi.


Seketika pikiran ku terbang melayang jauh pada kejadian kemarin.


Di atas bukit, saat melihat sunset.


Tapi tepatnya bukan sansetnya melainkan Atan. Sikapnya tidak seperti biasanya dan tidak sewajarnya.


Akupun membuyarkan lamunan ku dan melanjutkan aktivitas ku yang sempat terhenti.

__ADS_1


Selesai mandi tak lupa ku gunakan deodoran dan parfum, biar bau asamnya pergi menjauh dan tak akan kembali.


"Hmmmm...harumnya, cari sampai dapat!" Kata ayah menggoda ku.


"Ahhhh...ayah! Aneh aneh saja."


"Lanjut dong ceritanya." Pinta ayah.


Akupun menceritakan segala kejadian kepada ayah dengan penuh semangat. Dan aku terhenti ketika ku mengingat sunset.


"Ada apa? Kok berhenti sih? Tanya ayah bingung.


"Tidak kok yah." Akupun berbohong kepada ayah.


"Hmmm anak dan suami ku, kalau gobrol suka lupa waktu." Ibu menghampiri kami.


Aku dan ayah saling pandang dan senyam senyum tak jelas.


"Ayo makan," ajak ibu.


Setelah selesai makan, aku membantu ibu di dapur. Membersihkan semua prabotan yang kotor.


"Akhirnya...selesai!" Kata ku sambil duduk dan merenggangkan otot otot ku yang kaku di samping ayah.


"Yah...kapan ayah kontrol lagi," tanya ku membuka percakapan.


"Hmmm...kapan ya? Mungkin lusa."


"Wah...pas dong, Lila temani ya!"


"Memangnya kamu tidak ke sekolah?"


"Sekolah yah. Tapi kami pulang cepat karena hanya terima raport."


"Tapi ayah dan ibu pergi pagi loh!"


"Kan Lila bisa nyusul."


Ayah hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Karena ayah sudah tahu baik sifat ku. Keras kepala dan tak mau kalah.


"Yah...bu...Lila istirahat duluan ya. Mata Lila sudah lima watt ni!"


"Emangnya lampu? Pake acara lima watt segala!" Kata ayah mengejek ku.


Aku hanya tersenyum dan balik kanan menuju kamar ku.


Ku mengambil selimut ku dan menutupi badan ku yang terasa berat karena menahan ngantuk.


Aku terlelap dan tersadar dalam alam mimpi.


Ku berada di taman yang sama seperti mimpi mimpi ku sebelumnya, banyak bunga warna warni menghiasi taman itu. Tapi, tanpa ayah dan ibu.


Aku sendiri mengintari taman itu, berjalan - jalan menikmati indahnya pemandangan.


Ku melihat dari jauh ada seseorang yang datang menghampiri ku membawakan ku sebuket bunga.


Sekarang wajahnya terlihat jelas.


"Atan!"


Cahaya matahari telah menembus kamar ku, melewati gorden yang menutupi jendela kamar ku.


Membuyarkan mimpiku, dan akupun tersadar.


"Mimpi itu lagi, tapi mengapa Atan?"

__ADS_1


__ADS_2