Ayah Aku Rindu

Ayah Aku Rindu
Rumah Sakit Kasih Ibu


__ADS_3

Perjalanan begitu melelahkan, jalan yang terjal dan berkelok - kelok tak membuat kami mengurungi niat kami, mengatar ayah ke rumah sakit rujukannya.


Maklum kota ku berada di daerah perbukitan, sehingga kalau mau ke luar kota, jalanannya agak membuat kepala pening. Berkelok - kelok persis seperti ular.


Sekarang pukul 02.00 pagi, ku menatap ayah dan ibu mereka tidur dengan pulasnya, sedangkan Atan masih fokus mengemudi. Sesekali dia mengucak matanya menahan ngantuk.


"Tan istirahat saja dulu!"


"Tanggung nih, hampir sampai."


"Tapi kamu keliahatn lelah, rengangkan dulu! otot - otot mu, baru kita lanjutkan perjalanan."


Atanpun menuruti usulanku, dia menepihkan mobilnya. Begitu juga Neno.


Mereka berdua merenggangkan otot - otot sambil berlari kecil.


Setelah selesai dengan acara perenggangan otot, kami melanjutkan perjalanan.


Perjalanan yang panjang tak membuat kami menyerah dengan tujuan kami.


Akhirnya kamipun tiba di rumah sakit rujukan ayah, rumah sakit Kasih Ibu.


Rumah sakit ini terletak di pinggir pantai, desiran obak terdengar jelas membuat setiap orang yang dirawat di rumah sakit ini menjadi bahagia. Yah, seperti terapi lah. Menghilangkan stres karena rasa sakit yang diderita mereka.


Karena sudah subuh kami menuju ruang IGD, Ibu yang dibantu Neno mengurus segala administrasi ayah, sedangkan kami bersama ayah yang sedang di periksa perawat.


Ayah sudah menuju ruangannya, bangsal Mawar.


Perawatan ayahpun dimulai.


"Lila...,sebaiknya kamu sama sahabat - sahabat mu cari penginapan. Biar ibu yang menjaga ayah mu."


"Biar Lila yang menjaga ayah bu."


"Tidak apa - apa kok, dari tadi ibu sudah puas beristirahat."


"Baik bu."


"Permisi tanta."


Aku dan sahabat - sahabat ku mencari hotel yang terdekat dengan rumah sakit agar mudah aksesnya.


Aku memilih sekamar dengan Vita, Margot bersama Aby dan Neno bersama Atan. Sedangkan ibu ku, aku memesan satu kamar buatnya.


Hari ini adalah hari istirahat buat kami. Melepaskan kejenuhan dan kepenatan selama perjalanan. Benar - benar legah rasanya.


Ku berbaring di tempat tidur, walaupun lebih empuk dari tempat tidur ku tapi aku merinduhkan rumah ku, kamar ku, terutama tempat tidur ku.


Walaupun belum sehari juga, aku sudah merasakan rindu dengan suasana rumah ku.


"Ayah lekaslah sembuh."


Ku menutup mata ku dan terlelap dalam dunia mimpi ku.


Ku terisak dalam tidur ku, memanggil nama ayah. Serasa nyata ku ditinggal pergi ayah.


"Lila...kamu kenapa?" Tanya Vita sambil menggoncangkan tubuh ku agar aku cepat terjaga.


Ku mengucak mata ku, terasa basah karena tagis ku.

__ADS_1


"Lila...kamu kenapa?" Tanya Vita karena melihat ku sudah membuka mata.


"Aku bermimpi."


"Mimpi yang sama?" Tanya Vita lagi.


"Iya, mimpi yang sama. Mimpi yang membuat ku semakin takut akan kehilangan ayah, mimpi yang terasa begitu nyata sehingga meyayat hati."


"Sudah jangan terlalu pikiran, serahkan segalanya pada Yang Kuasa. Ayo mandi sana setelah itu kita cari makan ya, sudah lapar nih!"


Ku menatap Vita sesaat, ada rasa iba yang terpancar dari sinar matanya. Mungkin dia sengaja mengalihkan pembicaraan agar aku tak sedih karena mimpi buruk.


Ku anggukkan kepala dan menuju kamar mandi.


Ku tanggalkan baju ku, dan ku tenggelam dalam derasnya shower. Menikmati setiap tetes yang membasahi tubuh ku. Terasa menyegarkan.


Ku keringkan tubuh ku dan ku kenakan pakian santai. Setelah selesai dengan upacara mandi mandi sekarang aku bersama sahabat - sahabat ku mencari makan mengisi kantong tengah yang telah berteriak untuk minta diisi di restorant hotel.


Menikmati sarapan yang lagi populer, American Breakfast bersama sahabat - sahabat ku, menghilangkan sedikit rasa rindu ku pada rumah ku dan seisinya. Kami tak lupa memesan lebih untuk ibu.


Pukul 10.45, aku dan sahabat - sahabat ku menuju rumah sakit. Karena jaraknya yang begitu dekat dengan hotel, kami memutuskan untuk berjalan kaki sekalian menikmati indahnya pesisir.


Seperti memberi aba - aba atau memang memahami apa yang hati Atan inginkan, Vita, Margot, Aby dan Neno berjalan begitu laju meninggalkan aku dan Atan di belakang mereka.


Di Rumah Sakit Kasih Ibu


"Dok bagaimana hasil MRI suami saya?"


Dokter mengamati hasil MRI ayah


"Hmmm..., sebaiknya suami ibu di operasi, sebelum sel kankernya menyebar."


"Iya bu!"


Ibu begitu bimbang mengambil keputusan.


"Sabar ya dok, saya akan berbicara dengan anak saya dulu."


"Baiklah bu. Tapi saran saya sebelum sel kanker menyebar sebaiknya secepatnya diangkat."


"Baik dok, terima kasih."


✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨


Aku mempercepat langkah ku agar dapat mengejar sahabat - sahabat ku yang telah jauh meninggalkan ku dengan Atan. Begitupun dengan Atan.


"Woi..., jalannya jangan cepat - cepat." Omel ku.


"Bukannya berterima kasih, mala diomelin!" Jawab Neno.


"Lila..., tunggu dong, masa kamu sama seperti mereka. Jalannya seperti di kejar hantu saja." Rewel Atan.


Ku tersenyum sambil memperlambatkan jalan ku.


Sekitar 10 menit perjalanan kamipun tiba di rumah sakit Kasih Ibu.


Ku melihat ibu di lorong menuju kamar ayah. Ibu begitu cemas. Terlihat sekali rasa cemasnya, ibu mondar - mandir sambil meramas tangannya dan sesekali melihat ke arah pintu masuk.


Ku berlari mendahului sahabat - sahabat ku. Dan sahabat - sahabat kupun ikut berlari karena melihat ku berlari.

__ADS_1


"Ada apa bu?" Tanya ku kuatir.


"Ibu menunggu mu, ada sesuatu yang ingin ibu sampaikan pada mu."


"Tetang apa bu?"


"Ayah mu akan di operasi, bagaimana menurut mu?"


Ku diam sejenak, memikirkan segala konsekuensi yang akan terjadi.


"Bagaimana Lila?"


"Bagaimana dengan ibu?"


"Ibu bimbang nak."


"Terus bagamana kata dokter?"


"Dokter bilang sebaiknya dioperasi, sebelum sel kankernya menyebar. Tapi ibu takut, karena banyak yang terjadi setelah dioperasi kanker itu akan muncul kembali."


Aku terdiam lagi, karena ini menyangkut nyawa ayah. Aku tak mau mengambil keputusan yang akan menjadi bumerang bagi ku.


"Bu..., kalau menurut dokter operasi yang terbaik berarti itu yang terbaik. Karena hanya mereka yang tahu seberapa buruknya dan seberapa ganasnya kanker ayah."


Setelah mendengarkan penjelasan dari ku, ibupun menyetujuinya.


Jadwal operasi ayah telah ditentukan. Operasi ayah akan dilakukan besok siang.


Sahabat - sahabat ku menguatkan aku dan ibu.


Ibu nampak sangat cemas. Lebih cemas dari sebelum aku datang.


Aku tahu betul apa yang ibu cemaskan, bukan soal biaya operasi melainkan berhasil atau tidaknya operasi itu.


Ku memegang pundak ibu.


"Bu..., ibu harus kuat. Kalau ibu nampak lemah bagaimana ayah dan aku?"


Ibu berbalik dan memeluk ku begitu eratnya. Hati ku begitu teriris, ingin sekali menagis tapi ku berusaha kuat dan tegar.


"Bu..., yuk kita temani ayah di dalam."


"Ibu tak sanggup melihat ayah mu Lila."


"Mengapa bu?"


"Ibu takut air mata ibu tak dapat dibendung lagi jika melihat ayah mu. Ibu tak bisa bayangkan, besok kepala ayah mu akan di belah." Kata - kata ibu terhenti dan dilanjutkan dengan air bening yang mengalir di pipinya, yang keluar dari mata indahnya.


Ku usapkan air mata ibu.


"Ibu, Lila mohon! Ibu harus kuat."


✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨


**Maaf ya para Readers ku. 🙏🙏🙏


Membuat kalian menunggu.


Tetap dukung Author ya, Vote yang sebanyak - banyaknya, Boom Like, Rate 5 dan Favorite.

__ADS_1


Jangan bosan - bosan ya!😉😉**


__ADS_2