Ayah Aku Rindu

Ayah Aku Rindu
Kenyataan Yang Menyakitkan


__ADS_3

"Hei...!" Vita dan Aby mengagetkanku dan merekapun tertawa terbahak - terbahak karena melihat ekspresiku.


"Kalian..., kalau aku jantungan bagaimana? Kalian mau tanggung jawab ya? Tanyaku.


"Ya kalau kamu pingsan tinggal ku panggil puss untuk memberimu nafas buatan," kata Margot menggodaku.


Oh ya Puss itu adalah kucing kesayanganku dan dia selalu menemaniku di saat ku sendiri.


"Enak saja!" Omelku.


"Omamu belum sembuh ya?" Tanya Aby.


"Emangnya Omamu sakit apa, Lila?" Tanya Vita.


"Iya..., Omaku belum sebuh, makanya Ibuku malam ini masih nginap di rumah Oma."


"Biasa Vita, sakit orang tua, jawabku."


"Yuk...makan! Sebelum ibuku pergi, ibu sudah membuatkan makan malam untuk kita semua," ajak ku.


Kami berempat menujuh ke meja makan dan menyantap dengan lahap masakan ibu.


"Lila... masakan ibumu membuatku betah ni, kata Margot.


"Iya, aku setuju dengan apa yang dikatakan oleh Margot, masakan ibumu the best lah; sambung Aby sambil mengajungkan kedua jempolnya.


"Hmmm... kalian jangan berlebihan," kataku.


"Memang kenyataan kalau masakan ibumu enak kok, kata Vita.


"Untung Ibuku tak ada, kalau Ibu mendengarkan pujian kalian, bisa - bisa Ibu melayang." Kata ku sambil tersenyum.


"Yuk kita ke ruang TV, aku pingin curhat sama kalian," ajakku.


Di ruang TV suasana tiba - tiba dingin dan terasa begitu hening. Semuanya terdiam, mungkin mereka menunggu apa yang ingin ku sampaikan. Akupun mulai membuka pembicaraan.


"Aku merasa ada yang aneh dengan ibu dan ayahku. Aku merasa ada yang mereka sembunyikan dariku."


"Mengapa kamu bisa berpikiran seperti itu lila?" Tanya Vita bingung.


"Banyak hal yang aneh menurut ku, mulai dari Ayah tak pernah menelponku atau memberi kabar pada ku, KTP dan kartu kesehatan Ayah dalam tas Ibu. Lalu pakaian kotor Ayah, padahal Ayahku masih di luar kota dan nanti esok baru balik."


"Mungkin pakayan kotornya sebelum ayahmu pergi," kata Margot.


"Aku ingat baik Margot, sebelum Ayah pergi ke luar kota tak ada pakaian kotor di kamar Ayah," bantahku.


"Lila Kamu tidak percaya terhadap kedua orang tuamu?" Tanya Aby.


"Bukannya tak percaya Aby, tapi aku hanya merasa curiga, karena tak biasanya ayahku pergi lama dan susah untuk dihubungi."


"Lila sayang, mungkin Ayah dan Ibumu sengaja agar kamu lebih dewasa. Dan mereka pingin melihatmu menjadi gadis yang mandiri," Margot menenangiku.


Ku menarik nafas panjang dan berkata, "Mungkin juga."


Jam menunjukan pukul sebelas malam, kami berempat beristirahat karena besok kami harus bagun pagi, untuk melakukan aktivitas kami sebagaimana mestinya yaitu ke sekolah. Kegiatan rutinitas kami yang tak boleh terlewatkan.


Malam ini sama seperti malam - malam yang sebelumnya, aku selalu memimpikan hal yang sama, memimpikan ayahku pergi untuk selama lamanya meninggalkan ibu dan aku. Air mataku membasahi pipiku dan akupun terbangun dari mimpi buruk ku itu. Ku melihat wajah sahabat - sahabatku, mereka tidur begitu pulasnya.


Aku berjalan menuju dapur dan ku teguk segelas besar air. Ku duduk di ruang tengah sambil menatap foto keluarga kami, air mataku mulai membasahi pipiku lagi. Ada rasa gelisa dan ketakutan dalam diri ku, takut akan kehilangan sandaran hidupku, Ayahku...Ku hapus air mataku dan ku hibur diriku sendiri.


"Lila... ini hanya mimpi, mimpi buruk. Jangan terlalu dipikirkan ya! Nanti ayah gelisa, bisa - bisa pekerjaan ayah jadi berantakan."


Tapi tak tahu mengapa air mataku terus mengalir dan akupun berdoa.


"Tuhan semoga ini bukan pertanda buruk, jauhkanlah segalah pikiran kotor dalam benakku dan hilangkanlah rasa gelisa ini Tuhan."


"Lila...Lila...ayo bangun," Vita membangunkanku.


"Jangan bilang dari semalam kamu tidur di sini?" Tanya Aby.


"Hmmm...iya, aku ketiduran di sini, jawabku sambil menggaruk - garuk kepala ku.


Merekapun berpamitan pulang.


"ya sudah! Kami balik dulu ya, sudah jam enam ni, takut terlambat ke sekolah."


"Vita tolong sampaikan ke wali kelas hari ini aku tak masuk ya."


"Kamu kenapa? Sakit ya?" Tanya Vita bingung.


"Hari ini Ayahku pulang, jadi aku ingin memasak buat Ayahku." Jawab ku.


"Hmmm...,ok lah!" Vita menjawab sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Lila..., kalau ada oleh - oleh jangan lupa ya sama kami," Margot mengingatkan ku.


"Beres!" Jawabku singkat.


Rumahku tampak sepi karena ketiga sahabatku telah kembali ke rumah mereka.


Aku mulai dengan aktivitasku, membuatkan makanan kesukaan ayah. Aku berusaha semaksimal mungkin, walaupun masakanku tak seenak masakan ibu.


"Semoga ayah suka," gumamku.


Aku tak sabar lagi menunggu ayah pulang dan memberikan ayah makanan yang aku masak.


Aku ingin pamer ke ayah kalau aku sudah bisa masak. Aku ingin mendengar pujian dari ayah.


"Huff," ku menarik nafas panjang.


Terdengar bunyi kendaraan yang berhenti. Ku berlari menuju ke jendela dan melihat ke luar.


"Ibu? Ayah?" Aku terkejut melihat ayah dan ibu bersamaan keluar dari taxi.


Ku perhatikan ayah tampak lemah dan pucat. Hatiku menjadi tidak karuan lagi setelah melihat kondisi ayah. Ku bergegas keluar rumah dan menghampiri ayah dan ibuku.


Ayah dan ibu sangat terkejut melihat diriku.


Dengan terbata - bata ibu bertanya.


"Lila kamu hari ini tidak ke sekolah nak?"


Aku tak menjawab pertanyaan ibu, ku mendekati ayah dan menggandeng tangan ayah dan mengantar ayah ke kamar tidur. Mataku mulai berkaca - kaca.


"Ayah istrahat ya," air mataku mulai jatuh membasahi ke dua pipiku.


"Lila jangan menagis dong sayang," Ayah membujukku.


"Kenapa ayah dan Ibu harus berbohong sama Lila?" Tanyaku sambil menangis tersedu - sedu.


"Lila sayang, biarkan ayah beristirahat," Ibu membujuk ku.


"Biarkan Lila di sini Bu, Lila ingin bersama Ayah. Lila ingin berada di samping Ayah. Lila tidak mau jauh dari Ayah," rewelku.


Ku berbaring di samping Ayah sambil menangis.


"Lila sayang sudah dong, jangan terlalu menangis. Nanti matamu bengkak sayang," Ayah membujukku sambil membelai rambut ku.


"Maafkan ayah ya? Ayah tidak bermaksut membohongi Lila, ayah tidak ingin melihat Lila bersedih. Sekarang hapuslah air mata mu, kan ayah sekarang sudah balik ke rumah dan dengan beristrahat sedikit ayah pasti sembuh total. Kalau Lila menangis terus, ayah jadi tak bisa beristirahat." Kata ayah yang terus membelai rambut ikal ku.


Akupun menuruti apa yang dikatakan ibu. Ku mencium kening ayah dan meninggalkan ayah untuk beristirahat.


Aku menutup pintu kamar ayah, dan menuju ke kamarku, tak ku duga ternyata ibu juga mengikuti ku ke kamarku. Melihat kedatangan ibu, air mataku tiba - tiba jatuh membasahi pipiku. Ibu memelukku erat.


"Maafkan ibu sayang, ibu tak ingin melihatmu bersedih."


"Tapi kenapa harus berbohong bu, bukan kah ibu yang mengajarkan ku untuk selalu berkata jujur. Aku menangis terisak - isak.


"Maaf ya sayang, ibu sudah salah terhadap kamu. Jangan menangis lagi ya, takut ayahmu terbangun karena suara tangisan mu.


Ku menganggukan kepalaku dan ibu mencium keningku sebelum meninggalkanku sendiri di kamar. Ku menutup kedua mataku dan berdoa.


"Tuhan tolong sembuhkan ayah, aku takut kehilangan ayah. Sembuhkan ayah ya Tuhan,"


"Lila...tolong bantu ibu sebentar, ibu memanggilku.


Aku bergegas menuju ke arah ibu.


"Apa yang bisa lila bantu bu?" tanya ku.


"Tolong antarkan makanan buat ayah ya!" perintah ibu.


"Baik bu," akupun membawa makanan menujuh kamar ayah. Ku meliahat ayah masih tertidur dengan pulasnya. Aku menjadi tak tegah membangunkan ayah tapi ayah harus makan. Ku bangunkan ayah berlahan.


"Ayah...yah...bangun, makan dulu yah...," panggil ku.


Ayah membuka matanya.


"Lila...ada apa sayang?" Tanya ayah.


"Makan yah...lila suapin ya," kataku.


Ayahpun mengangkuk.


"Makan yang banyak ya ayah, kan obatnya ayah banyak."


Ayah mengangkuk lagi dan tersenyum, air mataku hampir menetes ketika melihat senyuman ayah yang berpura - pura kuat.

__ADS_1


"Tahan Lila, kasihan ayah kalau melihat mu menagis, ayah akan tamba pikiran dan ayah akan sakit lagi." Kataku dalam hati.


"Ini obat ayah," ku memberikan segenggam obat ke ayah. Setelah ini ayah istrahat lagi ya," kataku.


Ayah hanya mengangguk lemah dan ayah memejamkan matanya.


"Bu...ayah sebenarnya sakit apa?" Tanyaku.


"Komplikasi sayang," jawab ibu singkat.


Wajahku mulai berubah sedih, " apakah bahaya bu?" Tanyaku.


"Iya sayang..., kalau tidak di jaga pola makan ayah. Ayah harus banyak istrahat dan mengkomsumsi buah - buahan dan harus makan makan yang tawar. Jadi sekarang lila harus tertib memberi ayah makan dan obat," lanjut ibu.


"Bu...lila takut mimpi lila jadi kenyataan," kataku sedih.


"Banyak berdoa sayang, serahkan segalanya pada Yang Kuasa dan jangan lupa harus rutin memberikan obatnya ayah," kata ibu.


Ku diam sejenak, pikiranku melayang ke mana - mana.


"Apa yang akan terjadi padaku jika ayah tak ada, oh...Tuhan tolong sembuhkan ayah. Aku bergumam sendirian.


Rasa kuatir dan gelisaku terus menerus mencambuk hatiku. Ku membuka hpku, ku mencari cara alternatif untuk penyembuhan ayah di google.


"Bu...bagaimana kalau kita menggunakan bahan herbal, kasian ayah kalau terlalu banyak mengkomsumsi obat - obat yang mengandung zat kimia." kataku sambil mengotak atik handphoneku.


"Boleh sayang, yang penting jangan menghilangkan kasiat obat yang dokter berikan."


"Ini aman ko bu, dan kita dapat membuatnya sendiri. Bahannya alami semua."


"Ok...kamu tulis bahan - bahannya biar sebentar ibu pergi berbelanja.


"Lila...Lila...," terdengar suara ayah memanggilku.


Ku bergegas masuk ke kamar ayah.


"Ayah...ada apa? Apa yang dapat Lila lakukan untuk ayah?" tanyaku dengan lembut.


" Tolong ambilkan ayah air, ayah sangat haus."


" Baik ayah," jawabku.


Akupun berlari menuju dapur dan mengambil segelas besar air untuk ayah.


"Ayah..., ini airnya."


Ku mengangkat kepala ayah dan memberikan air pada ayah.


"Ayah istirahat ya. Ayah mau makan apa? nanti Lila buatkan."


"Ayah mau Lila buatkan makan malam untuk ayah."


"Baik yah..., Lila akan buatkan untuk ayah."


Aku menuju dapur dan mulai memasak untuk ayah, tiba - tiba terdengar pintu rumahku diketuk.


" Tok...tok...tok"


" Lila tolong bukakan pintu," teriak ibu.


Aku menuju ruang tamu dan membukakan pintu.


" Sore Likla." Margot dan Neno menyapaku.


"Siapa Lila?" Tanya ibu dari dapur.


"Margot dan Neno Bu," jawabku.


"Ayo masuk," aku mempersilakan Neno dan Margot masuk.


"Yang lain mana ?" Tanyaku membuka percakapan.


"Sebentar lagi mereka sudah datang kok," jawab Neno.


"Ayahmu sudah pulang? Mana oleh - olehnya?" Tanya Margot.


Wajahku mulai berubah sedih, ku merasa air mataku hampir menetes.


"Lila, ada apa? Kenapa kamu sedih? Apa ayahmu belum pulang ya?" Tanya Margot.


"Ayahku sakit margot. Ayahku baru pulang dari rumah sakit."


"Apa?" Margot dan Neno sama - sama kagetnya.

__ADS_1


Margot memelukku.


"Jangan bersedih Lila, ada kami sahabatmu. Kamu jangan putus asah dan serakan pada Yang Kuasa," Margot menguatkanku.


__ADS_2