Ayah Aku Rindu

Ayah Aku Rindu
Berakhirnya Ujian


__ADS_3

Akhirnya ujian penentuan naik kelas, telah usai.


Sebelum pembagian raport, sekolah kami berencana mengandakan darmawisata bersama di pantai yang terletak di luar kota selama dua hari.


Semua teman sekelas ku begitu antusias dan senang setelah mendengar pengumuman itu, tapi aku masih berada dalam kebimbangan.


Di satu sisi aku begitu bahagia tapi di sisi lain aku tak bisa meninggalkan ayah ku.


Ayah ku dengan penyakit kronisnya, membuat ku tak bisa jauh dari nya.


Suasana kelas begitu ramai, semua siswa siswi kelas XI Bahasa sedang asyik merencanakan acara selama kegiatan di sana.


Aku hanya membisu, tak seperti biasanya aku seperti itu.


Aku gadis yang periang dan setiap kali kegiatan, aku biasanya yang paling semangat.


Tapi kali ini, aku begitu berbeda.


"Lila ini surat ijin kamu," kata Vita sambil menyodorkan secarik kertas.



Aku menerima kertas itu, ku memandangnya begitu lama. Dan ku masukan ke dalam tas ku tampa berkata - kata.


Ternyata vita memperhatikan tingkah laku ku.


"Lila...ada apa?"


"Aku bingung Vita?"


"Bingung kenapa?"


"Ayah ku!" Aku terdiam sesaat.


"Kenapa dengan ayahmu?"


"Aku tak bisa meninggalkan ayah ku, dengan kondisinya yang seperti itu."


Vita hanya bisa menghela nafas, dia bingung harus berkata apa pada Lila.


✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨


"Selamat siang," sapa ku.


"Ayah... Ibu..."


Tak terdengar balasan dari dalam rumah.


Ku masuk memeriksa ke setiap sudut ruangan, tapi ayah dan ibu tak ada di rumah.


Entah kemana, aku pun bingung.


Ku masuk ke kamar ku, ku simpan tas sekolah ku dan ku pun langsung merebahkan tubuh ku di tempat tidur.


"Hmmm...sebaiknya aku tak pergi, ya itu yang terbaik."


Ku bangkit berdiri, ku ganti pakian seragam ku dengan baju motif doraemon.


Ku buka tas ku dan ku ambil kertas yang Vita berikan kepada ku saat di sekolah.


Ku menarik nafas panjang dan membuangnya ke tempat sampah.


"Eee...Lila sudah pulang ya?" Sapa ibu yang sudah berada di depan pintu kamar ku.


"Semoga ibu tak melihat nya."


"Sudah bu! Oh ya, ibu dan ayah dari mana sih? Tadi Lila pulang rumah begitu sepih.


"Ibu dan ayah baru pulang dari rumah sakit."


"Biasa pulang kontrol penyakit ayah kamu nih!" Lanjut ayah yang tiba tiba muncul di belakang ibu.


"Iiiii...Ayah sama ibu suka bikin Lila jantungan saja."


"Ayo makan bu! Lila lapar nih." Rengek ku.


"Apa yang kamu buang tadi?" Tanya ibu menyelidiki.

__ADS_1


"Kertas cakaran bu," sahut ku sedikit gugup.


"Kertas cakaran bu? Apa kertas hasil ujian?"


"Benar kok bu, itu kertas cakar Lila."


Aku menyantap makanan ku dengan lahapnya. Biar segera habis dan aku bisa menghindar dari pertanyaan - pertanyaan ibu yang mulai curiga dengan tingkah ku.


"Lila...tolong ambilkan obat ayah!"


"Baik bu!"


Akupun beranjak dari tempat duduk ku dan menuju kamar tidur ayah untuk mengambil obat.


Ku membawa segelas besar air dan obat untuk ayah.


Setibanya di meja makan, aku begitu terkejut karena kertas yang telah ku buang ke tempat sampah, sudah ada di atas meja.


Ku gigit bibir ku, ku merasa begitu bersalah karena telah membohongi ibu.


"Ternyata anak ibu sudah pandai berbohong ya?" Ini apa Lila?" Tanya ibu sambil menyodorkan secarik kertas.


"iiitttuuu...ituu..., itu surat ijin orang tua bu!" Jawab ku.


"Kenapa di buang? Kenapa kamu tak berikan ke ibu?"


"Lila memutuskan, Lila tak akan ikut kegiatan piknik itu bu."


"Apa alasannya kamu tidak ikut?" Tanya ayah.


"Aku tak sanggup meninggalkan ayah!"


Ku merasa air mataku mulai berontak untuk keluar.


Terasa berat untuk di tahan, dan akhirnya menetes di pipi ku.


"Lila...Ayahkan ada ibu yang menjaganya, jadi kamu boleh ikut kegiatan itu" kata ayah membujuk ku.


"Taaapiii yah..."


"Iya lila..., kamu butuh refresing." Kata ibu.


"Baik lah bu, yah..., Lila ajan ikut."


"Begitu dong! Itu baru anak ayah."


"Ini! Jangan di buang ya?" Ayah memberikan kertas yang sudah diisi dan di tandatangani.


Aku tersenyum mendengar perkataan ayah.


✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨


"Anak anak, silakan kumpul surat ijin orang tua kalian!" Perintah ibu Inn, wali kelas kami.


Ku berikan kepada Vita, kertas yang nampak kusut dan begitu lusuh.


Vita memandangi kertas ku dan begitu bingung.


"Ada apa Lila? Apa orang tuamu tak mengijinkan mu untuk mengikuti kegiatan darmawisata?"


"Mereka mengijinkannya kok!"


"Lantas?" Vita membaca sekilas surat ijin ku itu.


"Aku masih tak tegah menibggaljan ayah ku."


"Lila, orang tua mu telah mengijinkan mu untuk ikut, apa yang kamu kuatirkan?"


"Ayah ku Vita!"


"Bukannya ayah mu sudah menyetujuinya?"


"Iya...taapppiii..."


"Hmmm...ayah mu ada ibu mu yang menjaganya."


Ku hanya bisa menarik nafas panjang.

__ADS_1


Bel panjang berbunyi, semua siswa siswi diminta berkumpul di lapangan sekolah, untuk mendengarkan pengarahan dari wakasek kesiswaan terkait kegiatan darmawisata.


"Hei kalian, ayo ke sini!" Panggil Margot.


Aku dan vita menghampirinya.


"Aku bahagia deh, kita bisa bersama sama terus selama dua hari." Begitu nampak rona kebahagiaan di wajahnya.


"Anak anak ku sekalian, besok kegiatan darmawisata."


"Hoooorrrreeee," semua temanku begitu bahagia.


Ribut gaduh di mana - mana sehingga pak Doni wakasek kesiswaan kami, meminta kami untuk tenang.


"Mohon perhatiannya! Karena besok kegiatan daramawisata kita, jadi kalian boleh pulang untuk mempersiapkan segala kebutuhan kalian selama kegiatan di sana. Dan besok pagi jam 06.30, kita semua sudah berkumpul kembali di sini."


"Hoooorrreee!"


Kebahagian terpancar dari wajah semua orang dan suasana mulai ramai lagi.


MARGOT POV



Margot Angriyani, Anak bungsu dari pengusaha kaya di kota kami. Dia memiliki dua orang saudara laki - laki.


Yang pertama namanya Yos dan yang ke dua namanya michael, keduanya memiliki paras yang tampan dan tubuh atletis.


Gaya pakaiannya selalu mengikuti tren.


Siapapun yang melihatnya pasti akan terpesona dengan kecantikannya.


Dari kami berenam, dia yang paling pendiam, mandiri dan dewasa.


Back To Stories


"Selamat siang!"


"Siang sayang,"


"Siang juga sayang."


Jawab ayah dan ibu hampir bersamaan.


Ku mencium tangan kedua orang tua ku dan berpamitan untuk menukar pakian ku.


Aku membuka seragam putih abu - abu ku, dan kuganti dengan baju merah maron.


Aroma sedap menghampiri hidungku, dan menggangu konsentrasi dan perut ku.


Aroma ini membuatku lapar.


Perut ku terus berbunyi memaksa ku untuk segera mengisinya.


"Wah...!" Aku terpesona melihat masakan ibu.



Ikan bakar sambal mata, benar benar mengugah selerah makan ayah dan aku.


Nafsu makan kami meningkat pesat, Ibu sampai heran melihat aku dan ayah yang sudah makan hingga dua kali.


"Tumben!?"


"Enak bu," jawab ayah.


"Iya bu, mak nyos ! Buka ketring saja bu," saran ku.


"Ahhhh...nanti saja, sekarangkan ibu sudah punya pelanggan tetap di rumah dan tak bisa ditinggalkan."


"Ibu, ada ada saja." Kata ayah sambil menarik hidung ibu.


"Khmmm...Khmmm...," aku keselek ni!" Canda ku.


Dalam canda ku, tersirat kebahagiaan yang tulus untuk kedua orang tua ku.


Aku ikut bahagia melihat kemesraan mereka yang tak pernah pudar walaupun telah dimakan usia.

__ADS_1


__ADS_2