
"Lila...kamu sama Atan tolong ambil pakian Ayah ya, dan keperluan yang lainnya karena kata dokter ayah kamu harus di rawat." Pinta ibu sambil memberikan catatan untuk kebutuhan yang harus di sediakan.
"Baik bu."
"Baik tanta."
"Hati - hati di jalan ya."
Aku dan Atan menuju ke tempat parkiran rumah sakit untuk mengambil mobil.
Dalam perjalanan kami ke rumah, Atan selalu memperhatikan ku, kadang - kadang dia selalu menyemangati ku agar aku tak sedih.
"Aku akan menemani mu, selalu dan selalu menemani mu, bahkan bungan hanya aku; sahabat - sahabat kitapun akan selalu bersama mu. Jadi kamu harus kuat ya! Gadis ku tak boleh lemah." Kata Atan menyemangati ku.
Ku tersenyum kecut.
"Kok senyumannya seperti itu sih?"
Kupun tersenyum dengan tulus, entah mengapa aku tak ingin Atan ikut bersedih.
"Begitu dong, itu baru gadis ku." Kata Atan sambil mengacak - ngacak rambut ku.
Aku merasa hati ku yang luka sedikit terobati karena Atan.
Atan menghentikan mobil.
"Sabar sebentar ya!" Pinta Atan
"Ke mana?"
Atanpun keluar dari mobil dan berlari kecil ke seberang jalan.
" Ke mana ya dia?"
Sepuluh menit kemudian Atan kembali, ditangannya membawa sesuatu yang diisi dalam kresek hitam.
"Ini!" Atan memberikannya pada ku.
"Apa ini?" Tanya ku sambil menerima pemberiannya.
"Bukalah! Aku tahu kamu belum makan, jadi makanlah biar kamu punya tenaga ekstra."
Ku membuka kresek hitam, ternyata isinya roti dengan segala jenis farian toping. Aku mengambil roti dengan toping keju dan ku masukan ke mulut ku.
Atan tersenyum dan melanjutkan perjalanan kami.
"Ini!" Ku memberikan roti dengan toping coklat buat Atan.
"Aku tak bisa memakannya, Lila!"
"Memangnya kenapa? Kamu sakit?"
"Hmmm...tidak peka, aku lagi nyetir nih. Bagaimana aku memakan roti?"
"Hmmm..., ini! Ku menyuapi Atan.
"Begitu dong, dari tadi kek."
Sesampainya di rumah, Aku langsung menuju kamar ayah dan menyiapkan semuanya sesuai pesanan ibu. Pesanan yang di tulis ibu di secarik kertas tadi.
"Sudah beres?" Tanya Atan mengagetkan ku.
"Aku bosan menunggu mu di ruang TV, makanya aku menyusul mu ke sini. Ada yang bisa saya bantu?" Lanjut Atan.
"Sudah beres kok, ayo!" Ajak ku.
Aku mengangkat tas yang berisi pakian ayah dan barang - barang yang dibutuhkan ayah selama di rawat di rumah sakit.
"Sini, biar ku bawa."
"Tidak apa - apa kok! Aku bisa sendiri kok."
"Sini, jangan sok - sok jadi wanita perkasa." Kata Atan sambil menarik paksa tas yang ku pegang.
Atan membawa tas dan memasukannya di begasi mobil.
Dan kamipun menuju rumah sakit.
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
"Terima kasih ya, Atan." Ucap ibu ku.
"Ini bu, makan dulu!" Ku memberikan roti yang Atan belikan buat ku.
"Sebentar saja ya, ibu belum lapar."
"Ibu harus makan, nanti ibu sakit loh."
"Iya tanta, apa yang dikatakan Lila ada benarnya, tanta tidak kasihan ya sama om dan Lila."
Ibu ku tertegun mendengar perkataan Atan, dan memutuskan untuk memakan beberapa buah roti, dan sekalian untuk mengganjal lambung.
"Malam ini biar Lila yang menemani ayah, ibu pulang dan beriatirahat lah. Nanti Lila meminta Atan untuk mengantar ibu."
"Biar ibu saja, Lila."
"Ibu, tolong dong dengarin Lila. Besok pagi baru ibu ke sini. Ibukan tak tahan dengan dingin." Kata ku membujuk ibu.
__ADS_1
Setelah beberapa menit membujuk ibu, akhirnya ibupun mau pulang dan beristirahat di rumah.
"Setelah aku mengantarkan ibu mu pulang, aku akan kembali menemani mu. Bolehkan tanta?"
"Boleh! Yang penting Atan ijin dulu sama kedua orang tua Atan."
"Kok minta pendapatnya sama ibu? Yang mau dia temani tu aku atau ibu sih?"
"Ibu pulang dulu ya, Lila!"
"Hati - hati ya bu."
Ayah masih tertidur begitu lelapnya, mungkin efek obat yang disuntik perawat tadi.
"Selamat malam dek." Sapa perawat.
"Malam juga Suster."
"Bapak Thomas mau di pindahkan ke kamar Bogenvil, apa adik bisa mengurus berkas - berkas Bapak di pintu 5?"
"Bisa Sus!"
Aku menuju pintu 5, dan memberikan data - data tentang ayah ku dan Kartu Indonesia Sehat ( KIS ).
Setalah dari ruang lima, aku kembali ke IGD. Agar ayah segera di pindahkan ke ruangan perawatan khusus laki - laki.
"Kok kamu berbenah?" Tanya Atan mengagetkan ku.
Dalam satu hari ini, Atan sudah dua kali mengagetkan ku.
"Ayah ku akan pindah di bangsal Bogenvil."
"Sini biar ku bantu."
Aku dan Atan berbenah dan menunggu perawat untuk mengantar ayah ku ke bangsal Bogenvil.
"Kalian berdua, bisa bantu?" Panggil perawat.
"Bisa sus," jawab aku dan Atan bersamaan.
"Pada hitungan ke tiga kita sama - sama mengangkat Bapak Thomas dan pindahkan ke Brankar." Lanjut perawat.
"Baik sus."
"Satu, dua, tiga."
Kami mengangkat dan memindahkan ayah ke Brankar.
Perawat mendorong Ayah ke bangsal Bogenvil ruangan VIP, aku dan Atan mengikuti di belakang perawat sambil membawa barang - barang ayah.
"Sama seperti tadi, kita angkat pada hitungan ke tiga. Satu, dua, tiga, perawat itu memberi aba - aba."
"Jika ayah mu sudah bangun, beri beliau makan dan meminum obat ini."
"Baik!"
"Ehgggg...eghhhh..."
"Lila...,sepertinya ayah mu sudah bangun."
"Ayah...ayah," panggil ku sambik menggenggam tangan ayah.
"Air!" Pintah ayah.
Aku bergegas mengambil air dan sedotan. Ku menyetel tempat tidur ayah agar ayah dapat meminum air dengan mudah.
"Yah, ini airnya. Ayo diminum."
Ayah meminumnya berlahan.
"Makan ya yah?" Tawar ku.
"Baiklah," ayah mengangguk pelan.
Ku menyuapi ayah, ayah menghabiskan enam sendok makan saja.
"Yah, ayah harus menghabiskan makanan ayah."
"Cukup Lila, ayah tak sanggup menghabiskannya karena sakit kepala."
"Lila, hangan paksa ayah mu." Kata Atan sambil memegang pundak ku.
"Hmmm..., baik lah! Ayah minum obat ini ya!"
Atah mengangguk lemah.
Ku masukan obat ke dalam mulut ayah dan menyuapi ayah air.
Aku menyetel kembali tempat tidur ayah seperti semula.
"Ayah istirahat ya!" Kata ku sambil mengelus - ngelus rambut ayah.
Mata ayah mulai sayup dan terpejam. Ayahpun tidur.
"Atan, sebaiknya kamu pulang!"
"Biarkan aku di sini menemani mu, menjaga ayah mu."
__ADS_1
"Ayah ku sudah tidur, kamu pulang dan tidur juga. Karena esok aku masih membutuhkan mu."
"Biarkan aku menemani mu Lila." Atan memelas pada ku.
"Kamu sudah menemani ku dari sore hingga malam. Jadi sekarang kamu juga harus beristirahat."
Setelah melakukan perdebatan yang cukup panjang akhirnya Atanpun mengalah.
"Hmmm...baiklah. Aku pamit pulang. Kalau ada apa - apa segera hubungi aku, hp ku aktif 24 jam buat kamu."
"Siap deh! Jika ada problem yang mendesak aku pasti menghubungi mu."
Atanpun pulang ke rumahnya.
Hari semakin larut, dan waktu sudah menunjukan pukul 11.39 mata ku masih tak mau tertutup. Ku mengambil hpku, dan membuka pesan yang sudah menupuk.
Pesan dari sahabat - sahabat ku, Vita, Neno, Margot dan Aby.
Ku buka satu persatu dan membakanya.
"Sbb ya ( sorry baru balas ), aku sedikit sibuk tadi."
10 menit kemudian, hp ku berbunyi. Pesan dari Vita.
"***Sibuk apa? Sampai selarut ini baru membalas pesan ku."
"Aku mengantar ayah ke rumah sakit."
"Ayah mu masuk rumah sakit lagi?"
"Iya!"
"Besok kami pasti merapat, datang menjenguk ayah mu."
"Terima kasih dan sampai ketemu besok."
"Sampai ketemu besok***."
"Lila...lila," panggil ayah.
"Iya yah."
"Kepala ayah saaaaakkkiiit."
"Sabar ya ayah, Lila panggil dokter dulu "
Aku berlari ke luar dan mencari dokter.
"Dok...dok..., tolong ayah saya. Ayah saya kesakitan."
Dokter dan aku segera menuju ruangan ayah ku.
Dokter memeriksa ayah, dan memberikan suntikan pada ayah lewat selang infus. 15 menit kemudian, ayah kembali tenang.
"Lila, ayah pingin duduk."
"Emangnya ayah tidak pusing lagi?"
"Sudah enakan kok, badan ayah sakit semua. Biarkan ayah duduk sebentar."
Akupun membantu ayah duduk.
"Di mana ibu mu?"
"Ada di rumah ya, Lila yang menyuruh ibu untuk beristirahat. Kasihan ibu, ibukan tidak tahan dingin. Biar besok pagi baru ibu yang menjaga ayah." Jelas ku.
Ku melihat darah segar keluar dari lubang hidung ayah, ku mengambil tisu dan ku membersihkan darah yang keluar.
"Ayah berbaring saja, biar darahnya bisa berhenti! Lila panggil dokter dulu ya.
Setelah membaringkan ayah, aku memanggil dokter lagi.
Dokter meneteskan obat lewat hidung ayah, agar darah hidung ayah berhenti.
"Ayah istirahat ya!" Pinta ku sambil mengelus - elus kepala ayah.
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
"Tok...tok...tok...."
"Creaaaakkkk."
Pintu ruangan ayah di buka dan mengagetkan ku.
"Pagi sayang," sapa ibu.
"Pagi bu."
"Bagaimana ayah?"
"Semalam ayah sempat mimisan, kata dokter itu hal yang biasa yang akan dialami bagi pasien pengidap kanker."
To Be Continued
**Terima kasih yang sebesar - besarnya buat para readers ku, karena sudah mendukung Author mu ini.
Semoga tidak bosan - bosan mampir ya.
__ADS_1
Love You All**.