
Terasa beban dan lelah ku terangkat semuanya. Benar - benar pulas tidur ku.
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
Matahari menggoda ku lewat cela - cela jendela menelusuri gorden, seolah - olah memanggil ku untuk segera beranjak dari pembaringan ku.
Ku usap mata ku dan ku mengerakan tubuh ku, mengeliat seperti cacing yang kena panas sehingga membuat selimut ku berhamburan di lantai.
Rasa dingin yang tak tertahankan menjalar ke seluruh tubuh ku.
Dan akupun terjaga.
Ku mengambil jaket bulu tebal berwarna biru yang ku gantung di belakang pintu dan ku gunakan sebelum keluar dari kamar tidur ku.
Dan aku menuju dapur. Menyiapkan sarapan buat kami sekeluarga.
"Lila sudah bagun ya," sapa ibu.
"Iya Bu," jawab ku singkat sambil membuat soup ayam untuk Ayah.
"Kamu masak apa, sayang?"
"Soup Bu!"
"Boleh Ibu cicipin?"
"Boleh Bu, dengan senang hati."
Ku mengambil soup ayam dan ku letakan di mangkok kecil buat ibu.
Ibu mengambil sesenduk soup dan memasukan ke dalam mulutnya.
"Bagaimana Bu?" Tanya ku penasaran.
"Enak! Kamu sudah bisa menggantikan ibu nih."
Ku tersenyum karena mendapat pujian dari ibu.
Ku menghidangkan masakan yang telah ku masak tadi di meja makan. Menunggu Ayah bangun.
"Selamat pagi semuanya," sapa ayah begitu semangatnya.
"Pagi Yah."
"Pagi sayang."
"Lila, temani Ayah jalan - jalan di taman ya."
"Sarapan dulu Yah," kata ibu.
"Iya Yah, sarapan, minum obatnya baru kita jalan - jalan," lanjut ku.
"Jalan - jalan sebentar saja kok, 10 menitan saja."
Ayah menggunakan topi dingin, syal dan jaket wol. Ayah melangkan ke luar rumah dan aku meengikuti ayah dari belakang.
Ayah dan aku berkeliling dari taman depan sampai taman belakang rumah.
"Lila," panggil ayah.
"Iya, Yah!"
"Ayah ingin menyampaikan hal yang penting kepada Lila."
"Ada apa Yah," tanya ku begitu penasaran.
"Maukah Lila berjanji kepada ayah?"
"Janji apa, Yah?"
"Saat Ayah tiada, jangan pernah tinggalkan ibu ya."
Ayah menyodorkan jari telunjuknya pada ku.
Ku berpikir sejenak. Walau hati ku terasa teriris mendengar ucapan ayah, ku tetap memberanikan diri untuk merangkulkan jari telunjuk ku kepada jari telunjuk ayah dan akupun membuat janji kepada ayah.
"Ayah berharap kamu tak mengingkarinya."
"Lila berjanji, Yah. Lila tak akan mengingkarinya."
Setelah berjalan cukup lama, ayah dan aku kembali masuk ke dalam rumah dan langsung menuju meja makan.
Kami menyantap hidangan yang telah tertata rapih di meja makan.
Ayah menyantap makannya dengan begitu lahapnya.
__ADS_1
Selesai menyantap semua makan, ayah meminta ku mengambilkan obat yang di simpan ayah di dalam kotak obat.
Ku membawa kotak obat ayah.
Ku menghentikan langkah kaki ku, ketika ku mendengar perbincangan ayah dan ibu.
"Bu, maaf ya Ayah sudah resign dari kantor."
"Tidak apa kok Yah, sekarang yang terpenting kesehatan ayah."
"Ayah mendapatkan pesangon, bagaimana kalau pesangon Ayah, kita gunakan untuk membuka usaha. Ibukan pandai memasak, jadi kita membuka usaha catering saja."
Ibu terdiam sesaat sepertinya lagi memikirkan sesuatu.
"Ibu setujuh Yah."
"Oh ya Bu, tapi soal resignnya ayah jangan bilang sama Lila ya. Ayah takut Lila akan putus sekolah kalau dia tahu ayah sudah tidak bekerja lagi."
"Baik Yah."
Ku mengantarkan obat ayah dan aku seolah - olah tak mendengarkan percakapan ayah dan ibu.
"Yah ini obatnya."
"Terima kasih sayang."
Ayah meminum obat - obatnya dalam sekali teguk.
Ku menatap ayah sedih.
"Ayah Lila akan menyelesaikan sekolah Lila, dan Lila akan membalas jasa Ayah dan Ibu."
"Ada apa Lila?" Tanya ayah yang mulai curiga dengan tatapan ku.
"Tidak ada kok Yah, Lila hanya kagum sama Ayah. Ayah bisa meminum semua obat dalam sekali teguk," kata ku berbohong sambil tersenyum yang dipaksakan.
"Sudah semua ya, Lila bereskan ya!"
"Iya sayang," jawab ayah.
"Iya, Lila bereskan saja," lanjut ibu.
Akupun membereskan peralatan makan kami yang berserakan di atas meja makan.
Pikiran ku melayang ke mana - mana, ucapan ayah tergiang - giang dalam benak ku. Dari ucapan janji ku dan ayah sampai perbincangan ibu dan ayah di meja makan.
"Aku harus mencari kerja paruh waktu," gumam ku.
"Kok ngomong sendiri?"
"Ibu, buat Lila jantungan saja," kata ku sambil memegang dada sebelah kiri ku.
"Lagi ngomong sama piring ya?" Goda ibu.
"Hehehe, tidak kok bu, Lila hanya bernyanyi."
"Kok nyanyiannya tak terdengar?"
"Suara Lila jelek, Lila malu."
"Suara bagus begitu dibilang jelek."
Di Rumah Atan
"Nak Atan, nak, nak Atan," panggil asisten rumah tangganya yang bernama Bik Inah.
Bik Inah menggonjangkan tubuh tuan mudanya, tapi tak mendapat respon dari tuan mudanya.
Bik Inah berusaha membangunkan lagi tuan mudanya.
"Nak Atan, Nak..., sudah pagi nih."
Bik Inah bingung harus memakai jurus apa untuk membangunkan tuan mudanya.
Bik Inah melangkah ke jendela dan membukakan kain gorden yang menutupi jendela kamar tuan mudanya.
Cahaya matahari yang terhalang oleh kain gorden merasa bahagia, cahayanya berhamburan memasuki kamar Atan, sehingga membangunkan Atan dari tidur panjangnya.
Atan mengucak matanya dan melihat jam dinding yang tertancap di kamarnya.
"Bik Inah, mengapa tak membangunkan aku," Pekik Atan.
"Bibik sudah membangunkan nak Atan, hanya saja nak Atan tidurnya seperti pangeran tidur."
"Yeh, Bik Inah, yang ada tuh putri tidur, bukan pangeran tidur."
__ADS_1
"Kalau putri tidur itu untuk cewek sedangkan nak Atan kan cowok, ya jadinya pangeran tudur lah."
"Ah sudah lah, malas berdebat sama Bik Inah."
Bik Inah adalah orang yang merawat Atan dari kecil, jadi Atan menganggap Bik Inah sebagai ibunya. Dibandingkan dengan ibu kandungnya, Atan justru lebih dekat dengan Bik Inah.
Atanpun pergi meninggalkan Bik Inah dan memasuki kamar mandinya.
Di rumah Lila
Ku sibuk mencari lowongan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan ku dan yang terutama cocok buat ku.
"Ketemu!"
Ku begitu cekatan menulis alamat e-mail yang akan ku hubungi.
"Lila, ada Atan tuh," panggil ibu.
Ku merapikan rambut ku yang berantakan karena membiarkannya terurai di bantal tidur ku.
Aku menghampiri Atan yang sudah menunggu ku di ruang tamu.
"Maaf ya lama," kata ku.
"Tidak apa - apa kok, aku juga baru saja datang."
"Di mana Ayah mu?"
"Ayah lagi beristirahat, biasa efek obat!"
"Ada perlu apa ke sini?" Tanya ku polos.
"Aku kangen sama kamu."
"Semalamkan kita baru bertemu."
"Ihhhh, Lila kok tidak peka sih!"
"Memangnya tidak boleh?"
"Boleh sih," jawab ku sambil menahan tawa.
"Maaf ya ku tinggal sebentar," pamit ku
"Kamu mau ke mana?" Tanya Atan bingung.
"Membuatkan mu minum lah."
"Aku ikut ya, sebentar lagi rumah ini akan menjadi rumah ku juga."
"Hmmmm."
"Kamu mau minum apa?"
"Apa saja deh."
"Kopi?"
"Aku tak biasa minum kopi."
"Teh?"
"Aku tak suka teh."
"Ihhh anak ini, bilangnya terserah."
"Susu?"
"Memangnya Atan bayi?"
"Jus?"
"Masih terlalu pagi."
"Lantas Atannya mau minum apa?"
"Terserah Lila!"
"Sudah di tawarin Atan nolak semua." Aku mulai kesal.
"Air putih saja ya, yang hangat." kata Atan sambil menarik hidung ku.
"Dari tadi kek."
"Jangan marah - marah nanti cantiknya pudar loh."
__ADS_1