
"**Ahhh...apa yang kupikirkan, bukankah apa yang ibu katakan ada benarnya juga?"
"Tapi Lila! Atan itu sahabat mu. Bukankah prinsip mu, sahabat adalah sahabat**?"
"Aggggghhhhh." Batin ku bergejolak.
Ku langsung masuk ke kamar mandi ku, membersihkan diri ku dan beristirahat.
Ku mengambil selimut ku dan menutupi tubuh ku yang merasa kedinginan.
Aku terhanyut ke dalam alam bawah sadarku, ke dunia mimpi.
Taman yang indah, bersama Atan yang duduk di samping ku.
Aku dan Atan nampak begitu bahagia, seakan dunia ini hanya milik kami berdua.
Banyak gadis yang memandang iri kepada ku, karena Atan memperlakukan ku seperti seorang putri.
Atan mengecup tangan ku, membelai rambut ku, dan mengecup kening ku.
Mata ku beradu pandang dengan mata Atan, matanya begitu bening dan teduh. Cahaya cinta terpancar jelas di matanya.
Tatapan Atan membuat ku terhanyut di dalamnya.
Atan semakin mendekatkan dirinya kepada ku, sehingga ku bisa mendengarkan detak jantungnya. Seakan - akan detak jantung kami seirama.
Atan terus menatap ku, akupun tersipu malu.
Dia memegang kedua pipi ku dan menundukan kepalanya agar sejajar dengan wajah ku.
Wajahnya semakin dekat, bibirnya yang merah seperti delima mendekat ke arah ku, dan....
"Tok...tok...tok.."
"Lila...Lila...Lila..., ayo bangun nak!"
"Lila...Lila, lekaslah bangun nak, nanti kamu terlambat ke sekolah."
Teriakan ibu membuat ku tersadar dan akupun tersenyum malu bercampur rasa kecewa dengan apa yang baru saja ku mimpikan.
"Lila..."
"Iya bu..."
"Lekaslah bangun nak."
"Iya bu, Lila masih mengumpulkan nyawa nih."
"Emangnya nyawa kamu pergi ke mana?" Tanya ibu sambil meninggalkan ku.
Aku tertawa terbahak bahak mendengar perkataan ibu.
Ku mengucak mata ku yang masih ngantuk, dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi ku.
Ku tanggalkan semua pakian ku dan...
Byuuuuurrrrr...
Ku membasahi seluruh tubuh ku dengan air dingin.
"Iiiiiiii....dingiiiiinnnn."
Ku mengosokan sabun beraroma mawar ke seluruh tubuh ku, ku menikmati harum mawar yang tersebar ke seluruh kamar mandi ku.
Terasa seperti di terapi, begitu menyegarkan.
Membuat ku berlama - lama menikmati aromanya.
"Lila...Lila..., ayo sarapan!" Teriak ibu.
Akupun menyudahi acara mandi ku, dan segera mengeringkan tubuh dan memakai seragam ku. Ku berusaha bersiap secepat kilat.
Aku menuju ruang makan yang ternyata sudah di tunggu ayah dan ibu ku.
"Selamat pagi ayah...."
"Selamat pagi ibu..."
__ADS_1
Aku menyapa kedua orang tua ku.
"Pagi sayang, kamu kelihatan berbeda." Kata ayah ku.
"Apa yang berbeda yah..., Lila sama seperti yang dulu kok."
"Hari ini kamu tampak berseri - seri. Jangan - jangan?"
"Jangan - jangan apa yah?"
"Jangan - jangan anak ayah lagi jatuh cinta nih?" Kata ayah sambil tersenyum.
"Tidak kok yah."
"Ah masa?"
"Benaaarrr yah!"
"Kalau suka bilang suka, jangan dipendam. Karena jika rasa itu di pendam yang ada sesak di hati." Lanjut ibu ku.
Aku tersenyum kecut, ada rasa sesal dalam hati ku.
"Ayah dan ibu...kalau bilang suka benar ya?"
Kamipun tertawa terbahak - bahak.
Setelah menyelesaikan sarapan ku, akupun berpamitan dengan kedua orang tua ku.
"Lila pamit dulu ya!" Kata ku sambil mencium tangan kedua orang tuaku secara bergantian.
"Hari ini Atan tak menjemput mu ya?" Tanya ibu.
"Mungkin sebentar lagi bu."
Tok...tok...tok
Pintu rumah ku di ketuk.
"Itu pasti Atan. Dah...yah, dah...bu."
"Kok kamu tahu itu Atan? Di buka dulu dong pintunya sayang."
"Cek...cek...memang benar ya yang orang bilang, kalau sudah sayang; bunyi motorpun dihafal." Goda ayah.
"Ayah!"
Ibu dan Ayahpun tertawa terbahak - bahak.
Aku menuju ruang tamu dan membukakan pintu rumah.
Creaaakkkk...
"Atan, ayo!" Ajak ku.
"Aku pamit dulu sama orang tua mu, Lila."
"Ayah dan ibu ku masih sarapan dan aku sudah mewakili kamu untuk berpamitan. Jadi ayo kita berangkat, nanti kita bisa terlambat."
"Hmmm..." Atan tersenyum.
Kali ini senyuman Atan terasa manis dan begitu indah. Sangat berbeda dari biasanya.
"Ayo!" Ajak Atan.
Atan mengemudikan motornya dengan lajunya, sehingga tak terasa kami sudah tiba di sekolah. Waktu terasa begitu singkat, padahal aku masih pingin berlama - lamaan dengan Atan.
Ada rasa kecewa yang mengalir dalam tubuh ku.
Rasanya tak tegah kalau kami sudah sampai di sekolah.
Rasa yang aneh, rasa yang selalu mengrogoti hati ku, rasa yang selalu membuat jantung ku berdebar kencang.Rasa ingin memilikinya.
Tapi, prinsip ku mematahkan segalanya.
Ku ingin bilang, "Aku sayang kamu Atan." Namun kata itu seperti tertahan di leherku, seperti ada yang mengganjalnya dan melarangnya untuk tidak keluar lewat mulut ku.
"Sabar ya, aku parkirkan motor ku dulu."
__ADS_1
Aku mengangguk tanda setuju.
Aku dan Atan melewati tiap kelas, menuju ke ruang kelas ku.
Hari ini berbeda dengan hari - hari yang sebelumnya, setiap mata memperhatikan kami dan membicarakan kami setelah kami melewati mereka.
Para cewek memandang sinis dan sirik pada ku bahkan ada yang cemburu dengan ku.
Karena Atan hanya tertarik kepada ku, bukan dengan mereka.
"Sampai ketemu sebentar ya!"
"Baik lah."
"Wah...sepertinya ada peningkatan nih," goda Vita.
"Peningkatan apa Vit?"
"Peningkatan PDKTnya, atau sudah rubah status ya?"
"Dari sahabat menjadi TTM ( Teman Tapi Mesra), dari TTM menjadi pacaran." Vita tertawa terpingkal - pingkal walaupun sebenarnya leluconnya tidak lucu sama sekali.
"Sembarangan saja, kami masih sahabatan kok."
Tapi hati ku berkata lain.
"Iya, Atan itu pacar ku."
"Kamukan tahu kalau prinsip ku sahabat adalah sahabat."
"Iya deh, intinya kamu jangan nyesal saja."
"Nyesal kenapa?"
"Nyesal kalau hatinya, dia serahkan buat orang lain."
Ku terdiam sesaat meresapi segala ucapan Vita.
Hatiku tak ingin kehilangan Atan, aku tak rela kalau hatinya dia berikan kepada orang lain.
"Loh, kok bengong?" Vita mengagetkan ku, dari lamunan sesaat ku.
"Siapa yang begong? Aku hanya memikirkan tentang nilai ku kok." Kata ku berbohong kepada Vita.
"Yang benar nih?"
"Benar kok. Aku takut kalau bilai ku anjlok."
"Buat apa takut, bukannya kita sudah belajar dengan giat?"
"Iya, tapi kadang - kadang terlalu mengangap enteng jadinya hasilnya buruk."
"Syukur akhirnya, Vita tidak membahas tentang Atan lagi."
"Ahhh...ko bahas tentang nilai? Bukannya kita membahas tentang kamu sama Atan?" Tanya vita, yang menyadari kalau aku mengalihkan pembicaraan kami.
"Kamu sengaja ya?" Tanya Vita lagi.
"Tidak kok, memang awalnya kita membahas tentang aku dan Atan lalu kita menghungkannya dengan nilai, begitu!" Jelas ku, agar Vita tidak mengomeli ku lagi.
"Kamu selalu punya alasan yang tepat."
Aku tersenyum, merasa menang. Seakan - akan memenangkan petarungan yang sangat sengit dan melelahkan.
**Hay semua Readers ku tersayang, terima kasih masih setia membaca karya ku.
Selalu memberi semangat buat Author dengan cara :
Like👍👍👍
Vote
Rate ⭐⭐⭐⭐⭐
Favorite❤, biar bisa baca kelanjutannya.
Dan coment yang membangun.
__ADS_1
Love You All**.