Ayah Aku Rindu

Ayah Aku Rindu
Hal Yang Tak Terduga


__ADS_3

Hari ini adalah hari kedua kegiatan Penggenalan Lingkungan Sekolah Baru atau yang trennya PLSB.


Hari ini akan sangat melelahkan bagi ku karena kegiatan ini akan di lakukan di luar ruangan.


"Hemmm...aku tak akan bisa bertahan lama, dengan cuaca yang sepanas ini."


"Bisa - bisa aku pingsan," lanjut ku.


Tiba - tiba mata ku berkunanang - kunang dan kepala ku terasa sangat pusing.


"Aduh...apa yang terjadi pada ku?" aku bertanya dalam hati ku."


"Vita...tolong ak..." akupun terjatuh dan tidak sadarkan diri.


"Lila...lila" terdengar suara sahabat - sahabat ku memanggil ku.


Mereka nampak begitu panik melihat keadaan ku.


"Lila...Lila...ayo bangun...aby memanggil ku.


"Lila cepatlah sadar," sambung Neno.


Ku berusaha membuka kedua mataku, yang terasa berat karena menahan sakit yang berasal dari kepala ku.


"Syukurlah akhirnya kamu sadar juga," kata Vita.


"Aby tolong ambil kan teh buat Lila," perintah ibu Vera Guru BK kami.


"Lila...bagaimana keadaan kamu? Apa yang kamu rasakan lila?" Tanya Neno.


"Jangan - jangan kamu lupa sarapan ya?" tanya Margot.


Begitu banyak pertanyaan dari sahabat - sahabat ku sampai aku lupa menjawabnya karena sakit di kepala ku.


"Sudah..biarkan Lila beristirahat kalian di luar dulu ya" Kata ibu Vera.


"Lila...bagamana? Apakah kamu sudah merasa baikkan? Tanya ibu vera.


"Sudah agak mendingan bu" jawabku sambil meneguk teh.


"Beristirahatlah!" Perintah Ibu Vera.


Akupun tertidur pulas di ruangan UKS, tak ku sadari bel pulang sudah berbunyi sedari tadi.


Terdengar suarah ribut gaduh di sekitar ku sehingga membangun ku.


"Lila...ayo pulang, apa kamu mau tidur di sini?" Tanya atan menggoda ku.


"Enak saja, ayo pulang!" Sambung ku.


Hari ini hari yang tak terduga buatku bisa - bisanya aku pingsan, mungkin semakin bertambah umur sehingga daya tahan tubuh ku semakin menurun.


"Lila...ayo kami akan mengantar mu, kata aby. "Iya, kami semua" lanjut vita. "Asyik...aku jadi terharu, sekalian Lila di gendong ya?" Jawab ku usil.


"Anak ini, manjanya kelewatan." Sambung Margot.


Kami semua tertawa bahagia.


"Ingat! setiap pagi harus sarapan ya, biar jangan pingsan." Lanjut Neno.


"Buat kami jantungan saja;" sambubung Atan.


"Iya...iya...,maaf deh boss, lain kali Lila tidak akan bolos sarapan lagi."


"Selamat siang om...selamat siang tanta." Sapa sahabat - sahabatku.


"Selamat siang...,eee kalian. Ayo masuk!" Sambut ibu ku ramah.


"Lila, kamu kok kelihatan pucat nak?" Tanya ibu menyelidiki.


"Ehmm...," tiba - tiba Vita memotong pembicaraan ku.


"Tadi di sekolah Lila pingsan tanta; jawab Vita.


"Apa?" Ayah begitu terkejut dan menghampiri ku.


Sambil mengelus kepala ku, ayah berkata "Lila, kenapa kamu bisa pinsan sayang?"


"Lila tidak sarapan om," sambung Margot.


"Dengar tuh yah, ayah tidak suka mendengarkan ibu sih, dan ini akibatnya kalau ayah terlalu menuruti kemauannya Lila." Lanjut ibu."


Jadi lupa, ayo makan! kebetulan om sama tanta lagi makan nih, yuk gabung!" Lanjut ayah ku.


"Emangnya boleh om?" Tanya Neno malu - malu.

__ADS_1


"Ya iya lah...Neno, tidak usah malu - malu begitu dong, macam baru kenal om sama tanta saja," jawab ibu sambil tersenyum.


"Kalo Aby sih, dengan senang hati om" lanjut Aby.


"Dasar Aby...kalau urusan makan dia jagonya."


Ayo, silakan duduk!" Ibu mempersilakan sahabat - sahabat ku.


"Terima kasih om..., makasi tanta," ucap mereka kompak.


✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨


"Om...Tanta, kami permisi dulu ya. Terima kasih buat jamuan makan siangnya," Atan mewakili sahabat - sahabat ku untuk berpamitan.


"Iya sama- sama" jawab ibu ku.


"Sering - sering lah kalian ke sini biar Lila tidak kesepian, " sambung ayah.


"Dah..., sampai jumpa besok di sekolah ya" aku melambaikan tangan mengantar kepergian sahabat - sahabat ku.


"Sayang kita ke dokter ya?" Ajak ayah.


"Lila tidak apa- apa kok yah, ini karena Lila tidak sarapan kok."Jawabku.


"Mulai besok Lila harus sarapan," kata ibu ku.


"Iya bu, Lila janji! Maaf ya ayah..., maaf ya bu..., maafkan Lila karena membuat ayah dan ibu khawatir. " kata ku sambil memeluk ayah dan ibu secara bergantian.


"Iya iya...! Sana bersihkan diri mu setelah itu belajar ya," lanjut ibu ku.


"Iya ma."


Jam menunjukan pukul 08.00 malam, mata ku mulai berat dan rasa kantuk mengusik ku dan aku sesegera mungkin menuju ke tempat tidurku. Ku tarik selimut tebal ku dan ku tutupi seluruh tubuhku.


"Dinginnya malam ini,"


Begitulah kota kelahiran ku, sangat istimewa. Jika siang hari cuacanya cerah maka malam harinya hawanya sangat dingin.


"Lila ini ibu bawakan kamu selimut, malam ini sangat dingin."


"Terima kasih bu. Iya bu, malam ini sangat dingin ya."


Ibu menyelimuti tubuhku dengan selimut yang di bawahnya.


"Selamat malam sayang, semoga mimpi indah." Ibu mencium kening ku dan pergi meninggalkan ku.


✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨


"Lila, lila...," suara ibu mengagetkan ku.


"Kamu kenapa sayang?" Sambung ayah.


Ku peluk erat ayah ku dan menagis, aku sangat takut. Takut kehilangan ayahku.


"Kamu kenapa sayang," tanya ayah heran.


"Lila mimpi ayah pergi meninggalkan ibu dan Lila," jawabku.


"Lila sayang, mimpi itu hanya bunga tidur jadi jaganlah terlalu dipikirkan." Kata ayah menghiburku.


"Sudah jangan menangis lagi,ayah tidak akan meninggalkan ibu dan Lila kok," ayah menghiburku sambil mengusap air mata ku.


"Lila ayo bobo, besokkan lila harus ke sekolah." Kata ibu.


Ku menganggukan tanda setuju.


Ayah dan ibupun kembali ke kamar mereka.


"Tuhan tolong jauhkan segala hal buruk, baik yang akan menimpa kami maupun yang sudah menimpah keluarga kami, dan akupun melanjutkan tidur ku.


⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐


Hari - hari berlalu begitu cepatnya tak terasah kami sudah naik ke kelas XI. Dan di tahun ini aku genap berumur 17 tahun. Banyak hal yang telah dilakukan untuk menyambut ulang tahun ku. Ayah dan ibuku berencana mengundang teman - teman sekelasku untuk merayakan ulang tahunku, jadi ayah dan ibuku mempercayakan sahabat - sahabatku untuk mengurus acara ulang tahunku.


Lagi dua hari ulang tahun ku, ayah dan ibu serta semua sahabat - sahabatku sibuk menyiapkan acara ulang tahun ku. Mereka semua pingin merayahkan ulang tahun ku. Menurut mereka acaranya dibuat sesederhana mungkin tapi terkesan mewah dan elegan.


Aku dilarang untuk urusan ini. Kata mereka aku cukup jadi penonton saja.


Tibalah hari "H" , hari di mana aku di lahirkan ke dunia ini. Suasana rumahku begitu ramai, aku begitu terkesan dengan acara yang disiapkan oleh ayah, ibu dan sahabat - sahabatku.


Semuanya begitu indah dan sempurna menurutku.


Ku gunakan gaun berwarnah cream pemberian ibu ku, tidak lupa jam keberuntungan ku melingkar di pergelangan tangan ku.


"Cantiknya anak ayah," ayah memuji ku.

__ADS_1


"Iya Lila, hari ini kamu nampak begitu cantik sekali" sambung Neno dan Atan.


Vita, Aby dan Margotpun tak mau kalah, mereka semua memuji ku. Dan ku hanya membalas pujian mereka dengan senyuman termanis ku.


Lagu ulang tahun dinyanyikan secara serentak, walaupun suaranya berfariasi sih ada yang cempreng dan ada yang memekakkan telinga. Tapi terlepas dari itu semua ku merasa sangat bahagia di hari ini, karena aku di kelilingi oleh orang - orang yang menyayangi dan mencintaiku dengan tulusnya.


Ku berikan kue ulang tahun ku kepada ayah dan ibu, tak lupa sahabat - sahabat ku.


Ku mulai usil, ku gosokkan cream di wajah kelima sahabatku itu.


"Lila...jangan," kata mereka menghindariku.


Tapi aku tak menggubrisnya, ku menggosok cream ke pipi mereka dan ku ucapkan terima kasih untuk pestanya.


"Lila...ayo ke sini sebentar," panggil ibu."


"Ada apa bu?" tanya ku.


Ibu dan ayah keluar sebentar ya, kalian tetap lanjutkan acaranya." Lanjut ibu.


"Ibu dan ayah mau ke mana? Hari ini hari bahagianya Lila, kok ibu dan ayah malah mau pergi?" Tanyaku kesal. "Lila...jangan begitu dong , malu sama teman- teman kamu tuh. Ayah dan ibu ada keperluan yang sangat mendesak sehingga ayah dan ibu tidak bisa meninggalkannya." Lanjut ayah.


"Kan ada kelima sahabat kamu, jadi Lila tidak sendirian;" sambung ibu.


"Hmm, baiklah tapi ayah dan ibu harus janji tidak boleh pulang sampai larut malam ya." jawabku ketus.


"Iya bawel, ayah dan ibu janji." Ayah melingkarkan jari telunjuknya dengan jari telunjukku. Hal ini sering aku dan ayah lakukan jika membuat perjanjian.


Ayah dan ibu meninggalkan pesta ulang tahun ku dan pergi entah kemana.


"Lila...ayah dan ibu kamu mana?" Tanya Margot.


"iya Lila...ayah dan ibu mu di mana? Kok tidak kelihatan?" Tanya Vita.


"Akupun tak tahu ke mana mereka. Hanya kata ayah ku, mereka ada urusan yang sangat mendesak dan tidak dapat di tunda. Ayo kita lanjut berpesta!" kata ku.


Ulang tahun ku begitu seruh karena di selingi dengan game, semua teman - teman ku mengambil bagian.


Tapi...aku sibuk sendiri, ku melihat jam di tangan ku sambil mataku sekali - kali melihat ke arah pintu menunggu ke dua orang tuaku.


Jam tangan ku menunjukan pukul 07.30 malam tapi ayah dan ibuku tak kunjung datang. Perasaanku mulai gelisa, ku menuju ke arah pintu dan menuju taman berharap ayah dan ibu sudah kembali.


Tak biasanya ayahku mengingkari janjinya.


"Hemmm..." ku menarik nafas panjang sambil mondar - mandir seperti setrika rusak.


"Lila ada apa?" Tanya Atan.


"Waduh kaget..., ihhhh atan buat kaget saja."


"Kenapa kamu meninggalkan acara kamu? Wajahmu tampak gelisah, sebenarnya ada apa sih? Atan memberi pertanyaan secara bertubi - tubi.


"Satu - satu dong Atan, kan aku jadi bingung mau jawab yang mana."


"Hmmmm.. iya bawel, kamu kenapa dari tadi ku perhatikan pikiran kamu melayang ke mana- mana."


"Ini Tan ayah dan ibu ku belum balik - balik nih."


"Dasar manja, namanya ada urusan pasti lama; kan ada kami jadi jagan pikir yang aneh- aneh deh nanti ayah dan ibu kamu jadi tidak nyaman di sana, ayo masuk tidak baik meninggalkan teman- teman sendirian di dalam."


Ku melangkahkan kakiku menju ke dalam rumah.


Selang beberapa saat ayah dan ibupun datang.


Ku berlari menghampiri mereka.


"Ayah...ibu..., kalian dari mana saja? Lilakan jadi khawatir, ada apa sebenarnya mengapa tiap kali ayah dan ibu pergi Lila tak boleh tahu tujuan ayah dan ibu sih;" gerutu ku.


"Sayang...jangan marah dong, ibu dan ayah pergi karena ada keperluan yang sangat mendesak" bujuk ibu.


"Keperluaan apa yang lebih penting dari lila sih, masa di hari bahagianya Lila, ayah dan ibu lebih mementingkan yang lain." Rewel ku.


"Sayang, urusan ini tidak bisa di tundah, ayah mohon pengertian kamu. Suatu saat kamu akan memaklumi apa yang ayah dan ibu lakukan."


"Ayo, bergabung sama teman - teman kamu! Kasihan kan mereka di tinggal sendirian," perintah ibu.


"Baik bu" jawab ku malas."


"Senyum dong masa yang berbahagia, wajahnya kusut seperti pakian yang tidak di setrika," goda ayah.


Ku tersenyum.


"Begitu dong kan cantik," lanjut ibu ku.


Lelahnya hari ini, setelah pesta ulang tahun ku selesai aku dan kelima sahabatku membereskan segala atribut pesta. Begitu banyak hal yang tak terduga di pesta ulang tahun ku.

__ADS_1


Sweet Seventeen yang penuh dengan kejutan dan kekhawatiran.


__ADS_2