
Waktu terasa begitu cepat berlalu, hari berganti hari dan bulan berganti bulan dan sebentar lagi akan diadakan Ujian Akhir Nasional (UAN).
Tapi kami belum mendapat kabar berita dari Atan.
Semua yang berhubungan dengannya pun hilang, lenyap di telan waktu. Entah itu media sosialnya maupun nomor kontaknya. Atan benar - benar hilang seperti di telan bumi.
Ku berusaha mencari tahu keberadaannya tapi usaha ku sia - sia.
Dalam hati ku, ku sempat mengumpat dan memakinya. Seandainya ku bertemu dengannya ingin sekali ku menamparnya.
Hati ini masih terasa sakit. Luka yang dia torehkan karena menghilang begitu saja dan tanpa kabar masih begitu membekas, tapi masih ada setitik rindu buatnya di hati ku.
Aku merindukannya sekaligus membencinya.
Ku membuka kembali galeri hp, memandang potret kami. Rasa bahagia terukhir jelas di wajah ku dan Atan. Bibir ku menyunggingkan senyuman saat melihat potret kami.
Cinta yang mulai bersemi kini berguguran karena rasa sakit karena di tinggal pergi.
"Mengapa tak ada kata perpisahan? Mengapa?
Rasa marah bercampur benci kini kembali muncul. Ku membanting hp ke samping tempat tidur ku, hingga membangunkan Ibu yang tertidur pulas.
Ibu menghampiri ku.
"Ada apa Lila?"
"Maafkan Lila, Bu. Maafkan aku yang sudah membangunkan Ibu."
"Ada apa sayang? Kamu bisa cerita sama Ibu kok."
"Lila kesal sama Atan, sudah lama Atan tak pernah memberi kabar kepada Lila. Lila benci Atan, Bu."
Tangis ku pecah.
Aku menangis sejadi - jadinya sambil memeluk Ibu.
"Ibu mengusap rambut ku, maafkan Ibu ya sayang. Selama ini Ibu tak menceritakan pada mu. Atan pernah datang untuk berpamitan, hanya Ibu tak berani memberitahukan kepada mu. Ibu tak ingin kamu bersedih. Maafkan Ibu!"
Ibu terus mengusap lembut rambut ku.
"Maaf ya sayang."
Ku mengangguk dan air mata ku masih terus membasahi kedua pipi ku.
Ibu menghapus air mata ku yang terus mengalir.
"Hapuslah air mata mu."
Ibupun pergi dan mengambil kotak berwarna biru pink.
"Ini dari Atan," Ibu memberikan kotak biru pink itu kepada ku.
"Apa ini, Bu?"
"Ibu juga tak tahu apa isinya, Ibu belum pernah membukanya. Kan itu milik kamu, jadi kamulah yang berhak membukanya."
Ku menerima kotak itu dan ku membukanya.
Air mata ku berlinang lagi, melihat isi dalam kotak biru pink itu.
Potret ketika Atan mengungkapkan isi hatinya pada ku.
Di balik potret itu ada secarik kertas yang mengungkapkan kata perpisahan dari Atan.
Dear Lila,
Maaf aku tak bisa mengatakan langsung pada mu, karena aku tak sanggup jika melihat mu bersedih. Aku tak mau senyumanmu lenyap karena kepergian ku. Maaf! Maaf karena aku tak sanggup berpamitan langsung dengan mu. Maaf! Aku harus pergi karena Ayah ku membuka usahanya di luar kota sehingga membuat ku harus ikut serta bersama keluarga ku. Aku berjanji akan menghubungi mu jika aku sampai di sana, tetaplah menjadi Lila yang ku kenal dan aku akan membawa mu menjadi istri ku suatu saat nanti."
__ADS_1
"Pembohong! Dasar pembohong."
"Istirahat lah, jangan terlalu bersedih ya."
Ibupun kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Ku menarik nafas panjang dan ku memandang lagi potret kami.
"Pembohong!" Lirih ku.
Hari semakin larut dan cuaca lagi tak bersahabat. Seolah cuacanya ikut bersedih sesedih hati ku. Dingin yang menusuk ku memaksa ku untuk mengambil selimut tebal. Ku menutupi seluruh tubuh ku tak lupa kepala ku ikut terselimuti.
Hati ku masih terluka, marah, dan benci kepada Atan, tapi sedikit terobati.
Aku membenci mu tapi sekaligus mencintai mu.
Akupun terlelap menuju alam bawah sadar ku. Memasuki ke dalam mimpi indah bersama Atan.
Dalam tidur ku, aku tersenyum bahagia.
Hari sudah pagi, alarm hp ku berbunyi membangunkan ku dari mimpi indah ku.
Ku membuka gorden kamarku, membiarkan cahaya matahari masuk menyinari kamar ku.
Hari ini langit nampak cerah, membuat ku bersemangat.
Ku langsung menuju kamar mandi dan menikmati dinginnya air. Ku membasahi seluruh tubuh ku. Air terasa begitu menyegarkan walaupun dinginnya begitu menusuk tulang.
Setelah puas menikmati dinginnya air, ku mengeringkan tubuh ku dan mengenakan seram ku. Berdandan ala kadarnya dan merapikan rambut ku.
Ku menuju ruang makan dan mengambil beberapa makanan untuk disantap. Menikmati masakan yang telah di saji ibu.
"Lila, kok makannya santai?" Ayah menghampiri ku dan mengambil kursi dan duduk di samping ku.
"Belum terlambat ya?" Lanjut Ayah.
"Belum, Yah."
"Di mana Ibu?"
"Di dapur."
Ayah mengkerutkan keningnya, bingung melihat sikap ku yang berubah.
"Ada masalah?"
"Tidak ada kok, Yah."
"Masa?"
Ku menatap ayah.
"Iya Ayah, Lila tak ada masalah sedikitpun."
Sekali lagi ku melirik jam keberuntungan ku.
Ku segera menyelesaikan sarapan dan meneguk segelas air.
"Lila pamit."
Ku mencium pundak tangan Ayah dan Ayah hanya menatap kepergian ku dengan binggungnya.
Ku menuju dapur untuk berpamitan dan mencium punggung tangan ibu.
"Lila pamit ya, Bu."
"Iya sayang, hati - hati di jalan."
__ADS_1
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
"Bu, ada apa ya sama Lila?"
"Kenapa memangnya, Yah?"
"Akhir - akhir ini Lila kehilangan keceriaannya."
"Biasa Yah, masalah anak muda."
"Ohhhh, begitu ya Bu. Pantas Lila muram kaya kaca yang tak perna di lab."
"Ayah, ada - ada saja."
Ku melangkah menuju sekolah dengan kepala tertunduk.
"Weh, kok jalannya seperti itu," ucap Vita mengagetkan ku.
"Lagi malas saja."
"Kamu harus bangkit dong Lila, masa karena Atan kamu kehilangan seluruh gairah hidup mu sih."
"Hmmm, tak perlu membahas manusia pembohong."
"Kok gitu sih."
"Aku lagi malas saja Vita."
Ku berjalan meninggalkan Vita di belakang ku.
"Tunggu dong Lila."
Vita mengejar ku.
"Hay Lila," sapa Aby.
"Hay." Jawab ku lemas.
"Kok wajahmu seperti pakaian yang belum di setrika sih," lanjut Aby.
"Ssssttt," Vita memberi kode pada Aby agar tidak melanjutkan pertanyaan pada ku.
"Ada apa sih?" Bisik Aby.
"Masalah hati," jawab Vita.
Ku terus melangkah tanpa menunggu Aby dan Vita.
Di Rumah
"Bu, apakah Ibu sudah memberikan kotak yang di titip Atan?"
"Sudah Yah, Ibu sudah memberikan pada Lila semalam."
"Aduh Ibu, kenapa baru diberikan pada Lila? Pantasan kalau Lila tambah sedih."
Ibu hanya bisa menghela nafas panjang.
"Ayah jadi ingat sama Atan. Atan itu anak yang baik, dia bisa menjaga Lila. Ayah akan berdoa memohon pada Tuhan agar Atan menjadi jodohnya Lila."
"Ayah, Lila masih SMA. Kok mikirnya jodoh - jodoh segala buat Lila sih."
"Kan Nanti, Bu. Bukan sekarang." Ayah menyunggingkan bibirnya dan tersenyum.
Di Sekolah
Semua sahabat - sahabat ku dan juga teman sekelas ku menganggap ku sangat aneh, terlebih hari ini. Sikap ku membuat mereka bertanya - tanya apa yang sebenarnya terjadi pada ku.
__ADS_1