
Hari ini hari terfokus sedunia karena semua siswa SMA dan SMK mengikuti Ujian Akhir Nasional, ujian penentuan lulus atau tidaknya.
Aku dan sahabat - sahabat begitu fokus sehingga tak ada waktu senggan maupun berleha - leha.
Waktu kami habiskan dengan belajar, belajar dan belajar. Karena sibuk belajar kami tak punya waktu untuk saling mengunjungi.
"Tok... tok... tok."
Pintu kamar ku diketuk.
Creeaaaakkkk
"Maaf sayang kalau Ibu mengganggu belajar mu," kata Ibu sambil membawakan ku segelas susu dan sepiring kue brownis ubi.
"Tidak kok,Bu."
"Ini, minum dan makan dulu. Jangan terlalu di kamar, ganti suasana dong. Belajar di ruang tamu atau di halaman biar tak jenuh."
"Betul juga ya, mengapa Lila tak berpikiran sampai di situ ya."
Ibu membelai rambut ku lembut dan tersenyum.
"Ibu ke dapur ya," pamit Ibu.
"Baik,Bu."
Ibupun pergi meninggalkan ku.
Di Rumah Margot
"Dek, dipanggil Ayah," ucap kakak sulungnya Margot yang bernama Yos.
"Mau ngapain kak?"
"Sana, temui Ayah dulu akupun tak tahu apa yang ingin Ayah katakan pada mu."
Dengan malasnya Margot menghampiri ayahnya, tuan Hartono. Pemilik perusahan ternama di kota kami.
Creeeakkkk, Margot membuka pintu ruang kerja ayahnya.
"Ada apa,Yah?"
"Kamu sudah pikirkan kemana kamu akan kuliah?"
"Sudah,Yah!"
"Di mana?"
"Di sini, Yah. Di Institut Kesenian."
"Kamu tak ingin sekolah di luar negeri?"
"Tidak, Yah. Di sini aku bisa bersama keluarga dan sahabat - sahabat ku."
Ayahnya Margot terdiam dan memandang ke bawah seakan sedang memikirkan sesuatu.
"Tapi Ayah punya rencana tersendiri buat mu."
"Apa itu, Yah?"
"Sudahlah tok kamu sudah menentukan pilihan mu."
Walaupun Margot anak yang manja, dia tak akan mau melihat ayahnya bersedih maupun menolak permintaan ayahnya.
"Katakanlah Ayah."
"Hmmm, sudalah!"
"Ayaaahhhh!"
"Hmmm, Ayah mau kamu kuliah di luar negeri sayang. Ayah sudah mendaftarkan kamu di Politecnico di Milano, Italia."
"Mengapa Ayah tak memberi tahu ku?"
"Bukannya sekarang Ayah sudah memberi tahu mu?"
"Hmmm, baiklah Ayah. Aku akan sekolah di Politecnico di Milano, Italia sesuai dengan keinginan Ayah."
Margot memang tak bisa menolak keinginan Ayahnya.
"Baiklah nanti besok, kita ke mall. Kita akan berbelanja semua keperluan kamu saat di sana," kata tuan Hartono begitu semangatnya.
Margot tersenyum kecut. Dia akan pergi ke belahan dunia yang lain jauh dari keluarga dan sahabat - sahabatnya.
Di Rumah Aby.
"Aby, bangun! Aby, bangun! Abbbbyyyy, baaaannngguuuunnnnn!" Panggil nyonya Linda ibunya Aby.
"Ehhkmmm, Mami ada apa sih?" Protes Aby yang merasa tidurnya terganggu.
"Bangun dong," pinta nyonya Linda.
"Mammiii, aku masih ngantuk nih," ucap Aby yang masih stabil dengan posisinya.
"Mau ibu panggilkan Ayah ya? Biar Ayah yang akan membangunkan mu," ancam nyonya Linda pada putri semata wayangnya.
"Ihhh Mami, pakai acara ancam - ancam segala. Iya deh Aby bangun."
"Langsung mandi ya, kamu bau ayam," ucap nyoya Linda sambil menutup hidungnya.
"Enak saja, masa anaknya yang cantik bak bidadari dibilang bau ayam," gerutu Aby pada ibunya.
Nyonya Linda meninggalkan Aby sambil tersenyum.
__ADS_1
Aby menuju kamar mandinya dan berbenah.
Setelah berbenah Aby menuruni anak tangga menujuh ruang tamu.
"Aby sini," panggil tuan Mahardika.
"Iya, Pi!"
Aby menghampiri kedua orang tuanya.
"Ada tamu rupanya," gumam Aby dalam hati.
"Sini nak, duduk di samping mami," panggil maminya Aby.
Aby melangkah menuju ibunya dan duduk persis di sebelah ibunya.
"Ini kenalkan sahabat karib sekaligus rekan bisnis Ayah, namanya om Wisnu"
"Selamat sore, Om!" Sapa Aby sambil mencium pundak tangan om Wisnu.
"Ini istrinya, tanta Imelda."
"Sore Tante," sapa Aby. Tak lupa Aby juga mencium punggung tangan tante Imelda.
"Wah cantiknya calon mantuku," ucap tante Imelda mengaketkan Aby.
Aby melirik ayah dan ibunya, tatapan matanya membuat kedua orang tuanya menjadi salah tingka.
"Whats? Dijodohkan? Mereka kira ini jaman Siti Nurbaya, apa? Aku masih ingin kuliah dan bekerja, aku ingin jadi wanita karir." Omel Aby dalam hati.
"Ini anak om Wisnu dan tante Imelda. Dino!"
"Hai, Aby!"
Hati Dito bergetar saat bertemu dengan Aby, cahaya cinta di matanya jelas terpancar. Hatinya telah dicuri Aby pada pandangan pertama.
"Hai!"
"Kalian berdua silakan PDKT di taman atau
jalan - jalan ke luar juga boleh," goda ibunya Aby.
"Iya, tante setujuh! Oups salah panggil mama saja biar sama kaya Dito."
Aby hanya bisa menarik nafas panjang. Batinya bergejolak, marah, jengkel, bahkan pingin menangis.
Gadis tomboy kini tak berdaya, dia tak bisa membatah kedua orang tuanya.
Tapi di belakang kedua orang tuanya, Aby memiliki rencana tersendiri.
Aby dan Dito menuju halaman rumah Aby.
"Ku berharap kamu menolak jika orang tua kita bertanya soal perjodohan ini," ucap Aby dengan sedikit mengancam Dito.
"Memangnya kenapa? Apa kamu tak mau dijodohkan dengan ku?"
"Aku punya kok," ucap Dito sambil menatap Aby dalam.
"Bagus! Jadi katakan kamu tak setujuh karena ada wanita lain di hatimu."
"Terus apa alasan mu?"
"Kalau aku sih pinginnya kuliah, jadi wanita karir dan jatuh cinta pada pria yang tampan dan mapan. Aku masih punya berjuta angan - angan yang ingin ku gapai."
"Baiklah aku setuju."
"Benarkah?" Aby begitu kegirangan sehingga dia tak sadar sudah merangkul Dito.
Di dalam rumah Aby, tante Imelda dan ibunya Aby menatap kedua anaknya lewat kaca jendela. Ada harapan lebih dari kedua ibu itu.
"Sepertinya mereka sudah akrab ya," ucap tante Imelda.
"Iya, mereka terlihat sangat serasi," lanjut nyonya Linda.
"Kalian kok senyam senyum tak jelas sih," goda tuan Mahardika.
"Sini pi, lihat anak kamu sama calon mantu kita. Mereka sangat akur dan serasi ya."
Tuan Mahardika menatap ke luar jendela, matanya tertuju kepada kedua insan yang lagi berduaan di bangku taman rumah mereka. Senyum tipis terukir di bibirnya, rasa bahagiapun datang menghampiri.
"Ayo Ma ajak mereka masuk. Kita tanyakan pada mereka apa mereka menerima perjodohan ini," pinta om Wisnu pada istrinya.
"Buat apa ditanya. Mereka berdua begitu mesra kok, jadi pastinya jawabannya adalah setujuh," lanjut tuan Mahardika.
"Sebaiknya kita tanya anak - anak, Pi." Pinta nyonya Linda.
Tante Imelda menghampiri Aby dan Dito.
"Ekmm... ekmmm..., kalian berdua masuk yuk!" Ajak tante Imelda.
"Maaf ya kalau Papi mengganggu kencan kalian."
"Kencan?" Gumam Aby.
"Papi mau tanya sama Aby dan nak Dito nih, apakah kalian setujuh dengan perjoodohan ini?"
Aby dan Dito diam sejenak. Mata Aby sesekali memberi kode pada Dito.
"Dijawab dong," lanjut om Wisnu.
"Dito jawab dong," lanjut tante Imelda.
"Maaf semuanya, bukannya saya mau mengecewakan papa, mama, om dan tante. Aby wanita yang cantik dan sejujurnya aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapiiii?"
__ADS_1
"Yes, ternyata dia takut dengan ancaman ku."
"Tapi apa, nak?" Tanya nyonya Linda.
"Aku setujuu."
"What's?" Mata Aby terbuka lebar hingga kedua bola matanya hampir keluar, menatap tajam ke arah Dito dan Dito tersenyum manis ke arah Aby.
"Horeeee," teriakan kedua orang tua Aby dan Dito begitu bahagia dan mereka saling berpelukan
Di Rumah Vita
"Pokoknya aku ngak mau kuliah jauh - jauh," protes Vita kepada ayahnya.
"Vita, dengarkan Ayah. Jangan jadi anak yang pembangkang, ngak baik."
"Bukannya aku membangkang,Yah. Tapi, aku hanya memukakan pendapat dan pilihan ku. Aku tak mau pisah dari sahabat - sahabat ku."
"Kalian masih bisa berhubungan lewat medua sosial atau handphone."
"Ayahhh, please deh!"
"Vita, Ayah mohon kali ini dengar dong apa yang Ayah katakan."
Vitapun terdiam dan mendengarkan penjelasan ayahnya panjang lebar.
Dan hati Vita mulai melemah menerima usul dan saran dari ayahnya.
Di waktu yang bersamaan di rumah Neno.
"Apa yang kamu inginkan untuk masa depanmu Neno?"
"Aku ingin jadi guru Olah raga,Yah!"
"Apa? Guru Olah raga?"
"Iya,Yah."
"Apa kamu sudah tak waras ya? Lantas bagaimana dengan perusahan Ayah?"
Neno menunduk memandang lantai rumahnya.
"Ayah ini pilihan Neno, tolong hargain."
Suasana semakin tegang.
"Neno, kamu anak satu - satu ku dan pewaris tunggal. Mengapa kamu masih berpikiran untuk menjadi seorang guru, lalu perusahan ini untuk siapa?" Ucap Ayah Neno dengan nada semakin meninggi.
"Ayah, Neno tak mau jadi anak durhaka. Neno mohon dukungan Ayah."
"Apa? Dukungan? Maaf jika Ayah tak bisa mendukung mu."
"Ayah, Ayah jangan egois dong," nada suara Nenopun meninggi.
"Egois? Menguatirkan masa depanmu, kamu bilang itu egois?"
"Ayah bukan menguatirkan masa depan ku, tapi Ayah memaksakan kehendak Ayah pada ku."
"Apa? Dasar anak tak tahu diuntung!"
Plaaakkk, ayah Neno melayangkan tangannya menampar pipi Neno.
"Terima kasih untuk segalanya,Yah dan maafkan aku karena sudah menjadi anak yang durhaka." Neno memegang pipi kirinya dan pergi dari rumah. Membiarkan Ayahnya mematung merenungkan kesalahan yang beliau lakukan terhadap anak semata wayangnya.
Di Rumah Lila
Seusai belajar, ku mengangkat gelas dan piring kotor menuju dapur dan mencucinya.
Rumah begitu sepih. Kedua orang tuaku tak tahu ke mana.
Mata ku tak tenang mencari ayah dan ibu ke sekeliling rumah.
Ku menuju kamar tidur kedua orang tua ku, ternyata Ayah lagi menikmati istirahat siangnya. Ayah tertidur begitu pulasnya sehingga Ayah tak menyadari kalau hari semakin gelap.
Ku menuju taman mencari ibu.
"Ibu tak istirahat ya?"
"Tidak, sayang. Ibu sama sekali tidak mengantuk. Apa lagi melihat tanaman ibu di makan belalang dan bekicot."
"Lila bantu ya?"
"Boleh! Tapi, kamu sudah selesai belajar?"
"Sudah dong, Bu."
Aku mengambil bucket spray dan ku semprotkan ke tanaman milik Ibu.
Semua tanaman tak terlewatkan oleh ku.
"Lila hp kamu berdering," panggil Ayah.
"Iya, Yah!"
"Bunyi hp Lila membangunkan Ayah ya?" Tanya ku sembari mengangkat hp.
"Tidak kok," jawab Ayah sambil menganti saluran televisi.
"*Hallo, selamat sore!"
"Hallo!" Hallo*!"
"Siapa sayang?" Tanya Ayah.
__ADS_1
"Tak tahu, Yah. Nomor baru."
"Apakah itu Atan?" Tanya ku dalam hati.