
Hari ini akan begitu sibuk bagi ku dan sahabat - sahabat ku. Hari yang penuh persiapan karena kami akan melakukan perjalanan yang sangat jauh keesokan harinya. Mengantar ayah ke rumah sakit Sayang Ibu.
"Kami pamit dulu ya om, tanta." Pamit sahabat - sahabat ku.
"Bye Lila!"
"Bye."
"Ayo Atan," ajak Neno.
"Sebentar lagi, kamu duluan saja."
"Emangnya kamu tidak berbenah ya?" Tanya Vita.
"Itu mah gambang, cukup dengan petikan jari ku semuanya beres."
"Memangnya dia jin?" Gumam ku di dalam hati.
"Ada - ada saja kamu." Kata Aby
"Ayo kita duluan saja, biarkan Atan di sini." Kata Margot.
"Begitu dong, margot aja yang lugu paham."
"Dah...semuanya." Merekapun pergi.
"Seru ya kalian, jadi pingin kembali ke SMA." Kata ayah sambil tersenyum kepada ibu.
"Iya, masa - masa waktu SMA adalah masa yang paling indah." Lanjut ibu.
Dulu ayah dan ibu ku bertemu saat mereka di SMA dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Walaupun ayah dan ibu seangkatan tapi mereka beda sekolah.
Mereka bertemu di pesta ulang tahun teman sekolahnya ibu, yang nota benenya sahabatnya ayah.
Dan kedua orang tua ku menjalin hubungan, sampai mereka akhirnya menikah. Begitulah cerita singkat tentang pertemuan awal kedua orang tua ku.
"Tok...tok...tok."
Creeeeaaakkk....
Seorang perawat masuk.
"Bu, silakan selesaikan administrasi di ruangan lima dan setelah itu bapak bisa pulang."
"Baik sus, terima kasih."
"Lila, kamu di sini ya sama ayah. Ibu ke ruang lima dulu."
"Baik bu."
"Lila, ayah ingin menyampaikan sesuatu pada mu?"
"Tentang apa yah?"
"Kalau ayah dipanggil Tuhan."
"Jangan lanjutin yah, Lila malas dengarnya. Bahas yang lain ya."
Mata ku terasa panas, dan hati ku terasa begitu sesak. Tapi ku berusaha kuat dan tegar.
"Jangan jatuh - jangan jatuh!"
"Sudah tentukan jurusan yang mau kamu pilih saat kuliah nanti?" Tanya ayah memecahkan keheningan.
"Belum yah!" Jawab ku singkat.
"Mau tunggu sampai kapan?" Kamu sekarang sudah kelas XII."
"Sampai ayah sembuh."
"Kalau ayah tak kunjung sembuh?"
"Berarti ayah tak mau Lila melanjutkan sekolah."
"Hmmmmm, anak ini."
"Ayo!" Ibu tiba - tiba masuk membuat aku, ayah dan Atan tersontak kaget.
"Ibu buat kaget saja." Tegur ayah.
"Maaf ya!" Ibu tersenyum malu.
"Ayo!" Ajak ibu lagi.
Perawat mengantarkan kami kursi roda buat ayah.
"Silakan bapak!" Perawat mempersilakan ayah untuk duduk di kursi roda. Dan mengantar ayah sampai ke tempat parkiran mobil.
Atan begitu cekatan memegang tas dan membukakan pintu buat ayah, sikapnya yang begitu sopan terhadap orang tua ku membuat ku tersenyum.
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
"Terima kasih ya nak, maaf ya selama ini merepotkan mu." Kata ibu sambil membantu menurunkan tas ayah dari mobil.
"Tidak apa - apa kok tanta, Atan iklas kok."
Di dalam rumah
"Yah...ayah istirahat saja."
"Ayah bosan, tidur terus. Belakang ayah jadi sakit semua."
"Hmmm...iya, iya..., ku bukakan tv buat ayah ya?"
"Boleh tuh, lagi malas nih. Buka upin ipin ya."
__ADS_1
"Ayah...masa tontonannya upin ipin?"
"Emangnya tidak boleh?" Tanya ayah sambil tersenyum.

"Wah om nonton upin ipin ya? Boleh gabung?" Tanya Atan.
"Atan juga suka nonton upin ipin ya?" Tanya ayah.
"Iya om, saya suka...saya suka!" Kata Atan menirukan cara bicara memei.
Aku hanya bisa menepuk jidat.
"Ayo Lila ke sini bantu ibu," pintah ibu.
"Iya bu," aku menuju dapur dan membatu ibu menyiapkan makan malam kami.
Setelah usai makan malam, ayah berpamitan untuk beristirahat duluan karena ayah tak bisa tahan duduk lama.
"Kalau begitu aku juga pamit ya om, tanta."
"Oww Atan mau balik ya?"
"Iya om. Atan belum menyiapkan pakian nih."
"Hmmm...bilangnya hanya menjentikan jari, semuanya beres." Sindir ku di dalam hati.
"Owww..., baiklah. Hati - hati ya."
"Hati - hati ya nak Atan!"
"Dah..., Lila." Kata Atan sambil mengacak rambut ku.
"Anak ini sudah berani menunjukan perasaannya di depan umum."
"Dah...!"
Atanpun pulang.
"Kok ada yang ngak tulus mengucapkan kata perpisahan?" Goda ayah.
"Ayaaaahhhhh..., lekaslah istirahat karena besok kita akan melakukan perjalanan yang sangat panjang. Ibu juga ya, biar ini Lila yang bereskan."
"Makasih ya sayang," ibu mengecup kening ku.
"Selamat malam!" Pamit ayah.
Aku membereskan semua perabotan kotor dan membersihkan lantai ruang makan dan dapur lalu menuju tempat pembaringan ku.
"Ahhh...legahnya! Waduh, hampir lupa."
Ku membuka lemari pakian ku dan ku mengambil persiapan beberapa potong pakian untuk besok, ku masukan ke dalam tas ransel ku.
Ku membuka hp ku, ada banyak pesan dari sahabat - sahabat ku.
Vita
"Jam berapa kita berangkat besok?"
Margot
"Lila, jam berapa kita kumpul?"
Aby
"Kamu sudah di rumah ya? Jam berapa kita berangkat?"
Neno
"Atan masi di situ? Usir aja dia pulang😁😁, habis anggaran saja!"
Atan
"Selamat tidur sayang, semoga mimpiin aku."
Ku tersenyum membaca pesan mereka, terasa mengelitik hati ku.
Ku menulis pesan dan ku kirim ke banyak.
"Besok jam 07.00 sudah di rumah ku, sarapan baru kita berangkat."
Ku menantap lama hp ku, menunggu balasan dari mereka. Tapi tak ada satupun yang membalasnya.
Akupun terlelap sambil memeluk hp ku.
Ku tertidur pulas sampai alarm di hpku mengagetkan ku.
Suhunya lumayan dingin sehingga ku menunda niat ku sesaat untuk bangun. Ku menarik badan ku, dan mengucak mata ku. Tak lupa ku mematikan alarm hp.
Ku melihat lagi jam di hp ku, jam menunjukan pukul 04.50.
"Ahhhh...sepuluh menit lagi."
Kini jam menunjukan pukul 05.00 pagi, suhunya masih sama dinginnya tapi ku harus melawannya karena semua sahabat - sahabat ku akan sarapan di sini.
Ku mencari jaket bulu ku dan mengenakannya sebelum keluar kamar. Ku menuju dapur yang ternyata sudah ada ibu di sana.
"Ibu! Kok sudah bangun?"
"Tadi ibu bangun mau minum air, setelah minum air ibu sudah tak bisa tidur lagi." Jelas ibu sambil memotong wortel.
"Kita buat ayam goreng dan acar kuning ya. Tolong kamu potong mentimun ya" Lanjut ibu sambil memberi contoh memotong timun.
__ADS_1
Masakannya sudah di sajikan tinggal menunggu kedatangan sahabat - sahabat ku.
Sambil menunggu mereka datang, aku dan ibu bersiap.
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
"Tok...tok...tok...," Pintu rumah ku di ketuk.
"Itu pasti mereka."
Ku berlari dan membukakan pintu.
Creaaakkk...
"Ayo!" Ajak ku.
"Kalian sudah datang?" Sapa ibu.
"Selamat pagi tanta," sapa sahabat - sahabat ku.
"Mana Atan?" Tanya ayah yang tiba - tiba ikut nimbrung.
"Katanya masih isi solar om, katanya semalam tidak sempat isi sih karena pulang kemalaman dari rumah kekasihnya." Kata Neno ceplas ceplos.
Ayah dan ibu langsung memandang ku dan muka ku berubah merah seperti udang yang baru habis direbus.
"Kok jadi panas ya!" Kata ku sambil mengipas - ngipas wajah ku.
Mereka semua tersontak tertawa tanpa terkecuali ayah dan ibu ku.
"Lagi gosipin aku ya?" Kata Atan yang muncul dari balik pintu.
"Tiiiidaakkk kok!" Kata Neno gugup.
"Ayo kita makan, kan personilnya sudah lengkap." Kata Ayah ku.
Walaupun beliau sakit, sikapnya tak pernah berubah tetap ayah yang penyayang dan humoris.
"Waduh tanta, makanannya menggugah selerah nih." Kata Aby sambil memegang perutnya.
"Ayo, jangan malu - malu." Kata ibu ku.
"Kalau soal makan tak akan malu deh tanta, apa lagi itu masakan tanta." Puji Vita.
Seperti biasa suasana akan seru dan hangat jika berkumpul bersama sahabat dan kedua orang tua ku.
Setelah usai dengan menyantap hidangan kami, Vita, Aby, dan Margot membantu ku untuk merapikan meja makan dan membersihkan perabotan yang kotor.
Kini kami siap untuk melakukan perjalanan kami.
Kami mengunakan dua mobil, mobil pertama dikemudikan oleh Neno dan mobil kedua oleh dikemudikan oleh Atan. Kami menumpang mobil yang dikemudikan oleh Atan sedangkan Vita, Margot dan Aby menggunakan mobil yang dikemudikan oleh Neno.
Perjalanan kali ini akan sangat panjang dan melelahkan karena 10 jam lamanya perjalanan kami.
Dan kali ini Atan mengemudi mobil dengan santai, agar ayah dapat menikmati perjalanan dan kami banyak beristirahat agar tidak terlalu kecapaian.
Jalannya yang berkelok - kelok seperti ular membuat ku isi perutku berontak ingin segera dikeluarkan.
"Kamu kenapa Lila?" Tanya Atan yang melihat ku sudah tak nyaman duduk lama.
"Kamu mabuk ya?" Tanya Ibu.
Ku mengangguk berlahan, wajah ku sudah napak pucat dan berkeringat karena berusaha menahannya.
Atanpun menghentikan laju mobil kami dan menepi. Nenopun juga ikut menepi karena melihat lampu sein dari mobil Atan.
"Kamu kenapa Lila?" Tanya Vita.
"Aku mabuk?"
"Apa?" Pekik Vita.
Vita mengambil minyak kayu putih dan menggosokan ke seluruh punggung ku.
"Bagaimana? Sudah Enakan? Tanya Vita.
"Iya, thanks ya!"
Kamipun melanjutkan kembali perjalanan kami. Karena tujuan kami masih teramat sangat jauh.
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
***Terima kasih, Gamsahhabnida, Arigatou Gozaimasu, Thank you buat semua Readers yang sudah menyempatkan waktu untuk membaca karya ku.
Hari ini Author upnya lebih awal.
Tetap dukung Author ya!
Like, like dan like di tiap episodenya.
Vote sebanyak - banyaknya
Rate 5
Coment yang membangun,
dan jangan lupa Favorite biar bisa up date tiap episodenya.
❤❤❤❤❤❤❤*❤❤❤❤❤❤❤❤
Love you all**
__ADS_1