Ayah Aku Rindu

Ayah Aku Rindu
Semakin Curiga


__ADS_3

"Hari ini kamu kok nampak kusut," tanya Vita.


"Ada apa? Ahaaa...kamu sama aby pasti semalaman suntuk, sibuk mengobrol tentang ketua osis kita ya?" Tanya vita menggoda ku.


Memang sih ketua osis kami adalah cowok yang paling populer di sekolah kami dan semua cewek di sekolah kami tergila - gila padanya. Tapi dia bukan tipe ku. Sikapnya yang sok cool dan sok keren itu membuat ku enggan meliriknya.


"Hmmm...sembarangan, jangan suka menganalisa sesui pikiran kamu;" jawabku.


"Lantas ada apa sebenarnya? Atau lagi PMS ya?" tanya vita seenaknya saja.


"Hmmm...kamu ini, mau ku jitak ya?" Tanyaku yang mulai naik darah.


"Slow down honey, akukan cuma bercanda, terus what hapened with you?" Lagi - lagi vita mempertanyakan hal yang sama.


"Entahlah, persaanku akhir - akhir ini selalu tak nyaman. Gelisah! Dan hampir setiap malam aku selalu bermimpi hal yang sama, aku bermimpi kalau Ayahku meninggal." Kataku dengan nada sedih.


"Lila mimpi itu hanya bunga tidur jadi jangan terlalu bersedih." Kata Vita menghiburku.


"Kalau hanya bunga tidur, mengapa setiap malam aku selalu bermimpi yang sama?" tanyaku.


Air mataku terus nembasahi pipiku.


"Lila...sudah dong jangan menangis, nanti akupun ikut menangis," kata Vita sambil mengeringkan air mataku yang semakin deras.


Semua mata teman sekelasku menatap kami dengan bingungnya.


"Lila tolong berhenti menangis, nanti mereka mengira aku yang telah membuatmu menangis." Kata Vita sambil melihat sekeliling.


"Vita, Lila ada apa ini?" Tanya Ibu Adriana guru Kimia kami. Aku dan Vita tak menyadari kalau Ibu Adriana sudah berada di depan kelas.


"Lila tolong berhenti dong, Ibu Adriana sudah datang" Vita berbisik kepadaku.


"Ini Bu, mata Lila kemasukan kotoran, kata Vita menjawab pertanyaan dari Ibu Adriana.


Vita menyiku tanganku.


"I...iya Bu..., mataku kemasukan kotoran," jawabku.


"Ya sudah kalau begitu, sekarang buka buku halaman dua puluh lima dan kerjakan latihannya, dan langsung di kumpulkan ya, kata Ibu Adriana.


"Baik bu!" jawab kami kompak.


Ku buka buku Kimia dan kutatap buku itu, seolah - olah ku melihat wajah Ayah di sana; membuatku menjadi tidak konsen sama sekali.


"Sebaiknya aku pulang saja," kataku dalam hati.


Pikiranku menjadi semakin tidak karuan.


"Iya! Aku sebaiknya pulang dari pada aku di sini, tapi pikiranku tak di sinikan percuma." Biar tugasku ku kumpulkan kemudian."


Ku kemas peralatan tulis ku yang berserakan di atas mejah, dan kumasukan ke dalam tas.


Vita menatap bingung diriku tanpa berkata apapun. Mungkin dia memaklumi segala tingkahku.


Ku menuju ke meja guru dan menghampiri Ibu Adriana.


"Bu... aku ijin pulang!"


"Kenapa kamu mau pulang duluan Lila? Tanya Ibu Adriana bingung. Karena biasanya aku tak pernah ijin.


"Aku merasa badan ku tak enak, Bu. Bolehkah tugasnya Ibu saya kumpulkan kemudian?"


"Boleh ! Kamu bisa pulang sendiri?"


"Bisa, Bu!"

__ADS_1


"Baiklah! Hati - hati di jalan," kata Bu Adriana.


"Terima kasih Bu," akupun melangkah ke keluar kelas.


Aku bergegas menuju rumah.


"Ayah...Ibu...," ku memanggil Ayah dan Ibu sambil memeriksa di setiap sudut ruangan di rumahku.


"Ayah dan Ibu belum juga pulang ya?" tanyaku dalam hati.


Aku mulai murung dan bersedih lagi. Ku duduk di teras menunggu Ayah dan Ibu pulang.


Ku mengambil handphone dan ku menelpon ayah tapi tak ada respon dari Ayah.


Aku terus berusaha menghubungi Ayah tapi sama saja, tak ada respon balik dari Ayah.


Ku melihat dari kejauhan sosok seorang wanita paruh baya berjalan menujuh rumahku.


"Ibu!" pekikku dan wajahku seketika berubah bahagia.


Ku berlari ke arah Ibuku.


"Ibu bagaimana keadaannya Oma? Oma sakit apa Bu? Ibu sudah sampaikan salam Lila? Ibu sudah sampaikan ke Oma kalau Lila tidak bisa menjenguk oma?"


"Terus kapan ayah pulang? Tanyaku bertubi - tubi.


"Lila...,tanya satu - satu dong dan biarkan Ibu masuk ke rumah dulu," kata Ibu sambil mencubit hidungku.


Aku dan Ibu masuk ke dalam rumah.


"Lila sayang, bukannya Ibu sudah bilang kalau Ayah kamu baru bisa pulang besok," lanjut Ibu.


"Hmmm Lila lupa, tapi kenapa Ayah susah di hubungi Bu," tanyaku.


"Ayahmu lagi sibuk sayang, kamu harus bisa memakluminya. Jangan sedikit - sedikit nelpon, kasihan Ayah kamu. Bisa - bisa ayah kamu diomelin atasannya." Kata Ibu menenangiku.


"Aku merasa tak enak badan bu," kataku.


Ibu meraba keningku.


"Kamu tidak demam kok," kata ibu.


Ku tidur di pangkuan ibu dan berkata, "Aku hanya tak enak badan bu. Sebentar juga baikan."


Aku tertidur pulas dalam pangkuan ibuku.


Ku menggosok kedua mataku.


"Bu kenapa tidak membangunkan Lila?" Tanya ku.


"Ibu tak mau mengganggu mu sayang, karena tidurmu begitu pulas." kata Ibu.


"Lila malam ini kamu ajak sahabat - sahabat kamu nginap di sini ya? Ibu malam ini masih menginap di rumah oma," lanjut Ibu.


"Baik Bu! Ibu rawat Oma sampai Oma benar - benar sehat ya, Lila sudah bisa kok mengurus diri Lila sendiri. Sebentar Lila akan menghubungi sahabat - sahabat Lila untuk menemani Lila di sini. Jadi ibu tidak peruh khawatir sama Lila.


Ibu mengelus rambutku dan mencium keningku, ku lihat ada setetes air mata di kelopak mata Ibu, namum ku tak mempertanyakannya.


"Ibu siap dulu ya."


Ibu memasuki kamarnya. Ku ikuti ibu secara diam - diam dan ku lihat ibu menangis tapi tanpa mengeluarkan suara. Ibu memukul dadanya.


"Ada apa dengan Ibu? Apa sakit Oma semakin parah? atau ada yang ibu sembunyikan dari ku? Banyak sekali pertanyaan yang muncul di benakku.


"Apa aku bertanya langsung saja ke ibu? Ah...sebaiknya jangan, nanti akan menambah kesendihan Ibu. Ihhh...bagaimana ini atau aku pura - pura tak melihat ibu menangis saja. Hmmm...kurasa itu yang terbaik, pura - pura tak melihatnya.

__ADS_1


Ku melangkah menujuh ke kamar ku seakan ku tak melihat apa - apa.


"Lila...Lila, terdengar suara Ibu memanggilku.


"Aduh...bagaimana ini, akukan tak pandai berekting," kataku dalam hati.


Ku berusaha tenang dan menghampiri Ibu.


"Iya Bu, ada apa?" Tanyaku.


"Tolong Lila simpan pakaian kotor ini ya," kata ibu.


"Baik Bu," ku bergegas membawa pakayan kotor ke tempatnya.


"Waduh, pakaiannya pakai acara jatuh segala."


Ku mengangkat pakayan yang berserakan di lanatai.


"Kok kemeja kotor ayah ada di sini?" Bukannya ayah masih di luar kota? Hatiku menjadi tidak karuan, jantungku berdebar kenjang.


"Apa ada yang ibu sembunyikan padaku? Atau selama ini ibu dan ayah berbohong kepadaku? Atau? Semua pertanyaan itu bermunculan di benakku.


Ku ambil kemeja ayah dan berlari menuju Ibu dan ku menunjukan kemeja ayah ke pada Ibu.


"Ibu apa ini? Kok ada kemeja ayah di kumpulan pakayan kotor? Bukannya ayah baru kembali besok? tanyaku mendesak Ibu.


"Iya sayang, itu kemejahnya ayahmu. Kemejah ayah sudah di situ dari dua hari yang lalu kok, kata ibu tenang.


"Ibu tidak berbohongkan sama Lila?" Tanyaku.


"Tidak sayang," jawab Ibu singkat.


"Terus mengapa tadi ibu menangis?" Ahirnya ku beranikan diri untuk bertanya kepada Ibu.


"Itu...itu karena?" Ibu menjawabnya dengan terbata - bata.


"Karena apa bu?" Tanyaku mendesak Ibu lagi.


"Karena Ibu kepikiran Oma kamu," jawab Ibu.


"Benar kerena Oma? Tak ada yang ibu sembunyikan dari Lilakan?" Tanya ku lagi.


"Iya sayang! Kamu kok seperti polisi saja, bertanya terus." Kata ibu sambil tersenyum.


Tapi entah mengapa ku merasa seyuman ibu begitu terpaksa seperti ada yang ibu sembunyikan dari ku.


" Apakah Ayah sudah menelpon Ibu ya?"


"Sudah sayang," jawab Ibu.


"Ahhh...Ayah tegah, mengapa ayah tidak menelpon Lila?" Rengek ku.


"Kan Ayah sudah menelpon lewat Ibu," kata Ibu.


"Tapi Lila pingin berbicara sama Ayah, mengapa Ayah tak menelpon ku?"


"Besok Ayah pulang, kamu boleh mengeluh dan memarahi ayah sesuka hati kamu," lanjut Ibu.


"Ibu berangkat dulu ya, jagan lupa ajak sahabat - sahabat kamu nginap di sini ya."


Ibupun berangkat ke rumah oma.


Setelah ibu pergi, perasaanku begitu campur aduk. Curiga, gelisa, dan tak karuan di hatiku. Ku berusaha menarik nafas panjang agar perasaanku menjadi lebih baik. Tapi usahaku itu sia - sia saja.


"Ya Tuhan semoga apa yang kurasakan ini, bukanlah pertanda buruk."

__ADS_1


Ku duduk termenung di sofa sambil menanti sahabat - sahabatku, pikiran ku melayang jauh. Sehingga tak ku sadari jika mereka semua sudah berada di sampingku.


__ADS_2