
NENO POV

Neno Setiawan, cowok hitam manis mirip orang india, sebenarnya kulitnya tidak hitam - hitam amat sih.
Sama seperti atan, neno juga berasal dari keluarga yang kaya dan terpandang.
Dia cowok yang humoris, penyayang dan suka mengalah sama cewek.
Dia lebih menyukai olah raga ketimbang pelajaran lain.
Paling bermusuhan dengan pelajaran matematika dan bahasa inggris.
Suka usil dengan sahabat - sahabatnya, dan suka gonta ganti cewek seperti pakayan.
Tapi sebenarnya dia baik kok.
Neno tahu cewek yang mendekatinya karena kekayaannya bukan karena tulus mencintainya.
Back To Stories
Kamis, 18 Mei 2003, saatnya ujian.
Ujian penentuan naik kelas XII.
Menurut wikipedia, ujian merupakan cara terbatas untuk mengukur kemampuan seseorang.
"Huaaaaaahhhhh...sudah jam berapa ni? Jangan jangan aku telat."
Ku buka kain gorden di jendela dan memandang keluar, begitu gelap.
Ku ambil jam keberuntungan ku, ku melihat jam ku, jarum jam menunjukan pukul 03.00 pagi.
Ku memukul dahi ku.
"Yah ampun, kepagian." Akupun tersenyum dengan sikap ku.
Entah karena gugup atau memang kepingin bangun pagi.
Aku menuju kamar mandi dan membasuh wajah ku.
Ku mulai membuka buku pelajaran Bahasa Inggris dan aku menghafal vocabulary.
Ku melihat jam di hp ku, sudah jam 05.00, akupun menuju ke dapur dan membuat sarapan.
"Eeee tumben anak ibu sudah bangun?" Ibu begitu terkejut melihat ku yang sedang membuat sarapan di dapur.
Aku tersenyum sambil menggaruk kepala ku, walaupun sebenarnya kepala ku tidak merasa gatal.
"Sini ibu bantu,"
Aku dan ibu bersama sama membuat sarapan.
"Eeee...tumben anak ayah sudah bangun," goda ayah ku yang melihat ku sedang menghidangkan sarapan di meja makan.
"Iiiihhhh...ayah! Bukannya di puji malah diledekin."
"Hahaha," ayah pun tertawa
"Iya...iya...deh...ayah sudah memuji kamu tuh." Kata ayah sambil tertawa lepas.
"Ibuuuu..., ayah tu...ledekin lila terus," rewelku.
Ibu hanya tertawa melihat tingkah ku dan ayah.
"Ayo sarapan," ajak ibu.
Kami menyantap sarapan kami dengan penuh kebahagia. Selalu dan selalu bahagia.
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
Aku menuju kamar mandi dan membasahi diri ku dengan air dingin.
"Byuuurrrrrr..."
__ADS_1
"Segaaaaarrrnya!" Gumamku.
Kubergegas mengambil handuk dan mengeringkan rambut dan badan ku.
Ku membenahi diri ku.
Ku ambil dan ku kenahkan seragam putih abu - abu ku.
Tak lupa jam keberuntungan ku, jam berwarnah coklat pemberian ayah.
Ku masukan perlengkapan sekolah ku ke dalam tas.
Dan melangkah pasti penuh percaya diri.
"Yah...bu...lila pamit ya!"
"Iya, tuh sudah ditunggu atan." Kata ibu.
"Maaf ya atan, kelamaan." Kata ku.
"Maklum lah atan cewek, pasti ribet!" Kata ayah tertawa. Tawanya yang begitu khas.
"Iiiiiii...ayah," omelku.
"Om...tanta...atan pamit ya!"
Aku dan atan mencium tangan kedua orang tua ku secara bergantian dan menuju sekolah.
Hari ini ujian Bahasa Inggris, kami berenam sudah mempersiapkannya.
Soal di bagi oleh pengawas, suasana kelas begitu hening.

Kami mengerjakannya secara mandiri, semua berlomba lomba ingin menjadi murid yang teladan dan berprestasi. Jadi tidak ada dalam kamus kami contek mencontek ataupun mengerjakan ujian secara curang.
Aku dan vita saling pandang dan tersenyum, melihat soal di depan kami. Karena soal yang kami bahas kemarin semuanya di ujikan hari ini, terasa it's magic.
Bel berbunyi panjang, tanda waktu mengerjakan ujian selesai.
"Vita...lila, yuk gabung!" Ajak margot.
"Bagaimana neno dengan soalnya?" Tanya aby.
"Syukur aku belajar bersama kalian, kalau tidak;" neno menghentikan pembicaraan dan menarik nafas panjang.
"Kalau tidak apa ha?" Tanya atan sambil menyenggol lengan neno.
"Kalau tidak aku mengumpulkan lembar jawaban yang kosong."
Tersontak kami berlima serempak tertawa, merasa lucu dan geli karena sikap neno yang kadang kadang seperti anak kecil.
"Sore kita belajar lagi ya?" Ajak neno yang penuh antusias.
"Wah...semakin semangat ni!" Kata vita.
"Yah ialah aku kan pingin jadi bintang kelas juga," kata neno.
"Okokok...sebentar jangan lupa latihan soal matematika dibawa ya," kata ku.
"Ahhhhhh....kenapa matematika? Aku tak punya" Rewel neno.
"Tak apa, intinya yang lain punya." Lanjut ku.
Setiap kali kegiatan atau belajar kelompok, aku selalu bertindak sebagai leader. Walaupun tanpa dipilih😁😁.
Semuanya berjalan secara alami dan sahabat - sahabatku mengikuti secara natural. Tanpa protes ataupun bantahan.
"Jamnya?" Tanya margot.
"Seperti biasa, tapi ingat jangan ngaret!" Aku memberikan penegasan.
"ok deh, kalau begitu sampai bertemu sebentar sore ya," kata vita.
Dan yang lain pun ikut berpamitan pulang.
__ADS_1
Karena ujian, kami pulang lebih awal dari biasanya.
"Ayo lila!" Ajak atan yang sudah menunggu ku dengan motor meticnya.
Atan menstater motornya dan melaju cukup kencang.
Karena cukup kencang laju motornya tak terasa telah sampai di depan rumah ku.
"Makasih atan!" Kata ku.
"Bagaimana kalau terima kasihnya diganti dengan traktiran." Kata atan sambil tersenyum.
"Ok deh," jawab ku.
"Kalau begitu sampai ketemu sebentar sore." Atanpun berpamitan.
Aku melambaikan tangan pada atan, mengantar kepergiaannya.
Aku melangkah masuk ke rumah ku dengan penuh semangat.
Selamat siang ayah...selamat siang ibu," sapa ku sambil mencium tangan kedua orang tua ku secara bergantian.
"Selamat siang sayang," jawab ayah dan ibu hampir bersamaan.
"Bagaimana ujian mu?" Tanya ayah.
"Luar biasa ayah, semua soal yang kami bahas kemarin, semuanya ada dalam ujian." Aku menjelaskan dengan penuh semangat, bahagia dan puas.
"Wah berarti soalnya mudah dong buat anak tersayang ku," lanjut ayah.
Ku balas pertanyaan ayah dengan senyum manis ku.
"Ayo pakian seragamnya diganti, dan temani ayah dan ibu makan ya!" Perintah ibu.
"Ok deh bu."
Ku masuk ke kamar ku, dan menukar pakian seragam ku dengan baju rumah.
Setelah selesai aku menuju ke ruang makan dan menemani kedua orang tua ku untuk makan siang.
"Yah...kenapa lila perhatikan, akhir akhir ini ayah suka memakai topi dingin walaupun udaranya panas?" Tanya ku begitu penasaran.
"Ayah pingin bergaya dong, memangnya tidak boleh?" Kata ayah sambil bercanda.
"Hmmm ayah, lila serius ni!"
"Ayah juga serius," jawab ayah sambil menahan tawa.
"Sudah...sudah...kasian makanannya dicuekin, habiskan dulu baru bercanda lagi." Kata ibu.
Aku dan ayah bergegas menyelesaikan makanan kami, karena takut diomeli ibu.
"Lila tolong ambilkan obat ayah ya?" Kata ibu sambil mengupas buah.
"Baik bu,"
Akupun mengambil obat ayah.
Ku berikan obat dan segelas besar air untuk ayah.
Obat ayah begitu bayak, tapi ayah meminumnya dalam sekali teguk. Aku begitu tertegun melihat semangat hidup ayah, yang melawan penyakit ganas yang menggrogoti tubuh ayah.
Semangat ayah menjadi motivasi buat ku.
Hidup itu harus terus diperjuangkan, jangan pasrah dengan keadaan. Dan yang terutama selalu bersyukur walaupun hidup terasa begitu sulit.
**Note :
Terima kasih buat dukungan para readers.
Jangan bosan - bosan ya untuk terus mendukung author.😊😊
Selalu memberikan like, coment yang membangun, vote dan rate ya!😁😁
Biar author semakin semangat nulisnya**.
__ADS_1