Ayah Aku Rindu

Ayah Aku Rindu
Hari Ke - dua Di Rawat


__ADS_3

"Tapi sekarang ayah sudah baik - baik saja." Jelas ku.


"Kamu bisa pulang dan beristirahat, biar ibu yang menjaga ayah."


"Selamat pagi." Sapa Atan, yang muncul dari balik pintu.


"Eeee...nak Atan, pagi sekali." Kata ibu menyambut Atan.


Atan tersenyum.


"Pas nih, Atan tolong antar Lila pulang ya!" Pinta ibu.


"Ibu! Sebentar lagi dong, kasihan Atannya. Baru tiba langsung disuruh pergi." Gerutu ku.


"Iya sayang!"


Sekarang waktu menunjukan pukul 09.00 pagi, ibu sudah membersihkan badan ayah. Dan ayah nampak lebih segar. Tinggal menunggu kedatangan dokter untuk mengobservasi ayah.


"Ayo Lila!" Ajak Atan.


"Sabar sedikit ya, aku ingin mendengarkan hasil observasi dokter."


"Mata mu nampak cekung dan wajah mu pucat, sayang." Ada ibu di sini yang menemani ayah."


"Benar Lila, kamu beristirahat lah." Kata ibu.


Akupun mengalah.


"Ayo aku antar!" Atan menawarkan.


"Baik lah, ayo!" Ajak ku.


Sebelum kembali ke rumah aku berpamitan dan mencium kedua tangan orang tua ku, begitu juga dengan Atan.


"Hati - hati ya!" Kata ibu.


Aku dan Atan menuju parkiran.


"Ayo! Atan membukakan pintu mobil buat ku.


Akupun masuk ke dalam mobil. Belum lima menit perjalanan, mataku terasa begitu berat seperti memikul besi. Benar - benar mengantuk, mungkin semalam tidur ku tidak begitu nyenyak.


Dalam perjalanan kami, Atan terus berceloteh, celotehannya Atan seperti lagu nina bobo bagi ku. Ku berusaha untuk tetap sadar namun mataku memaksa ku untuk menutupnya. Akupun terlelap.


"Lila..., apakah kau mendengarkan ku?" Atan menatap ku.


"Hmmm ternyata dia tidur. Lucu juga ya, seperti bayi." Atan tersenyum.


Di rumah sakit.


"Dok, bagaimana keadaan suami saya?"


"Suami ibu harus di rujuk ke rumah sakit yang lebih besar. Karena fasilitas di rumah sakit kita masih belum memadai. Sebentar saya akan memberikan surat rujukannya."


"Baik dok, terima kasih."


Back to Lila stories.


"Lila...Lila," Atan membangunkan ku, sambil menggonjang - gonjangkan tubuh ku.


Tapi tidur ku masih begitu pulasnya.


Atan menggendong ku dan mengantar ku ke kamar ku. Menidurkan ku di tempat tidur dan menyelimuti ku dengan selimut ku.


Perut ku begitu keroncongan, cacing - cacing dalam perut ku sudah pada protes karena belum mendapat jata mereka dan akupun terbangun.


"Huuuaaaa!" Ku menarik badan ku.


Ku ingin bangkit berdiri tapi kaki ku terasa begitu berat seperti ada sesuatu di atanya.


Ku melihat ke arah kaki ku ternyata Atan sedang tertidur.


Aku begitu terkejut tapi ku urungi niat ku untuk histeris. Karena wajah Atan yang kelihatan begitu polos, terlelap di bawah kaki ku.


Ku menatap lama wajahnya dan ku tersenyum tipis.


Badannya mulai bergerak, mungkin dia hendak bangun dan akupun berpura - pura menutup mata ku kembali.


"Benar dia bangun."


Atan mendekat ke arah ku, mengamati ku.


"Rupanya dia masih tertidur."


Kini wajah Atan semakin mendekat ke wajah ku. Hembusan nafasnya begitu terasa.

__ADS_1


"Ya Tuhan, kenapa dia semakin mendekat?"


Jantungku berdebar kencang karena hembusan nafasnya terasa menggelitik bibir ku. Dan akupun langsung bangkit berdiri.


Kepala ku menghantam keras ke hidung Atan. Darah segar dipaksa mengalir karena benturan keras karena kecerobohan ku.


"Maafffkan akkkkuu Atan!" Kata ku begitu kuatir dan panik.


"Tisu...di mana tisu?"


Ku segera mengambil tisu dan membersihkan darah yang keluar dari lubang hidung Atan.


"Maaf!" Kata ku sambil membersihkan hidung Atan.


Atan tersenyum, membuatku merasa semakin bersalah.


"Tidak apa - apa kok."


"Maaf ya!"


"Iya, jangan terlalu minta maaf; nanti...."


"Nanti...?"


Atan memandang ku tajam dan membuat ku menjadi salah tingkah.


"Ayo makan!" Ajak ku.


Atan menarik tangan ku, menatap ku tajam sehingga mengobrak - abrik hati dan jantung ku.


"Ayo, perut ku sudah mengamuk sedari tadi.


Aku tersenyum dan menuju dapur. Memasak bak seorang master chef.


10 menit kemudian, masakan telah selesai di masak.


"Ini punya mu!" Ku memberikan nasi goreng ala aku.


"Kelihatannya enak!"


Atan memasukan satu sendok penuh nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Hmmm, ini benar - benar enak."


Ada rasa bahagia dalam hati ku karena melihat Atan memakan masakan ku dengan begitu lahap.


"Masih ada? Aku mau lagi!" Rengek Atan sambil memberikan piringnya.


"Ini! Ambil punyaku saja."


Atan mengambil piring milik ku, dan mengambil nasi.


"Aaaaa! Ayo buka mulut mu."


"Bukannya kamu mau memakannya?"


"Iya, tapi makannya bersama mu, sepiring berdua."


"Aaaaa!"


Ku tersenyum dan ku menerima suapan Atan. Kami menghabiskan sepiring penuh nasi goreng.


Setelah 10 menit bersantai, menunggu makanan kami di cerna, akupun bersiap.


"Atan aku mandi dulu ya."


"Baik lah!"


Aku bersiap secepat kilat agar Atan tak menunggu lama dan jenuh.


"Ayo!" Ajak ku.


Aku dan Atan menuju rumah sakit.


Perjalanan kami terasa begitu singkat karena hari ini jalanan lumayan sepi.


"Kok ibu sudah berbenah?" Tanya ku binggung karena melihat ibu ku sudah memasukan pakian ke dalam tas.


"Apa om sudah boleh pulang?" Tanya Atan yang sama penasarannya dengan ku.


"Ayah mu mau di rujuk ke rumah sakit yang lebih besar. Ini suratnya." Ibu memberikan surat rujukan ayah.


"Apa penyakit ayah semakin memburuk?"


"Dokter hanya menjelaskan kalau di sana peralatan medisnya lebih lengkap."

__ADS_1


"Suratnya untuk besok ni bu," kata ku yang sibuk mengamati isi surat rujukan.


"Iya, makanya ibu membereskan semua perlengkapan ayah."


"Apa aku boleh ikut mengantar om, tanta?"


"Boleh, tapi kamu harus ijin dulu sama orang tua kamu."


"Beres tanta!"


"Tok...tok...tok"


"Selamat siang....," sapa sahabat - sahabat ku.


"Siang, ayo masuk!" Ibu mempersilakan sahabat - sahabat ku.


"Syukurlah sudah jam besuk, kalau tidak bisa - bisa kami di usir nih."


"Maaf ya tanta, kami baru tahu semalam. Jadi sekarang baru bisa datang." Ucap Vita.


"Tidak apa - apa kok." Jawab ibu.


"Atan! Kok ke sini tidak ajak - ajak sih." Gerutu Neno yang terkejut melihat Atan.


"Sejak kapan kamu di situ?" Tanya Aby.


"Dasar Atan tidak setia kawan." Omel margot.


"Maaf ya! Kemarin tuh aku sedikit sibuk jadi lupa memberi informasi kepada kalian."


"Iya, kemarin nak Atan yang mengatarkan om dan tanta. Untung kemarin ada nak Atan." Timpal ibu ku.


"Iya, kalian jangan marahin Atan ya." Lanjut ayah.


"Cie...cie..., yang dibelain calon mantu." Bisik Neno tapi kami semua bisa mendengarkannya.


"Neno kalau berbisik tu volume suaranya di kecilin, bukan seperti toak." Omel Vita.


"Emangnya kamu pikir aku tape apa? Pake kecilin volume segala."


Kami semua tertawa.


"Sudah - sudah, kok aku yang jadi bintang utamanya sih? Bukankah kalian ke sini ingin mengunjungi ayahnya Lila?"


"Hehe...," tawa kelima sahabat ku karena malu.


"Bagaimana kabar om?" Tanya Margot.


"Sudah agak enakan. Hanya kadang - kadang suka sakit nih kepala." Ayah menunjukan kepalanya yang hanya di selimuti dengan beberapa helai rambut.


"Bagaimana nilai kalian?"


"Berkat belajar bersama, kami semua masuk sepuluh besar om." Jawab Neno dengan penuh semangat.


"Hebat ya!" Lanjut ayah.


"Kapan om keluar?" Tanya Aby.


"Sore ini." Jawab ku.


"Kok cepat sekali?" Tanya Vita.


"Sebenarnya bukan pulang, hanya saja ayahnya Lila akan di rujuk." Jelas Atan


"Kemana?" Tanya sahabat - sahabat ku bersamaan.


"Boleh kami ikut?" Tanya margot.


"Ke rumah sakit "Kasih Ibu." Jawab ku.


"Boleh! Asalkan orang tua kalian mengijinkannya." Jawab ibu.


**Para Readers ku, terima kasih ya sudah mendukung Author sampai sekarang dan membaca cerita Author. Semoga dapat menghibur kalian.


Jangan bosan - bosan dukung Autor ya.


Vote yang sebanyak - banyaknya.


Boom like


Rate 5


Coment yang membanggun.


Dan pastinya Favorite biar bisa ikuti terus kelanjutannya**.

__ADS_1


__ADS_2