
**Hay para Readers aku datang lagi.
Sebelum lanjut membacanya, jangan lupa klik
Like
Vote
Rate 5
Coment yang membangun
Dan Favorite
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
Happy Reading**
Matahari terasa begitu indah hari ini, mungkin karena ayah ku sudah tak di rawat lagi di ruangan ICU, tapi sudah dipindahkan ke bangsal Mawar.
Ku benar - benar menikmati tidur ku. Balas dendam tepatnya, karena selama ini tidur saja tak terasa nyaman.
Ku menarik badan ku, mengeliat seperti anak kucing. Cahaya yang mengusik mata ku, terasa begitu menggoda.
Ku ingin bergegas ke rumah sakit menjenguk ayah dan mengantarkan sarapan buat ibu.
Aku melangkah menuju kamar mandi hotel, berendam sebentar di bath up.

Benar - benar menyegarkan. Siapapun yang menginap di hotel ini, akan merasa puas dengan segala fasilitasnya.
Habis dari kegiatan berendam ku membersihkan badan dan ku bergegas secepatnya.
Ku kenakan pakaian santai dan menuju lobi hotel menunggu Atan.
"Kok Atan belum juga datang ya?"
Ku melihat ke pergelangan tangan ku, yang dilingkari oleh jam keberuntungan ku.
"Sudah Jam 07.30."
Ku coba bertahan sebentar tapi rasa khawatir menggrogoti ku. Dan ku putuskan untuk menghampiri Atan di kamarnya.
"Tok...tok...tok," ku mengetuk kamar Atan. Tak ada respon sama sekali, rasa khawatir ku semakin menjadi - jadi.
"Tok...tok...tok..., kali ini ketukannya lebih keras.
Atanpun membuka pintunya.
Aku merasa legah karena melihat Atan membukakan pintu buat ku.
Creeeaaaakkkk....
"Syukurlah dia baik - baik saja."
"Maaf ya! Aku membangunkan mu?"
"Justru aku bersyukur kalau kamu sudah membangunkan ku, aku ketuduran. Maaf!"
"Bukannya aku yang harus minta maaf!" Kata ku sambil tersenyum manis.
"Kok, ngobrolnya di pintu? Ayo masuk!" Ajak Atan.
__ADS_1
Ku diam dan berpikir sejenak.
"Kok malah bengong, ayo sini! Aku tak akan memakan mu, tak perluh kamu risaukan."
Akupun masuk dan mengikuti Atan dari belakang.
"Aku bersiap dulu ya! Kamu bisa menungguh ku sebentar?"
Ku mengangguk kaku, serasa darah ku tidak mengalir dengan sewajarnya. Menyumbat pembuluh darah ku, sehingga membuat ku merasa seperti orang yang terkena penyakit jantung akut.
"Kamu baik - baik saja?"
"Iya, sana lekas mandi." Kata ku sambil sengaja menutup hidung ku.
"Bau ya?" Tanya Atan sambil mencium badannya.
Ku tersenyum geli melihat tingkah Atan yang mencium aroma tubuhnya.
Atan menatap ku dan aku melakukan ekspresi yang sama, menyumbat hidung ku dengan tangan ku dan nampak serius.
Dia berlari ke kamar mandinya dan membersihkan dirinya, sesekali ku mendengar dia mengumpat dirinya sendiri.
Mendengarnya mengumpat dirinya sendiri membuat ku tertawa geli.
Creeeaaakkk..., pintu kamar mandi terbuka.
Ku cepat mengalihkan pandangan ku pada majalah yang tertata rapi di meja ketika melihat Atan ke luar dari kamar mandi dengan berbalut handuk.
Atan melangkah menuju ke arah ku membuat jantung ku semakin tak karuan.
"Apa yang ingin dia lakukan? Lila berpikirlah positif!"
Ku menarik nafas panjang.
"Bagaimana? Sudah tak bau lagi kan?" Tanya Atan sambil berpose bak model.
"OMG! Aku belum cukup umur untuk melihat hal seperti ini."
Dadanya yang bidang, dan tubuhnya yang cukup berotot membuat ku menelan saliva berulang - ulang kali.
"Lila buang pikiran kotor mu!"
"Iya, sekarang kamu sudah harum kok! Aku ke luar saja ya, biar kamu leluasa ganti pakaiannya."
"Kamu di sini saja, biar aku mengganti pakaian ku di kamar mandi saja."
Atan mengambil pakaiannya dan menuju kamar mandi, 5 menit kemudian Atan keluar dari kamar mandi. Penampilannya selalu sempurnah dan aku mengaguminya.
Di Rumah Sakit
Ibu mengajak ayah jalan - jalan di taman rumah sakit. Ayah yang menggunakan kursi roda nampak begitu bahagia karena ibu selalu bersamanya.
Sesekali mereka bercanda dan bercengkrama, bercerita tentang masa lalu mereka yang penuh dengan kenangan yang indah.
Di Hotel
"Let's go!" Ajak Atan.
Ketika ku ingin melangkah, entah nengapa kaki ku tersandung di meja dan membuat tubuh ku melayang dan menindih tubuh Atan. Mata kami saling menandang, tatapan Atan begitu dalam. Terasa nyaman, sehingga membuatku menikmati indahnya mata Atan untuk sesaat.
"Maaf!" Kata ku sambil beranjak berdiri, tapi Atan menarik tangan ku dan untuk kedua kalinya tubuhku jatuh tepat di atas tubuh Atan.
"I Love You!" Kata Atan sambil menatap ku.
__ADS_1
Ungkapannya membuat ku melayang dan hati ku berbunga - bunga.
"Aku mencintai mu Lila!" Dan Atan mencium kening ku.
Darah ku terasa berhenti mengalir begitu juga dengan jantung ku sepertinya berhenti berdetak.
"Ayo!" Kata ku lemah seperti orang yang kehabisan oksigen.
Akupun bangkit berdiri. Ku mengulurkan tangan ku dan membantu Atan untuk berdiri.
"Lila, apakah kamu juga mencintai ku?"
Ku menatap Atan dan mengangguk.
"Horeeeeee...., yuhuuuuu...," Atan jingkrak - jingkrak kegirangan.
"Ayo! Nanti kita kesiangan."
"Ayo!" Kata Atan yang begitu bersemangat.
Memang cinta itu unik, bisa membuat orang tertawa, senang, bahagia, sedih, terluka, menagis bahkan bunuh diri.
Sepanjang perjalanan Atan terus bernyanyi mengikuti alunan musik yang keluar dari tape mobilnya. Atan begitu bahagia, sama seperti aku. Aku merasa mendapat hoki secara bertubi - tubi. Yang pertama suksesnya operasi ayah dan yang kedua di tempak Atan.
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
Ku membuka kamar ayah, tapi di sana hanya ada tempat tidur dan selimut yang sudah dirapikan.
Akupun memberanikan diri untuk bertanya kepada perawat yang bertugas.
"Selamat siang Sus, pasien yang dirawat di kamar ini dimana ya?"
"Oh..., Bapak Thomas?"
"Iya Sus."
"Bapak Thomas dan istrinya lagi jalan - jalan di taman."
"Terima kasih Sus."
"Sama - sama."
Aku dan Atan menuju taman rumah sakit untuk mencari ayah dan ibu ku.
Untung taman rumah sakit tidak begitu besar, sehingga mempermudah aku dan Atan untuk mencari ayah dan ibu ku.
"Lila, di sana ayah dan ibu mu!" Kata Atan sambil menunjuk ke arah ayah dan ibu.
Ku menatap ayah dan ibu ku dari kejauhan, mereka begitu romantis. Ku ingin seperti mereka. Jika suatu saat ku punya pendamping hidup, ku ingin memiliki pendamping hidup seperti ayah. Penyayang, romantis, humoris dan pekerja keras.
Setelah ayah dan ibu puas berjalan - jalan, merekapun kembali ke kamar ayah.
"Kalian! Sudah dari tadi ya?" Tanya ibu yang kaget melihat aku dan Atan di ujung taman.
"Barusan kok tanta," kata Atan.
"Iya bu, kami barusan tiba." Lanjut ku.
Aku dan Atan mencium tangan ayah dan ibu secara bergantian dan kami bersama - sama menuju kamar ayah.
Sebentar lagi jam observasi ayah, aku jadi tak sabar menunggu karena ku ingin mendengarkan perkembangan kesehatan ayah.
To Be Continued
__ADS_1