Ayah Aku Rindu

Ayah Aku Rindu
Rumah Sakit


__ADS_3

Atan mengemudikan meticnya dengan cukup laju.


"Lila..., bolehkah aku meminta tangan mu?"


"Boleh!" Kata ku sambil memberikan tangan ku.


Atan mengambil tangan ku dan merangkul ke pinggangnya. Benar - benar hal yang di luar dugaan ku.


Atan benar - benar romantis, membuat hati ku bergejolak tak karuan.


Aku tersenyum tipis dengan sikap Atan yang begitu manis menurut ku.


Akhirnya kamipun tiba di rumah sakit, dan kami menuju loket. Antrian begitu panjang, dan aku mendengar suara ibu memanggil aku dan Atan.


"Lila, Atan, ayo ke sini."


Aku dan Atan menuju ayah dan ibu ku, yang ternyata sudah duduk depan ruangan dokter spesialis penyakit dalam dan sedang menunggu untuk panggil.


Karena tidak ada dokter spesialis kanker di rumah sakit ini, ayah ku mengontrol penyakitnya di dokter penyakit dalam.


"Bapak Thomas Saputra." Panggil perawat.


"Iya," Jawab ayah sambil melangkah ke ruangan dokter.


"Atan, aku masuk dulu ya!"


"Aku juga ya?" Pinta Atan.


Akhirnya, ayah, ibu, aku dan Atan, memasuki ruangan dokter spesialis penyakit dalam.


"Wah ternyata banyak pendukung nih!" Kata dokter, menyambut kedatangan kami.


Dokternya begitu ramah, sehingga tak ada rasa jangung sedikitpun diantara kami.


"Bapak Thomas, bagamana keadaana bapak?" Tanya dokter.


Terlihat jelas di wajah ayah ada rasa kuatir dan ragu - ragu.


Aku memegang pundak ayah dan berkata.


"Tidak apa - apa yah, Lila kuat kok. Ayah tak usah kuahir."


"Tidak begitu baik dok!" Jawab ayah.


"Sekarang kepala saya sering sekali pusing. Pendengaran dan penglihatan saya kurang jelas, dan cepat mengantu dok." Ayah merincikan sakit yang dideritanya.


"Dari sekala 1 - 5, bagaimana rasa sakit kepala bapak?" Tanya dokter lagi.


"Mendekati sekala 3 dok."


Dokter menganguk - ngangkuk dan meresepkan beberapa resep obat untuk ayah.


"Obat ini untuk menghilangkan sakit kepala bapak, dan bapak harus banyak mengkomsumsi makanan yang mengandung karbohidrat kompleks, seperti roti, kacang - kacangan, gandung, jagung, dan beras merah. Bapak juga harus menjaga berat badan bapak agar tidak naik. Jika sakit kepala bapak semakin parah sebaiknya bapak segera ke rumah sakit."


"Baik dok," jawab ayah.


Kami berpamitan dengan dokter dan menuju apotik.


"Ayah dan ibu tunggu di sini saja, biar Lila dan Atan yang mengambil obatnya di apotik."


"Baiklah, terima kasih ya nak Atan." Kata ibu ibu.


Aku dan Atan langsung ke apotik, karena apotiknya begitu ramai dan atrian sangat panjang.


Atan memandang ku sesaat, mengambil tangan ku dan menggenggam tangan ku dengan eratnya.


"Jika kamu ingin menangis, menangislah! Aku bersedia meminjamkan pundak ku untuk mu."


Ku memandang Atan dan tersenyum.


"Baiklah, jika ku ingin menagis, ku akan menggunakan pundak mu."


"Kamu gadis manja yang kuat," kata Atan sambil mengacak - ngacak rambut ku.


"Iiii..., Atan! Malu dong di lihat sama orang - orang." Omel ku.


Tapi aku merasa bahagia karena Atan selalu ada buat ku.


Kini giliran kami, menukar resep dokter dengan obat. Dan perawat menjelaskan tentang penggunaan obat.


Setelah selesai dari apotik aku dan Atan menuju tempat yang ayah dan ibu ku duduki.


"Ekhemmm...ekhemmm...," ayah dan ibu ku pura - pura batuk.


Ku melihat ke arah yang mata ayah dan ibu tujuh.


Akupun tersontak kaget dan menarik tangan ku dari genggaman Atan.


"Ini yah obatnya!" Ku memberikan obat kepada ayah sekaligus pengalihan agar ayah dan ibu tak fokus lagi pada tangan ku dan Atan.

__ADS_1


"Makasih ya sayang..."


"Makasih ya Atan."


"Sama - sama om!"


"Ayo kita pulang," ajak ibu.


"Atan, kita langsung ke rumah om ya. Hari ini Atan makan siang di rumah saja ya." Ajak ayah.


"Wah..., terima kasih ya om."


"Lila sama Atan saja ya, sekalian singgah di rumah makannya bu Putu; mengambil pesanan ibu."


"Baik bu."


"Baik tanta."


"Kalau begitu om sama tanta duluan ya." Pamit ibu.


Ibu mengemudikan mobil dan pergi meninggalkan kami. Karena ayah sakit, ibu yang harus mengemudikan mobil.


Sedangkan aku dan Atan menuju rumah makan bu Putu untuk mengambil pesanan ibu.


"Terima kasih ya bu," pamit ku kepada bu putu.


Aku dan Atan melanjutkan perjalanan kami menuju rumah ku.


✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨


"Tok...tok...tok...," aku mengetuk pintu rumah.


Pintupun dibuka oleh ibu.


"Ayo nak Atan, ayo masuk!" Ajak ibu.


Ku kangsung menuju dapur dan meletakan pesanan ibu.


Dan Atan langsung mengobrol bersama ayah dan ibu ku, entah apa yang mereka perbincangkan terlihat begitu seru. Aku ingin bergabung tapi aku harus mengganti seragam ku dulu.


Akupun mengganti seragam ku dengan baju rumah, ku berganti secepat kilat. Seperti superman mengganti kostumnya.


"Ayo Lila, bantu ibu!" Panggil ibu.


"Baik bu!"


Aku dan ibu menyiapkan makan siang kami.


"Wah...ternyata ayam betutu dan sate lilit," pekik ku bahagia.




Setelah semua makanan telah tersaji di meja makan, aku memanggil ayah dan Atan.


"Wah...menu spesial!" Kata ayah.


"Iya yah, hari ini kita buat syukuran kecil untuk Lila dan Atan karena naik kelas. Selain itu ibu yakin walaupun belum melihat raport Lila, Lila pasti juara kelas lagi."


"Terima kasih bu, yah..." Kata ku sambil mencium pipi kedua orang tua ku.


"Terima kasih tanta." Kata Atan.


Sebelum kami menyantap hidangan yang telah tersaji di meja makan, kami mengawali dengan doa yang dipimpin oleh ayah.


Ibu mengambil nasi dan lauk untuk ayah, melayani ayah dengan baik. Ayah dan ibu begitu romantis walaupun sedang makan.


Ternyata tingkah ibu dan ayah menjadi daya tarik buat Atan.


"Kamu beruntung Lila."


Aku berbalik melihat Atan yang sedang menatap ku.


"Memiliki kedua orang tua yang saling mencintai, selalu bersama dan menyayangi mu."


"Semua orang tua bukannya seperti itu?" Tanya ku.


"Iya, kecuali kedua orang tua ku!"


"Ayo makan!" Ajak ku, mengalihkan pikiran Atan.


"Mungkin kedua orang tuanya begitu sibuk, jadi tak ada waktu berkumpul bersama. Memang kekayaan tak menjamin kebahagiaan."


"Nak Atan, ayo tambah!" Ibu menyodorkan nasi dan lauk.


"Iya Atan," ini ku ambil paha ayam dan ku berikan kepada Atan.


"Kok ayah dicuekin," goda ayah.

__ADS_1


Akupun mengambil paha ayam yang sebelanya dan ku berikan kepada Ayah.


"Ini yah, jangan cemburu lagi ya!"


Kamipun tertawa bersama - sama.


Sambil berceloteh dan bercanda, ibu mengupas buah untuk kami.


"Kalau tiap hari aku di sini, badan ku bisa sebesar tong," kata atan sambil mengosok - gosok perutnya yang terasa begitu kenyang.


"Terima kasih ya om, tanta! Makan siangnya benar - benar berkesan." Lanjut Atan.


"Hanya makanan sederhana saja," kata ibu.


"Itu sangat istimewa kok tanta."


"Atan pamit dulu ya om...tanta."


"Sabar sedikit ya, tanta buatkan kamu minun."


"Terima kasih tanta, Atan benar - benar kekenyangan."


"Baiklah! Hati - hati ya nak."


Sebelum pulang, Atan mencium tangan ayah dan ibu ku.


"Ibu...yah...Lila antar Atan ke depan ya!"


"Sampai ketemu sebentar sore ya."


"Sebentar sore?" Tanya ku bingung.


"Iya sebentar sore, aku mau ke sini lagi. Bolehkan?"


"Boleh!"


Atan menstater meticnya dan melambaikan tangannya.


Akupun kembali masuk dan langsung menuju kamar ku.


Ku mengamati pakayan ku di lemari ku.


"Hmmmm..."


Akupun mengacak - ngacak lemari pakaian ku. Dan ku temukan pakian yang menurut ku cocok untuk ku.


Ku masuk ke kamar mandi dan berbenah diri, menunggu Atan datang.


Aku bersama ayah dan ibu, duduk di sofa sambil menonton. Tiba - tiba ayah mengerang kesakitan.


"Bu...kepala ayah sakit, sakit sekali." Teriak ayah kesakitan.


"Aku harus tenang dan tak boleh panik!"


"Ayo kita ke rumah sakit!" Ajak ku.


Aku dan ibu memapah ayah menuju mobil.


"Sabar ya ayah, kita akan ke rumah sakit," kata ibu menenangkan ayah.


"Aghhhh...aghhhh...," ayah masih saja kesakitan.


"Lila..., ada apa?" Tanya Atan sambil memarkirkan meticnya.


"Tolong antar Ayah ku ke rumah sakit," kata ku sambil memberikan kunci mobil kepada Atan.


Atanpun bergegas masuk ke dalam mobil dan menstaternya.


Ayah masih mengerang kesakitan.


Atan mengemudi mobil dengan sangat laju menuju rumah sakit.


Ayah langsung masuk ke ruangan IGD, para perawat dengan cekatan memasang infus di tangan ayah.


Tubuh ku gemetar dan lemah. Akupun menghempaskan diri ku ke kursi yang ada di IGD.


Atan menghampiri ku dan menggengam tangan ku.


"Kamu harus kuat, ada aku yang selalu bersama mu." Atan menguatkan ku.


Ku menatap ke dalam ruangan, ayah masih meronta - ronta keaakitan. Setelah di suntik obat, setengah jam kemudian ayahpun tenang.


Terlihat ibu dan dokter sedang berbicara. Aku tak bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan karena jarak kami cukup jauh.


Tapi kelihatannya sangat serius.


**Para Readers, jangan bosan - bosan ya untuk mendukung Author.


Like, coment yang membangun, vote dan rate 5. Dan favorite biar bisa ikuti kelanjutannya.

__ADS_1


LOVE YOU ALL**.


__ADS_2