
Selesai ayah meminum obatnya, ayah mulai tertidur. Tidur ayah benar - benar pulas. Seperti anak bayi.
Jadi lucu sendiri melihat ayah yang tampang sangar tapi tidurnya seperti anak bayi.
"Bu, hari ini ayah pulang jam berapa?" Tanya ku.
"Mungkin jam 12.00, masih menunggu hasil observasi dari dokter."
"Ohhh...lila bantu beresin ya, pakayan - pakayan ayah."
"Boleh sayang, ini tasnya."
"Bu...bolekan lila duluan balik ke rumah?"
"Boleh sayang."
Hari ini aku dan kelima sahabat ku berencana membuat pesta penyambutan untuk ayah. Sebenarnya sih bukan pesta, lebih tepatnya syukuran.
"Bu...ini sudah beres, aku memberikan tas yang sudah penuh dengan pakayan ayah.
"Lila pamit dulu ya bu," aku mencium tangan ibu.
"Hati - hati ya nak."
Setibanya di rumah aku membersihkan dan merapikan semuanya.
Biar kelihatan rapi dan baru.
Tak lupa aku memasak beberapa menu yang ku pelajari lewat om google.
"Wah harumnya!" Sapa vita.
"Waduh kaget aku. Jantung ku bisa - bisa copot ni!"
"Makanya pintu depannya di kunci, kalau pencuri yang masuk tadi bagai mana?" Vita mulai mengomeli ku seperti emak - emak.
"Kamu masak apa lila? buat perut ku keroncongan karena mencium aroma masakan mu."
"Hmmm...ada - ada saja kamu."
"Boleh ku coba masakan mu?" Tanya vita sambil menyodorkan piring.
"Ini," ku berikan ayam bumbu bali buatan ku.
"Hmmm...nyam...nyamm...hmmm..."
"Makannya jangan seperti itu dong vita."
"Habis enak sih, kamu semakin pandai." vita mengajungkan kedua jempolnya.
"Hmmm...harum apa ini?" kata atan.
"Itu harum masakan lila." jawab vita.
"Oh ya, mana yang lain?" Tanya ku.
"Itu mereka," vita menunjuk ke arah pintu depan.
"Ayo kita mulai dengan rencana kita." Ajak ku.
Kami berenam mulai mengerjakan persiapannya.
Sesekali ku melihat ke jam dinding.
"Waduh sudah jam 11.30 !" Gumam ku di dalam hati.
Tinggal sedikit lagi hampir selesai, tapi aku semakin gerogi karena setengah jam lagi ayah dan ibu akan tiba di rumah.
__ADS_1
"Ahkirnya selesai juga, semoga ayah menyukainya." Kata ku.
"Wah cantiknya," kata aby mengagumi.
"Sempurnah!" Lanjut neno.
Kami berenam mengagumi hasil karya kami.
Tak lama kemudian kami mendengar bunyi mobil berhenti di pekarangan rumah ku.
"Kalian bersembunyi lah dan nanti aku yang matikan lampu ya," Kata ku.
Teman teman ku mengangguk dan mengangkat ke dua jempol mereka tanda setuju.
"Lila...lila, ibu memanggil ku.
Tapi ku tak menjawabnya, ku hanya berdiam diri. Ku ingin melihat reaksi ayah dan ibu ketika mereka melihat kejutan yang aku dan ke lima sahabat ku kerjakan.
"Kok gelap ya bu?" Tanya ayah.
"Apa pulsanya habis?" Lanjut ayah.
"Sabar ya ayah, coba ibu periksa dulu."
Kami memperhatikan ayah dan ibu.
Ibu mencari stop kontak, dan membuka lampu.
Ku melihat betapa terkejutnya mereka, ada rasa bahagia dan terharu di wajah mereka.
Aku dan kelima sahabatku berhambur ke luar.
"Taraaaa...kejutan!" Kata kami berenam.
Air mata bahagia ayah pun membasahi pipinya.
"Iya om...om harus optimis ya," kata margot.
"Iya om," teman ku bergantian memberikan motifasi kepada ayah ku. Agar ayah bisa melawan penyakit yang mematikan itu.
"Mana om tasnya, biar saya bawakan." Neno menawarkan jasanya.
"Ayo ayah," ajak ku sambi menggandeng ayah menuju kursih yang telah kami siapkan.
"Ini semua lila yang masak yah, jadi ayah harus makan yang banyak ya?" Kata ku.
Ayah tersenyum.
"Aroma masakan mu begitu sedap, benar - benar menggugah selerah orang yang menghirupnya." kata ayah.
"Wah...anak ibu semakin pintar nih, sudah bisa mengalahkan ibu soal masak - memasak nih." Lanjut ibu
"Terima kasih ibu, ayah, ini semua berkat ibu dan ayah kok." Jawabku.
Sebelum kami menyantap makanan, kami memulainya dengan doa.
Malam ini terasa indah, rumah ku terasa hidup kembali, rumah yang selama ini sepih kini telah ramai dengan canda tawa dari orang - orang tersayang ku. Apa lagi karena cinta pertama ku telah kembali pulang ke rumah.
Suasana kekeluargaan begitu terasa, tapi ayah tak bisa berlama - lama bersama kami karena ayah baru pulang dari rumah sakit.
Butuh banyak istirahat. Dan efek obatnya yang membuat mata ayah tidak betah untuk di buka berlama - lamaan
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
Malam ini tidur ku begitu pulas. Mungkin karena ayah dan ibu sudah pulang ke rumah.
__ADS_1
Saking pulasnya aku sampai bermimpi.
Mimpi tentang aku, ibu dan ayah.
Aku, ibu dan ayah pergi bertamasya di kebun bunga yang indah. Begitu banyak bunga dan kupu - kupu yang berterbangan ke sana ke mari.
Kami begitu menikmati indahnya pemandangan di sana.
Tiba - tiba kupu - kupu putih datang menghampiri ayah, seolah - olah sedang berbicara dengan ayah.
Dan ayah pergi bersama kupu - kupu itu, ayah tak memperdulikan panggilan aku dan ibu lagi. Ayah terus mengikuti kupu - kupu putih.
Kupu - kupu itu membawa ayah semakin jauh.
Ayah semakin jauh dan hilang dari pandangan kami. Aku dan ibu begitu panik.
Terasa begitu nyata mimpi ku, ayah pergi menghilang bersama kupu - kupu putih.
Aku berteriak sambil menangis memanggil manggil nama ayah, tapi ayah tak memperdulikan panggilan ku, apa karena ayah tak dengar atau ayah sudah terhipnotis dari kupu - kupu putih.
"Ayah...ayah...aaaaayaaaahhhhh," teriak ku begitu histeris.
Terdengar pintu kamar ku di ketuk, hingga membuat ku terbangun.
"tok...tokkk...tokkk...tokkk"
"Lila...lila...lila, ayo bangun sayang." Ibu memanggil ku.
Ku membuka mata ku dan ku diam di tempat tidur ku.
"Lila...lila, ada apa?" Tanya ibu.
Aku pun beranjak dari tempat tidur ku dan membuka pintu untuk ibu.
"Creeeaaakkk."
"Ada apa bu?" Tanya ku sambil mengucak - ngucak mata ku.
"Kamu kenapa sayang?"
"Aku? Aku yang kenapa bu?" Tanya ku bingung.
Ibu menghela nafas panjang.
"Hmmm...kamu teriak panggil - panggil ayah. Untung ayah mu tidak kaget."
Aku terdiam sesaat, ku putar kembali memori ku.
"Aku bermimpi bu, mimpi tentang kita. Mimpi yang sama. Mimpi ayah meninggalkan aku dan ibu."
"Hmmm...tadi kamu berdoa?"
Aku menggaruk - garuk kepala ku tampa sebab, dan tersenyum malu.
"Eeee...itttuuu bu, lila lupa."
"Hmmm...doa itu keharusan dan wajib hukumnya, jangan ada istilah lupa segala." Nasihat ibu.
"Itu karena kamu lupa, akhirnya mimpi buruk kan!" Lanjut ibu.
Aku hanya bisa tersenyum dan merasa malu terhadap ibu karena aku lupa berdoa.
"Ayo istirahat," ajak ibu.
Ibu menutupi ku dengan selimut dan mencium kening ku.
__ADS_1
"Pintunya jangan di kunci ya, sapa tahu kamu histeris lagi, ibu bisa sesegera mungkin masuk." Goda ibu ku.
Aku tersenyum mendengar perkataan ibu dan mengangguknya dan akupun lanjut dengan tidur ku.