
"Selamat pagi anak - anak ku sekalian, apa kabar?" Tanya ibu Iin.
Suara wali kelas kami begitu lantang sehingga kami serentak hening.
"Selamat pagi bu, kami baik - baik saja bu!" Jawab kami begitu kompaknya.
"Silakan panggil orang tua kalian untuk masuk ke kelas." Perintah ibu Iin.
"Baik bu," jawab kami.
Teman - teman sekelas ku segera berhamburan ke luar, hanya aku yang terpaku di tempat ku.
"Set...set...! Lila...Lila."
Ku menegok ke arah suara itu berasal.
"Sini!" Panggil Atan.
Akupun menghampirinya.
"Ada apa?"
"Siapa yang menerima raportmu?"
"Tidak ada, ayah ku ada jadwal kontrol hari ini, jadi ibu ku menemani ayah ku."
"Owww..., bagaimana kalau raport kamu diterima oleh ibu ku? Atan memberikan saran.
"Hmmm!"
"Jangan kelamaan mikirnya, ibu ku orangnya bersahabat jadi kamu tidak perlu kuatir. Biar sekalian mama ku tahu kalau calon anak mantunya tu bintang kelas." Lanjut Atan sambil tersenyum.
Ku menggaruk - garuk kepala ku dan akhirnya aku mengangguk tanda setuju.
"Begitu dong!" Kata Atan bahagia dan dia menuju keruang kelasnya lagi.
Kelas kami kini kembali ramai, karena sudah dipenuhi oleh orang tua dan penghuni kelas.
"Bapak dan ibu sekalian terima kasih sudah datang. Hari ini adalah hari penentuan kenaikan kelas, dan segala aspek menjadi penunjang agar siswa bisa naik kelas. Seperti aspek sosial, spiritual, pengetahuan dan ketrampilan, sikap dan absesi. Jika salah satu aspek tidak mencukupi standar KKM dan persentase kehadiran di bawah standar atau tidak mencapai 90%, maka siswa itu tidak bisa naik ke kelas XII." Ibu Iin menjelaskan secara rinci tentang syarat - syarat kenaikan kelas.
"Ok bapak dan ibu sekalian, sekarang saya akan membacakan peringkat tiga besar."
Peringkat satu diraih Lila Amelia dengan rata - rata nilai 92.
Peringkat dua diraih Vita Elisabeth dengan rata - rata nilai 90.
Peringkat tiga diraih Vino Dewanto dengan rata - rata nilai 88, 5.
Tersirat rasa bahagia dari wajah kami dan orang tua kedua teman kelas ku yang meraih peringkat kelas.
"Horeeeeee!" Teriak Vita hampir memekakan telinga ku, dia berteriak kegirangan sambil memeluk ku. Pelukannya sangat erat sampai - sampai tulang ku terasa remuk.
"Thanks ya Lila, berkat kamu aku bisa meraih peringkat kedua."
"Itu karena usaha mu juga. Kalau kamu bermalas - malasan hasilnya tidak akan seperti ini."
"Pokoknya kamu the best lah!" Vita mengacungkan jarinya.
Untuk menambah semangat kami, ibu Iin memberi hadiah sebagai motivasi bagi siswa yang berprestasi.
Dalam kebahagian kami, tiba - tiba datang seorang wanita cantik menghampiri wali kelas kami.
__ADS_1
"Bukannya itu ibunya Atan?" Tanya Vita.
Ku mengamati secara seksama.
"Iya, itu ibunya Atan."
"Bukannya Atan di kelas IPA? Buat apa ibunya kesini? Tanya Vita.
"Maaf ada yang bisa saya bantu bu?" Tanya ibu Iin kepada ibundanya Atan.
"Aku walinya Lila Amelia bu!" Jawab ibunya Atan.
Jawabannya ibu Atan membuat semua mata di kelas ku berpaling pada ku. Sehingga wajahku berubah menjadi merah padam.
"Lila, kamu harus jujur. Apa hubungan kamu sama Atan?" Vita begitu ngotot menanyakan hubungan ku dengan Atan.
"Tidak ada hubungan apa - apa kok."
"Kok bisa ibunya Atan jadi wali mu," tanya Vita menyelidiki.
"Benar kok!"
"Ini bu, raportnya Lila." Ibu Inn memberikan raport ku kepada ibunya Atan.
"Lila meraih juara satu bu, dengan rata - rata nilai 92. Dia anak yang pintar dan peringkatnya tidak pernah turun. Intinya dia adalah salah satu murid yang berprestasi di sekolah kami." Jelas ibu Iin.
Ibu Atanpun mengangguk tanda memahami apa yang dikatakan oleh ibu Iin.
Memang selama ini aku dan sahabat - sahabat ku belum pernah bertemu langsung dengan ibunya Atan. Karena ibunya Atan sangat sibuk.
Kali ini, kali pertama aku bertemu dengan ibunya Atan. Ada rasa takut dan janggung yang menyelimuti ku.
"Lila...," panggil ibunya Atan.
"Ini raport kamu!" Ibu Atan memberikannya kepada ku.
"Pertahankan ya!" Lanjut ibu Atan sambil mengelus rambut ku.
Aku tersenyum manis.
"Terima kasih tanta, sudah menyempatkan waktu untuk menerima raport ku." Ku berkata sambil menunduk malu.
"Sama - sama ya sayang! Ohya boleh tidak tanta minta tolong sama kamu?"
"Minta tolong apa tanta?" Tanya ku pebasaran.
"Jangan buat Atan bersedih ya! Atan adalah segalahnya buat tanta."
"Iya tanta, Lila janji tak akan buat Atan sedih."
"Terima kasih ya, tanta ke kelasnya Atan dulu.
"Iya tanta!"
Ibunya Atanpun pergi menuju ke kelas Atan yang terletak di pojok sekolah kami. Ku menatap beliau dari belakang dan mengaguminya. Ketampanan Atan mungkin diturunkan dari gen ibunya.
"Hei!" Vita mengagetkan ku.
"Apa yang kamu bicarakan sama ibunya Atan?" Tanya Vita lagi.
"Hanya basa basi dan aku mengucapkan terima kasih, itu saja kok!"
__ADS_1
"Lila...Vita...panggil Aby dan Margot yang disusul oleh Neno.
Mereka bertiga melompat - lompat seperti anak katak. Jingkrak - jingkrak tak jelas, menggambarkan rasa bahagia mereka.
"Asyik aku masuk lima besaaaarrrr!" Teriak Neno.
"Thanks Lila, Karena kamu kita semua bisa masuk lima besar." Kata Aby sambil memeluk ku.
"Kok terima kasih ke aku? Itu karena usaha kalian kok, aku hanya sebagai faktor pendukung saja."
"Ahhhh..., kamu jangan merendahka diri. Memang ini semua berkat kamu," lanjut Margot.
"Ayo makan, aku yang teraktir!" Ajak Neno.
"Hei, bukan itu Atan?" Tanya Aby.
"Atan sama siapa ya? Sama kakaknya ya?" Tanya Neno.
"Sejak kapan Atan punya kakak?" sanggah Margot.
"Itu ibunya Atan!" Jawab Vita.
"Wahhh ibunya Atan awet muda ya, rahasianya apa ya?" Lanjut Aby.
"Kamu ke sana saja dan tanya sama ibunya Atan!" Goda Neno.
Kamipun tertawa.
Setelah Atan mengantar ibunya, Atan kembali bergabung bersama kami.
"Ayo aku teraktir!" Ajak Atan.
"Asyik hari ini Atan sama Neno yang teraktir jadi kita makan besar nih?" Kata Aby.
"Maaf ya aku tak bisa ikut hari ini, aku harus ke rumah sakit." Kata ku sekalian berpamitan kepada sahabat - sahabat ku.
"Ha? Kok ke rumah sakit lagi? Bukannya kemarin jadwal kontrol ayah mu." Tanya Vita bingung.
"Sebenarnya jadwal kontrol ayah ku hari ini." Jelas ku.
"Kalau begitu kalian yang makan - makan ya, Lila biar aku yang antar." Kata Atan sambil mengeluarkan bebera uang lembaran seratus ribu rupiah.
Tampa perotes dari sahabat - sahabatku, mereka berteriak bahagia seperti diberi uang jajan oleh orang tua mereka.
"Asyik!" Pekik sahabat - sahabat ku, karena mendapatkan uang dari Atan.
"Terima kasih ya Tan!" Kata Vita.
"Tumben ya, kok mereka tidak perotes sama sekali."
Akhirnya mereka pergi meninggalkan ku bersama Atan dengan rasa yang begitu bahagia. Dan merekapun menuju kantin sekolah kami.
Sedangkan aku dan Atan menuju rumah sakit.
**Hay para readers kesayangan ku, tetap dukung author ya. Biar ratenya tidak turun lagi ya! Please dukung ya dengan cara:
Like
Rate 5
Vote
__ADS_1
Coment dan
Favorite**