Ayah Aku Rindu

Ayah Aku Rindu
Piknik


__ADS_3

Ayah mulai kembali kerutinitasnya karena sudah sembuh dari penyakitnya. Memang penyakit ayah ku belum hilang seutuhnya bisa - bisa kambuh lagi kalau tidak di jaga pola makannya dan untuk merayakan kesembuhan ayah, ibu dan ayah berencana untuk piknik ke luar kota.


"Lila...besok kamu liburankan?" Tanya ibu.


"Iya bu."


"Besok kita jalan - jalan yuk ke luar kota," ajak ibu.


"Boleh bu, kemana?" Tanyaku antusias.


"Ibu punya pilihan, ke pemandian air panas soa atau negeri di atas awan wolobobo."


"Hmmm...bagaimana kalau keduanya bu, sepulang dari air panas kita langsung ke negeri atas awan." Kataku.


"Boleh juga tu idemu, kita tinggal minta persetujuan ayah;" lanjut ibu.


Sepulangnya ayah dari kantor, aku dan ibu tampa berbasa basi langsung menanyakan tentang rencana untuk piknik keesokan harinya. Ayah terlihat sangat antusias dan semangat.


"lila...bagamana kalau kamu mengajak sahabat - sahabatmu untuk bergabung bersama kita besok." kata ayah.


"Boleh tuh yah...biar seruh."


"Yah...Soreh kita pergi berbelanja ya untuk keperluan besok," kata ibu.


"Ok deh, bu".


Ayah dan ibu pergi berbelanja untuk keperluan kami besok dan aku mulai menelpon kelima sahabatku tentang rencana kami.


Ku ambil hpku dan mengotak - ngatik hpku, ku temukan kontak vita dan ku mulai menelpon.


Memanggil Vita


( Nada sambung sakitnya tuh disini ).


Aku tersenyum mendengar nada sambung vita.


Vita mengangkat telponnya.


Aku : "Hallo vita, selamat malam."


Vita : "Hallo lila, tumben telpon?"


Aku : "Vit...besok liburan kamu ke mana?"


Vita : "Tidak kemana - mana kok, emangnya ada apa?"


Aku : "Besok kita piknik yuk!"


Vita : "Mau...mau tapi kemana?"


Aku : " Ke air panas soa terus kita ke negeri di atas awan wolobobo."


Vita :" Asyik!"


Aku : " Nanti tolong kamu sampaikan yang lain ya!"


Vita : " Okokok...beres, Jam berapa kita kumpul besok?"


Aku : "Jam 09.00 pagi ya, biar tidak terlalu kesiangan. Sampai ketemu besok."


Vita : "Sampai ketemu besok juga."


Ku menutup telpon dan menuju ke kamar mandi. Belum sampai di kamar mandi ku mendengar ibu memanggilku.


"Lila...lila..., tolong bantu ibu!" Panggil ibu.


"Sabar bu," ku menuju ke arah ibu dan ayah.


"Wah belanjaannya banyak," kataku.


Aku mengangkat dua kantong besar belanjaan dan ku simpan di dapur.


Ibu mempersiapkan segalanya dengan sempurna.


Malam ini kami tidur lebih cepat dari pada malam - malam sebelumnya, karena besok kami akan keluar kota. Biar tidak kelelahan kata ibu jadi kami harus tidur lebih cepat.


Sebelum tidur aku berdoa dan mengucap syukur atas berkat Tuhan.


Akupun tidur dengan pulasnya.


🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠


Aroma masakan ibu membangunkanku.


"Wuaaaahhhhh" aku menguap sambil menarik badan.

__ADS_1


" Sudah jam berapa ya?" Gumamku dalam hati.


Ku mengambil jam tangan keberuntungan ku.


"Waduh sudah pagi."


Aku bergegas bangun dan ke dapur.


"Pagi bu, maaf ya aku kesiangan. Apa yang bisa ku bantu?" Tanyaku.


"Pagi juga sayang, tidak ko...ibu yang bangunnya kepagian."


"Tolong kamu siapkan tempat bekal kita ya," lanjut ibu.


Aku mengangkuk dan melakukan apa yang diperintah ibu.


"Kalau sudah beres, tolong bangunkan ayah ya;" kata ibu.


"Baik bu."


"Ayah...ayah...," aku membangunkan ayah.


Ayah membuka matanya.


"Lila!" Ayah terkejut.


"Ada apa?" Tanya ayah bingung.


"Hmmm...ayah lupa ya, hari inikan kita piknik."


"Waduh...maafkan ayah ya sayang, ayah lupa."


"Sudah jam berapa sekarang?" Tanya ayah.


"Jam 07. 38 yah," jawabku.


"Apa? Ayah kesiangan," kata ayah sambil bergegas bangun.


"Sahabat - sahabatmu suda datang?" Tanya ayah.


"Sebentar lagi yah," jawabku.


"Lila...lila..."


"Itu pasti mereka yah."


"Wah...semuanya sudah pada keren," kataku memuji sahabat - sahabatku.


"Apa yang dapat kami bantu lila," tanya neno.


"Tolong angkat perbekalan kita dan simpan di mobil ya."


"Beres bos, ayo atan." Ajak neno


Sepanjang perjalanan kami selingi dengan nyanyian dan canda tawa. Sesekali ayah membuat lelucon dan kamipun tertawa terpingkal - pingkal.


"Ah...ku berharap ini semua janganlah cepat berlalu," aku berbicara dalam hati.


Setibanya di tempat pemandian air panas, kami mencari lopo yang kosong untuk menyimpan perbekalan kami.


Maklumlah hari ini hari libur jadi tempat ini sangatlah ramai. Jika terlambat semenit saja maka kami tidak akan mendapatkan lopo.


Ayah dan ibu pergi berendam di kolam mata air panas. Konon menurut para nenek moyang ku, sumber air panas itu sangat mujarab untuk penyakit kulit dan pemulihan bagi orang yang baru saja sebuh sakit seperti ayahku.



Sedangkan kami berenam berenang di kolam yang besar.



Baguskan pemandangannya?"


Baru 20 menit berendam di air panas perutku seperti seminggu tidak makan. Laparnya minta ampun.


"Kriuk...kriuk" bunyi suara perutku.


"Yuk kita ke lopo," ajak ku.


"Lapar ni."


Kami berenam menuju lopo yang ternyata sudah ada ayah dan ibuku.


"Hei kalian," panggil ibuku


Kamipun mendekat.

__ADS_1


"Ayo makan," lanjut ibuku.


Aku, aby, margot dan vita mengambil tempat bekal dan membukanya.


"Hmmm...harumnya!" kata aby sambil menghirup aroma masakan ibu.


"Hmmm...aromanya membuatku makin lapar," sambung vita.


Ayah dan ibuku tertawa kecil melihat tingkah aby dan vita.


"Selesai makan, baru kalian berendam lagi." Kata ayah.


"Jika lapar lagi, baru makan lagi." Lanjut ibu.


"Setelah puas dari sini kita ke negeri atas awan," kata ayah.


Hari ini, kami melakukan perjalanan yang teramat panjang tetapi kami tak merasa lelah sedikitpun. Yang ada hanya rasa bahagia bahkan rasa itu terpancar jelas di wajah kami.


"Ingat jangan lupa abadikan moment ini ya," margot mengingatkan kami.


"Aman terkendali, semuanya sudah saya abadikan." Kata atan.


"Cekrek...cekrek."


Atan mengambil foto kami dengan berbagai pose. Bahkan tampa kami sadari, atan mengambil foto kami. Secara sembunyi - sembunyi.


Kini kami melanjutkan perjalanan kami menuju negeri di atas awan wolobobo.



Walaupun tempat ini sering kami kunjungi tapi kami tidak pernah merasa bosan.


Suasanya, pemandangannya serta di kelilingi oleh orang - orang tersayang, terasa hidupku ini benar - benar sempurna.


"Wah...indahnya!" Kata aby melihat indahnya pemandangan dari bukit wolobobo.


"Memang benar - benar negeri di atas awan," lanjut margot.


"Indahnya!" Gumamku.


"Lila...ayo kita berfoto!" ajak ayah.


Aku berlari menuju ayah dan ibu, yang sedari tadi berdiri dekat spot foto. Kami bergaya dengan beberapa pose.


Dalam foto ku peluk erat ayah ku; seperti takut akan kehilangan ayahku. Ku tepis semua perasaanku itu karena yang ingin ku nikmati kebersamaan ini dan pemandangannya. Benar - benar komplit.


Kami menikmati indahnya panorama itu sampai matahari terbenam. Kami semua terpukau dengan indahnya ciptaan Tuhan. Sungguh, benar - benar sempurnah!


Hari semakin gelap kami semuapun pulang.


Dalam perjalanan pulang ayah membuka lagu nostalgia " sepanjang jalan kenangan."


Kami semua terbawa suasa dan ikut bernyanyi.


"**Sepanjang jalan kenangan, kita saling bergandeng tangan."


"Sepanjang jalan kenangan, kau peluk diriku mesra."


"Na...na...na...na...na...na...na...na**..."


Tak terasa kami sudah sampai ke kota kami.


"Terima kasih om...terima kasih tanta," kata sahabat - sahabatku bergantian.


"Kami pamit dulu om, tanta." kata atan


"Hati - hati ya!" Kata ibu.


"Dah...lila, samapai ketemu besok." Vita melambaikan tangannya.


Hari ini adalah hari yang panjang, penuh dengan cerita yang berharga.


Ku menarik selimutku, tak lupa ku berdoa mengucap syukur. Dan akupun tertidur.


"Tidaaaaaaakkkkk...." Teriakku.


Akupun terbangun dan duduk di samping ranjangku.


"Hmmm...mimpi itu lagi," gumamku.


Mimpi yang sama, mimpi ayah pergi meninggalkan aku dan ibuku.


Jantungku berpacu begitu cepatnya.


"Tuhan, jauhkanlah!" kataku.

__ADS_1


Aku duduk diam sejenak, lalu aku tertidur lagi.


__ADS_2