Ayah Aku Rindu

Ayah Aku Rindu
Senyum Terakhir 5


__ADS_3

Aku tersontak kaget mendengar ucapan ibu.


Tanpa berpikir panjang aku langsung nenuju kamar mandi dan membersihkan diri.


Hati ku terus bernyanyi, rasa bahagia menyelimuti ku.


Ku merasa air dan semua benda yang ada di kamar mandipun merasakan kebahagiaan ku.


Ku mengeringkan tubuh, dan mencari gaun yang cocok.


Setelah selesai dengan acara bongkar membokar lemari, akupun menemukan dress yang cocok.


Ku gunakan bedak dan make up yang cukup mencolok dan tak lupa lipstik. Ku ingin berdandan agar nampak cantik buat Atan dan ku ingin agar Atan mengagumi ku.


Setelah selesai dengan ritual wajib seorang wanita, aku menuju ruang tamu. Di sana sudah ada Atan dan kedua orang tua ku yang sedang menunggu ku.


"Selamat sore," sapa ku.


Atan dan kedua orang tua ku menoleh ke arah ku. Mata Atan tak berkedip sedikitpun saat menatap ku.


Ayah ku menyenggolkan sikunya ke lengan Atan sambil berbisik.


"Cantikkan anak, Om."


Atan mengangguk tabjuk dengan apa yang dilihatnya, Atan begitu terpesona.


"Kapan berangkatnya kalau terus menatap anak Om," goda ayah.


"Maaf om!"


"Kami pamit dulu ya om, tanta," pamit Atan.


"Ayo Lila," ajak Atan.


"Yah, bu, Lila pamit ya."


"Hati - hati ya, jangan terlalu malanm pulangnya," pinta ibu.


"Baik bu."


Atan membukakan pintu mobil buat ku, kali ini Atan menggunakan mobil Pajero Sport keluaran terbaru berwarna Diamon Black Mika. Benar - benar mewah.


"Terima kasih," ucap ku.


Selesai menutup pintu mobil untuk ku, Atanpun masuk ke dalam mobil dan menstater mobilnya menuju restoran yang telah dibookingnya.


Sekitar setengah jam perjalan kamipun tiba di restoran G & B, restoran pilihan Atan.


Atan membukakan pintu mobil buat ku, dan kami masuk ke dalam restoran.


"Kok sepi?" Kata ku dalam hati sambil mengamati di sekitar kami.


Lilin - lilin warna warni menghiasi makan malam kami. Mawar merah tertata rapi di meja makan kami. Benar - benar indah.


"Ada apa Lila," tanya Atan mengalihkan pandangan ku.


"Tidak! Hanya saja?"


"Aku sudah membooking tempat ini, hanya untuk kita berdua," kata Atan yang seolah paham dengan jalan pikiran ku.


Waiters membawakan menu andalan dari restoran G & B, menunya begitu mengoda selera.


"Selamat menikmati," ucap waiters.


Aku dan Atan menyantap menu yang sudah terhidang di meja. Kami begitu menikmatinya.


"Lila, ini buat mu."


Atan mengeluarkan kotak hitam dari saku jasnya.


"Apa ini?" Tanya ku bingung sambil menerima kotak hitam pemberian Atan.


"Bukalah!"


Ku membuka kotak pemberian Atan. Aku begitu terkejut sekaligus bahagia melihat isi dalam kotak itu, liontin bermarnah biru, sangat cantik.


"Cantik."


"Sama seperti mu, sama cantiknya."


Ku tersipu malu mendengar pujian Atan.


"Mari ku pakaikan."


Ku memberikan liontin bermata biru pada Atan dan Atan melingkarkan liontin itu pada ku.

__ADS_1


"Benar - benar sempurna," kata Atan.


"Jika suatu saat kita berpisah, liontin ini akan mengingatkan mu bahwa aku selalu bersama mu."


Dan Atan mencium kening ku. Ciuman Atan membuat pipi ku merona merah.


"Aku akan selalu mencintai mu, sampai kapan pun." Lanjut Atan.


Setelah selesai dengan acara makan malam yang romantis, Atan mengantarkan ku pulang.


✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨


"Bagaiman makan malamnya?" Tanya Ibu yang masih menunggu ku pulang.


"Menyenangkan," kata ku bahagia.


"Apa ini?" Tanya ibu sambil memegang liontin bermata biru pemberian Atan.


"Ini hadia dari Atan, Bu."


"Indahnya!" Sepertinya ini mahal."


Ku tersenyum mendengar ucapan ibu.


"Di mana ayah, Bu?"


"Ayah mu sudah tidur sedari tadi."


"Ohhhh, Lila ke kamar dulu ya Bu. Ibu juga beristirahat lah."


"Selamat malam ya sayang, semoga mimpi indah."


"Ibu juga ya."


Ku menuju kamar ku, membuka dress ku dan menggantinya dengan baju tidur. Tak lupa ku membersihkan make up yang masih menempel di wajah ku. Setelah semuanya sudah beres, ku menuju tempat tidur dan merebahkan tubuh ku. Ku menarik selimut tebal ku dan menutup seluruh tubuh ku yang sudah merasa kedinginan, akupun terlelap.


"Ayaaaaahhhhhhh, Aaaayyyyyaaaaahhhhh...," ku berteriak memanggil ayah yang menghilang bersama kupu - kupu putih. Ku menangis sejadi - jadinya karena ayah tak kunjung kembali.


"Lila, Lila, ada apa sayang? Tanya ibu sambil menggocang - goncangkan tubuh ku.


"Sayang, Lila," panggil ibu lagi.


Ku membuka mata ku, terasa penglihatan ku begitu buram karena mata ku telah ditutupi dengan air mata.


Ibu mengusap mata ku lembut, mengeringkan air mata ku.


"Aku bermimpi bu."


"Mimpi?"


"Iya Bu, mimpi yang sama. Mimpi ayah meninggalkan aku dan ibu."


"Tadi kamu berdoa, tidak?" Tanya ibu sambil mengelus lembut rambut ku.


Ku mengelengkan kepala ku.


"Hmmm, pantasan. Kalau mau tidur, jangan lupa berdoa. Biar mimpinya yang indah - indah saja."


Ku mengangguk.


"Sudah, kamu tidur lagi ya."


Ibu mengambil selimut ku yang sudah berjatuhan di lantai dan menutupi tubuh ku. Ibu mencium kening ku dan mengusap rambut ku halus.


"Semoga mimpi indah."


Ibupun kembali ke kamarnya dan aku kembali terlelap.


Matahari pagi sudah berada kembali di singgasananya, memancarkan keindahannya cahayanya menerobos masuk ke kamar ku dan membangunkan ku.


Ku beranjak bangun dari tempat tidur, berdoa dan tak lupa membereskan tempat tidur yang berantakan karena ku.


Hari ini ku memulai lagi aktivitas ku yang seperti sedia kala, sekolah. Hanya yang membedakan aku sekarang duduk di kelas XII Bahasa.


"Yah, bu, Lila pamit dulu ya," kata ku sambil mencium tangan ayah dan ibu ku secara bergantian.


"Hati - hati ya nak."


Ku melangkah pasti dan penuh kecerian menuju sekolah ku, aku ingin berjumpa dengan sahabat - sahabat ku terutama Atan. Walaupun semalam kami baru bertemu tapi rasa rindu ini tak dapat dibendung, ku ingin setiap saat mentap wajahnya.


"Pagi Lila," sapa Vita.


"Pagi juga Vita sayang."


"Ekhmmm ada yang baru nih," ucap Vita sambil mengamati leher ku.

__ADS_1


"Oh ini," ucapku sambil memegang liontin pemberian Atan.


"Iya, baru ya?"


"Iya, ini hadia dari someone."


"Ekhmmm, siapa someone itu?" Atan ya? Vita menggoda ku.


Wajah ku berubah merah menamba keyakinan Vita.


"Benarkan tebakkan ku, itu hadia dari Atan."


Ku hanya tersenyum mendengar ucapan Vita. Seolah menahami arti senyuman ku, Vitpun tersenyum seolah ikut bahagia dan merasakan apa yang ku rasakan.


Pelajaranpun dimulai, kelas begitu hening hanya terdengar suara Bu Tika yang sedang menjelaskan tetang pelajaran. Setelah selesai dengan penjelasan Bu Tika memberikan tugas untuk kami kerjakan. Kelas tetap hening karena kami semua sibuk mengerjakan tugas.


Bel berbunyi tiga kali bertanda waktu istirahat telah tiba.


Setelah mengumpulkan tugas dan berdoa, kami semua berhamburan ke luar kelas menuju kantin sekolah.


"Vita ayo cepat," Ku menarik tangan Vita agar mengikuti cepat langkah ku.


"Pelan - pelan dong Lila, kamu seperti dikejar hantu saja."


"Ayo, cepat. Jalan kamu seperti siput sih."


Sambil menarik nafas panjang Vitapun mengikiti langkahku.


Semua sahabat ku sudah duduk di posisi masing - masing menunggu kedatangan kami.


Vita dan aku menghampiri Neno, Aby dan Margot.


"Sudah dari tadi ya?" Tanya ku.


"Barusan kok," jawab Margot.


Mataku tak tenang dan selalu mengamati pintu masuk, orang yang ku tunggu tak kunjung datang sampai bel istirahat hampir berakhir.


"Atan mana ya?" Tanya Neno.


"Iya Atan kok tak kelihatan, apa dia sakit?" Lanjut Aby.


Wajah ku berubah muram, sesekali ku melihat hp ku tapi tak ada notifikasi telpon maupun pesan dari Atan.


"Lila, kamu tahu di mana Atan?" Tanya ku.


"Aku tak tahu."


"Semalam memang kami bersama tapi Atan tak pernah mengatakan apapun kepada ku. Atan di mana kamu?"


Istirahat telah berakhir, kamipun kembali ke kelas masing - masing dengan rasa penasaran. Penasaran tentang Atan.


✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨


Sore ini, kami berencana akan ke rumah Atan. Ku menunggu sahabat - sahabat ku untuk menjemput ku.


"Lila, kamu sibuk ya?" Tanya Ibu.


"Hmmm, tidak Bu."


"Tolong belanjakan ini ya," ibu menyerahkan daftar belanjaan.


"Ibu mendapat orderan lagi."


"Baik, Bu."


Ku mengambil hp ku dan ku mengirim pesan ke sahabat - sabatku lewat WA group.


"Maaf ya, aku tak bisa ikut."


Ku masukan kembali hp ke dalam saku baju dan ku berjalan menuju halte bus.


Dalam perjalanan, rasa penasaran ku tentang Atan semakin menjadi - jadi.


"Mengapa hari ini Atan tak menghubungi ku?"


Banyak pertanyaan yang ingin ku tanyakan pada Atan.


Ku membelanjakan semua pesanan ibu yang tertera di daftar belanja dan kembali menuju halte. Sambil menunggu bus, ku membuka hp ku mengharapkan ada notifikasi dari Atan tapi harapan ku sirna. Akhirnya ku memutuskan untuk menghubunginya.


"Nomor yang ada tujuh sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan."


Hatiku semakin gunda gulana.


"Ku merindukan mu Atan."

__ADS_1


"Apa semalam itu adalah perpisahan dan senyuman terakhir buat ku."


Cairan bening mengenang di mata ku dan turun membasahi kedua pipi ku.


__ADS_2